"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sempurna
Ele mengangguk pelan, wajahnya memerah malu. Nero cuma senyum, lalu langsung memeluknya erat. “Kenapa tidak jujur sih?” tanya Nero pelan.
“Eh, kau juga tidak jujur sama aku!” balas Ele, tidak mau kalah.
Nero terkekeh dengar Ele kesal. Tapi di dalam hati, dia menyesal sekali sama dirinya sendiri. Selama ini dia berusaha melupakan Ele, buang jauh-jauh rasa cinta itu, karena berpikir 'gadis itu kelemahannya'. Tapi sekarang, dia sadar—justru dia harus jaga Ele dengan segenap jiwa raganya. Karena, gadis itu adalah semangat hidupnya.
Rasanya enam tahun ini berusaha keras menjauhi Ele terbayar impas.
Nero tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia kembali meneguk madu dari tubuh Ele yang sudah menjadi candunya.
*
"Sial!" umpat Nick sangat kesal, karena tindakan gegabahnya di klub malam membuat rencananya yang sudah tersusun rapi berantakan. Sekarang, pasti Nero semakin waspada.
"Ini akan sangat percuma, Tuan. Rencana baru yang baru kita susun ini tidak akan mudah membuat Tuan Nero tumbang. Pria itu sangat kuat, dan sangat berpengaruh di Kota ini," kata salah satu anak buahnya.
"Kau benar," jawab Nick sambil mengangguk beberapa kali. "Sekarang berikan aku masukan untuk menghancurkan pria iblis itu!"
"Ele, gadis itu adalah kelemahannya 'kan?" tanya anak buahnya sambil menjentikkan jempol tangan dan jari telunjuk hingga menimbulkan bunyi yang khas. "Bagaimana kalau Anda berusaha mendekati Nona Ele lagi dan katakan padanya kalau sebenarnya Tuan Nero adalah seorang mafia dan iblis berdarah dingin. Aku rasa hal itu cukup membuat Tuan Nero hancur."
Nick bertepuk tangan, setuju dengan rencananya anak buahnya ini, "tapi membuatnya hancur saja tidaklah cukup. Nyawa harus di bayar nyawa karena dia telah membunuh kedua orang tuaku dengan kejam!" desis Nick penuh kebencian dan dendam.
*
*
Botak menatap wajah boss-nya yang tampak berseri tak seperti biasanya pada pagi itu.
"Wah, sepertinya Italia akan ada hujan badai," seloroh Botak seraya menyiapkan sarapan untuk tuannya.
Nero menoleh, memicingkan mata pada Botak. "Kau sedang meledekku?!"
"He he he." Botak tertawa menanggapinya. "Karena tidak biasanya Anda terlihat berseri seperti ini," lanjut Botak, penasaran.
Nero tersenyum menanggapinya lalu berkata, "kerja yang benar! Jangan mencampuri urusan boss-mu!" balas Nero sangat tegas seraya menyantap sarapannya.
"Iya, Tuan, maaf." Botak nyengir lebar. "Tapi, aku masih penasaran kenapa Anda terlihat bahagia sekali pagi ini," imbuhnya dengan segala rasa penasarannya.
"Jadi menurutmu selama ini aku tidak bahagia, begitu?" Nero memicingkan mata, menatap tajam Botak.
"Maksudku bukan begitu Tuan." Botak panik dan ketakutan saat di tatap seperti itu oleh Nero.
"Ck! Kau membuat selera makanku hilang! Aku jadi malas berangkat ke kantor!" Nero beranjak dari duduknya, lalu kembali ke kamar.
"Loh?" Botak terperangah melihat tuannya tidak jadi berangkat kerja, padahal pria itu sudah rapi dengan setelan jas warna hitam yang melekat di tubuh atletisnya. "Apa hubungannya? Tuan!" panggil Botak tapi pria itu tidak menghiraukannya. Tidak seperti biasanya Nero seperti ini.
Tak berselang lama Pedro tiba, menggantikan posisi istrinya untuk sementara waktu.
"Kau pulang saja, Tuan Nero tidak berangkat ke kantor," usir Botak pada pria itu yang baru tiba.
"Hah? Serius? Aku tidak bermimpi?"
"Kau saja heran apa lagi aku. Biasanya Tuan kita itu akan tetap berangkat kerja meski ada hujan badai sekalipun," ucap Botak pada Pedro yang keheranan, sama seperti dirinya.
*
Sementara itu, Nero kembali merebahkan diri di samping Ele yang masih terlelap karena kelelahan.
"Karena dirimu aku jadi malas kerja." Nero masuk ke dalam selimut, lalu memeluk Ele dengan erat. "Nyaman sekali. Tapi, seperti ada kurang." Nero beralih meraih dua gunung kembar milik Ele, lalu menyesap pucuknya secara bergantian. "ini baru sempurna," batin Nero, puas.
Coba nanti muntah lagi tidak si Nero ini.
Salahnya Elle, Nero untuk sementara tidak boleh ngopi atau ngeteh. Nero pinter - minum susu cap nyonya boleh.
heeeemmm pas banget kebetulan d larang ngopi dan ngeteh jd nya ya nyusu aj.. 😜