Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 — PENGAKUAN RINI
Lorong di balik lemari itu bukan sekadar lubang galian biasa. Itu adalah usus desa.
Dinding tanahnya tidak kering dan berpasir, melainkan basah, licin, dan berdenyut pelan seirama dengan detak jantung raksasa yang bergema dari kedalaman bumi. Akar-akar pohon beringin dan jati menembus atap lorong, menjuntai seperti rambut-rambut halus di dalam saluran pencernaan, sesekali bergerak menyapu wajah Nara dan Dion yang merangkak putus asa.
Udara di sini berat, minim oksigen, dan berbau campuran antara belerang, gas metana, dan aroma manis yang memuakkan—aroma bunga kamboja yang membusuk.
"Yon... lo masih idup?" bisik Nara. Suaranya tidak memantul, melainkan terserap oleh tanah basah.
"Gue... gue nggak bisa napas, Nar," sahut Dion di belakangnya. Suara napas Dion berbunyi ngik-ngik parah. "Dada gue sakit. Sempit banget."
"Tahan. Jangan berhenti. Kalau lo berhenti, tanah ini bakal ngunyah kita," Nara memaksakan diri merangkak maju. Lututnya perih tergesek bebatuan tajam yang tertanam di lumpur, tapi rasa sakit itu justru membuatnya tetap sadar.
Cahaya korek api Dion sudah mati sejak lima menit lalu. Mereka merangkak dalam kegelapan total, hanya mengandalkan indra peraba dan insting. Nara memegang dinding lorong, merasakan teksturnya yang lengket seperti daging mentah.
Tiba-tiba, tangan Nara meraba ruang kosong.
Lorong itu berakhir.
Atau lebih tepatnya, lorong itu bermuara pada sebuah ruang terbuka.
Nara merangkak keluar, berdiri dengan kaki gemetar. Ia menyalakan korek api terakhir yang ia simpan di saku dalam jaket almamaternya.
Ctrek. Api kecil menyala.
Mata Nara membelalak. Dion yang baru saja keluar dari lubang, langsung muntah melihat pemandangan di depan mereka.
Mereka berada di sebuah gua alam yang luas, terletak jauh di bawah fondasi Joglo. Stalaktit meneteskan air kapur yang bercampur lumpur merah. Tapi yang membuat mual bukan formasi batunya.
Lantai gua itu... adalah tempat pembuangan sampah.
Bukan sampah plastik atau daun kering.
Lantai gua itu tertimbun oleh ratusan tas ransel, koper, sepatu gunung, dan jaket-jaket almamater dari berbagai warna dan universitas. Ada jaket kuning, biru, hijau, merah marun. Semuanya kotor, robek, dan berjamur.
"Ini..." Dion memungut sebuah tas carier biru yang sudah gepeng. Ia membukanya. Di dalamnya ada buku diktat kuliah tahun 90-an, walkman rusak, dan botol minum yang sudah karatan. "Ini barang-barang mereka, Nar."
"Barang-barang mahasiswa KKN sebelumnya," sambung Nara, menyinari tumpukan itu. Ia melihat sepatu boots wanita yang masih terikat tali simpul mati, seolah pemiliknya ditarik keluar paksa dari sepatu itu.
Mereka berdiri di kuburan memori.
Di tengah tumpukan barang-barang itu, terdapat sebuah aliran sungai bawah tanah yang airnya hitam pekat dan tenang. Sungai itu mengalir pelan menuju sebuah celah gelap di ujung gua.
"Selamat datang di Gudang Logistik," suara wanita bergema dari arah sungai.
Nara dan Dion berputar cepat, punggung saling menempel.
Dari dalam air sungai yang hitam, muncul sosok Rini.
Gadis desa itu tidak basah kuyup seperti Raka dalam mimpi. Rini muncul dalam keadaan kering sempurna, seolah air sungai itu takut menyentuh kulitnya. Ia mengenakan kemben batik motif semen rama—motif yang melambangkan pertumbuhan dan kehidupan, tapi di tubuh Rini, motif itu terlihat seperti gambar akar yang melilit tulang.
Rini duduk di atas batu besar di pinggir sungai, menyilangkan kakinya yang jenjang. Di tangannya, ia memegang sebuah tengkorak manusia yang sudah bersih, memainkannya seperti bola bekel.
"Rini..." desis Nara, mengarahkan konde emasnya sebagai senjata.
"Halo, Mbak Nara. Mas Dion," sapa Rini ramah, senyum manisnya merekah, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu putih dan rapi untuk gadis desa yang jarang sikat gigi. "Gimana kamarnya? Nyaman? Mas Raka tidurnya pules kan?"
"Lo apain Raka?!" teriak Nara.
"Saya nggak ngapa-ngapain," Rini mengangkat bahu, lugu. "Mas Raka itu rakus. Dia minta kenikmatan, ya saya kasih. Dia minta pelukan, ya saya peluk. Cuma... wadahnya Mas Raka itu rapuh. Kena energi dikit aja langsung pecah."
Rini melempar tengkorak itu ke udara, lalu menangkapnya lagi.
"Lagian, dia udah tenang kok. Dia udah jadi bagian dari fondasi Joglo yang baru. Jasanya besar."
Dion maju selangkah, kemarahannya mengalahkan ketakutannya sesaat. "Kenapa kami, Rin? Kenapa harus mahasiswa? Kenapa nggak orang jahat aja yang kalian jadiin tumbal? Kami dateng ke sini buat bantu desa lo! Kami bawa program kerja! Kami bawa obat-obatan!"
Rini tertawa. Tawanya renyah, tapi bergema aneh di dinding gua, seperti suara koin jatuh di lantai keramik.
"Bantu?" Rini turun dari batu, berjalan mendekat. Langkah kakinya tidak berbunyi. "Kalian pikir kalian itu pahlawan? Datang dari kota, bawa ilmu, bawa teknologi, merasa lebih pinter dari kami yang 'ndeso' ini?"
Wajah Rini berubah serius. Matanya berkilat hijau dalam remang cahaya korek api Nara.
"Dengerin ya, Mas Mahasiswa yang pinter," Rini menunjuk tumpukan tas dan jaket usang di sekeliling mereka. "Kalian itu bukan tamu. Kalian bukan relawan. Kalian itu sapi gelonggongan."
"Maksud lo?" tanya Nara tajam.
"Setiap sepuluh tahun," Rini mulai bercerita, berjalan mengelilingi mereka seperti hiu mengitari mangsa. "Energi tanah Wanasari ini habis. Kami butuh pupuk. Tapi pupuk biasa nggak mempan. Tanah ini butuh darah yang 'mahal'."
Rini berhenti tepat di depan Dion, menepuk pipi pemuda itu pelan. Dion mundur, gemetar.
"Darah orang desa itu murah, Mas. Kami capek kerja, pikiran kami sederhana, hidup kami monoton. Energinya hambar," jelas Rini. "Tapi kalian..."
Rini menghirup napas panjang, seolah mencium aroma tubuh mereka.
"Kalian itu muda. Kalian berpendidikan. Otak kalian penuh ide, penuh mimpi, penuh ambisi. Emosi kalian meledak-ledak. Ada cinta, ada patah hati, ada kesombongan intelektual, ada nafsu yang ditahan-tahan atas nama moralitas."
Rini menyeringai lebar.
"Itu... rasanya gurih. Itu delicacy. Ibu Ratu suka sekali rasa putus asa dari orang yang merasa dirinya punya masa depan cerah."
Nara merasa lututnya lemas. Jadi selama ini... program KKN itu sendiri adalah jebakan?
"Universitas..." bisik Nara. "Kampus kami... mereka tahu?"
"Kampus kalian cuma lihat data," jawab Rini santai. "Desa tertinggal butuh bantuan. Kirim mahasiswa. Kalau ada yang hilang atau mati... ya itu kecelakaan. Musibah. Siapa yang bakal curiga kalau setiap sepuluh tahun ada mahasiswa yang 'kesasar di hutan' atau 'jatuh ke jurang'? Arsip ditutup, santunan dikasih, selesai."
"Nenek gue..." suara Nara tercekat. "Nenek gue tahu ini?"
Rini berhenti berjalan. Ia menatap Nara dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara hormat dan iri.
"Mbah Retno?" Rini menyebut nama nenek Nara. "Oh, beliau itu legenda di sini. Ratu KKN tahun 74. Dia satu-satunya yang berhasil nego sama Ibu Ratu."
"Nego?"
"Teman-temannya mati semua," kata Rini sadis. "Tapi Mbah Retno pinter. Dia nggak mau mati. Dia nawarin deal. Dia janji bakal ngirim keturunannya yang punya 'bakat' untuk gantiin posisi dia, asalkan dia dibiarkan pulang dan hidup kaya raya di kota."
Rini menunjuk Nara.
"Dan kamu, Nara... kamu adalah pelunasan hutang itu. Kamu bukan cuma tumbal. Kamu disiapin buat jadi Wadah Utama. Ibu Ratu udah bosen sama tubuh-tubuh tua atau tubuh lemah kayak Lala. Ibu Ratu mau tubuh kamu yang dominan, yang keras kepala."
"Gue nggak sudi!" Nara meludah ke arah Rini.
Rini tidak marah. Ia justru menjilat ludah Nara yang menempel di pipinya.
"Belum sudi," koreksi Rini. "Nanti juga sudi. Kalau teman-temannya udah habis semua... kalau kamu sendirian di gelap ini... kamu bakal mohon-mohon buat dipake sama Ibu Ratu. Daripada gila sendirian."
Rini mundur kembali ke arah sungai hitam.
"Tapi sebelum itu..." Rini menepuk tangan. "Ritual harus lengkap. Masih ada dua nyawa yang harus diberesin sebelum Hidangan Utama disajikan."
Rini menatap Dion.
"Mas Penulis," panggil Rini lembut. "Mas Dion ini paling pinter ya. Paling teliti. Tapi sayang... orang pinter itu biasanya paling pengecut."
"Gue nggak takut sama lo," kata Dion, meski kakinya gemetar.
"Oh ya?" Rini tersenyum miring. "Kalau gitu, kenapa Mas Dion nyoret nama sendiri di tangan?"
Dion terdiam, memegang lengannya yang ia ukir kata TUMBAL tadi malam.
"Mas Dion udah nyerah dari semalam," bisik Rini. "Jiwanya udah retak. Tinggal disentil dikit..."
Tiba-tiba, dari tumpukan tas di belakang Dion, sesuatu bergerak.
Sebuah tangan pucat kurus menyembul keluar dari tumpukan jaket almamater tua. Tangan itu memegang pergelangan kaki Dion.
"AAKH!" Dion menjerit, mencoba menendang.
Tapi tumpukan sampah itu hidup. Ratusan tangan mayat—sisa-sisa korban KKN puluhan tahun lalu—keluar dari balik tas dan koper. Tangan-tangan yang tinggal tulang berbalut kulit kering itu mencengkeram kaki Dion, menariknya ke bawah.
"Nara! Tolong!" teriak Dion. Ia jatuh tersungkur.
Nara berbalik, mencoba menarik tangan Dion. Tapi Rini lebih cepat.
Rini menghentakkan kakinya ke tanah. BUM!
Gelombang tanah bergerak, memisahkan Nara dan Dion. Celah retakan muncul di antara mereka.
"Jangan ganggu, Calon Ratu," kata Rini dingin. "Biarkan Mas Dion menyelesaikan tugasnya. Dia harus mencatat sejarah... dari dalam."
Tangan-tangan mayat itu menarik Dion semakin dalam ke tumpukan barang. Dion tenggelam di antara tas-tas tua yang bau apek. Wajahnya penuh ketakutan murni.
"NARAAAA!" teriakan terakhir Dion terdengar sebelum kepalanya tertimbun oleh jaket-jaket almamater berjamur.
"DION!" Nara berteriak, air matanya tumpah. Ia sendirian sekarang. Benar-benar sendirian.
Rini berdiri di seberang retakan, menatap Nara dengan puas.
"Nah," kata Rini. "Sekarang tinggal kita. Dan jalan menuju singgasana."
Rini menunjuk ke arah aliran sungai hitam yang mengalir masuk ke celah gua yang lebih dalam.
"Ikuti airnya, Nara. Di ujung sana ada Kamar Pengantin yang asli. Ibu Ratu sudah dandan cantik buat kamu. Jangan bikin beliau nunggu lama. Nanti marahnya ngeri lho."
Setelah mengucapkan itu, tubuh Rini perlahan meleleh. Kulitnya mencair seperti lilin, dagingnya luruh, hingga menyisakan genangan lumpur hitam yang kemudian mengalir masuk ke sungai, menyatu dengan air keruh itu.
Gua itu kembali hening. Hanya suara tetesan air dan suara kresek-kresek dari tumpukan barang tempat Dion baru saja dikubur hidup-hidup.
Nara berdiri terpaku. Konde emas di tangannya terasa panas membakar.
Pengakuan Rini telah menghancurkan sisa-sisa harapan Nara. Tidak ada tim penyelamat yang akan datang. Kampusnya adalah komplotan. Keluarganya adalah penjual darah. Dan teman-temannya... teman-temannya hanyalah bensin untuk membakar api neraka ini.
Nara menatap sungai hitam itu.
"Oke," bisik Nara, suaranya berubah dingin. Ia menghapus air matanya dengan kasar. "Lo mau gue, Nek? Lo mau gue, Ratu Setan?"
Nara tidak lagi merasa takut. Rasa takutnya sudah overload dan meledak menjadi kehampaan yang berbahaya.
Nara melangkah masuk ke dalam air sungai yang dingin itu. Airnya setinggi pinggang, berbau bangkai.
"Gue bakal dateng," desis Nara. "Tapi gue dateng bukan buat nyerahin badan. Gue dateng buat ngambil jantung lo."
Nara mulai berjalan menyusuri sungai bawah tanah itu, sendirian, menuju pusat kegelapan di mana ritual terakhir menantinya. Ia bukan lagi Nara si Mahasiswi KKN. Ia adalah predator yang terluka, dan dia siap menggigit balik.
Di belakangnya, tumpukan tas tempat Dion terkubur bergerak pelan. Sebuah tangan menyembul keluar. Tangan Dion.
Tapi tangan itu tidak lagi berusaha menggapai pertolongan.
Tangan itu memegang sebuah pulpen patah yang ia temukan di dalam tumpukan sampah. Dan di atas sebuah koper tua, dengan sisa tenaga terakhir sebelum kehabisan napas, tangan Dion menggoreskan satu kalimat terakhir:
TUMBAL KEDUA: SELESAI.