Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.
Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.
Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan yang Mengubah Segalanya
Dua bulan.
Cuma dua bulan sejak Siska pindah ke rumah sebelah.
Tapi rasanya… kayak udah bertahun-tahun mereka jalan bareng.
Sekarang? Sehari nggak ketemu aja rasanya ada yang kurang.
Bukan cuma buat Cantika.
Buat Kevin juga.
Sore itu matahari lagi adem-ademnya.
Kevin duduk di teras, tangan nyandar ke lutut, pura-pura santai.
Padahal jelas-jelas nunggu.
Cantika lagi les gambar.
Dan seperti biasa…
Siska muncul dengan dua kantong plastik di tangan.
Kevin langsung curiga.
“Beli apa lagi?”
Siska senyum misterius.
“Rahasia.”
“Kalau ciki lagi, Cantika bisa loncat-loncat sampai tengah malam.”
Siska ngakak.
“Tenang. Kali ini bukan ciki.”
Belum sempat Kevin jawab—
Pintu kebuka.
“Tanteeeee!”
Cantika lari kencang, hampir nabrak Siska.
Kevin refleks senyum.
Masih aneh dengar tawa itu tiap hari di rumahnya.
Tapi sekarang…
Aneh yang bikin nyaman.
Siska jongkok, buka plastiknya.
“Ta-daa! Apron mini!”
Cantika jerit kecil.
“Lucuuu! Buat masak?!”
“Iya. Besok kita bikin kue.”
Kevin langsung angkat alis.
“Kita?”
Siska nengok santai.
“Iya. Kamu juga.”
“Loh, kok aku?”
Cantika nyeletuk polos,
“Ayah jadi tukang cuci piring.”
Siska ketawa sampai hampir duduk di lantai.
Kevin cuma bisa geleng-geleng.
Tapi di balik tawa itu…
Ada perasaan yang pelan-pelan tumbuh.
Mereka terlihat…
Kayak keluarga.
Dan itu bikin Kevin senang.
Sekaligus takut.
Besoknya—
Dapur berubah jadi medan perang tepung.
Cantika pakai apron pink.
Siska pakai abu-abu.
Kevin?
Dipaksa pakai juga.
“Serius aku harus pakai?” Kevin protes.
“Iya, biar adil,” jawab Siska santai.
Cantika angkat sendok kayu kayak komandan perang.
“Ayah jangan ribut!”
Kevin langsung menyerah.
Mereka bikin bolu sederhana.
Cantika paling semangat ngaduk sampai tepung beterbangan.
“Tante, ini cukup?”
“Pelan-pelan, nanti tumpah.”
Tangan Siska bantu pegang mangkuk.
Natural.
Refleks.
Seolah-olah dia memang sudah lama di sana.
Kevin terdiam beberapa detik.
Melihat.
Menyadari.
Siska terlihat…
Di tempat yang seharusnya.
Lalu—
Tanpa aba-aba.
“Ibu, ini gulanya mana?”
Semua membeku.
Sendok berhenti.
Napas tertahan.
Cantika sendiri nggak sadar.
“Ibu, cepat dong, nanti gosong!”
Siska panik.
Tatap Kevin, minta jawaban tanpa kata.
Kevin jongkok di depan Cantika.
“Cantik… tadi kamu manggil apa?”
Cantika mikir sebentar.
“Ibu.”
Sunyi.
Siska langsung nunduk. Tangannya gemetar kecil.
“Kamu yakin?” Kevin tanya pelan.
Cantika angguk polos.
“Kan Tante selalu ada sekarang.”
Jawaban sesederhana itu.
Tapi beratnya…
Kayak dunia berhenti berputar.
Air mata Siska jatuh tanpa suara.
Kevin berdiri.
Dia nggak marah.
Nggak menolak.
Dia cuma sadar—
Ini momen yang nggak bisa dianggap remeh.
Siska mendekat.
“Cantik… kamu nggak harus manggil aku Ibu kalau belum yakin.”
Cantika bingung.
“Kenapa?”
“Karena kata itu penting banget.”
Cantika mikir lagi.
Lalu senyum kecil.
“Aku yakin kok.”
“Kenapa?” Kevin bertanya.
“Soalnya Ibu nggak pergi lagi.”
Deg.
Kevin nggak bisa jawab.
Siska menangis.
Dan untuk pertama kalinya—
Kevin nggak merasa kata itu salah.
Malamnya.
Cantika sudah tidur.
Rumah sepi.
Kevin duduk di ruang tengah.
Siska keluar dari dapur.
“Kamu marah?” suaranya pelan.
Kevin geleng.
“Nggak.”
“Takut?”
Kevin senyum tipis.
“Banget.”
Siska duduk di sampingnya.
Jarak cuma beberapa senti.
“Aku juga takut,” Siska jujur.
“Takut nggak cukup baik buat dia.”
Kevin menatap kosong beberapa detik.
“Bedanya sekarang?”
Siska tarik napas.
“Aku nggak lari.”
Hening.
Angin malam masuk lewat jendela.
Siska menatap Kevin lebih dalam.
“Kamu masih jaga jarak ya.”
Kevin tersenyum tipis.
“Refleks.”
Siska berdiri pelan.
“Kevin.”
“Iya?”
“Aku nggak cuma mau jadi ibu buat Cantika.”
Kevin menegang.
“Aku juga… masih punya perasaan buat kamu.”
Akhirnya terucap.
Kevin nggak kaget.
Tapi jantungnya tetap berisik.
“Sis…”
“Aku nggak minta jawaban sekarang. Aku cuma nggak mau kamu mikir aku di sini cuma karena dia.”
Kevin berdiri.
Jarak tinggal satu langkah.
“Kamu tahu kenapa aku jaga jarak?” Kevin berbisik.
“Kenapa?”
“Karena kalau aku jatuh lagi… aku nggak yakin bisa bangun dua kali.”
Siska mendekat sedikit.
“Kali ini aku yang jagain.”
Kalimat itu lembut banget.
Kevin hampir menyentuh pipinya.
Hampir.
Napas mereka bercampur.
Tapi Kevin menahan diri.
“Pelan-pelan,” katanya lirih.
Siska tersenyum.
“Pelan-pelan.”
Dan tepat saat suasana hampir berubah—
“Ibu… Ayah…”
Mereka langsung menjauh refleks.
Cantika berdiri di pintu kamar, mata setengah tertutup.
“Kenapa belum tidur?” Kevin cepat mendekat.
“Takut sendiri.”
Siska jongkok.
“Ibu di sini kok.”
Kali ini—
Dia nggak ragu.
Dan Kevin dengar jelas.
Anehnya…
Rasanya hangat.
Cantika peluk Siska.
Lalu tarik Kevin juga.
Sekarang mereka bertiga dalam satu pelukan kecil.
Cantika senyum ngantuk.
“Rumah kita rame ya…”
Kevin menatap Siska.
Siska balas tatapan itu.
Rame.
Hangat.
Dan mungkin…
Untuk pertama kalinya sejak semuanya hancur—
Ini bukan cuma perasaan sesaat.
Ini awal yang benar-benar baru.