Sebuah karya novel bergenre horor yang sangat menyeramkan tentang perjalanan mahasisiwa teknik geologi yang terjebak didalam desa yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riski riko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Danu Lari Kedalam Kamar Mandi
"Suara apaan? "
Tanya balik oleh si Danu.
Aku pun kembali menjawab
"Coba Lo dengerin baik baik"
Suasana yang hening membuat suara tangisan itu terdengar sangat lantang dari arah kamar misterius itu.
Danu mencoba fokus mendengarkan suara itu.
"Oh iya iya, Kayak ada orang nangis"
Bisik Danu.
Dari belakang tampak Wisnu yang baru bangun dan berjalan sambil menguap kearah Kami, Kemudian bertanya
"Kalian lagi ngapain sih"
Danu pun memberi kode kepada Wisnu untuk jangan berbicara keras keras.
"Ssssssttttttttttt"
Suara Danu yang lagi mendesiskan suaranya sambil menutupi mulut dengan jari telunjuknya.
"Lo jangan bicara keras keras"
Bisik Danu.
Wisnu pun mencoba melangkah pelan pelan.
"Maaf"
Ucap Wisnu sambil berjalan pelan.
Kami berempat pun sudah berkumpul didekat kamar misterius pada malam itu.
"Gimana ni,Gua takut" Tanya Si Rio.
Sementara suara tangisan itu bertambah kuat.
Hiiiiiiiiiiiiii hiiiiiiiiiiiiiiii hiiiiiiiiiiiii
Suara tangisan itu yang bertambah kuat.
"Gua takut juga"
Gumam Danu.
"Gini aja, Kalian baca surah apa aja yang kalian hafal"
Ucap ku.
Semua teman teman ku sibuk membaca surah yang mereka hafal, Dari surah Al fatiha, Sampai suara al Ikhlas, Annas, Al falaq.
Aku berada paling depan, Dibelakang ku Rio, Setelah itu, Danu dan Wisnu.
Tampak mereka bertiga saling berpegang tangan.
Kami Terus berjalan menuju kamar itu walaupun perasaan takut telah memenuhi jiwa Kami.
"Koooo Lo coba ketuk pintunya"
Kata si Rio sambil ketakutan dari belakangku, Tampak dari nada Dia bertanya kepada Ku.
Posisi Kami sekarang Tepat berada didepan Pintu kamar Misterius itu.
Suara tangisan tersebut sangat jelas ketika itu, Seolah olah tangisan itu sudah memecahkan gendang telinga Kami.
Aku mencoba untuk menggerakkan tangan Ku Untuk mengetuk pintu itu.
Toooookk tokkk tokkk
Suara ketukan ku sebanyak tiga kali.
"Aaaaa aapakah aa ada orang didalam?"
Ucap ku dengan suara tersendat sendat.
Namun bukan jawaban yang kami dapatkan, Malahan tangisan itu bertambah kencangggg
Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii hiiiiiiiiiiiiiii
Suara tangisan yang sangat kencang.
Kami berempat bertambah takut mendengarnya, Rio tampak bertambah kuat menarik baju Ku, Wisnu dan Danu pun sepertinya sudah siap mau lari saking ketakutanya.
Aku mencoba bertanya sekali lagi dengan mengetuk pintu itu lagi.
Toookkkk Tok tok tok
Suara Aku mengetuk pintu sebanyak empat kali.
Kemudia Aku kembali berusaha bertanya
"Pe eermisi, Aa apakah aada Orang didalam"
Semakin Aku bertanya semakin kuat pula tangisan itu.
Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii hiiiiiiiiiiiiiii
Suara tangisan yang begitu kencang.
Rasa takut kami sepertinya sudah sampai dipuncak semuanya, Aku yang awalnya beranipun ikut ketakutan ketika malam itu.
Aku berusa bertanya untuk ketiga kalinya tapi tanpa mengetuk pintu
"Mbaaaaakkkkk, To oloong di ii jawab pertanyaan saya"
Ucap ku yang sangat ketakutan.
Setelah aku bertanya ketiga kalinya, Suara tangisan itu menghilang, Dan suasana pun menjadi hening.
.... ... ... .... ....
Suasana hening
Benar benar hening, Tak ada suara sama sekali, yang terdengar hanyalah suara napas Kami yang lagi ketakutan.
Jantung kami yang berdegub kencang sudah mulai sedikit membaik.
Tidak menjelang Dua menit suasana hening itu.
Tiba tiba.
Duuuuuuuuuupppppp
Suara orang yang menerjang pintu itu.
Sontak saja Aku, Rio,Danu Dan Wisnu terkejut bukan palang.
"Laaaaaaailaaahaaillaallah"
Teriak ku.
Kami semua berlari tampa arah,
Taaakk takk takkk takk takk
Suara hentakan kaki Kami yang begitu kencang.
Kami berlari tak tau arah lagi, Aku sudah tidak memikirkan teman temanku saking takutnya pada waktu itu.
"Kooooooo tunggguuu"
Teriak Wisnu dari arah belakang.
Aku tetap tidak mendengarkan teriakan itu dan terus berlari kearah kamar.
Si Danu ternyata lari kearah kamar mandi, Tidak tau mengapa dia lari ke arah sana, Mungkin karna saking ketakutanya hingga salah arah.
"Gua kok masuk kamar mandi" Teriak Si Danu.
Kemudian Dia melihat kearah kami yang lagi berlari kedalam kamar.
"Wooiiiiii tungguin Gua, Gua salah tempat"
Teriak Danu kemudian Berlari kencang mengejar Aku ,Rio dan Wisnu.
Aku, Rio, Dan Wisnu sudah berada didalam kamar.
Kemudian Wisnu langsung cepat cepat mengunci pintu kamar tanpa memikirkan Danu yang masih diluar.
Dupp dupp dupp
Danu yang mencoba membuka pintu dengan cara mendobaraknya.
Kemudian Dia berteriak.
"Heeeeiiiiii, Gua masih di luar"
"Nah Danu masih diluar,Buka cepat Wis"
Teriak Rio.
Kemudian Wisnu dengan cepat membuka pintu kamar itu, Tampak Wajah Danu yang sudah pucat karna ketakutanya.
"Brengsek, Gua kalian tinggal"
Teriak Danu sambil berlari masuk kamar.
"Lo kemana ******?" Teriak Rio.
"Gua salah lari, Gua malah lari kekamar mandi"
Ucap Danu sambil duduk mencangkung ketakutan.
Sekarang Kami berempat sudah berada didalam kamar sambil ketakutan setengah mati.
Wisnu tampak terus membaca surah yang Dia hafal.
Sementara Rio mengambil selimut diatas kasur, Kemudian menyelimuti sentengah badannya sambil keadaan duduk dilantai.
Kami semua berada dipojok kamar, Dan berdoa supaya tidak terjadi apa apa.
Suara heningan malam berubah menjadi suara ketakutan Kami.
Jendela yang berada di arah samping kiri kami tiba tiba terbuka oleh angin.
Lampu yang berada didalam kamar Kami langsung Mati.
Ketakuatan pada malam itu semakin menjadi.
"Allahuuuaakbaaar"
Teriak Danu.
Suasana gelap gulita, Dan Tiupan angin dari luar jendela membuat bulu kuduk kami semakin berdiri.
"Wisss, Tutup jendelanya" Ucap ku kepada Wisnu.
"Gua gak brani ko" Ucap Wisnu yang sudah setengah mati ketakutan.
Aku sendiri yang mencoba melangkah selangkah demi selangkah didalam gelapnya kamar menuju jendela itu.
Aku pun menutup jendela itu, Kemudian menguncinya.
Setelah itu Aku langsung berkumpul dengan teman teman dipojok kamar.
Kami sudah merasa sangat ketakutan, Lampu yang tiba tiba mati menambah suasana horor bertambah seram.
Aku mengambil bantal dan selimut di atas kasur.
Kami berempat mencoba berlindung didalam selimut itu, Suasa panas didalam selimut sudah tidak kami hiraukan.
Jam tangan ku menandakan jam 02.40 wib.
"Gimana kita ni?" Tanya Danu disampingku yang masih didalam selimut.
"Sudah, Kita begini saja hingga pagi datang"
Bisik Ku.
Kami berempat tetap berada didalam selimut, Semua surah yang Kami hafal kami baca semua, Dengan berharap dijauhkan dari hantu itu.
Menit berganti menit, Sudah tidak tau lagi, Berapa lama Kami berlindung didalam selimut itu.
Tidak lama setelah itu,Aku melihat ke sebelah ku, Semua temanku ternyata sudah tidur.
Rio,Danu Dan Wisnu sudah berada berada didalam lautan mimpi, Tidak tau apakah mimpi baik atau mimpi buruk akibat insiden malam ini.
Sekarang hanya Aku yang masih membuka mata.
Aku masih berpikir tentang tangisan itu.
Akupun mencoba memejamkan mata, Dan berharap sinar matahari cepat datang.
Dan semua ingatan menyeramkan pada malam ini hilang seperti hilangnya malam dan datang nya pagi yang cerah.
Mataku ternyata sudah sedikit demi sedikit terpejam, Hingga kesadaranku menghilang.
#Bersambung#
Thanks buat teman teman Desa yang hilang,
Semoga teman teman sehat selalu, Buat para cewek cwek, Kalian dapat salam dari Rio si Raja gombal.
Dan sekarang setelah 3 tahun hilang²an, akhirnya lanjut baca lagi 'Desa Yang Hilang' 😅 Makasiiih ya author