NovelToon NovelToon
Om Benny, I Love You

Om Benny, I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan rahasia / CEO / Romantis / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chiisan kasih

Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Aku Memilihmu, Tapi…”

Lorong kantor itu kembali sunyi setelah Diana pergi.

Cessa berdiri di tempatnya, masih memegang salinan dokumen yang tadi disodorkan kepadanya. Kertas itu terasa lebih berat dari ukurannya—bukan karena isinya, tapi karena masa lalu yang diwakilinya.

Benny berdiri di depannya, gelisah.

“Kita bisa bicara di ruanganku,” ucap Benny pelan.

Cessa mengangguk.

Mereka berjalan berdampingan. Tidak ada sentuhan. Tidak ada kata-kata. Namun langkah mereka terasa selaras—seperti dua orang yang sama-sama tahu percakapan ini tidak bisa ditunda lagi.

Begitu pintu tertutup, Cessa duduk di sofa. Benny memilih berdiri, lalu akhirnya ikut duduk di kursi seberang. Jarak di antara mereka cukup untuk berbicara… dan cukup untuk menyakiti.

“Aku mau dengar semuanya,” kata Cessa lebih dulu. “Bukan versi singkat. Bukan versi aman.”

Benny menghela napas panjang. “Baik.”

Ia menatap tangannya sendiri sebelum mengangkat wajah. “Aku dibesarkan dengan satu keyakinan: perasaan itu kelemahan.”

Cessa terdiam, mendengarkan.

“Ayahku keras,” lanjut Benny. “Segalanya tentang target, hasil, kontrol. Ibuku pergi waktu aku remaja. Sejak itu… aku belajar menutup diri.”

Cessa merasakan dadanya mengencang.

“Diana datang di masa aku paling stabil,” kata Benny. “Kami cocok di atas kertas. Visi sama. Ambisi sama. Pernikahan itu… masuk akal.”

“Lalu kenapa batal?” tanya Cessa pelan.

Benny menatapnya. “Karena aku panik.”

Cessa menahan napas.

“Aku sadar aku akan menikah tanpa rasa,” lanjut Benny. “Dan aku takut… bukan pada kehilangan Diana. Tapi pada kehilangan diriku sendiri.”

Cessa mengangguk pelan. “Jadi kamu lari.”

“Iya,” aku Benny jujur. “Dan aku menyebutnya keputusan rasional.”

Keheningan turun sejenak.

“Ketika kamu datang,” lanjut Benny, suaranya sedikit bergetar, “semuanya berantakan. Kamu tidak rasional. Kamu emosional. Kamu… hidup.”

Cessa tersenyum tipis, pahit.

“Dan aku benci itu,” tambah Benny. “Karena itu berarti aku tidak punya kendali.”

“Makanya kamu mundur,” kata Cessa, bukan bertanya.

“Iya.”

Cessa menatap dokumen di tangannya. “Dan dokumen ini?”

“Itu rencana lama,” jawab Benny. “Aku menyiapkannya sebagai pengaman. Pernikahan tanpa keterikatan emosional. Aman. Dingin.”

“Dan sekarang?” tanya Cessa.

Benny berdiri. Mendekat satu langkah. “Sekarang aku tahu… hidup tanpa keterikatan itu kosong.”

Cessa mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu.

“Ben,” ucap Cessa pelan, “aku tidak takut dengan masa lalumu.”

Benny menahan napas.

“Aku takut dengan kemungkinan kamu kembali ke sana,” lanjut Cessa. “Bukan karena kamu jahat. Tapi karena itu nyaman bagimu.”

Benny mengangguk. “Aku tahu.”

“Aku butuh kepastian,” kata Cessa tegas. “Bukan janji.”

Benny terdiam lama. Lalu berjalan ke mejanya. Membuka laci. Mengeluarkan satu map lain.

Ia meletakkannya di meja di depan Cessa.

“Apa ini?” tanya Cessa.

“Salinan kontrak lama,” jawab Benny. “Dan surat pembatalannya.”

Cessa menatapnya terkejut. “Kamu—”

“Aku sudah batalkan sejak aku memilih untuk berubah,” lanjut Benny. “Bukan karena kamu. Tapi karena aku tidak mau hidup seperti itu lagi.”

Cessa membuka map itu. Membaca cepat. Tanggalnya… baru.

“Kenapa kamu nggak bilang?” tanya Cessa lirih.

“Karena aku ingin kamu memilih dengan bebas,” jawab Benny. “Bukan karena aku terlihat ‘sudah berubah’.”

Kata-kata itu membuat mata Cessa berkaca-kaca.

“Aku tidak ingin kamu kembali karena aku aman,” lanjut Benny. “Aku ingin kamu kembali karena kamu mau.”

Keheningan itu panjang. Penuh emosi yang tidak tumpah.

“Aku mencintaimu,” kata Benny akhirnya. “Dengan cara yang masih belajar. Tapi dengan keberanian yang tidak pernah aku punya sebelumnya.”

Cessa menutup map itu perlahan.

“Aku percaya kamu,” ucapnya pelan.

Benny tersenyum kecil, lega.

“Tapi…” lanjut Cessa.

Senyum itu memudar.

“Tapi aku belum pulang,” kata Cessa jujur. “Bukan karena ragu pada cintamu. Tapi karena aku ingin memastikan… aku tidak kehilangan diriku di dalamnya.”

Benny mengangguk. “Aku akan menunggu.”

“Tidak,” Cessa menggeleng. “Bukan menunggu.”

Benny menatapnya bingung.

“Aku ingin kamu hidup,” lanjut Cessa. “Bukan berhenti demi aku. Tapi bergerak bersama aku.”

Benny tersenyum—kali ini lebih hangat. “Aku bisa.”

Mereka berdiri berhadapan.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada ciuman.

Tapi ada kesepakatan yang lebih dalam.

Sore itu, Cessa keluar dari gedung kantor dengan langkah mantap. Ia tidak merasa kalah. Tidak juga menang. Ia merasa… utuh.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Brain.

Ayah:

Kamu baik-baik saja?

Cessa tersenyum dan membalas.

Cessa:

Aku sedang memilih dengan sadar.

Brain tidak langsung membalas.

Di lantai atas gedung lain, Diana berdiri di depan jendela besar. Ia menerima pesan singkat.

Dia masih bertahan.

Diana mengetik balasan.

Bagus. Itu artinya fase terakhir.

Ia menatap kota dengan senyum tipis.

“Cinta selalu diuji di titik paling rapuh,” gumamnya. “Dan kita hampir sampai.”

Malam itu, Cessa duduk di kamar nenek, menulis di buku catatannya lagi:

Aku tidak kembali karena diyakinkan.

Aku tidak pergi karena takut.

Aku memilih—karena aku siap.

Ia menutup buku itu.

Dan untuk pertama kalinya…

ia merasa dekat dengan keputusan akhir.

Cessa percaya pada perubahan Benny—

namun ujian terakhir akan memaksanya memilih:

kembali sepenuhnya, atau pergi tanpa menoleh lagi.

1
Dwi Winarni Wina
yakin tak pernah normal dekat sm cessa benny😀
Dwi Winarni Wina
pergi yg jauh cessa biar beni kehilanganmu..
Dwi Winarni Wina
aku aja benny suka sama cessa tp gengsinya tinggi mau mengakuimya😀
Dwi Winarni Wina
Si Benny sebenarnya ada perasaan tapi ge ngsinya terlalu tinggi😀
Dwi Winarni Wina
biarkan aja perasaanmu tumbuh Benny...
Dwi Winarni Wina
casse keras kepala banget kekeh pada pilihannya...
Dwi Winarni Wina
cessa nekat ingin tetep menikah sm Benny sahabat baik ayahnya...
Dwi Winarni Wina
berarti pria normal ben, terima aja lamaran cessa😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!