"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Assalamu'alaikum, semuanya sebelum.baca mau mengucapkan selamat tahu baru yang bertetapan tanggal 11 Rajab semoga kita semua di berikan kesehatan, berkah, rezeki, berkah umur dan di lancarkan segalanya makin baik dalam segala halnya.
Salam Athor tanpa dukungan kalian buku ini tidak akan berkembang.....
_______________
Kurang lebih dua jam Alka menjelajahi sang istri sampai-sampai Nabila kehabisan tenaga karena ia kelepasan berkali-kali, kalau sudah seperti ini walau tenaganya menipis Nabila masih bisa merasakan kenikmatan karena Alka melakukan dengan lembut.
Siang hari yang di temani guyuran hujan, bukan lagi rasa dingin yang menggelora melainkan pergulatan panas yang sedang berlangsung.
"Pak, sudah saya lelah," lirih Nabila jujur.
Mendengar itu Alka makin bersemangat untuk tapi sayangg nuraninya masih bersuara, melihat istrinya memang lelah dan segara menyudahi permainannya tapi sebelum itu Alka masih sempat menggigit apel secara bergantian.
"Enggh!" Nabila melenguh lagi sensasi Alka membuatnya mengejang.
"Kamu juga menikmatinya, kan!" ledek Alka puas melihat Nabila merona.
"Pak, sudah!" pekik Nabila berusaha mendorong tubuh Alka.
"Ya sudah, nanti malam lagi," kekeh Alka.
Nabila mendesah, belum juga selesai lelahnya Alka sudah meminta lagi.
"Nggak," tolak Nabila.
"Yakin," ejek Alka.
Nabila melempar bantal ke arah Alka, yang lansung di tangkap oleh pria gagah itu, ia merasa senang melihat wajah merona sang istri.
"Mau kemana?" tanya Alka.
"Nggak lihat itu sudah jam berapa?" sewot Nabila menunjuhkan jam.
Alka melirik juga ke jam, lalu ia turun dari atas kasur dan menarik tangan Nabila.
"Pak, mau apa?" tanya Nabila.
"Katanya mau mandi?"
"Tapi kenapa Bapak narik saya?"
"Kita mandi bareng," jawab Alka.
Nabila terkesiap, jelas ia malu kalau mandi bareng dengan suaminya itu.
"Kalau gitu Bapak aja duluan," ucap Nabila melepas tangan Alka.
"Bukannya tadi kamu bilang waktunya sudah mepet, makanya saya ajak mandi bareng, kalau gantian yang ada kamu atau saya bisa telat sholatnya," ucap Alka kembali menarik tangan Nabila dan buka hanya menarik tapi juga menggendong Nabila membawanya ke dalam kamar mandi.
"Pak---," keluh Nabila ia tidak biasa mandi bareng sama Alka.
"Sudah diam, nurut saja." Alka mendirikan Nabila di bawah shower dan menyalakan shower tepat berada di bawah Nabila.
"Pak, dingin!" keluh Nabila mengingat cuaca di luar masih hujan.
Alka pun langsung menarik Nabila dalam dekapannya dahulu, sebelum ia mengatur ulang suhu shower.
"Segini, ya?" tanya Alka.
"Iya Pak," kata Nabila sambil mengangguk.
Nabila heran sama sikap suaminya yang sukak berubah-rubah seperti bunglon, dan kalau Nabila pikir sikap Alka ini di tunjuhkan kala mereka selesai berhubungan seperti tadi malam, Alka begitu telaten mengelap sisa darah yang keluar bukti keperawanan Nabila.
"Pak, saya bisa mandi sendiri," ucap Nabila tidak enak kalau Alka sampai menyentuh tubuhnya hanya untuk membilas sabun.
"Sudah diam saja, sebentar lagi selesai lagi pula kamu masih gemetteran biar cepat," sahut Alka.
Nabila kembali diam, tak membantah ia membiarkan suaminya memandikan dirinya seperti anak bayi karena Alka begitu telaten membilas dan menyabunyi setiap inci tubuhnya.
Tanpa sadar Nabila hanyut dalam kepiawaian Alka, di balik sisi galakknya ia ternyata memiliki sifat lembut.
Selesai semua Alka membalutkan handuk bajuh ke tubuh Nabila.
"Sekarang kamu wudhu dulu ya, setelah itu tunggu di luar saya mau mandi," ucap Alka sambil menggosok rambut Nabila agar kering biar istrinya tidak pusing.
Lagi-lagi Nabila di buat terkesima oleh sikap lembut Alka, dalam hati Nabila ada rasa kagum dan harapan besar semoga setelah ini Alka benar berubah dan memperlakukan dirinya dengan lembut.
Sambil menunggu Alka mandi, Nabila yang sudah kering langsung ganti baju memakai baju santai.
Dan mengoles wajahnya dengan krim dan menambah liptin sedikit agar tidak pucat wajahnya di luar hujan mulai berhenti.
"Sudah siap, ayo jama'ah," ajak Alka saat keluar dari kamar mandi.
Nabila mengangguk, tak menyangka Alka mengajaknya sholat jema'ah sehingga dirinya benar merasa punya imam yang baik.
Alka menjadi imam sholat dhuhur juga ashar karena setelah mereka salam suara qiro'at ashar terdengar.
Selesai sholat Alka tidak langsung balik badan sebab pria itu masih wiritan pendek dan juga memipin do'a.
Do'a selesai kini giliran Nabila yang gelisah, sebab ia bingung mau ngapain, Jika langsung pergi takut di kira tidak sopan, mau Salim takut di kira bucin sama Alka.
"Huf!" Nabila menghela napas bingung, tapi akhirnya memilih untuk mencium tangan Alka, bagaiman pun suaminya sudah baik dari tadi jadi tak ada salahnya ia menganggap Alka sebagai suami sungguhan.
Alma menoleh ke belakang istrinya sudah lebih dulu mengulurkan tangannya membuat Alka senang, dan langsung menerima uluran yang Nabila.
Di cium tangan kekar itu dengan khitmat oleh Nabila, seolah mereka berdua adalah pasangan suami istri yang Sholeh dan Sholihah, tergambar indah di mata.
Begitu Nabila belum selesai Alka segera mencium kening istrinya, suasana menjadi semakin hening oleh suasana adem dan tentram, ke duanya sama-sama hanyut oleh perasaan masing-maisng.
Dalam hati Nabila tak henti-henti berdo'a semoga pernikahannya di berkahi walau awal mulanya penuh drama karena Nabila bercita-cita hanya ingin menikah seumur hidup satu kali.
"Terima kasih sudah menjadi istriku, semoga ke depannya kamu kita menjadi pasangan yang bahagia, dan kamu jadi istri yang Sholihah tidak sukak melawan suami," ucap Alka saat mencium kening Nabila.
Deg!.
Moment bahagia tadi seketika hancur berkeping karena ucapkan Alka yang lagi menyakiti hati Nabila.
"Memangnya siapa ngelawan, bukankah dia yang selalu buat dirinya kesal karena bertingkah sesuka hati," batin Nabila sambil menyerngit, lalu menarik wajahnya dengan wajah masam.
Alka pun heran sama reaksi sang istri, bukankah itu do'a baik tapi kenapa istrinya terlihat tidak sukak.
"Benar-benar bandel, masak di do'ain gitu marah, aneh!" gumam Alka yang tak pernah sadar kalau ucapan dirinya itu yang membuat Nabila marah.
Tentu Nabila mendengarnya dan buatnya semakin marah, bahkan ia merasa sangat tersinggung karena Alka jelas tidak punya hati.
Nabila melepas mukenahnya dan menaruk asal, lalu ia mengambil hijab bergonya sama sekali tidak memperdulikan suaminya, mau dia marah atau tidak Nabila sudah tak perduli yang jelas saat ini hatinya benar lagi dongkol.
"Kamu, mau kemana?" tanya Alka panik saat Nabila mengambil ponselnya dan hendak keluar pintu.
"Mau jalan-jalan di luar siapa tahu Nemu calon suami yang baik, dari pada di sini, suami nggak galak." ucap Nabila kelepasan, atau memang sengaja buat Alka tambah marah.
Mendengar itu Alka tentu marah, ia menarik tangan Nabila kuat.
"Apa maksud kamu, hah? Kamu mau selingkuh dari saya, kamu pikir saya apa, seenaknya bilang mau cari suami, saya tidak sukak Nabila!"bentak Alka murka.
Nabila yang juga lagi emosi tidak takut oleh gertakan Alka justru wanita itu melawannya.
"Kenapa tidak! terserah saya mau selingkuh atau tidak, apa kamu tadi kurang jelas, kalau saya tidak sukak punya suami tukang maksa!" sarkas Nabila.
"Hah! Maksa? apanya yang maksa, jangan omong kosong kamu Nabila, saya tahu kamu juga menikmati apa itu yang di namakan pemaksaan, bahkan saya dan kamu lebih banyak kamu yang merasakan kelepasan, jadi di sini yang di untungkan itu kamu."
"Wajar kalau saya ikut menikmati, bukankah Bapak yang memulai duluan, oh tentu donk saya merasakan nikmat juga, karena saya juga manusia nurmal akak hal itu." balas Nabila tak mau kalah.
"Kalau gitu kamu lupa, kalau tubuh kamu itu sudah menjadi hak saya untuk saya makan kapanpun dan di manapun, mau maksa dan tidak itu hak saya, paham kamu!" ucap Alka mengeram, ia benar sangat marah karena Nabila yang berniat mau mencari wanita lain.
Tidak ia tidak rela kalau Nabila benar mau mencari pria lain, sudah susah payah ia berusaha selama ini dan sekarang juga sia-sia dan jalan satu-satunya adalah membuat istrinya itu hamil.
"Sepertinya kamu mintak di ulangi lagi kegiatan tadi biar kamu paham apa arti itu suami, istri!" Alka menarik lengan Nabila paksa dan membawanya ke atas kasur.
Nabila berotak, tapi sayang kekuatannya tidak sebanding dengan Alka yang maha kuat.
"Pak, lepasin, mau apa kamu?" Nabila berusaha melepasnya.
"Tidak, saya mau mengingatkan kamu kalau kamu sudah punya suami,"sahut Alka membanting Nabila ke atas kasur, adegan ini seperti seorang pria yang hendak memperkosanya.
"Pak, saya nggak mau, saya benci Bapak," ucap Nabila marah.
"Oh begitu, kamu marah saat suami kamu ngajak bercinta tapi kamu tidak tahu malu mau mencari suami lain di luar sana, Nabila!" bentak Alka.
@happy readers selamat tahu baru dari Alka dan Nabila \[ Love AlNA \]