"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Tidak Melakukannya
Setelah pertemuan itu, Dea kembali ke mejanya dengan langkah yang jauh lebih ringan dibandingkan yang ia kira.
Awalnya hatinya memang sempat berontak. Ada sisa-sisa nyeri yang mengendap, tapi perlahan Dea memaksa dirinya untuk benar-benar ikhlas.
Meskipun Alex tidak menjelaskan apapun tentang makan malam keluarganya tadi malam, tapi kini Dea telah mengetahui semuanya. Alex diminta untuk pulang karena akan dijodohkan dengan seorang wanita bernama Anita.
Wanita itu jelas wanita cantik, berasal dari keluarga yang terpandang dan setera dengan keluarga Alex. Dea tak berani membandingkannya dengan dirinya sendiri.
Dan yang lebih utama adalah Alex tak menolak perjodohan itu, justru membiarkannya tahu dengan jelas.
Hal ini menandakan bahwa Dea benar-benar tak penting untuk pria tersebut, dan sekarang Dea paham, sangat paham.
Dea kemudian menarik napas panjang, menghadap laptop dan menenggelamkan diri ke dalam pekerjaan. Agenda rapat, surel masuk, laporan yang harus dirapikan, semuanya kembali ia kerjakan dengan ritme yang sama seperti sebelum pergi ke Swiss, seperti sebelum pernikahan kertas itu ada.
Dan anehnya kini Dea mulai secara perlahan bisa tenang.
Menjelang siang suasana kantor tetap berjalan normal. Millie beberapa kali menyenggol lengan Dea, jelas masih menyimpan rasa penasaran yang belum terpuaskan.
“De, sumpah ya, nanti jam makan siang kamu harus cerita detail. Jangan cuma ‘indah’ doang,” bisik Millie sambil menyodorkan berkas. Dia masih sangat ingin tahu tentang perjalanan Dea ke Swiss, Millie juga ingin lihat foto-foto yang Dea ambil. Tak mungkin rasanya jika Dea tidak memotret keindahan negara tersebut.
Dea tersenyum kecil. “Nanti. Kalau aku ingat,” jawabnya malah meledek
Millie mendengus manja. “Ih, pelit cerita.”
Dea hanya terkekeh pelan dan kembali mengetik.
Tepat sebelum jam dua belas siang, suasana lantai atas mendadak sedikit berbeda. Beberapa pasang mata menoleh ke arah lift ketika pintunya terbuka.
Seorang wanita keluar dari sana.
Cantik, tinggi, berpenampilan rapi dengan gaun berwarna krem dan rambut hitam tergerai lembut. Langkahnya anggun, penuh percaya diri, dan senyumnya sopan namun menawan.
Dea tidak perlu bertanya siapa dia.
Itu pasti Anita.
Wanita itu berjalan lurus ke arah ruang Presdir. Millie segera bangkit membukakan pintu dan Anita masuk ke dalam tanpa ragu.
Pintu tertutup.
Dea melihat pemandangan itu hanya sekilas, lalu kembali menatap layar komputernya. Tidak ada rasa sesak seperti yang ia bayangkan. Tidak ada dorongan untuk menoleh lagi. Ia tetap fokus pada pekerjaannya, bahkan sempat berdiskusi singkat dengan Millie soal jadwal rapat minggu depan.
“Cantik sekali," puji Millie setelah dia kembali duduk di kursinya sendiri. Millie juga tahu akan kedatangan tamu spesial sang Presdir tersebut, sebagai rekan kerja Dea mereka memang selalu bertukar informasi, terutama semua hal yang menyangkut tentang Alex.
"Setuju, nona Anita sangat cantik," puji Dea, dia tak ingin berdusta tentang hal ini.
"Kalau calonnya seperti itu, aku yakin tuan Alex akan tobat jadi playboy," balas Millie dan Dea menyambutnya dengan tawa kecil.
'Semoja saja, karena hanya dengan begitu maka pernikahan kami akan berakhir,' batin Dea.
Lalu senyumnya berubah jadi semakin lebar, membayangkan bahwa hidupnya akan kembali bebas setelah pernikahan ini berakhir.
Dea tak perlu lagi memuaskan hassrat pria tersebut.
Di dalam ruang kerja Alex, suasana berbeda.
Anita duduk dengan posisi tegak di hadapan meja Alex, senyumnya ramah, caranya bicara sopan dan teratur. Ia menceritakan banyak hal tentang pekerjaannya, tentang orang tuanya, tentang rencana hidup yang sudah tersusun rapi.
Alex mendengarkan, Ia mengangguk di waktu yang tepat, menimpali seperlunya, bersikap seperti pria dewasa yang tahu bagaimana membawa diri di pertemuan semacam ini.
Namun di dalam hatinya terasa jelas ada sisi kosong.
Tidak ada getaran.
Tidak ada ketertarikan.
Anita memang cantik, cerdas, dan datang dari keluarga yang “tepat”. Tapi semua yang keluar dari mulut wanita itu terasa seperti daftar kelebihan di atas kertas. Terlalu sempurna dan rapi.
Alex bahkan beberapa kali tanpa sadar melirik ke arah pintu, ke arah meja sekretarisnya di luar sana.
Dan itu membuatnya kesal.
Ia tidak seharusnya membandingkan, tidak seharusnya mencari apa pun.
“Aku dengar kamu sekarang memegang penuh perusahaan ayahmu,” ujar Anita sambil menyilangkan kaki dengan anggun. “Pasti berat.”
“Sudah terbiasa,” jawab Alex singkat. Ia menyandarkan punggung ke kursi, sorot matanya tenang tapi jauh. “Ayahku pensiun lebih cepat. Jadi aku tidak punya banyak pilihan.”
Anita tersenyum. “Tante Sandra sering bilang kamu pekerja keras. Karena itulah beliau sampai turun tangan untuk mencarikanmu jodoh.”
“Mama memang suka bicara begitu.”
“Tapi apa kamu juga yakin dengan pilihan mamamu?”
Pertanyaan itu membuat Alex terdiam sejenak. Bukan karena ia tak punya jawaban, tapi karena jawabannya terlalu jujur jika diucapkan.
“Aku orang yang realistis,” katanya akhirnya. “Aku tidak suka drama. Selama semuanya berjalan logis dan saling menguntungkan, aku tidak keberatan.”
Anita menerima jawaban itu dengan senyum yang tak berubah. “Aku juga begitu. Aku tidak berharap kisah cinta yang berlebihan. Yang penting stabil.”
Jawaban itu seharusnya melegakan.
Tapi justru di situlah Alex merasa kosong.
Ia kembali melirik pintu. Melihat Dea duduk di luar sana, mengetik dengan wajah serius, sesekali tersenyum kecil pada Millie dan tidak memikirkannya sama sekali.
Ada rasa tidak nyaman yang menggelitik dadanya.
“Aku pikir kita bisa makan siang bersama,” ucap Alex tiba-tiba. “Sekalian mengobrol di luar, di sini terlalu formal."
Anita tampak senang. “Tentu.”
Alex berdiri lebih dulu. “Mari.”
Saat pintu dibuka, suasana kantor langsung terasa. Beberapa pasang mata melirik, termasuk Dea yang tanpa sadar mendongak ketika bayangan mereka melewati mejanya.
Alex menangkapnya.
Dan di situlah sebuah keputusan impulsif muncul.
Alex melingkarkan lengannya di bahu Anita, gerakan yang halus tapi jelas. Terlalu jelas untuk disebut kebetulan. Tubuh Anita sedikit terkejut, tapi ia segera menyesuaikan diri, bahkan tersenyum lebih lebar.
Dea membeku sepersekian detik.
Alex melirik ke arahnya. Ia ingin melihat sesuatu, apa pun. Tatapan cemburu, keberatan, protes atau larangan.
Tapi Dea hanya menunduk kembali ke layar komputernya, tetap dengan wajahnya yang terlihat tenang.
Langkah Alex sempat terhenti sesaat, nyaris tak terlihat. Dadanya terasa seperti dipukul halus namun telak.
“Semuanya baik-baik saja?” tanya Anita pelan, menangkap perubahan kecil itu.
Alex tersenyum tipis. “Tentu.”
Mereka melanjutkan langkah keluar. Pintu lift menutup, meninggalkan kantor yang kembali seperti semula.
Sementara di meja sekretaris, jari Dea sedikit gemetar di atas keyboard.
Ia menarik napas dalam-dalam.
'Tidak apa-apa,' batin Dea menenangkan diri. Ini yang seharusnya terjadi.
Namun tanpa ia sadari, di balik ketenangannya Alex justru merasa kalah.
Karena ia ingin melihat Dea melarangnya dan Dea sama sekali tidak melakukannya.
lupe you pull😍😍
biar bang Al tantrum sdri🤣
tapi sayang tak digubris🤭..