Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Ciuman Penelitian
BIbir Johan mendarat di atas bibir Jennie dengan sebuah sentakan yang hampir membuat wanita itu melompat. Dia yang biasanya hanya berurusan dengan kata-kata di atas kertas, kini mendadak kaku.
Dia mencoba membalas namun gerakannya kikuk dan ragu-ragu, dia hanya bisa menempelkan bibirnya dengan pasif, dan matanya terpejam erat.
Johan menarik dirinya beberapa milimeter, napasnya yang panas memburu di depan wajah Jennie. "Kau menyebut dirimu penulis novel romansa dewasa tapi ciumanmu lebih kaku dari papan triplek," bisiknya mengejek.
Jennie membuka kedua matanya, "Aku sedang berpikir!" belanya dengan napas tersenggal.
"Berhenti berpikir dan mulai rasakan," perintah Johan. "Buka sedikit bibirmu dan ikuti alurku, jangan melawan."
Setelah mengatakan itu Johan kembali menyerang, kali ini dia tidak memberikan ruang bagi Jennie untuk berpikir. Telapak tangannya yang besar menangkup wajah Jennie, ibu jarinya menekan lembut sudut bibir Jennie agar wanita itu membuka mulutnya.
Saat bibir Jennie terbuka sedikit karena terkejut, Johan langsung menyambutnya dengan ciuman yang lebih dalam dan menuntut.
Deg!
Dunia Jennie meledak, Johan mulai menuntunnya untuk menggerakkan bibirnya dengan ritme yang lambat namun sangat ahli.
Dia menyesap bibir atas Jennie lalu beralih ke bibir bawahnya, memberikan tekanan yang tepat. Johan seolah sedang menunjukkan koreografi yang sangat intim.
"Bagus, terus seperti itu," gumam pria itu di sela-sela ciumannya.
Slurp!
Bunyi kecipak basah yang tercipta saat bibir mereka bertemu dan saling menghisap mulai memenuhi keheningan koridor lantai lima.
Johan menyelipkan lidahnya, menyapu barisan gigi Jennie sebelum akhirnya bertemu dengan lidah Jennie yang masih malu-malu. Dia membelit lidah itu, mengajak lidah Jennie untuk ikut dalam tarian yang liar dan panas.
"Mmhhh...."
Jennie mengeluarkan suara erangan kecil tertahan di tenggorokannya, terdengar pecah dan pasrah.
Dia merasakan sensasi lembap dan panas menjalar dari ujung lidahnya hingga seluruh saraf di tubuhnya. Johan benar-benar sedang memberikan tutorial yang paling berbahaya dalam hidupnya.
"Gunakan lidahmu, Jennie. Rasakan teksturnya," bisik Johan, suaranya serak di depan bibir Jennie sebelum kembali melahapnya.
Jennie meremas kemeja hitam Johan di bagian bahu, jemarinya mencengkeram kain katun mahal itu hingga kusut. Bunyi kecipak itu semakin intens saat Johan memiringkan kepalanya untuk mendapatkan akses yang lebih dalam.
Setiap kali pria itu menarik napas pendek dan kembali menyesap bibirnya, Jennie bisa merasakan gairah yang sesungguhnya, sesuatu yang lebih jujur daripada ribuan halaman novel yang pernah dia tulis.
Saat ini dia merasakan panas, rasa haus yang tak terpadamkan, dan keinginan untuk ditarik lebih dekat lagi.
Erangannya semakin keras saat tangan Johan yang ada di pinggang mulai merambat naik, menekan punggungnya hingga tubuhnya melengkung sempurna ke arah pria itu.
Bunyi gesekan kulit dan bibir basah mereka menjadi satu-satunya musik di lorong sepi itu. Sama sekali tidak memikirkan jika ada satpam sedang patroli atau penghuni lain yang memergoki mereka, yang ada dipikirannya hanya kenikmatan.
Johan terus menciumnya seolah ingin menghisap seluruh jiwanya, dia masih menuntun Jennie dari yang tadinya pasif menjadi mulai membalas dengan intensitas yang sama.
Jennie mulai berani menyesap kembali bibir Johan, mengikuti irama yang di ajarkan pria itu, hingga pria itu mengeluarkan erangan rendah yang terdengar seperti kepuasan.
Setelah waktu yang terasa seperti keabadian, Johan menarik dirinya perlahan. Dia tidak langsung menjauh, bibirnya masih menempel di bibir tipis Jennie yang kini membengkak, memerah, dan basah.
Dia manarik napas panjang, mencoba menstabilkan oksigen di paru-parunya sendiri, sementara dadanya naik turun dengan cepat.
Jennie membuka matanya yang sayu, menatap Johan dengan pandangan yang benar-benar kosong. Kepalanya berputar, dunianya masih bergoyang.
Johan menatap bibir Jennie yang masih terbuka sedikit lalu mengusap sisa kelembapan di sudut bibir dengan ibu jarinya.
"Sedikit lebih baik, setidaknya kau sudah tahu bagaimana cara bernapas saat melakukannya," ucapnya.
Jennie hanya bisa diam, bibirnya masih terasa kebas dan berdenyut.
Johan mundur satu langkah, kembali menjadi sosok yang dingin seolah-olah dia tidak baru saja "menuntun" tetangganya dalam sesi ciuman yang panas.
"Tulis itu di babmu besok, deskripsikan bagaimana rasanya saat kau akhirnya tahu kalau teorimu selama ini salah. Aku akan membacanya besok."
Johan memberikan satu kerlingan mata sebelum berbalik menuju unitnya sendiri dan masuk ke dalamnya.
Jennie ditinggalkan sendirian dengan berdiri mematung, dia menyentuh bibirnya dengan jari yang gemetar.
Begitu masuk ke unitnya dia langsung menyambar laptopnya, namun tangannya berhenti di atas keyboard.
Dia menatap layar putih itu selama sepuluh menit, kosong. Bukan karena buntu ide, tapi karena terlalu baper. Bagaimana dia bisa menulis tentang "tokoh pria" jika setiap dia ingin mengetik kata ciuman dia justru teringat bagaimana lidah Johan menuntunnya tadi?
"Sialan kau, Johan Alexander," racaunya ke arah layar laptop. "Kau benar-benar merusak sistem sarafku!"
Naskah bab terbarunya terancam tidak selesai karena sang penulis terlalu sibuk memegangi dadanya yang sesak oleh rasa suka yang nyata.
Bersambung