Nadeo Gibran Erlangga berniat untuk melamar Arzela Kayzel Atharva, yang selama ini dia klaim sebagai jodohnya.
Namun Nadeo terpaksa harus mengubur impiannya itu demi membalas budi pada keluarga yang sudah merawat dan membesarkannya selama ini.
Nadeo harus menikah dengan Sabrina Eleazar menggantikan sang adik yang kabur di hari pernikahannya.
Arzela hancur dan patah hati, namun ia harus tetap mengikhlaskan cinta pertamanya itu menikahi Sabrina yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Akankah Nadeo bertahan dengan pernikahannya setelah tahu kebenaran yang selama ini tersembunyi?
Ataukah justru takdir mempersatukan Nadeo dan Arzela kembali?
Sekuel Belenggu Cinta Pria Beristri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Hueeekkk hueeekkk
Sabrina terus memuntahkan isi perutnya, selama kelas berlangsung sudah tak terhitung berapa kali ia bolak balik ke kamar mandi.
Sabrina sebenarnya enggan pergi ke kampus dengan keadaan seperti saat ini. Hamil muda benar-benar menguras tenaga dan emosinya. Namun ia harus tetap pergi demi menjalankan rencananya.
"Apa Kamu sakit, Sabrina?" Arzela menghampiri Sabrina yang baru saja keluar dari toilet.
Walaupun akhir-akhir ini sikap Sabrina sangat menyebalkan, tapi Arzela tetap mengkhawatirkannya. walau bagaimana pun juga Sabrina pernah menjadi sahabatnya, orang yang selalu ada untuknya.
Tidak mudah untuk Arzela melupakan kebaikan seseorang, walaupun sebenarnya Sabrina hanya pura-pura baik padanya selama ini.
Sabrina mengernyitkan keningnya, ia menatap Arzela penuh kebingungan. Namun tanpa Arzela tahu senyuman tipis terukir di sudut bibir Sabrina.
"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴, 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢𝘬𝘶."
"Kenapa Kamu masih baik sama aku?" Tanya Sabrina dengan tatapan pura-pura bingungnya. Namun ia tetap waspada pada Arzela mengingat Arzela sudah mengetahui topengnya selama ini. Menurut Sabrina mustahil ada orang yang masih bersikap baik padahal sudah tahu dikhianati. Pasti Arzela memiliki rencana, pikirnya.
"Memangnya aku harus jahat sama Kamu?" Arzela tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. "Entah Kamu menganggap aku naif atau bodoh, tapi aku merasa selama ini Kamu tulus berteman denganku."
Selama berteman dengan Sabrina, tidak pernah sekali pun Arzela bertengkar dengannya. Sabrina selalu baik, lembut dan perhatian. Karena itu, saat Sabrina bersikap sebaliknya dari biasanya, Arzela merasa sangat terluka. Bukan hanya karena Sabrina merebut Nadeo darinya, tapi karena Arzela kehilangan sahabat yang selama ini selalu ada untuknya.
Sabrina mulai goyah, ia menatap Arzela dengan tatapan yang sulit diartikan. Arzela selalu bersikap tenang, lembut namun tegas. Ia tidak pernah bersikap buruk pada orang lain, sekalipun ia dilukai.
"Awalnya aku memang tulus berteman denganmu, tapi semakin ke sini, aku semakin muak," ucap Sabrina dengan tatapan penuh kebencian. "Orang-orang selalu menatapmu, tidak pernah sekalipun mereka melihat kearah ku."
Cantik, smart, body goals, kaya raya dan ramah. Siapa yang tidak ingin menjadi pendamping gadis sesempurna Arzela. Teman-temannya, kakak tingkatnya dan bahkan juniornya, banyak yang mengidolakan Arzela karena sikap rendah hatinya. Namun, hati Arzela tidak pernah goyah, baginya Nadeo tetap laki-laki paling sempurna di matanya.
Arzela hanya mencintai Nadeo, dan Sabrina orang yang paling tahu hal itu. Karena itu satu-satunya cara mengalahkan Arzela, hanya dengan mengambil Nadeo dari sampingnya.
"Itu hanya perasaan Kamu saja. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Yang terpenting adalah jangan pernah menanamkan sifat iri dalam hati Kamu."
Arzela tidak habis pikir dengan pemikiran Sabrina yang menurutnya terlalu berlebihan. Arzela tidak pernah merasa paling tinggi ataupun sempurna, itu karena dia merasa dirinya sama seperti orang lain. Sementara Sabrina bahkan dirinya sendiri yang melabeli dirinya lebih buruk dari Arzela.
Sabrina merasa tertohok dengan ucapan Arzela. Sebenarnya Sabrina sepenuhnya sadar, ia sendiri yang menciptakan rasa iri di hatinya, bukan Arzela. Namun rasa egois tetap mendominasi hatinya, Sabrina tetap menyalahkan Arzela sebagai pemicu kedengkian nya.
"Bagaimana caranya aku tidak iri? Sementara semua orang selalu membanding-bandingkan aku sama Kamu."
"Kamu jangan pernah dengerin kata orang, Kamu---"
"Kamu enak bicara begitu, karena Kamu yang mereka puji," Sabrina sedikit meninggikan suaranya. "Kamu sebenarnya senang kan melihat aku diperlakukan seperti ini? Kamu bahagia kan melihat aku menderita?" Ucapnya lagi dengan penuh penekanan.
Arzela menggelengkan kepalanya, ia tidak pernah berpikir sedikitpun untuk menertawakan Sabrina apalagi bahagia di atas penderitaannya.
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu, Sabrina. Aku bukan Kamu yang bahagia melihat aku terluka."
Arzela sudah terlalu lelah menghadapi Sabrina yang tidak pernah mau mendengarkan penjelasannya. Ia memilih pergi daripada terus membuang-buang waktu meladeni Sabrina yang terus menyalahkannya.
"Aku hamil, Arzela."
Ucapan Sabrina berhasil menghentikan langkah Arzela yang hendak meninggalkan tempat itu. Sabrina tidak berteriak namun ucapannya terdengar cukup jelas di telinga Arzela.
"Aku hamil anak Kak Nadeo," ucapnya lagi.
Deg
"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬 𝘋𝘦𝘰 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩 𝘚𝘢𝘣𝘳𝘪𝘯𝘢?"
Arzela melanjutkan langkahnya tanpa menoleh pada Sabrina. Air matanya tiba-tiba meleleh tanpa diminta. Sementara Sabrina tersenyum smirk melihat Arzela pergi dengan langkah gontai nya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘬𝘢𝘬 𝘋𝘦𝘰."
Begitu sampai di mobilnya, Arzela tak kuasa lagi membendung air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya.
"𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪, 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩," 𝘨𝘶𝘮𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪."
Setelah cukup tenang Arzela mulai melajukan mobilnya ke kantor. Dengan suasana hatinya sekarang, Arzela sebenarnya enggan pergi ke kantor. Namun pekerjaan membuatnya harus tetap profesional. Arzela hanya berharap Nadeo tidak datang ke kantor hari ini.
...----------------...
Tidak membutuhkan waktu lama Arzela akhirnya sampai di kantor. Ia berjalan dengan hati gundah. Perkataan Sabrina terus terngiang di telinganya. Fakta Sabrina tengah mengandung anaknya Nadeo membuat Arzela kehilangan semangat hidupnya.
"Huhfff... syukurlah, sepertinya dia ke Rumah sakit hari ini."
Arzela merasa sedikit lega, karena Nadeo tidak ada di ruangannya. Setidaknya, untuk hari ini Arzela enggan bertemu dengan Nadeo, ia tidak sanggup menatap wajah atasan sekaligus pemilik hatinya itu.
Nadeo sudah diterima bekerja di salah satu Rumah sakit ternama di ibu kota, Sarfaraz Hospital. Rumah sakit swasta milik salah satu keluarga tersohor, Kaisar dan Jingga Sarfaraz.
"Kamu sudah datang, Sayang?"
"Astaga!" Arzela terkejut saat melihat Nadeo tiba-tiba sudah berada di depan meja kerjanya.
Nadeo terkekeh melihat wajah kaget wanitanya, sangat lucu dan menggemaskan. Namun tawa Nadeo hilang begitu saja saat menyadari ada yang berbeda dengan Arzela. Wajahnya pucat, dan matanya sedikit sembab, apa Arzela menangis? Benak Nadeo khawatir.
"Kamu kenapa, Sayang? Kamu nangis, apa yang sakit?" Tanya Nadeo dengan nada penuh kekhawatiran.
"Aku nggak apa-apa," ucap Arzela. Wanita cantik itu menepis halus tangan Nadeo yang ingin memastikan keadaannya.
Melihat sikap Arzela yang tiba-tiba berubah, Nadeo yakin sudah terjadi sesuatu pada wanita cantiknya ini. Apalagi sejak tadi Arzela selalu menghindari kontak mata dengannya. Bahkan Arzela menepis tangannya seolah enggan bersentuhan dengannya.
"Jangan bohong, kakak tahu ada yang Kamu sembunyikan. Kita bicara di ruangan kakak." Nadeo berjalan lebih dulu ke ruangannya, namun suara Arzela menghentikan langkahnya.
"Aku nggak mau."
Penolakan Arzela membuat Nadeo semakin yakin ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuannya.
"Ikut kakak, atau kakak cium Kamu di sini sekarang juga!"
Arzela melotot dan reflek menutup bibirnya dengan tangannya. Dan tanpa bantahan lagi, Arzela mengikuti langkah Nadeo yang menuntunnya ke ruangannya.
Sampai di ruangannya, Nadeo mendudukkan Arzela di meja kerjanya. Tangan Nadeo bertumpu pada meja, mengunci pergerakan Arzela yang hendak turun dari meja.
"Kakak, jangan seperti ini. Aku mau turun."
Nadeo tidak bergerak sedikitpun, tidak juga menjawab ucapan Arzela. Pria tampan itu terus menatap mata Arzela tanpa mengalihkan sedikitpun tatapannya.
"Kakak tidak akan melepaskanmu, sebelum Kamu mengatakan apa yang terjadi," ucapnya tanpa bantahan.
"Kak, aku mau hubungan kita berakhir sampai di sini." Arzela menatap Nadeo dengan berkaca-kaca. "Hubungan kita salah, Kakak sudah punya istri, dan sebentar lagi Kakak--- hmmpppttt..."
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
gtu jwbnya kl kthuan sm istrinya....🤮🤮🤮.....
jgn cm omong doang y deo...km msti bnrn ngsih pljrn sm tu nnek shir....
thoooorrrr....lo bs yg rekan klakuan duo iblis mnjijikkan viralkan videox biar seruuuuu
krna jalang spertix tu su g py malu jd klakuan" bejadx hrs d viralkan, biar d hujat byk nitizen
bc d bab ni z lgsg muntah 🤮🤮🤮
sngat....sngaaàaatttt mnjijikkan
bner" jalaaaaangggg😠😠😠
ga sbr nunggu emaknya tau,abs tu kuruk aja anknya jd kodok....🤣🤣🤣