NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Monster Tampan

Menjadi Tawanan Monster Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu_Fikri

Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jealous Monster

Hari itu adalah hari Minggu. Sejak kemarin Sesilia telah bernegosiasi dengan Axel agar bisa mengizinkan sahabatnya Uni datang berkunjung. Ia sangat kesepian. Akhirnya gadis itu dengan malu-malu, menemui pemilik apartemen untuk menyampaikan keinginannya. Setelah negoisasi yang alot dan sedikit paksaan romantis ala Sesilia, Axel akhirnya mengizinkan Uni untuk berkunjung.   

Pertemuan dilakukan di apartemen tentu saja, di taman indoor yang terletak di lantai mezanin, sebuah ruang terbuka dengan langit-langit kaca yang menampakkan langit Jakarta yang kelabu.

Uni datang dengan langkah gontai, keceriaannya hilang entah kemana, bagian bawah matanya menghitam. Begitu ia melihat sahabatnya berdiri di antara pohon-pohon palem buatan, Uni langsung berlari dan menggenggam tangannya.

.

​"Sesi... maafkan aku," bisik Uni, suaranya pecah sebelum percakapan benar-benar dimulai.

Sang sahabat, tentu saja kebingungan. Uni terlihat sangat tidak seperti Uni. Sesilia, dalam keadaan bingung itu, akhirnya menenangkannya. Ia menggenggam tangan Uni, dan tersenyum hangat. Memberikan semua energi positif pada  sahabatnya yang tengah sekarat.

"Apa yang terjadi, Ni? Kenapa minta maaf?"

​"Aku sudah bicara dengan Ibuku," Uni menunduk, air matanya menetes di atas lantai marmer. 

"Semua yang kamu alami... itu adalah hal yang juga Ibuku alami. keluarga ini.... Keluarga kami punya kutukan, Si. Kutukan yang diturunkan turun temurun. Ayahku, Axel, dan semua pria keturunan Steel... mereka memang mencintai, tetapi dengan cara yang tidak normal."

Sesi diam, mendengarkan isi hati sahabatnya. Ia bisa merasakan nada frustasi dan perasaan kecewa kepada keluarganya sendiri.

"Tenang, Ni. Tenang ya. Jangan nangis." Sesi membantu menenangkan, tangannya memukul lembut punggung sahabat karibnya itu. Kemudian kembali berbicara.

"Jadi, kamu merasa bersalah sama aku, Ni. Karena gara-gara persahabatan kita, Axel jadi kenal sama aku. Gitu kan maksud kamu?"

Uni mengangguk kencang. Air matanya beterbangan ke wajah Sesi.

​"Perhaps this is fate, our meeting, Axel and I. We may indeed be destined to meet. With or without your intervention. Because sometimes things that are meant to meet will surely find their own way to be discovered."

ucap Sesilia pelan, matanya melirik ke arah kamera CCTV yang berputar mengikuti gerakan mereka.

Di tengah suasana emosional itu, pintu lift berdenting pelan. Dari sana keluar sosok yang sangat mirip dengan Axel. Sesilia terpaku sesaat. Pria itu bagaikan pinang dibelah dua dengan pemilik penthouse ini.

​Pria itu mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu arang. Wajahnya adalah versi yang sedikit lebih matang dari Axel. Dengan rahang yang lebih tajam, mata yang lebih dalam, dan aura dominasi yang bahkan lebih pekat. Dia adalah Edward Steel, kakak laki-laki Uni, yang usianya setahun lebih tua dari Axel.

​"Edward?" Uni tersentak, segera menghapus air matanya.

​Edward melangkah mendekat, langkahnya sama persis seperti milik Axel. Tenang dengan aura yang sulit diartikan.

Lelaki itu berhenti tepat di depan Sesilia, mengabaikan adiknya sendiri. Matanya yang kelabu, warna yang juga identik dengan milik Axel, mengamati wajah gadis milik Axel yang baru pertama kali ditemuinya itu.

​"Jadi, kamu adalah perempuan yang membuat sepupuku kehilangan akal sehatnya," suara Edward lebih berat dari Axel, juga mengandung nada sarkasme halus.

"Sesilia ya?" Edward bertanya, sekarang matanya berpendar jahil. "Anak manis milik Axel. You look lovely, little girl."

​Sesilia merasakan insting waspadanya berteriak. Edward adalah cerminan dari Axel, namun tanpa ikatan emosional yang selama ini Axel miliki terhadapnya. Edward adalah Axel versi murni tanpa celah.

​"Kam Edward," balas gadis itu dengan suara penuh keraguan.

​"Jangan kaku begitu, gadis kecil," Edward mengulas senyum tipis yang tidak mencapai matanya. Lelaki itu kemudian berjalan pelan menuju gadis milik sepupunya itu, lalu berdiri sangat dekat dengannya, hingga Sesilia bisa mencium aroma tembakau mahal dan cologne yang tajam.

"Aku datang hanya untuk melihat sendiri, apakah gadis kecil ini benar-benar berharga. Sehingga sepupuku yang gila itu, mengacaukan bursa saham Minggu ini. Hanya agar kau ... memiliki laboratorium pribadi dalam penthouse ini." Selagi berbicara, tangan Edward menyentuh dagu Sesilia dengan ibu jarinya.

Kakak Uni itu tahu betul, bahwa sepupunya pasti sedang memantau pertemuan ini. Lelaki itu sengaja melakukan gestur yang terlalu intim dengan Sesilia. Tujuannya hanya satu, memancing singa keluar dari sarangnya.

Salah satu contohnya adalah Edward dengan sengaja mengulurkan tangannya untuk merapikan sehelai rambut Sesilia yang terjatuh ke wajahnya.

​"Kau tahu, gadis kecil," bisik Edward, cukup keras untuk ditangkap oleh mikrofon tersembunyi. "Dalam keluarga Steel, kami sangat menghargai waktu. Axel terlalu lambat dalam menjinakkanmu. Jika kau adalah milikku, maka namamu mungkin sudah berganti menjadi nyonya Steel."

​Uni menarik napas tertahan. "Kak, jangan lakukan, Axel bisa marah."

​Edward tertawa pelan, tawa yang kering dan tajam. "Biarkan saja dia marah. Amarah adalah bukti bahwa monster seperti kita masih punya perasaan."

Lelaki itu kemudian membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Sesilia yang membuat jantung gadis itu berdebar tak karuan. Bukan karena terpesona oleh ketampanannya, tapi karena ngeri melihat betapa identiknya pemikiran para pria Steel.

"Aku bisa mencium aroma Axel di kulitmu, gadis kecil. Sangat posesif. Sangat primitif. Tapi kau terlihat sangat lelah. mungkin, kau bisa berlari ke dalam pelukanku, dengan senang hati aku akan......."

​BRAK

​Pintu mezanin terbanting terbuka dengan dentuman yang menggetarkan kaca-kaca di sekelilingnya. Axel Steel berdiri di sana. Wajahnya memerah karena amarah, urat-urat dilehernya terlihat menonjol mengerikan. Lelaki itu mengeluarkan aura yang bisa membekukan air dalam sekali tatap, dengan napas memburu, dan mata yang berkilat penuh kegelapan, siap menelan siapa pun yang menghalanginya.

​Axel melangkah cepat, setiap hentakan sepatunya di lantai marmer terdengar seperti hitung mundur ledakan. Ia merangsek masuk, menyentakkan tangan Edward menjauh dari gadis miliknya, dan menarik sang gadis ke belakang tubuhnya dengan gerakan yang sangat posesif hingga bahu Sesilia sedikit terhentak.

​"Jangan. Pernah. Menyentuhnya. Edward," desis Axel. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan di tenggorokan.

​Edward mengangkat kedua tangannya dengan santai, senyum mengejek masih tersungging di bibirnya. "Chill, bro. Aku hanya sedang menguji kualitas 'aset' terbarumu. Dia cukup stabil, meski sedikit terlalu berani untuk seleraku."

​Edward menatap Axel dengan pandangan merendahkan. "Look at yourself. You're such a mess. All because of a cute girl.."

"Shut your mouth, asshole! You have no right to comment on me. You idiot!" Axel menjawab sarkas.

"Okay, okay, I'm sorry." Edward menjawab, masih dengan nada santai yang sama.

"Get out of my building before I forget that we share the same blood!"

​Edward melepaskan cengkeraman Axel dengan satu sentakan yang kuat, merapikan jasnya, dan menoleh ke arah Sesilia dengan kedipan mata yang provokatif. "Sampai jumpa di perjamuan keluarga, Nona Sesilia. Aku harap kau masih memiliki 'nyawa' saat itu."

...

​Setelah Edward dan Uni pergi, Uni dibawa paksa oleh pengawal Edward atas perintah ayahnya. Suasana di taman itu menjadi sangat mencekam. Axel berdiri membelakangi Sesilia, tangannya terkepal kuat hingga buku jarinya memutih.

​Sesilia bisa merasakan gelombang panas kemarahan yang memancar dari tubuh Axel. Pria itu berbalik, matanya menyapu seluruh tubuh sang gadis seolah ingin memastikan tidak ada jejak Edward yang tertinggal di sana.

​"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Axel, suaranya parau.

​"Tidak ada yang penting," jawab gadis itu pelan.

​Axel menerjang maju, mencengkeram kedua bahu Sesilia. Matanya menelusuri seluruh tubuh gadis itu, memastikan tidak ada potongan tubuh Edward yang tertinggal. Kemudian, dalam satu sentakan lembut, lelaki itu membawa gadisnya ke dalam pelukan hangat dan posesifnya.

Ia embenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup kuat aromanya, seakan Sesilia adalah oksigen satu-satunya dalam dunia yang hampir kiamat. Napas lelaki itu yang panas membakar kulit Sesilia.

"you're mine, Si. Mine."

Sesilia dalam pelukan monster tampannya, bisa merasakan, bagaimana tubuh lelaki itu bergetar hebat karena cemburu. Bagaimana napas hangat dan debaran jantung itu hanya berdetak untuknya.

Dari kejauhan, Edward Steel tersenyum di dalam lift, menyadari bahwa ia telah menemukan tombol penghancur diri Axel Steel bernama Sesilia Kira.

1
partini
baca sinopsisnya penasaran
Lusy Kunut: Stay tune yah kak, supaya rasa penasarannya terobati👍
total 1 replies
merdi Yanto
cuit cuit cuit😍🤣
merdi Yanto
duh🤭
merdi Yanto
Bau-bau mulai berbalas perasaannya Axel
merdi Yanto
/CoolGuy//CoolGuy/
merdi Yanto
Plot twist banget keluarganyaa
merdi Yanto
🤭🤭🤭🤭
bau bau bucin😍😄
merdi Yanto
Suka cerita dari sok benci jadi bucin akut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!