Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.
Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.
Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 19 - Introgasi dan Penangkapan
“Apakah ini kamarmu?”
“Ya. Awalnya bukan. Mereka bilang aku tidak patuh. Kamar ini bagus. Tinggal di sini membuatku patuh.”
Di vila sebesar ini, mereka justru memberinya ruang penyimpanan untuk ditinggali—pemandangan yang membuat para polisi terdiam sesaat.
“Nona Fasha, bisakah Anda menunjukkan luka-luka Anda?”
Sander dengan lembut menggenggam ujung jari Fasha dan berbisik, “Tidak apa-apa jika kamu tidak mau. Kamu berhak menolak.”
“Saya bisa.”
Fasha perlahan mengangkat pakaiannya. Memar-memar bertumpuk terlihat jelas—campuran luka lama dan baru. Terutama di punggungnya, bekas cambukan yang tak salah lagi berasal dari ikat pinggang.
“Cukup. Bisa Anda jelaskan kira-kira kapan kekerasan ini dimulai?” tanya polisi.
“Setelah sakit kepala.”
Melihat raut ragu di wajah polisi, Sander segera menambahkan dengan tenang namun tegas,
“Nona Fasha mengalami cedera kepala akibat jatuh dari tangga tiga tahun lalu. Cedera itu bukan bawaan lahir. Penyiksaan kemungkinan dimulai setelah kondisinya memburuk. Selain itu, ia tidak memiliki akses untuk menghubungi dunia luar, sehingga tidak pernah bisa meminta bantuan," ucap Dokter Liam menjelaskan.
“Baik. Kami mencatat keterangan ini dan akan memastikan keadilan ditegakkan. Sekarang, di mana Nona Fasha tinggal?”
“Dia tinggal bersamaku.”
Sander tidak menjelaskan lebih jauh. Namun para polisi yang hadir mengenalnya—juga mengetahui latar belakang keluarga Carter—sehingga dengan cepat memahami situasinya.
“Tuan Herman, Anda diduga melakukan kekerasan terhadap putri Anda yang memiliki keterbatasan mental. Silakan ikut dengan kami.”
“Tunggu! Ini semua salah paham!” Herman berteriak panik. “Lihat luka-luka saya—semuanya disebabkan oleh Fasha! Dia anak saya, bagaimana mungkin saya menyiksanya? Dia cacat mental, tidak bisa mengendalikan dirinya!”
Jane berlari menuruni tangga sambil menangis, memanggil nama Fasha.
“Fasha, itu ayahmu! Bagaimana mungkin dia menyakitimu? Semua yang dia lakukan demi kebaikanmu. Kamu sakit, dan dia bahkan mengatur keluarga Carter untuk merawatmu. Bagaimana mungkin dia menyiksamu?”
Namun, apa pun yang dikatakan mereka, pada akhirnya Herman tetap dibawa pergi.
Fasha berdiri di puncak tangga, menatap pemandangan itu dengan wajah dingin, tanpa emosi.
“Fasha, Ibu mohon…” suara Jane bergetar. “Kamu harus bisa membedakan yang benar dan yang salah. Kita ini keluarga.”
Dengan Herman yang tiba-tiba ditangkap, Jane menjadi panik dan menaruh harapan terakhirnya pada Fasha.
Sander tersenyum mengejek, suaranya rendah namun mengandung ancaman.
“Pikirkan baik-baik. Apakah hanya satu orang yang menyiksa Fasha… atau tiga? Dia berada di dalam neraka itu, sementara kamu di luar.”
Jane merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Ia tak berani menatap mata Sander. Ia hanya bisa memaksa dirinya tetap tenang, bahkan menahan air mata agar tak jatuh.
Beberapa detik berlalu dalam ketegangan.
Fasha, sambil menggenggam erat barang-barangnya, pelan menarik lengan baju Sander. Ia tersenyum manis dan merengek pelan,
“Sander, ayo pulang. Aku ingin pulang.”
Fasha mendengus pelan. Hari demi hari, rasanya ia telah menangis habis-habisan. Ia tak ingin lagi bermain sandiwara bersama keluarganya.
“Ya,” jawab Sander singkat.
Tak lama setelah mereka pergi, vila itu hanya menyisakan Jane dan Fania.
Fania meletakkan tangan di bahu ibunya dan berkata dengan suara tenang,
“Bu, rumah ini seharusnya milik kita. Saat dua orang bertikai, pihak ketiga yang diuntungkan. Bukankah begitu?”
Jane mengerti. Seluruh aset keluarga Madeline berada di tangan Herman. Jika pria itu benar-benar jatuh, maka tak akan ada apa pun yang tersisa untuknya dan Fania.
“Fania, jangan gegabah,” ujar Jane menahan emosi. “Kadang kita harus menelan kerugian kecil demi tujuan besar. Kita tidak bisa membiarkan ayahmu benar-benar dijatuhkan. Pikirkan baik-baik.”
Dalam hati, Fania mengumpat. Herman terlalu licik, ia menggenggam uang dan perusahaan dengan erat. Ia tak bisa membiarkan pria itu dibawa pergi begitu saja.
“Tenang, Bu,” kata Fania akhirnya. “Aku mengerti. Aku akan mencari cara lain.”