Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengadilan Kekaisaran
Tidak jauh dari aula utama, Ibu Selir Mu Jiang berdiri di ujung lorong gelap bersama putrinya. "Tidak ada sandaran lagi untuk kita di kediaman ini. Bahkan Tuan besar tidak perduli dengan putri dari Nyonya." Memegang lembut wajah putrinya. "Putriku, jika kau menemukan pemuda yang kau cintai. Sekalipun dia dari keluarga sederhana. Ibu akan merestui mu. Yang terpenting kau bisa hidup dengan bahagia. Jangan menunggu terlalu lama. Karena, jika Ayah mu sudah memilihkan jodoh. Kau tidak lagi dapat memilih pernikahan yang kau inginkan."
"Ibu, putri ini mengerti."
Dua orang yang telah memperhatikan dari kejauhan itu segera melangkah pergi. Sebelum ada orang lain yang melihat keberadaan mereka.
Sedangkan Nyonya Bai berlari mengejar kedua putrinya. "Qianlu, Jian." Dia lebih dulu menggenggam tangan putri pertamanya. Dengan kelembutan dia berkata, "Ibu akan menghalangi ayah mu agar tidak mengejar. Kau harus segera pergi."
Melihat kearah putri keduanya. "Ibu tidak tahu kau telah mengalami banyak ketidakadilan. Semua ini juga karena kesalahan Ibu. Maafkan Ibu." Dia menundukkan kepalanya karena merasa malu. Tidak bisa melindungi putri-putrinya dengan baik.
"Ibu, Jian mengerti." Sekalipun Ayahnya telah membuat hatinya terluka. Tapi hari ini setelah melihat kakak perempuannya membelanya mati-matian. Juga Ibunya yang datang kearahnya setelah sekian lama. Hatinya kembali terasa hangat.
"Aku akan menahan Ayah kalian. Kalian harus segera pergi dari kediaman ini." Nyonya Bai membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali menghampiri suaminya di aula utama.
Selir Yu mengajak adik keduanya bersama kedua pelayannya secepat mungkin meninggalkan kediaman Yu. Hanya melalui pintu belakang dan jalur kecil di pinggiran hutan. Mereka baru dapat keluar malam itu juga. Untuk menghindari pengejaran Tuan Yu Wangyi. Atau bertemu dengan prajurit pengawal kota yang tengah berpatroli.
Di dalam kereta yang melaju, kedua wanita dari kediaman Yu itu hanya diam. Mereka tidak saling berbicara ataupun menatap. Selir Yu menyandarkan tubuhnya di pembatas kereta dengan Memejamkan kedua matanya. Sedangkan Nona kedua Yu Jian tetap diam menundukkan kepalanya. Terbenam dalam pemikiran kalutnya.
Sebelum matahari pagi meninggi. Kereta telah sampai di istana dalam. Selir Yu mengajak adik keduanya untuk tinggal sementara waktu di istana. Sampai dia bisa mengendalikan situasi yang terlanjur kacau.
Sesampainya di halaman istana tempat tinggalnya. Dia berhenti, "Guyi, antarkan Jian ke kamar tamu." Dia melangkah pergi.
"Baik."
Nona kedua Yu Jian terlihat ingin mengatakan sesuatu. Tapi kakak perempuannya telah lebih dulu pergi.
"Nona kedua, silakan." Pelayan Guyi mempersilakan.
Nona kedua Yu Jian menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan.
Melihat itu Pelayan Guyi melangkah lebih dulu mengantar gadis muda itu untuk beristirahat.
Selir Yu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Aaaa..." Menguap.
Kedua matanya ia pejamkan.
Namun, dari balik pintu yang tertutup kasim kepala Gu berkata. "Selir Yu, Yang Mulia memanggil anda untuk datang di tempat pengadilan Kekaisaran."
"Aaahhh..." Bangkit dengan wajah kesal. Kedua lingkaran hitam di wajahnya terlihat cukup jelas. "Kenapa semua orang selalu mengganggu ku." Selir Yu menjambak rambutnya lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. "Aku akan datang dua jam lagi," teriaknya.
"Selir Yu, jika dalam setengah jam anda tidak datang. Nona kedua Yu Jian akan ikut di adili," ujar Kasim kepala Gu.
Wanita itu bangkit. "Atas dasar apa?"
"Atas dasar anda tidak mengikuti panggilan Yang Mulia," Jawab suara dari balik pintu.
Selir Yu menekan kekesalannya. "Ketentuan setiap di dunia masih saja sama. Yang berkuasa adalah pemenangnya." Menarik napas dalam. "Aku akan datang setelah berbenah."
"Baik. Jika demikian, saya mohon undur diri." Kasim kepala Gu pergi setelah menyampaikan pesan lisan Kaisar Xiao Chen.
"Nuan Nuan." Suara Selir Yu terdengar menggema di ruangan kamar.
Pelayan Nuan Nuan masuk kedalam kamar. "Selir Yu." Memberikan hormatnya.
Wanita dengan gaun yang sudah tidak karuan berjalan perlahan menuju kamar mandi. "Siapkan gaun dan perhiasan terbaik milik ku. Pertarungan masih harus di lanjutkan."
"Baik." Pelayan Nuan Nuan segera menyiapkan gaun terbaik milik Selir Yu. Di saat Pelayan Guyi datang dia juga ikut membantu.
Selir Yu mandi seperti kilat. Yang terpenting dia dapat membersihkan keringat di tubuhnya. Di saat masuk kedalam kamar utama. Dua pelayan wanitanya telah siap. Untuk merubahnya menjadi wanita yang penuh perhitungan dalam bertindak.
"Penampilan adalah yang utama untuk memberikan kesan tenang namun kejam. Kita mulai," ujar Selir Yu.
Kedua pelayannya mengangguk mengerti.
Krekkkk...
Pintu kamar utama di buka.
Wanita dengan gaun berwarna bunga persik melangkah keluar. Tatapan matanya sangat tenang namun tersirat aura mematikan di saat seseorang memandang dirinya. "Bagaimana? Apa tatapan mata ku sudah cukup mengintimidasi, kejam, dingin juga penuh kelicikan?"
Dua jempol di berikan kedua pelayan wanitanya.
Senyuman melintas di wajah cantiknya. "Baik. Kita mulai pertempuran." Selir Yu melangkah melewati ambang pintu kamar. Dia pergi menuju ke tempat pengadilan Kekaisaran. Di mana di tempat itu hanya Kaisar lah yang dapat memberikan hukuman kepada terdakwa. Orang lain tidak memiliki wewenang untuk ikut campur.
Di ruangan besar dengan enam pilar menjulang tinggi sebagai penyangga tempat itu. Kaisar Xiao Chen telah duduk dengan jubah naga mengembang megah di tubuhnya. Mahkota emas dengan kristal sejernih kaca melingkar di kepalanya.
Di depannya, Tuan muda kedua Heng Zhan telah berlutut ketakutan. Di sampingnya Nona kedua Yu Jian juga telah hadir.
Tuan Yu Wangyi berdiri menatap dingin kearah putri pertamanya yang baru hadir.
Tuan Heng An yang merupakan Ayah dari terdakwa telah menekan marahnya.
"Yang Mulia." Selir Yu memberikan hormatnya. Dia sedikit merendahkan tubuhnya lalu berdiri tegap lagi setelah sekian detik.
"Selir Yu, kau terlalu lambat. Aku sudah menunggu cukup lama," ujar Kaisar Xiao Chen.
"Gaun ini terlalu berat. Sehingga membuat langkah ku lebih lambat. Selir ini harap, Yang Mulia dapat memakluminya." Ujar Selir Yu tanpa rasa bersalah.
Tawa kecil penuh ejekan terlihat di wajah Kaisar Xiao Chen. "Masalah kecil seperti ini bahkan harus aku tangani. Selir Yu, kau sudah keterlaluan."
Mendengar perkataan Kaisar Xiao Chen. Pandangan mata yang awalnya masih di penuhi kehangatan itu. Kini menjadi sangat dingin bahkan bisa membelah siapa saja yang melihatnya. "Yang Mulia." Berlutut.
Semua orang cukup terkejut.
"Aku ingin meminta keadilan untuk adik kedua ku." Wanita itu bersujud.
Melihat tingkah dari Selir Yu. Kaisar Xiao Chen yang masih cukup santai. Langsung menatap tajam. "Kau bisa bangkit dan mengatakan maksud dari perkataan mu."
"Baik." Selir Yu bangkit dari sujudnya namun dia masih berlutut.
Nona kedua Yu Jian menarik gaun kakak perempuannya pelan. Di saat Selir Yu melihat kearah adik keduanya. Kedua mata mereka saling bertemu. Gadis muda itu menggelengkan kepalanya. Memberikan isyarat kepada kakak perempuannya jika masalahnya harus di akhiri dengan damai.
"Kau yakin dengan pilihan mu itu? Jian, satu kali saja kau memaafkan perbuatannya. Dan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja. Mereka tidak akan melepaskan mu. Dia bisa melakukannya sekali. Tentu saja dia bisa melakukannya untuk kedua, ketiga kalinya." Selir Yu meyakinkan adik keduanya.
Suara lembut penuh kehangatan dan keinginan untuk melindungi itu membuat hati Nona kedua Yu Jian semakin hangat. "Kakak." Air matanya jatuh.
Selir Yu tersenyum. "Kakak ada di sini. Tidak akan aku biarkan orang lain menyakiti mu." Menatap tajam kearah Tuan muda kedua Heng Zhan. "Yang Mulia." Mengarahkan pandangan matanya menuju Kaisar Xiao Chen.
Semua orang menunggu.
"Kemarin, jika aku tidak datang tepat waktu. Pemuda gila itu pasti telah menodai kesucian adik ku. Bahkan aku mendengarnya sendiri. Dia..." Menunjuk penuh amarah. "Berniat memberikan adik ku kepada bawahannya jika dia telah berhasil mendapatkan kesuciannya." Suara Selir Yu sangat tegas.
mungkin sebenarnya selir Yu ingin melindungi adiknya makanya dia melarang ayahnya mengirim adiknya ke istana krn selir Yu tahu bagaimana sulit dan bahaya nya tinggal di istana