NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Ketika Pitaloka beranjak untuk mengambil gunting yang tergantung, sekelebat ingatan datang.

Wajah ibunya yang sedang tersenyum.

Pitaloka mengurungkan niat itu. "Tidak! Tidak! Aku tidak boleh mati. Aku harus tetap hidup. Aku tidak boleh lemah," cerocosnya sambil bangkit dan mengakhiri kegiatannya.

Pitaloka keluar dari kamar mandi masih dengan langkah tertatih. Ia tiba-tiba teringat pada Galuh. "Apakah ini yang dulu dirasakan Galuh?" gumamnya parau.

Ia ingat bagaimana Galuh menangis bersama ibunya. Memohon pertanggungjawaban dari kakaknya, Lingga Buana.

Namun fitnah keji dan caci maki lah yang mereka dapatkan.

"Tuhan ... apakah ini karma atas perbuatan Kak Lingga pada Galuh?" Pitaloka terdiam sejenak. "Tapi kenapa karmanya harus ke aku? Kenapa bukan ke Kak Lingga saja!" Ia jadi emosi sendiri. "Tidak! Tidak! Aku tidak boleh berpikir seperti itu," tukasnya memperingatkan. Pitaloka terdiam lagi. Pada akhirnya, ia melupakan pikiran itu.

Ketika ia akan membuka lemari untuk mengambil baju, bel apartemennya berbunyi. Tangan Pitaloka menggantung, lalu ponsel juga ikut berdering.

Ia berbalik, mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. "Sherly ..." bisiknya parau. Ia membuka pesan dari teman dekatnya itu, teman yang tadi malam menjadi alasan ia kehilangan kehormatan.

Sherly: Pita, kamu ada di apartemen kan? Kalau ada, tolong buka pintunya. Aku dan Bella khawatir banget sama kamu. Tadi malam kamu ke mana dan apa yang terjadi?

Air mata nyaris keluar lagi, tapi Pitaloka menahannya. Dia gegas keluar dari kamarnya dan membuka pintu depan.

Saat wajah dua temannya terlihat, ia langsung memeluk keduanya, meraung.

Sherly dan Bella terhenyak, kompak menepuk-nepuk punggung Pitaloka yang terbungkus bathrobe warna biru tua.

"Pita, kenapa kamu menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sherly masih memeluk Pitaloka, sedangkan Bella sudah melepas pelukannya karena ia harus menutup pintu.

Pitaloka kemudian meloloskan diri dari pelukan Sherly. Masih dengan berlinang air mata ia berbicara. "Sher, Bella ... aku ... aku diperkosa ..."

Sherly dan Bella tersentak, lalu mereka saling melirik sambil satu sama lain.

Keadaan mendadak hening. Hanya suara detak jarum jam dan jantung mereka bertiga yang terdengar bersahutan.

Sedetik kemudian, Sherly dan Bella memeluk Pitaloka lagi.

Makin pecahlah tangisan gadis berambut sepinggang itu. Tangisannya sudah terdengar sangat parau.

Sherly dan Bella dengan setia memeluk dan menenangkan Pitaloka.

Perlahan, tangisan gadis itu mereda, ia dan kedua temannya masuk ke dalam kamar.

"Pita, ceritakan pada kami apa yang terjadi kepadamu tadi malam?" pinta Sherly.

Dengan suara tersendat-sendat dan napas yang tersengal, disertai sesenggukkan yang pelan ... Pitaloka menceritakan apa yang terjadi tadi malam.

"M-Mereka berempat mengambil kehormatanku, Sherly ... Bella. Dan aku ... tidak tahu siapa mereka." Suara Pitaloka nyaris menghilang. "Aku harus bagaimana? Masa depanku sudah hancur. Aku tidak mau orang tuaku tahu soal ini. Aku tidak mau membuat mereka kecewa ..." raungnya sambil memukul-mukul dada. "Aku takut. Aku trauma. Aku nggak mau stres!"

Sherly maju, merengkuh kedua bahu Pitaloka. "Pita ... lihat aku. Semuanya belum berakhir. Hidupmu masih panjang. Kehilangan kehormatan bukan akhir dari segalanya ... aku ... dan Bella pun sudah tak perawan lagi. Dan lihatlah ... kami berdua baik-baik saja."

Penjelasan itu membuat Pitaloka menegang, matanya melotot menatap Sherly dan Bella. "J-Jadi ... k-kalian juga dirudapaksa?"

Sherly dan Bella menggeleng bersamaan.

"Lalu?" Suara parau Pitaloka berkumandang lagi.

"Aku menyerahkan kesucianku pada pacar pertamaku saat SMA." Sherly yang menjawab duluan. "Kukira dia akan menjadi cinta sejatiku ... tapi ternyata ..." Sherly melempar senyum getir pada Pitaloka. "Setelah satu tahun pacaran ... dia selingkuh dan akhirnya hubungan kami berakhir. Aku nyaris depresi sama seperti kamu, Pita. Tapi setelah kupikir-pikir ... kenapa aku harus berputus asa, toh di luar sana, ada banyak remaja yang statusnya masih gadis tapi sudah tak perawan ... dan sejak punya pikiran seperti itulah ... aku bisa bangkit, dan menjalani hidupku dengan bahagia lagi. Tanpa takut dicemooh, dimarahi orang tua dan dianggap gadis hina. Aku sudah tak peduli, yang penting aku happy. Dan tentunya ... aku punya satu obat yang sangat mujarab untuk menghilangkan stres dan kesedihanku itu. Kamu mau coba, nggak?" tawar Sherly.

"Obat apa?" Pitaloka menautkan kedua alisnya.

"Obat yang bakal buat kamu lupa sama semua masalah dan carut marut kehidupan," timpal Bella menambahkan. "Aku juga mengkonsumsi obat itu, Pit."

Di sisa sesenggukkannya, Pitaloka amat sangat penasaran. "Obat penenang?" tebaknya.

Bella dan Sherly saling melirik, lalu mengangguk.

"Ya semacam itulah," kata Sherly meyakinkan. "Kalau kamu mau coba, kebetulan aku bawa, mau?"

Pitaloka terdiam beerapa saat. Pikirannya melayang, batinnya gamang. Perlahan-lahan ... ia mengangkat wajah. Membagi pandangan pada kedua temannya itu. "Kalian serius obat itu bisa menghilangkan stres dan membuat lupa pada kesedihan?"

Keduanya serentak mengangguk mantap.

"Mana? Aku mau coba." Akhirnya Pitaloka mengiyakan.

Bella dan Sherly mengembangkan senyum yang agak tak biasa.

"Keluarin, Sher!" Bella memerintah.

"Siap, Bel. Bentar ya, Pit." Gadis berambut curly itu membuka tasnya, dan merogoh sesuatu. Dia mengeluarkan plastik klip yang berisi tiga butir pil berwarna putih. "Nih. Cobain aja dulu. Kalau cocok ... dan kamu merasa enakan. Pesen lagi aja ke aku, nanti aku bawain lagi buat kamu," kata Sherly seraya memberikan ketiga pil itu pada Pitaloka.

"Makasih ya, Sher, Bell."

"Sama-sama, Pit." Bella yang mewakili.

"Buruan gih minum. Efeknya kamu bakal ngerasain tenang, damai dan lupa pada kesedihanmu itu." Sherly menepuk pundak Pitaloka.

Tanpa berpikir panjang, gadis itu langsung meraih botol minum yang ada di nakas. Bersiap meminum pil yang baru saja diberikan Sherly.

"Jangan banyak-banyak minumnya, Pit. Satu aja dulu," peringat Bella.

"Iya." Pitaloka mengangguk. Membuka plastik klip itu dan mengambil satu butir, lalu menenggaknya bersama air.

Ia pun duduk lagi di tepi ranjang, di sebelah Bella dan Sherly.

"Oh ya, Pit. Kamu nggak boleh bilang-bilang tentang obat ini ke orang tua kamu, atau siapa pun. Soalnya obat ini sebenarnya obat keras dan para ahli kesehatan sudah melarang penggunaan obat ini. Makanya, obatnya harus kamu umpetin dan minumnya pun harus diam-diam, ngerti?"

Pitaloka mengangguk. "Oke. Tenang aja. Aku nggak bakal bilang sama siapa pun kok."

"Sip. Kalau gitu, kita pulang dulu ya. Tetap semangat oke!" Bella dan Sherly melambaikan tangan dan Pitaloka mengantar mereka sampai ke pintu utama.

Setelah mengunci pintu, ia kembali masuk ke dalam kamar.

Efek pil itu mulai terasa. Detak jantungnya yang tadi terasa kencang akibat kejadian semalam mulai memelan. Pikirannya mulai santai. Rasa ingin menangis mulai menghilang.

Stres yang menjepit dada seolah-olah ditarik keluar satu per satu, hilang seperti asap di udara ... semua masalah tadi terasa jauh, seolah-olah itu bukan miliknya.

"Obatnya mujarab banget. Sekarang aku merasa lebih relaks," desahnya sambil merebahkan badan di atas ranjang, lalu ia memejamkan mata. "Aku harus pesan lagi obat ini pada Sherly dan Bella," ujarnya sebelum akhirnya tubuhnya seperti melayang di udara.

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!