Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gaun istimewa
Arina menatap horor ke arah meja makan, aroma campuran lauk dan nasi bekas sarapan dua 'binatang' itu yang sudah basi menguar memenuhi pernapasan nya.
Giginya bergemeletuk saat telinga nya mendengar suara tawa puas dari belakang nya. " bersihkan gih, udah bau banget ini." Riska menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang keluarga, menatap puas punggung Arina yang tampak naik turun, mau macam-macam dengan dirinya, oh tidak bisa!
Setelah menghela napas beberapa kali, Arina tersenyum manis, otak nya bekerja dengan cepat, ia membereskan kekacauan di atas meja, mengumpulkan semua sisa lauk dan nasi sisa di dalam sebuah kantung keresek hitam, lalu menyimpan nya di bawah wastafel, sebelum menutup tirai nya ia tersenyum misterius.
Setelah selesai mencuci piring ia segera bersiap untuk pergi bersama Riska, sebenarnya dia ogah tapi demi menyelamatkan telinganya dari lengkingan serta semua komentar yang mengkritik pekerjaan nya di dapur, ia lekas bergegas ke kamarnya.
" Arina si siput mas, lo lelet banget sih! Cepet, waktu gue sangat berharga, sayang kalau terbuang sia-sia hanya untuk menunggu lo!"
Lengkingan itu entah sudah berapa kali Riska teriakkan, Arina mendengus kasar, ia segera meraih tas nya, tak perlu make up meskipun hanya tipis-tipis, tapi ia tidak meninggalkan lip balm rasa cerry nya agar tidak terlalu terlihat seperti mayat hidup.
Semakin cepat semakin baik pikirnya, ia hanya perlu menghabiskan waktu maksimal tiga jam-an lah paling lama untuk bersama nenek gayung itu.
Lagi lagi ia di buat terkejut begitu membuka pintu kamar nya, Ada Alvian dengan tangan terangkat, mungkin pria itu berniat untuk mengetuk pintu tapi keburu ia keluar lebih dulu. Rupanya suami tidak bergunanya itu sudah pulang dari kantor.
" minggir! Nanti tuh nenek sihir kesayangan kamu keburu rusak pita suaranya." dengan tidak sabar Arina mendorong Alvian agar pria itu memberinya jalan.
Benar saja, Riska kembali berteriak begitu ia berada di belakang nya, wanita itu tampak sibuk memperhatikan kuku-kuku nya sehingga tidak menyadari kedatangannya, tidak ada raut ataupun gestur terburu-buru dari bahasa tubuh nya, Arina tau Riska memang sengaja mengerjai nya dari tadi.
"Hei___ "
" nggak usah teriak! Gue khawatir lo nggak bisa mengeluarkan suara lagi setelah ini!" Reflek Riska berbalik menghadapnya, Senyuman lebar nya lenyap seketika begitu ia melihat penampilan Arina, bayangan kalau Arina akan tampil kacau karena ia kerjain dari tadi musnah seketika.
Meski hanya dengan lip balm, Arina jauh lebih cantik natural tanpa make up seperti ini, sialan! Mana ia sedang menyuruh Alvian untuk membantu nya menggedor kamar Arina tadi, pasti pria itu terpana melihat penampilan Arina saat ini.
" kalian berangkat lah, agar tidak terlalu malam pulang nya." Arina reflek bergeser menciptakan jarak begitu Alvian muncul tepat di belakangnya.
" heh siput mas, cepat! Nggak usah lelet" wanita itu berjalan mendahului nya, kakinya menghentak-hentak di setiap langkahnya, menciptakan suasana mengintimidasi yang di tujukan pada Alvian.
" baik keong racun!"
" Apa lo bilang!" Riska berbalik dengan mata yang nyaris keluar, selera Alvian memang aneh, kebanyakan pria menyukai wanita lemah lembut, bertutur halus dan pembawaan yang menenangkan, tapi melihat Riska ia mulai meragukan selera pria itu.
Arina sengaja tersenyum manis lalu berjalan melewati Riska tanpa menghiraukan wanita itu." heh Arina! Lo budek ya!"
Melihat itu Alvian terdiam, Selama ini ia tidak pernah melihat sikap Riska yang bar-bar seperti ini, wanita itu selalu tampil Anggun, sikap manjanya begitu menggemaskan, tutur katanya juga selalu lembut, bahkan saat kesal sekalipun.
Apa sakit hati bisa mengubah sikap seseorang se-intens itu?
......*******......
Sudah Arina duga, tidak mungkin nenek sihir itu begitu baik padanya, membiarkannya tampil sesuai keinginan Alvian, dan membuat posisinya kian tidak menguntungkan.
" perbaiki raut mu, Alvian sangat suka dirinya menjadi pusat perhatian, jadi kamu harus mengimbanginya"
Arina menatap mini dress pres body yang full payet warna-warni, dengan bagian punggung nya bolong melingkar serta belahan dada yang rendah, tidak ada yang salah dengan look nya tapi itu sama sekali bukan karakter Arina, menurutnya juga sangat mencolok jika hanya untuk menghadiri acara gathering perusahaan, bahkan ia yakin Alvian tak memiliki selera se-unik itu.
Gaun itu hanya cocok untuk karakter narsistik yang ingin selalu menjadi pusat perhatian dimanapun dia berada, sekejap ia beralih pada gaun full body tanpa lengan dengan punggung terbuka yang menyampir pada lengan Riska.
Arina tersenyum mengejek, " kalau begitu kenapa tidak untuk mu saja? Kamu tidak mau menyenangkan Alvian dengan mengenakan dress itu" Arina mengangkat rendah dagu nya, menunjuk pada mini dess full Payet itu.
" tidak Arina, kamu pasangan Alvian pada acara itu, sangat tidak sopan kalau aku harus menyaingi penampilan bu CEO kan?"
" mbak aku mau yang ini ya." Riska menyerahkan mini dress yang ia pilihkan untuk Arina juga gaun yang menyampir pada lengannya kepada pelayan yang menghandle mereka.
Arina menghela napas pelan, dari pada meladeni nenek sihir ini, ia lebih memilih untuk memusatkan perhatian pada jejeran gaun yang lebih sesuai dengan seleranya.
" Arina aku hanya akan membelikan satu gaun itu untuk mu, nggak bisa lebih dan nggak boleh memilih!"
Arina tersenyum miring." kalaupun aku tertarik aku akan membelinya sendiri, termasuk gaun istimewa yang kamu pilihkan ini!"
" benarkah? Bukannya kamu sengaja tidak membawa dompet karena kamu menolak membeli dengan uang mu sendiri?"
Arina terdiam, ia memang sempat mengatakan hal itu dan Alvian menyetujui nya, karena itu ia sengaja meninggalkan dompet nya, ia menggeram frustasi saat mendapati ponselnya tidak bisa di hidupkan.
ponselnya memang hampir lowbet saat ia dalam perjalanan pulang dari kantor, pun saat dirumah ia lupa mencharger nya karena di hadapkan dengan dapur yang seperti kapal pecah. Sial! Kenapa ia bisa seceroboh ini.
Riska tertawa mengejek melihat raut frustasi Arina, lalu memilih berkeliling untuk menghabiskan limit kartu Alvian.
Arina menghela napas panjang, ia malas mengikuti Riska yang tengah berkeliling karena wanita itu pasti akan menguras kesabaran nya, Meski tidak dapat membelinya ia lebih tertarik memperhatikan gaun-gaun mewah di depannya.
Pandangannya tertuju pada satu mini dress merah maroon yang membungkus manekin, lengan nya pendek dengan perpotongan dada yang tidak terlalu rendah, tampak elegan karena tidak menggunakan aksesoris yang berlebihan, separuh pinggang nya terbuka dan meruncing ke arah tali pusat. meskipun pres body tapi tidak terlalu mencolok yang akan mengundang banyak perhatian.
" kamu menyukainya?"
Arina reflek menoleh ke asal suara." Fabio! Ngapain kamu ada disini?" setahunya pakaian laki-laki ada di lantai dua, ia juga tidak menemukan siapapun yang membersamai pria itu di sini.
" aku melihat mu ketika kamu akan masuk ke butik ini, jadi aku memutuskan untuk menyusul mu, emm wanita yang bersama mu tadi siapa?"
" kenapa? kamu menyukainya?" Arina mengerucutkan bibirnya, membuat Fabio tertawa lebar karena gemas.
" aku memperhatikan kalian dari tadi, dia seperti sedang mengerjai mu"
Arina menghela napas pelan." dia kekasih suami ku!" lirih nya, ada rasa sesak saat ia harus mengakui itu. Sama seperti Arina, Fabio pun merasa sesak mendengar Arina mengakui pria lain sebagai suaminya.
Fabio terdiam sejenak." Ambillah, biar aku yang bayar"
Arina menggeleng, begitu ia akan menolak nya Fabio sudah lebih dulu memanggil pegawai yang kebetulan ada di dekat mereka." tolong bungkus kan gaun ini" Fabio menunjuk mini dress itu dengan dagu nya.
" Bi, kamu nggak perlu membelikannya untuk ku"
ucapan Arina membuat pegawai itu tampak ragu antara menuruti keinginan Fabio atau dirinya.
" gaun itu cantik nggak?"
Arina mengangguk " cantik, tapi aku nggak perlu."
" kalau begitu tolong bungkus mbak"
Arina menyesali jawabannya tadi, tapi kalau dia mengatakan itu jelek, ia tidak enak pada pegawainya. Fabio menggenggam tangan Arina, membawanya berkeliling untuk melihat-lihat Aksesoris di sisi yang lain.