"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 10
Suasana meja makan itu seketika membeku. Ucapan Seno barusan menggantung di udara seperti bilah pisau yang tak terlihat, namun tajamnya terasa oleh semua orang. Rania menunduk, jemarinya mengenggam sendok dengan erat, sementara Ryan-- yang sejak tadi duduk diam-- menyunggingkan senyum tipis, nyaris tak kasat mata.
Nyonya Athaya menarik nafas panjang, wajahnya menegang tapi matanya tetap teduh. "Seno, " ucapnya pelan tapi tegas. "setiap pernikahan tidak bisa disamakan. Jangan jadikan luka masa lalu sebagai alasan untuk meremehkan ikatan suci. "
Seno menoleh, sorot matanya dingin. "aku hanya berbicara realistis, nek. "
Nada bicara Seno sarat penuh luka, membuat nyonya Athaya terdiam. Apa yang baru saja di ucapkan nya seolah membuka kembali peristiwa kelam yang tak mungkin keluarga mereka lupakan.
Yakni tentang kematian Danira-- ibu kandung Seno. Dua puluh tahun lalu, kala itu Seno masih berusia tujuh tahun.
Persis seperti kakak nya, Seno kecil sering melihat ibunya menangis karena ulah ayahnya, bukan soal ekonomi, bukan soal kenakalan anak- anak, tapi karena kesetiaan.
Karena nyatanya sebesar apapun ibunya memberikan cinta dan pengorbanan untuk ayahnya, dia tetap saja berselingkuh di belakang ibunya.
Seperti Ryan-- ayah Seno dulu hanya seorang pemuda biasa, bertemu dengan ibunya lalu mereka menikah dan keluarga ini lah yang membantu Bramantyo membuka usaha sampai bisa sukses seperti saat ini, namun bramantyo justru mengkhianati ikatan suci nya dengan Danira.
Bramantyo seolah gelap mata terhadap cinta dan pengorbanan yang selama ini di berikan oleh Danira, karena ternyata selingkuhan nya ini adalah cinta pertama Bramantyo.
Puncaknya Bramantyo dan selingkuhan nya menikah sirih tanpa ijin bahkan sepengetahuan Danira, bahkan Bramantyo lebih memilih menemani gundiknya itu melahirkan daripada menemani istri sahnya yang waktu harus operasi untuk pengangkatan rahim.
Danira memang memiliki penyakit kista yang sangat fatal, apalagi karena permasalahan rumah tangga nya membuat nya stres dan memperparah penyakit nya.
Dari pihak keluarga berusaha mati- matian, pindah dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain untuk pengobatan Danira bahkan kalaupun sampai harus berobat ke ujung dunia mereka usahakan waktu itu, meski harus mengorbankan masa kecil bahagia yang seharusnya dirasakan Seno.
Seno kecil tak pernah tahu rasanya pergi liburan dengan keluarga utuh, ketika dalam kandungan pun, keadaan rumah tangga orang tuanya sudah carut marut, itulah yang dia tahu dari cerita kakaknya.
Namun semua perjuangan itu runtuh dalam satu keputusan yang tak pernah siap diterima siapa pun.
Di tengah tubuh yang kian melemah dan jiwa yang remuk oleh pengkhianatan, Danira memilih jalan paling sunyi--jalan yang justru meninggalkan luka paling bising bagi orang-orang yang mencintainya.
Hari itu bertepatan dengan ulang tahun Seno yang ketujuh.
Rumah kediaman Barata sebenarnya sedang bersiap dengan sederhana. Tak ada pesta besar, hanya kue kecil di meja dapur, balon-balon yang digantung seadanya, dan harapan bahwa setidaknya hari itu bisa menjadi hari yang sedikit lebih cerah bagi seorang anak yang terlalu cepat dewasa oleh keadaan.
Danira sempat tersenyum pagi itu. Senyum yang terlalu tenang, terlalu rapi--sebuah ketenangan yang baru disadari keluarga sebagai pertanda, jauh setelah semuanya terlambat.
Ia meminta Seno bermain sebentar di luar kamar, katanya ia ingin beristirahat. Tak ada yang curiga. Semua mengira Danira hanya kelelahan setelah malam panjang penuh nyeri.
Seno kecil menurut. Ia bermain sendiri, menunggu waktu meniup lilin.
Namun waktu berlalu, dan ibunya tak kunjung keluar.
Dengan langkah kecil dan hati yang polos, Seno mendekati kamar itu. Ia mengetuk pelan, memanggil ibunya dengan suara riang yang masih menyimpan sisa harapan ulang tahun.
Tak ada jawaban.
Ia membuka pintu itu.
Dan dunia Seno berhenti berputar di sana.
Tubuh Danira tergantung di tengah kamar. Kakinya tak menyentuh lantai. Wajahnya pucat, matanya terpejam, seolah sedang tidur--tidur yang terlalu dalam untuk dibangunkan oleh siapa pun.
Namun Seno hanya bisa terdiam, banyaknya luka yang menumpuk membuat nya bahkan lupa untuk menunjukkan ekspresi nya, namun tatapannya tetap bergetar, wajahnya mengelam. Tapi satu hal yang ia tahu, ibunya mungkin tak akan pernah menangis lagi karena ayahnya setelah ini.
Sampai akhirnya Athaya lah yang datang dan menjerit histeris hingga semua berkumpul di sana dan rumah itu berubah menjadi lautan duka. Tangis pecah di setiap sudut. Kue ulang tahun tak pernah disentuh. Lilin tak pernah dinyalakan.
Dan sejak hari itu, ulang tahun bukan lagi perayaan bagi Seno--melainkan pengingat paling kejam tentang bagaimana cinta bisa mati, bahkan ketika semua orang sedang mati-matian berusaha menyelamatkannya.
Di meja makan itu, dua puluh tahun kemudian, Seno terdiam dengan rahang mengeras.
Tak ada yang berani menyela. Karena semua orang tahu--realisme yang ia ucapkan barusan bukanlah sikap sinis tanpa alasan.
Itu adalah suara seorang anak yang ulang tahunnya direnggut oleh tali gantungan. Yang bahkan tak pernah benar-benar merasakan bagaimana hangatnya sebuah keluarga utuh. Peristiwa kelam itu telah membawa trauma besar untuk nya yang bahkan sampai mati tak akan bisa ia lupakan.
Itu adalah suara seorang lelaki yang tumbuh dengan keyakinan bahwa pernikahan tidak selalu menyelamatkan, dan cinta--betapapun suci--bisa berubah menjadi pisau paling tajam bagi orang yang paling setia sekalipun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Indira hanya bisa termenung setelah nyonya Athaya menceritakan semua itu padanya. Sekarang mereka berada di taman belakang mansion, di sebuah gazebo tempat biasa nyonya Athaya berteduh.
Setelah sarapan di meja makan yang dingin itu, nyonya Athaya mengajaknya kesini dan menceritakan segalanya pada Indira. Tentang alasan kenapa Seno bisa se- emosional itu tadi, tentang kenapa ia yang paling murka soal perselingkuhan yang dilakukan Ryan bahkan sampai melakukan tindakan impulsif-- yakni membatalkan pernikahan antara Indira dan Ryan, yang kalau saja terjadi mungkin Indira akan menjadi orang yang paling bersalah seumur hidup.
"Begitulah ceritanya, nak. "Nyonya Athaya menghela napas panjang, rasanya masih begitu sesak setiap kali ia mengingat peristiwa yang paling kelam dalam keluarganya itu, tentang kematian putri nya sendiri yang paling tragis.
" Ini adalah cerita pertama dan yang paling kelam yang kau dengar tentang keluarga ini. " nyonya Athaya menoleh menatap burung- burung peliharaan nya yang sedang minum di kolam air mancur,
"Nenek harap kau bisa menjaga rahasia ini jangan sampai bocor keluar, karena biarlah ini menjadi peristiwa kelam yang hanya diketahui oleh keluarga saja. "
Indira mengangguk, ia sekarang paham kenapa Seno sampai bersikap sebegitunya, pria itu hanya ingin melindungi kakaknya agar peristiwa yang terjadi pada ibunya tak menurun pada kakaknya.
"Indira tahu nek, Indira janji hanya Indira saja yang tahu dan kalau sampai bocor keluar nenek bisa hukum Indira dengan seberat-beratnya. "
Nyonya Athaya tersenyum, merengkuh telapak tangan Indira. " nenek percaya padamu. "
******
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah