"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Hari besar itu akhirnya tiba. Galeri Nasional Singapura cabang kontemporer tampak sangat megah dengan lampu-lampu sorot yang diarahkan tepat ke pusat ruangan, di mana Patung Jago berdiri dengan angkuh. Kacamata hitam di wajah Jago memantulkan kilatan blitz kamera wartawan internasional.
Di depan pintu masuk, Bagas berdiri mengenakan setelan batik yang "dimodifikasi" Mama Ratna (ada tambahan payet-payet emas di bagian kerah yang bikin Bagas kelihatan seperti penyanyi dangdut mau konser). Sementara itu, Dira tampil sangat elegan dengan kebaya modern, berusaha keras menutupi rasa gugupnya karena tahu di belakangnya ada "bom waktu" berjalan.
"Pir, tolong ya," bisik Dira sambil tersenyum kaku ke arah kamera. "Gue liat Jaka tadi lagi nyoba nge-prospek anak direktur galeri ini, dan Manda lagi sibuk naruh kerikil di pojokan ruangan buat 'jangkar energi'. Tolong kondisikan mereka!"
"Tenang, Ndoro. Semua di bawah kendali," sahut Bagas sambil mengelus Supra yang hari ini memakai dasi kupu-kupu merah. Supra duduk tenang di atas tas jinjing Dira, sudah merasa seperti influencer kelas atas.
Tapi, kendali Bagas langsung runtuh saat Mama Ratna muncul dari arah pantry galeri. Wajahnya merah padam dan tangannya memegang tas tenteng plastik yang mengeluarkan aroma... sangat menyengat.
"Bagas! Dira! Kalian tahu tidak? Di sini kateringnya cuma ada roti-roti kecil hambar sama air putih dikasih daun!" protes Mama Ratna dengan suara yang volumenya tidak dikurangi sama sekali.
"Mama takut tamu-tamu ini pingsan karena kurang gizi. Jadi, tadi Mama diam-diam ke dapur belakang, Mama keluarin cobek, dan Mama bikin sambal terasi spesial!"
Dira hampir terjungkal dari hak sepatunya. "MAAA! Ini galeri internasional, bukan hajatan di Balai Desa! Aroma terasi Mama ini sudah sampai ke hidung Monsieur Pierre di ujung sana!"
Benar saja, Monsieur Pierre, si kurator Paris yang sangat sensitif penciumannya, mulai mengendus-endus udara dengan dahi berkerut.
"Monsieur Bagas... pardon me... tapi saya mencium aroma yang sangat... kuat. Apakah ini bagian dari scent-art (seni aroma) yang Anda siapkan untuk instalasi Jago?"
Bagas tertegun sejenak. Otak "Tapir"-nya berputar cepat. "Ah, yes! Monsieur Pierre! Anda sangat tajam! Ini adalah 'Aroma dari Peradaban yang Terlupakan'. Sebuah parfum ruang yang melambangkan keberanian dan kerja keras rakyat jelata. Kami menyebutnya... Essence de Terassie."
Monsieur Pierre tampak terpukau. "Luar biasa! Sangat berani! Baunya sangat... primitif tapi menggugah jiwa. Saya harus mencatat ini sebagai inovasi baru dalam pameran tahun ini!"
Mama Ratna yang merasa karyanya dipuji, langsung semangat. Membuka tas plastiknya lebih lebar. "Oh, you like it, Sir? Sini, dicicipi sedikit pakai kerupuk! Ini kerupuknya Mama goreng sendiri tadi pagi di hotel!"
"MAMA JANGAN!" teriak Dira, tapi terlambat.
Mama Ratna sudah menyodorkan sebuah kerupuk kaleng yang sudah dilumuri sambal terasi merah membara tepat ke depan mulut Monsieur Pierre. Karena merasa tidak enak untuk menolak "seniman" (atau ibu dari seniman), Monsieur Pierre pun menggigit kerupuk itu.
Satu detik... dua detik... wajah Monsieur Pierre berubah dari putih pucat menjadi merah marun, lalu ungu tua. Matanya melotot, dan mulai bernapas pendek-pendek seperti ikan yang baru keluar dari air.
"Water... de l'eau... HOT! MON DIEU!" teriak Monsieur Pierre sambil berlari kencang menuju dispenser air, menabrak dua kolektor seni dari Jepang yang sedang mengamati Jago.
"Wah, Mas Bagas," celetuk Jaka yang tiba-tiba muncul di samping mereka. "Kayaknya kuratornya dapet insight spiritual yang sangat mendalam dari sambal Tante Ratna. Lihat, dia sampe lari marathon gitu."
Manda ikut mendekat, sambil memegang kristalnya yang sekarang berubah warna jadi agak keruh.
"Ini bahaya! Sambal Tante Ratna melepaskan energi panas yang berlebihan ke ruangan ini! Kita harus segera menetralisirnya sebelum patung Jago meleleh!"
"Bodo amat Jago meleleh, Man! Itu Monsieur Pierre kalau mati kita bisa dituntut internasional!" omel Dira panik.
Kekacauan makin menjadi saat Supra, yang mencium aroma terasi yang lezat, tiba-tiba melompat dari tas Dira. Supra berlari kencang ke arah tas plastik Mama Ratna yang ditaruh di atas karpet merah. Supra mulai berebut sisa kerupuk dengan semangat, dan dalam prosesnya, tas plastik itu terguling.
SPLASH!
Sambal terasi merah buatan Mama Ratna tumpah tepat di atas karpet merah Galeri Nasional Singapura yang harganya mungkin setara dengan cicilan rumah Bagas selama sepuluh tahun.
Seluruh ruangan hening. Para tamu undangan menatap noda merah berbau tajam itu dengan ekspresi horor. Satpam galeri mulai bergerak mendekat dengan wajah serius.
Bagas, dengan keberanian yang hanya dimiliki oleh orang yang pernah kejepit pagar, langsung melompat ke tengah noda sambal itu. Bagas berdiri di atas noda tersebut, merentangkan tangannya lebar-lebar, dan berteriak dengan suara yang sangat dramatis.
"LADIES AND GENTLEMEN! Inilah puncak dari pameran saya!" seru Bagas. "Inilah yang kami sebut sebagai 'The Bleeding of Reality' (Berdarahnya Realitas). Noda merah ini melambangkan perjuangan manusia yang tumpah ruah di atas kemewahan dunia! Dan aromanya? Aromanya adalah pengingat bahwa di balik kemegahan, ada keringat dan sambal yang menyatukan kita semua!"
Dira terpana. Jaka dan Manda langsung bertepuk tangan dengan sangat keras. "BRAVO! BRAVO!" teriak Jaka. "Sebuah performa seni yang sangat provokatif!"
Tamu-tamu yang tadinya jijik, mulai saling berbisik. "Oh, jadi ini bagian dari acaranya?" "Sangat berani ya, menggunakan bahan organik yang baunya menyengat sebagai media kritik sosial." "Artis Indonesia memang sangat gila ide-idenya!"
Monsieur Pierre kembali dengan wajah yang masih basah karena minum air terlalu banyak. Dia melihat noda di karpet dan Bagas yang sedang berpose di atasnya. Dia terdiam, lalu mulai bertepuk tangan pelan.
"Monsieur Bagas... Anda adalah seorang jenius yang berbahaya," ujar Pierre dengan suara serak.
"Saya tidak pernah melihat pameran yang begitu... pincang tapi begitu nyata. Saya akan merekomendasikan karya ini untuk masuk ke galeri di Paris tahun depan!"
Mama Ratna tersenyum bangga sambil memegang cobeknya. "Tuh kan, Dira! Mama bilang juga apa. Sambal Mama itu kelas dunia!"
Dira hanya bisa menyandarkan kepala ke bahu Bagas yang masih pose pahlawan. "Pir... gue nggak tau lagi harus bangga atau mau pingsan. Tapi satu hal yang gue tau: kita nggak akan pernah diijinkan masuk ke Singapura lagi seumur hidup."
"Gak apa-apa, Ndoro," bisik Bagas sambil mencium kening Dira (dan tak sengaja bau terasi dari tangannya menempel di hidung Dira). "Yang penting Jago sudah Go International, dan kita masih punya satu sama lain... plus stok terasi Mama di koper."
Pameran hari itu ditutup dengan sukses besar yang tidak sengaja. Patung Jago laku terjual ke seorang kolektor dari New York dengan harga yang fantastis (cukup buat bayar denda karpet dan beli token listrik untuk seratus tahun).
Tapi, saat mereka mau pulang ke hotel, Jaka tiba-tiba datang dengan wajah pucat. "Gas... Dira... ada masalah kecil."
"Apa lagi, Jak? Supra ilang?" tanya Bagas.
"Bukan. Itu... Manda. Dia tadi 'nemu' ruangan rahasia di bawah galeri, dan sekarang dia nggak mau keluar karena katanya dia lagi download data dari satelit alien Singapura."
Dira menghela napas panjang. "Tuhan... kirimkan saya biji kedondong lagi. Saya lebih milih keselek daripada harus ngurusin mereka di luar negeri!"
apalagi bagas ada aja ide kreatif nya, dan bisa merubah segala macam situasi 😃
dsini dira yang masih waras meski idenya bikin geleng kepala pas suruh lawan pelakor 🤣
up terus kaka semangat 🤗🤗
semangat up kaka🤗
dan suka karakter bagas yang ga menye menye😃
idenya kreatif kak, bisa bikin cerita lucu dngan berbagai ide yang unik 🤗
suka karakter manda yang super mistis, 🤣🤣🤣
yang pasti bnyak ketawa nya
menarik banget
ketawa terus pas setiap baca perbab
semangat up iya kaka🤗
semoga makin asyik kedepannya 👍