NovelToon NovelToon
The Beginning Of The Birth Of The Evil God

The Beginning Of The Birth Of The Evil God

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Antagonis / Light Novel / Balas Dendam
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Arfian ray

Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
​Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuhnya Sang Pahlawan di Kantin

Kantin Akademi Sihir Royal Aethelgard. Jam Makan Siang.

​Matahari siang menembus jendela kaca patri raksasa di aula kantin, membiaskan cahaya warna-warni ke lantai marmer. Udara dipenuhi aroma roti panggang, sup daging, dan keriuhan ratusan murid yang sedang menikmati waktu istirahat mereka. Tawa, denting sendok garpu, dan gosip remaja menciptakan simfoni kehidupan yang normal.

​Namun, di salah satu sudut ruangan yang paling terpencil, terdapat sebuah pulau kesunyian yang menyedihkan.

​Leon Gremory duduk sendirian.

​Di hadapannya, semangkuk sup jagung yang sudah dingin mulai berkulit. Dia tidak menyentuhnya. Dia hanya menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan sup itu—wajah yang kuyu, mata yang bengkak dengan lingkaran hitam tebal di bawahnya, dan kulit yang pucat pasi.

​Penolakan Aeliana di Menara Jam kemarin sore dan mimpi buruk yang semakin intens semalam telah menggerogoti jiwanya sampai tipis. Leon merasa seolah ada dinding kaca tebal yang memisahkannya dengan dunia. Dia bisa melihat orang lain tertawa, tapi dia tidak bisa merasakannya. Dia merasa semua orang sedang menatapnya, menertawakannya, atau yang lebih parah... mengasihaninya.

​Mereka tahu, bisik suara di kepalanya. Mereka tahu kau pembawa sial.

​"Hai, sobat."

​Suara itu memecahkan lamunan Leon. Sebuah nampan makan siang diletakkan dengan santai di hadapannya.

​Varian (Tubuh Asli) duduk di kursi seberang tanpa permisi. Penampilannya rapi, wajahnya memancarkan aura keprihatinan yang hangat, selayaknya seorang sahabat yang peduli.

​Leon tidak mengangkat wajahnya. Bahunya menegang. "Pergilah, Varian," suaranya parau, serak karena terlalu banyak berteriak dalam tidur. "Jangan dekat-dekat denganku."

​"Kenapa?" tanya Varian ringan, mulai memotong daging di piringnya.

​"Nanti kau kena sial," desis Leon, matanya berkaca-kaca. "Aeliana lari dariku. Keluargaku mati di dekatku. Semua orang yang dekat denganku berakhir buruk. Aku tidak mau kau celaka juga."

​Varian menghentikan pisau makannya. Dia menatap Leon dalam-dalam. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang tak terlihat oleh orang lain.

​"Jangan bicara begitu," kata Varian lembut. "Aku di sini karena aku khawatir padamu. Kau terlihat... kacau, Leon."

​Varian memajukan tubuhnya sedikit, mencondongkan wajah ke arah Leon seolah ingin berbagi rahasia. Di bawah meja, jari Varian menjentik pelan.

​Sihir Aktif: Silent Whisper (Bisikan Senyap).

​Sihir ini memanipulasi gelombang suara sehingga hanya target yang bisa mendengarnya, sementara bagi orang lain di sekitar, mereka hanya terlihat sedang mengobrol akrab.

​Nada suara Varian berubah drastis. Kehangatan itu lenyap, digantikan oleh nada datar, analitis, dan menusuk setajam jarum es yang langsung menghujam ke pusat ketakutan Leon.

​"Tapi kau tahu, Leon... mungkin Aeliana benar untuk lari darimu."

​Kepala Leon tersentak naik. Matanya yang merah menatap Varian dengan kaget. "Apa... apa maksudmu?"

​"Pikirkanlah secara logis," bisik Varian. Suaranya bergema di dalam tengkorak Leon, berbaur dengan suara-suara hantu di mimpinya.

​"Keluargamu... Ayahmu yang kuat, Ibumu yang baik, adik-adikmu yang lucu... mereka semua mati dibantai dengan brutal di rumah kalian sendiri. Dan kau? Di mana kau saat itu?"

​Napas Leon mulai memburu.

​"Kau selamat sendirian," lanjut Varian tanpa ampun. "Kau tidur nyenyak di asrama luar negeri yang nyaman. Kau makan enak. Kau hidup mewah. Sementara darah mereka menggenang di lantai."

​"Hentikan..." Leon gemetar. Tangannya mencengkeram tepi meja.

​"Kenapa hanya kau yang hidup, Leon?" Varian terus menekan titik trauma itu seperti dokter bedah yang sadis. "Apakah kau mencuri jatah hidup mereka? Atau mungkin... kau memang menyerap keberuntungan orang-orang di sekitarmu sampai mereka mati kering? Kau parasit, Leon. Kau memakan nyawa orang yang kau cintai untuk memperpanjang hidupmu sendiri."

​"Tutup mulutmu..." kuku-kuku jari Leon memutih. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.

​"Aeliana gadis yang cerdas," tambah Varian, memberikan racun terakhir. "Dia lari darimu bukan karena dia jahat. Dia lari karena dia ingin hidup. Dia melihat kematian di matamu. Dia tahu jika dia tetap di dekatmu... dia akan berakhir seperti adik kecilmu. Mati. Berdarah. Dingin. Dan itu akan jadi salahmu lagi."

​"CUKUP!!"

​Dunia Leon runtuh.

​Varian menyuarakan ketakutan terbesarnya yang selama ini ia pendam di sudut tergelap hatinya. Suara Varian sama persis dengan suara hantu ibunya di dalam mimpi. Realitas dan halusinasi Leon melebur menjadi satu.

​"Kau bukan Pahlawan," bisik Varian, tersenyum miring—senyum iblis yang sesungguhnya. "Kau adalah Bencana. Seharusnya... kau yang mati malam itu."

​SNAP.

​Tali kekang kewarasan Leon putus.

​"DIAM!!!"

​Leon meraung seperti binatang buas yang terluka fatal. Dia tidak tahan lagi. Rasa bersalah, rasa takut, dan rasa benci pada diri sendiri meledak keluar.

​BRAK!

​Leon menggebrak meja dengan kekuatan penuh pahlawannya. Meja kayu solid itu retak di tengah. Nampan makanannya terlempar ke udara, sup panas dan piring pecah berhamburan ke mana-mana.

​Leon berdiri, matanya melotot gila. Dia menerjang ke depan, mencengkeram kerah baju Varian dengan kasar dan menariknya dari kursi.

​"JANGAN BICARA TENTANG MEREKA! KAU TIDAK TAHU APA-APA! AKU BUKAN PEMBAWA SIAL! AKU BUKAN!!"

​Leon berteriak histeris. Air mata mengalir deras di wajahnya. Dia tidak lagi melihat Varian sebagai teman. Dia melihat Varian sebagai manifestasi dari rasa bersalahnya sendiri yang harus ia hancurkan.

​Seluruh kantin terdiam seketika. Ratusan pasang mata menatap mereka dengan horor.

​Varian tidak melawan. Dia membiarkan dirinya diguncang-guncang. Dalam sekejap, ekspresi dinginnya berubah menjadi wajah kaget dan ketakutan yang sempurna.

​"Leon?! Tenanglah!" seru Varian dengan suara panik yang dibuat-buat, cukup keras untuk didengar semua saksi mata. "Aku hanya bilang kau harus ikhlas! Kenapa kau marah begini?!"

​"KAU BILANG AKU SEHARUSNYA MATI! KAU BILANG INI SALAHKU!" Leon tidak mendengar Varian. Dia buta karena amarah. Tangannya meraba meja, menyambar sebuah pisau makan. Meski tumpul, di tangan seorang Pahlawan yang sedang mengamuk, itu adalah senjata mematikan.

​Leon mengayunkannya membabi buta.

​"Hentikan dia! Leon menyerang Varian!" teriak murid-murid lain.

"Pahlawan jadi gila!"

"Panggil guru!"

​Varian menjatuhkan diri ke lantai, melakukan gerakan mundur yang dramatis. Dia sengaja membiarkan ujung pisau itu menggores lengan kirinya.

​Sret.

​Darah segar menetes, menodai kemeja putih seragamnya.

​"ARGH! Tolong! Leon kehilangan kendali!" teriak Varian sambil memegangi lengannya, merangkak mundur dengan wajah pucat.

​Leon masih berdiri di sana, pisau di tangan, dada naik turun dengan cepat. Dia melihat darah di pisau itu. Dia melihat Varian yang "ketakutan" di lantai. Dia menoleh ke sekeliling dan melihat ratusan wajah menatapnya dengan rasa jijik dan takut.

​Di kejauhan, di pintu masuk kantin, dia melihat Putri Aeliana menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak ngeri.

​"Tidakk..."

​Pisau itu jatuh dari tangan Leon. Clang.

​Dunia Leon berhenti berputar. Dia telah membuktikan kata-kata Varian benar. Dia berbahaya. Dia melukai satu-satunya teman yang tersisa.

​"Aku... aku tidak bermaksud..." Leon mundur, tangannya gemetar hebat. "Aku..."

​BLAM!

​Pintu kantin terbuka kasar. Guru kedisiplinan dan dua pengawal keamanan akademi menerobos masuk.

​"Bind (Ikat)!"

​Mantra pengikat berupa tali cahaya melilit tubuh Leon, memaksanya berlutut di lantai yang penuh pecahan piring.

​"Bawa dia ke ruang isolasi! Dia berbahaya bagi siswa lain! Dia menyerang siswa tanpa alasan yang jelas!" perintah Guru itu tegas.

​Saat Leon diseret keluar, dia tidak meronta. Semangatnya sudah patah. Dia menatap Varian dengan tatapan kosong, hancur, dan memohon ampun. Dia sudah tidak bisa membedakan mana teman dan mana musuh. Dia hanya tahu bahwa dia adalah monster.

​Varian dibantu berdiri oleh teman-teman sekelasnya yang mengerubunginya.

​"Varian, kau tidak apa-apa?"

"Ya ampun, lenganmu berdarah!"

"Gila... Leon ternyata sakit jiwa. Dia psikopat. Untung kau selamat."

​Varian memegang lengannya yang terluka. Dia menunduk, menyembunyikan seringai puas di balik rambut poninya yang jatuh menutupi wajah.

​"Aku... aku gagal sebagai teman," ucap Varian lirih dengan suara bergetar. Aktingnya memukau, membuat gadis-gadis di sekitarnya semakin bersimpati. "Tekanan mentalnya terlalu berat... Dia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian keluarganya... dan sekarang dia melampiaskannya padaku. Kasihan Leon..."

​Semua orang mengangguk setuju. Simpati mereka tertuju pada Varian, sang korban yang berhati mulia. Dan reputasi Pahlawan Cahaya hancur lebur dalam satu siang, tepat sesuai skenario.

​Malam itu, di ruang isolasi bawah tanah Akademi.

​Ruangan itu lembap, dingin, dan gelap. Hanya ada satu ventilasi kecil di bagian atas.

​Leon duduk di lantai batu, memeluk lututnya. Matanya bengkak. Dia menggigil, bukan karena dingin, tapi karena ketakutan. Dia takut menutup mata. Setiap kali dia memejamkan mata, wajah keluarganya yang hancur muncul kembali.

​Cklek.

​Pintu besi berat itu terbuka. Cahaya obor dari lorong masuk, menciptakan siluet seseorang.

​Varian berdiri di sana. Lengannya sudah diperban rapi. Dia membawa nampan berisi makanan hangat—bubur ayam dan segelas susu—serta sebuah botol kecil berisi cairan ungu pekat yang berkilauan aneh di saku rompinya.

​"Varian..." Leon mendongak kaget. Suaranya serak dan pecah. "Kau... kenapa kau ke sini? Setelah apa yang kulakukan padamu... setelah aku melukaimu..."

​Varian tersenyum lembut. Senyum malaikat. Dia melangkah masuk, lalu duduk bersila di sebelah Leon di lantai kotor itu tanpa rasa jijik sedikitpun.

​"Aku memaafkanmu, Leon," ucap Varian tulus. "Aku tahu itu bukan dirimu. Itu hanya stres dan trauma yang menumpuk. Kau teman baikku, aku tidak mungkin membiarkanmu kelaparan di lubang tikus ini sendirian."

​Air mata Leon tumpah lagi. Pertahanan dirinya runtuh. Di saat seluruh dunia membuangnya, di saat Aeliana lari darinya, di saat guru-gurunya menganggapnya gila, Varian tetap datang. Varian adalah satu-satunya cahaya yang tersisa di dunia gelapnya.

​"Aku minta maaf, Varian... Aku benar-benar minta maaf... Aku monster..." isak Leon, membenamkan wajahnya di lutut.

​"Sstt, sudah," Varian menepuk punggung Leon dengan lembut. "Makanlah. Kau butuh tenaga."

​Setelah Leon menghabiskan makanannya dengan lahap karena kelaparan, Varian mengeluarkan botol kecil itu.

​"Ini," kata Varian. "Bibi perawat memberiku ramuan khusus ini secara diam-diam. Katanya ini obat penenang herbal langka dari Timur. Ini bisa menghilangkan mimpi buruk dan membuat hatimu tenang. Kau butuh istirahat total sebelum Karyawisata besok ke Hutan Suci. Kau harus sembuh, Leon."

​Leon menatap botol itu. Cairan ungu di dalamnya tampak... hidup.

​Itu bukan obat herbal. Itu adalah Darah Iblis Murni yang diekstrak dari jantung monster tingkat tinggi, dicampur dengan sedikit mana Void. Varian sudah memanterainya agar tidak terdeteksi sihir pemeriksa racun biasa.

​"Ini akan menghilangkan mimpi buruknya?" tanya Leon penuh harap.

​"Ya," jawab Varian. "Kau akan tidur nyenyak sekali."

​Tanpa ragu sedikitpun, Leon mengambil botol itu dan meminum isinya sampai tetes terakhir.

​Rasanya manis dan lengket di lidah, namun begitu masuk ke tenggorokan, rasanya berubah menjadi panas membara yang menjalar ke perut.

​"Panas..." keluh Leon, memegangi perutnya. Wajahnya mengernyit.

​"Itu artinya obatnya bekerja membakar stres dan racun di tubuhmu," kata Varian tenang, mengambil botol kosong itu. "Tidurlah. Besok... semuanya akan berbeda."

​Beberapa menit kemudian, Leon jatuh tertidur pulas di lantai sel. Namun, di dalam tubuhnya, DNA-nya sedang ditulis ulang secara paksa. Darah pahlawan sedang dikorupsi oleh darah iblis.

​Varian berdiri, menatap teman tidurnya itu.

​"Mimpi indah, Pahlawan," bisik Varian sebelum keluar dan mengunci pintu kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!