Cerita ini bercerita tentang seorang gadis bernama Viona yang tidak pernah dianggap apalagi di terima oleh keluarganya. Karena sang mama meninggal ketika melahirkan nya dan saudara kembarnya Vivian.
Bahkan ayah kandungnya tidak pernah menganggap nya ada . Lebih parahnya Viona dianggap pembawa sial oleh keluarganya.
Setelah Viona tumbuh dewasa dan pergi dari rumah orang tua nya. Malah badai semakin kuat menghantamnya. Gagalnya pernikahan nya karena saudara kembarnya.
Tolong jangan kasih Rate jelek ya! Kalau tidak berkenan membaca silahkan di skip saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayya mell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Suasana rumah Yang Na masih tegang , Fajar dan istrinya masih tidak mau menginap dirumah ibunya itu. Namun Sebastian dan anak-anaknya masih disana.
Andra sekarang selalu murung , dia menyesali semua yang telah terjadi.
Bahkan dengan konyolnya dia selalu menyalahkan Viona akan kepergian sang mama.
" Vio, maafin kak Andra"
Sedangkan Vivian ,gadis itu masa bodoh. Dia seolah tidak terusik sedikitpun. Dia tak punya sedikitpun rasa simpati lada orang lain.Di depan papa dan kakak serta keluarga lainnya . Vivian bisa menjelma bak bidadari . Namun di belakang semua itu dia lebih parah tingkat kenakalannya.
Sementara Sebastian kini mulai merindukan anak bungsunya itu.
" Win, apa aku harus mencari Viona?"
" Buat apa mas, jangan-jangan mas kepikiran tentang ucapan Mas Fajar. Sudahlah mas , dia itu sudah membuat Fara meninggal.Wajar kalau dia disalahkan!" gerutu Winda.
" Minum dulu mas, biar pusingnya berkurang!" ujar Winda sembari menyerahkan segelas air putih hangat untuk sang suami. Tiba-tiba saja Winda mendapat ide untuk menjebak suaminya.
Tapi dia harus melakukannya secara hati-hati jika tidak ingin Sebastian marah. Dan posisinya sebagai nyonya Sanjaya terancam.
* Ditempat lain...
" Vio ! Kamu beneran suka sama kak Satria atau karena kepepet saja?" tanya Manda.
" Iya Vio, kita penasaran deh. Biasanya orang pacaran itu kan ada manis-manisnya . Lha ini kamu sama dia , entahlah susah di tebak." celetuk Lili kali ini.
" Kalian nanya! Kalian bertanya-tanya!" jawab Viona dengan nada centilnya.
" Ah kami ini" gerutu keduanya.
" Jujur sebenarnya aku belum bisa benar-benar suka sama Kak Satria. Entahlah biarkan waktu yang menjawab. Aku merasa kalau dia sudah bosan pasti akan meninggalkanku sendiri" jelas Viona.
Ketiganya melanjutkan perjalan untuk pulang. Kebetulan Manda dan Lili tinggal dekat dengan ruko milik Viona yang kini di tempati nya bersama bu Ratih. Sedangkan bu Minah dan suami masih tinggal di rumah kontrakan milik Viona karena harus mengelola tempat itu.
Saat mereka melintas di jalan yang banyak penjual makanan ,Viona berinisiatif untuk membeli sesuatu. Dia ingin membeli makanan untuk Bu Marni dan bu Ratih.
" Kita mampir beli din sum sama kue bandung ya!" ucap Viona dari atas motornya. Manda dan Lili serempak mengangguk. Viona membeli dua plastik terpisah entah berapa porsi. Dia berniat ingin mampir dulu ke tempat bu Mirna.
" Aku mau ke tempat ibu dulu. Kalian mau pulang dulu atau mau ikut?" tanyanya.
" Kami ikut ! Sudah lama juga tidak main kesana" ucap Manda. Ketiganya pun menuju tempat tinggal bu Minah.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit . Ketiganya sampai di tempat bu Minah .Namun begitu sampai bukan bu Minah yang menyambut mereka melainkan keributan antara suami bu Minah dan bu Minah sendiri dengan tiga orang .
Orang itu menuntut pembagian hasil dan menuntut kos-kosan dan kontrakan yang sekarang di kelola oleh suami bu Minah untuk dibagi rata. Menurut ketiga nya mereka juga berhak atas kontrakan dan kos disini.
" Saya tidak mau tahu yuk , pokoknya kos sama kontrakan ini kami juga harus mendapat bagian !" ucap seorang wanita seumuran bu Minah dengan tangan di pinggang.
Ini bukan urusan kamu Minah, kamu itu orang luar. Istriku itu adik kandung suami mu . Jadi dia juga berhak atas harta yang suami mu miliki!" bentak lelaki yang datang bersama wanita yang mengamuk tadi. Belakangan baru di ketahui jika wanita itu adalah adik kandung pak Sapto namanya Septi. Dan yang baru saja bersuara itu adalah suami Septi bernama Joko.
Septi dan Joko datang bersama putri mereka yaitu Adiba untuk menuntut bagian warisan mereka dari kedua orang tua Septi dan Sapto.
" Ada apa ini" ucap Viona.
"Siapa lagi ini,menganggu saja !" gerutu Septi.
" Saya pemilik tempat yang sedang anda ributkan"
"Jangan mimpi kamu, tempat ini milik keluarga kami. Jelas-jelas kakak ku yang mengelola tempat ini belasan tahun!" hardik Septi.
"Tante mengelola bukan berarti memiliki ,bukan?" sahut Manda.
"Diam kalian anak kecil tidak tahu apa-apa!" hardik joko kali ini.
"Baiklah kalau kalian memang tetap ngeyel. Saya tidak segan-segan untuk menuntut kalian. Manda telfon polisi sekarang. Biar kita selesaikan lewat jalur hukum sekarang juga!" ujar Viona.
Mendengar kata polisi membuat nyali Septi dan sang suami ciut. Karena kedua nya memang pernah mendekam di penjara beberapa bulan dulunya.
"Ayo kita pergi pak! Ingat ini belum selesai .Lihat saja aku tidak akan pernah berhenti menganggu kalian,!" ancam Septi sebelum pergi.
"Buk kok kita malah pergi,bukannya ibu mau bibi dan paman menyerahkan setengah aset ini.Buat aku beli mobil baru!" ujar anak perempuan Septi.
Septi dan Joko sendiri memiliki dua anak . Lelaki dan perempuan,tapi keduanya sama saja. Sama-sama pemalas dan manja.
Oo
"Maaf ya nsk Vio! Keluarga abah membuat keributan" ujar pak Sapto.
"Bukan salah abah sama ibu. Mereka saja yang tidak tahu diri "
Sedangkan Septi dan suaminya terus saja menggerutu di sepanjang perjalanan.
Seandainya tadi Viona dan teman-temannya tidal datang .Mungkin mereka sudah berhasil mengintimidasi Sapto dan Minah.
"Buk,pak. Gimana dong ? Astri pengen beli mobil baru. Semua teman-teman Asri ke sekolah bawa mobil semua!" rengek Astri anak dari Septi dan joko.
"Sabar As! Nanti kita berusaha lagi. Lagian kamu kan masih kelas 3 SMA. Tunggu setahun lagi juga masih bisa!" ujar pak Joko.
"Setahun lagi keburu berjamur. Nanti pasti alasannya sedang banyak kebutuhan untuk abang kuliah!" gerutu Astri.
Anak sulung Septi sendiri sekarang ada di luar daerah .Yang Septi dan orang lain tahu. Anak sulungnya itu sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas ternama di kota lain.
****thanks yang sudah mampir****