NovelToon NovelToon
Berondong Ku Ternyata Seorang Billionaire

Berondong Ku Ternyata Seorang Billionaire

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: KGDan

Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.

Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.

Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.

Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13.

Dengan wajah pucat, dan terlihat tidak berdaya Stefan menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang dikatakan Lara.

"Iya, mereka tidak punya perasaan!" jawab Stefan membenarkan perasaan tidak senang Lara.

"Bagaimana, kalau kamu laporkan dia ke Polisi, supaya dia mendapat hukuman!"

Lara semakin memperlihatkan rasa tidak senangnya pada petugas yang memukul Stefan.

Mata Stefan berkedip mendengar apa yang dikatakan Lara, "Oh, eh.. a.. aku rasa tidak perlu, kak! takutnya dia semakin mengincar ku, dan ke depannya akan semakin mengusikku!" jawab Stefan gugup.

Ia tidak menyangka, Lara semakin serius menyikapi apa yang terjadi padanya.

"Oh, iya benar juga apa yang kamu katakan!"

Lara merenungkan beberapa detik apa yang dikatakan Stefan, yang sepertinya memang benar dapat membuat Stefan menjadi lebih terancam.

Petugas itu bisa menyimpan dendam pada Stefan, dan akan memberi Stefan pembalasan yang lebih kejam lagi.

Karena ia merasa, kalau Stefan hanya lah seorang mahasiswa miskin, yang tidak memiliki pendukung untuk melindungi Stefan dari pembalasan preman itu.

"Lain kali, kamu harus menghindarinya kalau bertemu di jalan, jangan sampai terlibat lagi dengannya!" kata Lara lagi memberi pendapat pada Stefan.

"He-em, iya kak!" jawab suara lemah Stefan.

"Apakah kamu sudah bisa berjalan? kalau belum, biar aku bantu jalan untuk kembali ke apartemenmu!"

"Isssh!" tiba-tiba Stefan meringis.

Tangannya memegang kepalanya, dengan wajah yang terlihat kesakitan.

"Kenapa? sepertinya kamu perlu ke rumah sakit, takutnya ada pembekuan darah pada kepalamu yang terluka!"

Suara Lara terdengar cemas melihat raut wajah kesakitan Stefan.

"A.. aku merasa sangat pusing, tidak sanggup untuk berdiri!"

Tubuh Stefan terhuyung ke samping, dan nyaris berbaring kembali ke sofa, "Kak, a.. apakah aku boleh menginap disini malam ini?" tanya suara lemahnya, dengan raut wajah yang terlihat sangat kasihan.

A.. Apa?? bisik hati Lara terkejut.

Mata Lara nyaris membulat mendengar apa yang dikatakan Stefan.

Menginap di sini?! tidak! kami berbeda jenis kelamin! walau dia masih muda, rasanya tidak pantas seorang pria menginap di rumah seorang wanita tanpa status menikah! bisik hati Lara membeku memandang wajah Stefan yang penuh harap.

"Kak.. rasanya ke.. kepalaku semakin pusing!"

Stefan merebahkan tubuhnya ke sofa.

Ia berharap Lara merasa sangat kasihan padanya, dan membiarkannya menginap di apartemen Lara.

"Stefan, se.. sepertinya.. !"

"Akh!" Stefan kembali menunjukkan rasa sakitnya memotong apa yang ingin Lara katakan.

Rasa sakit pada kepalanya terlihat benar-benar sangat serius.

Lalu Stefan membuat tubuhnya sampai menggelung, agar Lara mempertimbangkan apa yang dikatakannya ingin menginap di apartemen Lara.

Lara pun sontak panik melihat reaksi Stefan, yang sepertinya memang benar tidak dapat berjalan kembali ke apartemennya.

"Apakah benar sakit sekali?" tanya Lara duduk di tepi sofa, lalu dengan ragu tangannya dengan hati-hati menyentuh kepala Stefan.

"lya!" jawab Stefan.

Ia meraih tangan Lara yang menyentuh kepalanya, dan menekan telapak tangan Lara di sana, untuk menahan rasa sakit yang ia derita.

Tubuh Lara seketika membeku dengan apa yang Stefan lakukan.

Tindakan Stefan itu, terlihat sudah begitu akrab dengannya.

"Kak, tolong! mungkin perlu dikompres, agar sakitnya mereda!" Stefan memohon pertolongan Lara dengan suara lemah.

Lara mengedipkan matanya melihat tatapan kesakitan Stefan.

Lara tidak dapat berkata-kata dengan apa yang ia alami saat ini.

Mimpi apa dia semalam, sampai bisa terlibat dengan seorang anak muda, yang terlihat lebih pantas menjadi adiknya itu.

Selama ini otaknya hanya tertuju pada sosok David seorang, dan tidak pernah berpikiran akan berinteraksi dengan pria lain.

Siapa sangka, setelah ia melepaskan David sebagai pria satu-satunya, yang selama ini dekat dengannya sebagai lawan jenis, sekarang ia malah dekat dengan seorang pria yang sangat muda di bawah umurnya.

"Kak" suara bergetar Stefan terdengar sangat kasihan.

"Ba.. baik!" jawab Lara, yang tanpa sadar merasa iba dengan keadaan Stefan.

Ia pun menarik tangannya dari pegangan tangan Stefan, yang menutupi luka Stefan pada kepala anak muda itu.

Sudut bibir Stefan menyunggingkan senyuman kemenangan.

Ia terlihat senang melihat Lara terpengaruh dengan sandiwaranya.

Lara memeras handuk kecil yang sudah ia celupkan ke dalam air hangat, lalu kemudian menaruhnya ke kening Stefan.

Kembali tubuh Lara membeku, karena Stefan perlahan menggeser kepalanya, dan meletakkan kepalanya ke pangkuannya.

"Kak" ucap Stefan suara lemah Stefan, "Terimakasih"

Lara mengedipkan matanya.

Apa yang terjadi? kenapa jadi seperti begini? sepertinya tetangga barunya itu sudah sangat mengenalnya, sampai begitu berani tanpa rasa sungkan padanya.

"Ste.. Stefan, apakah kita sudah pernah bertemu sebelumnya?" tanya Lara tidak dapat bergerak, melihat wajah Stefan yang berada di pangkuannya.

Ia merasa penasaran dengan sikap Stefan yang tidak merasa canggung sedikit pun padanya, yang seharusnya bersikap sopan padanya sebagai tetangga baru.

"Sepertinya iya!" jawab Stefan.

"A.. apa? kenapa kamu jawab sepertinya iya?!"

Lara nyaris melompat bangun dari duduknya, dan tindakannya itu membuat Stefan kembali meringis kesakitan.

"Akh!!"

"Ma.. maaf, a.. aku tidak sengaja!"

Lara seketika menjadi cemas dengan kepala Stefan, yang hampir saja terjatuh dari atas pangkuannya.

Melihat mata Stefan terpejam dengan erat menahan sakit, Lara pun merasa bersalah dengan tindakannya yang spontan.

Tangannya pun tanpa sadar mengelus kepala Stefan, untuk meredakan rasa sakit yang dirasakan Stefan.

"Bagaimana, apakah sudah merasa baikan?" tanyanya melihat raut wajah Stefan, yang terlihat tidak meringis lagi.

"He-em, sudah! sedikit" jawab Stefan memejamkan matanya.

Ia menggesekkan pipinya dipangkuan Lara.

Ia merasa sangat nyaman sekali merebahkan kepalanya di pangkuan Lara.

Hingga ia pun tanpa merasa sungkan merangkulkan lengannya memeluk pinggang Lara.

"A.. apa yang kamu lakukan? lepaskan!!"

Lara tentu saja terkejut dengan apa yang dilakukan Stefan.

Ia menarik lengan Stefan dari merangkul pinggangnya, yang ia rasakan semakin erat mengikat pinggangnya.

"Kak, apa kamu memiliki rabun mata? rabun mengenali wajah seseorang yang sudah pernah bertemu dengan mu?" tanya Stefan tanpa memperdulikan reaksi Lara, yang terkejut dengan sikap tidak sopannya itu.

Lara seketika menghentikan tangannya, yang mencoba untuk melepaskan tangan Stefan dari memeluk pinggangnya.

Keningnya berkerut bingung dengan pertanyaan Stefan.

"Kita bertemu kemarin malam di bar, kakak menolong ku dari perempuan yang hampir saja memperkosa ku"

Mata Lara pun sontak membulat mendengar apa yang dikatakan Stefan.

Pantas saja Stefan begitu lancang seperti ini padanya.

Ternyata Stefan, anak muda yang menciumnya di bar itu.

"Oh, ternyata kamu anak muda yang mesum itu! kamu mengerjai ku, ya? berpura-pura tidak mengenal ku waktu aku berbagi buah dengan mu?!"

Mendengar nada marah Lara, perlahan Stefan mengangkat kepalanya, lalu memandang wajah Lara.

"Aku tidak bermaksud mengerjai mu, kak! aku sendiri terkejut melihat kakak sebenarnya tetangga baruku! padahal malam itu aku yang tidak begitu sadar dari pengaruh obat, yang diberikan perempuan itu padaku, tapi.. kenapa kakak yang tidak ingat dengan wajah tampan ku ini?"

Mendengar apa yang dikatakan Stefan, Lara pun tidak dapat berkata-kata untuk menjawab Stefan.

Bersambung...........

1
Lia siti marlia
ya ampun tuh bocah berasa di per...os oleh padal dia yang meped terus
Endang Sulistiyowati
Ya ampun Lara, Stefan minta tanggung jawab tuh karna udah 2x bobo bareng. Modus banget Stefan,
nuraeinieni
dasar modus,,,bilang aja kamu keenakan di peluk lara
nuraeinieni
aduh cindy kamu salah orang,ingin mencelakai lara malah steven yg kena,untung lara dan steven cepat menghindar.
nuraeinieni
curiga nih lara,dgn orang2 nya steven
Cindy
lanjut
Dian Rahmawati
stefan 🤣
mars
iya tuh udh 2x ditiduri,tanggung jawab lo udh ga suci lagi🤣🤣🤣🤣🤣 koplak
Lia siti marlia
mulai mulai terkuak sedikit demi sedikit
Ariany Sudjana
kak penulis, tolong jangan sampai Lara dirusak Stefan, gara-gara minuman itu
Ariany Sudjana
aduh kenapa air itu diminum sama Stefan? jangan sampai Lara jadi pelampiasan karena minuman laknat itu. kenapa sih bukannya David saja yang minum? kan sudah ada pelampiasannya? ga rela kalau Lara dirusak duluan sama Stefan
Ariany Sudjana
hahaha benar kata Stefan, kalau David sudah dibutakan sama jalang peliharaannya dan juga Mak Lampir Anna itu
Maria Mariati
kejebak sama permainan sendiri 🤣🤣🤣💪💪💪😍😍
nuraeinieni
cindy dan mama anna,sandiwara kalian tdk mempan,lara sdh muak dgn kebusukan kalian.
nuraeinieni
aduh sepertinya minuman itu sdh di kasi masuk obat perangsang
nuraeinieni
enak ya david dapat hadiah bogemam dari berondong
Lia siti marlia
hadeh bisa bisa stefan nyoblos lara lagi gara gara minuman yang di berikan cindy
Ariany Sudjana: iya, ga rela kalau Lara dirusak duluan sama Stefan. gimana sih kak penulis?
total 1 replies
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Endang Sulistiyowati
Bener tuh kata Lara, 2 pria bodoh yang dengan mudah dikendalikan 2 wanita licik.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!