Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita bukan Sepupu
Koridor sekolah ramai, Jam istirahat belum habis.
Siswa lalu-lalang, suara tawa bercampur langkah kaki.
Anne sedang berdiri bersama gengnya di dekat loker.
Masih dengan ekspresi puas.
“Eh, itu Kak Damar,” bisik salah satu temannya.
“Kayaknya mau ke kamu.”
Anne tersenyum kecil, merapikan rambutnya, bersiap caper.
Damar berhenti tepat di depan mereka.
Tidak dekat.
Tidak ramah.
“Anne,” panggilnya nada suaranya datar.
Anne mendongak. “Iya, Kak?” sambil tersenyum
Damar tidak membalas senyuman itu.
Dia menatap Anne lurus, tidak lama.
Tapi cukup membuat sekitar mereka ikut hening.
“Apa yang kamu bilang ke Aira di kantin tadi?” tanyanya.
Anne berkedip.
“Hah? Aku? Nggak bilang apa-apa kok.”
Damar mengangguk pelan.“Oke,” katanya.
Lalu satu langkah maju.
“Mulai sekarang,” lanjutnya dengan suara tetap tenang, “kalau kamu punya opini tentang hidup orang lain,”
Damar berhenti sejenak. “simpan.”
Beberapa siswa menoleh.Geng Anne mulai gelisah.
Anne tertawa kecil, berusaha santai. “Kakak serius banget sih. Aku cuma bercanda.”
Damar menatapnya lebih tajam.
“Bercanda,” ucapnya pelan, “Kamu ngerasa itu lucu.”
Damar melirik sebentar ke sekitar.
Lalu kembali ke Anne. “Yang Kamu bercandain itu aku dan keluarga ku.”
Sunyi.
Anne menelan ludah. Damar melanjutkan, tanpa menaikkan suara.
“Aira tinggal di rumah kami atas izin keluarga. Dia dihormati di rumah kami.”
Nada suaranya berubah sedikit, lebih dingin.
“Dan bukan urusan kamu.”
Anne mencoba menyela. “Aku cuma khawatir,”
“Kamu tidak khawatir,” potong Damar cepat. “Kamu menyebar asumsi.”
Satu kalimat.Tepat sasaran.
Wajah Anne memerah.
Damar mencondongkan kepala sedikit.Gerakan kecil, tapi membuat Anne merasa dipandang rendah.
“Kalau aku dengar satu kalimat lagi tentang Aira,”
Damar berhenti, bukan ancaman, tapi peringatan.
"Aku akan laporkan kepihak sekolah.”
Beberapa murid terbelalak. Anne terdiam.Tidak bisa membalas.
Damar melangkah mundur satu langkah Nada suaranya kembali datar.
“Pilihannya ada di kamu.”
Dia berbalik. Pergi begitu saja.
---
Malam sudah larut, rumah Tante Mala tenang.
Lampu-lampu sebagian dipadamkan.
Aira turun dari lantai atas dengan langkah pelan. Dia hendak mengambil air minum.
Lantai dapur sedikit basah, entah sisa cucian atau bocoran keran.
“Aduh!” Kaki Aira terpeleset.
Tubuhnya condong ke depan.
Dalam sepersekian detik...
“Tsk.”
Seseorang menangkap lengannya.
Aira terhuyung dan berhenti…
tepat di dada Damar.
Hangat.
Keras.
Terlalu dekat.
Damar menahan tubuhnya dengan satu tangan di punggung Aira, satu lagi mencengkeram pergelangan tangan.
“Jalan itu pakai mata,” katanya refleks.
Tapi suaranya tertahan,Karena Aira mendongak. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
“A-aku nggak sengaja,” gumam Aira.
Dia bisa merasakan napas Damar, bisa menghitung bulu matanya.
Damar tidak langsung melepaskan, bukan karena lupa.
Karena… tidak ingin.
Beberapa detik berlalu.
Sunyi.
Jantung Aira berdegup keras, terlalu keras.
“Damar…” panggilnya pelan,
"Lepas," Kata Aira pelan wajahnya merona.
Damar menghela napas tidak menuruti permintaan Aira
“Mulai sekarang,” katanya rendah, “berhenti.” Damar tak meneruskan kalimatnya.
Aira mengernyit. “Berhenti apa?”
“Berhenti pura-pura,” jawab Damar.
Damar akhirnya melepaskan tapi hanya sedikit.
Mereka masih cukup dekat.
“Kita bukan sepupu,” lanjutnya.
Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam.
Aira membeku.
“Maksud kamu Apa?” suaranya hampir tak terdengar.
“Kita tidak punya hubungan darah,” kata Damar tegas.
Aira menelan ludah. “Trus?”
“Trus, jangan bersikap seolah kamu nggak tertarik sama aku.”
Wajah Aira berubah merah “Aku... aku nggak ...”
“Jangan bohong,” kata Damar pelan.
“Ekspresi kamu buruk dalam menyembunyikan perasaan.”
Aira mengepalkan tangan. “Kamu Salah paham.” balasnya.
“Aku cuman suka ngeliatin kamu, karena kagum,”
“Kagum dan tertarik,” potong Damar.
"Nggak Gitu,"
Aira terdiam sekarang.
Sunyi kembali turun.
Damar menatapnya, Kali ini tidak dingin.
“Sekarang kamu boleh... tertarik sama aku,” kata Damar
Jarak mereka menyempit lagi, tanpa paksaan.
Aira menunduk cepat.
“Damar...”
"Jangan bikin aku salah paham,”
Damar mengangkat dagu Aira perlahan.
Hanya dengan ujung jari.
“Kalau begitu,” katanya, “jangan salah paham sendirian.”
Mata mereka bertemu. Dan setelah malam itu keadaan mereka tidak akan sama lagi.