NovelToon NovelToon
TAKDIR DIBALIK CINCIN (Gadis Kesayangan Oppa)

TAKDIR DIBALIK CINCIN (Gadis Kesayangan Oppa)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Cinta Paksa
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Amelia's Story

Nesya, seorang gadis sederhana, bekerja paruh waktu di sebuah restoran mewah, untuk memenuhi kebutuhannya sebagai mahasiswa di Korea.

Hari itu, suasana restoran terasa lebih sibuk dari biasanya. Sebuah reservasi khusus telah dipesan oleh Jae Hyun, seorang pengusaha muda terkenal yang rencananya akan melamar kekasihnya, Hye Jin, dengan cara yang romantis. Ia memesan cake istimewa di mana sebuah cincin berlian akan diselipkan di dalamnya. Saat Nesya membantu chef mempersiapkan cake tersebut, rasa penasaran menyelimutinya. Cincin berlian yang indah diletakkan di atas meja sebelum dimasukkan ke dalam cake. “Indah sekali,” gumamnya. Tanpa berpikir panjang, ia mencoba cincin itu di jarinya, hanya untuk melihat bagaimana rasanya memakai perhiasan mewah seperti itu. Namun, malapetaka terjadi. Cincin itu ternyata terlalu pas dan tak bisa dilepas dari jarinya. Nesya panik. Ia mencoba berbagai cara namun.tidak juga lepas.

Hingga akhirnya Nesya harus mengganti rugi cincin berlian tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia's Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya Pulang

Mitha menatap Jae Hyun dengan tatapan penuh penilaian. Selama ini, ia tahu betul bagaimana Nesya bertahan meski diperlakukan dingin dan acuh oleh laki-laki di hadapannya ini. Kenapa baru sekarang Jae Hyun terlihat panik dan peduli?

"Dia sudah di udara sekarang. Menuju Indonesia, kembali ke keluarganya—tempat di mana dia seharusnya merasa dihargai." Nada suara Mitha tegas, nyaris menusuk kesadaran Jae Hyun.

Jae Hyun terdiam. Dadanya terasa semakin sesak. Dia benar-benar pergi.

"Kenapa?" gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. "Kenapa dia pergi tanpa mengatakan apapun padaku?"

Mitha mendengus kecil, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Apa kau benar-benar tidak tahu alasannya, Jae Hyun? Kau memperlakukannya seolah dia bukan siapa-siapa. Bahkan di depan semua orang, kau tak pernah mengakui pernikahan kalian."

Perkataan itu menusuk telak di hatinya. Ia tahu Mitha benar. Selama ini, ia bersembunyi di balik alasan bahwa pernikahan mereka hanyalah kontrak. Ia menyangkal perasaan yang perlahan tumbuh di hatinya.

Namun, ketika Nesya benar-benar pergi—kosongnya terasa begitu nyata.

"Dirga pergi bersamanya?" tanya Jae Hyun dengan suara lebih pelan, ada nada cemburu yang tak bisa ia sembunyikan.

Mitha mengangguk kecil. "Tentu saja. Dirga selalu ada di sisinya, tidak seperti kau yang sibuk dengan Hye Jin."

Mata Jae Hyun menggelap, rahangnya mengatup keras. Bayangan Dirga yang selalu ada untuk Nesya menyalakan bara di dalam dadanya. Ia benci mengakuinya, tapi ia tahu bahwa pria itu peduli—bahkan mungkin lebih dari sekadar teman.

Namun, bisakah ia menyalahkan Nesya jika gadis itu memilih pergi? Bukankah selama ini ia sendiri yang membiarkan jarak itu tumbuh di antara mereka?

"Apa dia meninggalkan sesuatu untukku?" tanya Jae Hyun akhirnya, mencoba menggali harapan terakhir.

Mitha menghela napas panjang, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih. Ia menyerahkannya pada Jae Hyun. "Ini. Dia memintaku memberikannya padamu jika kau datang mencarinya."

Tangan Jae Hyun terasa dingin saat menerima amplop itu. Ia membuka perlahan, menemukan selembar surat yang ditulis tangan—gaya tulisan Nesya yang rapi dan sederhana.

> Jae Hyun,

Aku tahu sejak awal kita hanya terikat dalam hubungan yang tak nyata. Aku tak pernah mengharapkan apapun darimu. Aku sadar siapa diriku di matamu.

Terima kasih sudah membantuku selama ini, meski aku tahu bagimu aku hanyalah beban yang merepotkan. Aku sudah memutuskan pulang ke Indonesia, kembali ke kehidupanku sebelum kita bertemu.

Kuharap kau bahagia dengan Hye Jin, seperti yang selalu kau inginkan. Jangan khawatir, aku takkan lagi menjadi gangguan dalam hidupmu.

Jaga dirimu.

Tangan Jae Hyun mengerat di tepi kertas itu. Ada sesuatu yang berat mengisi dadanya—penyesalan yang menyakitkan.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kepergian Nesya meninggalkan lubang besar di hatinya. Lubang yang tidak bisa diisi oleh siapapun—bahkan oleh Hye Jin.

"Apa aku benar-benar sudah kehilangan dia?" bisiknya nyaris tak terdengar, tapi Mitha mendengarnya.

Mitha menatapnya dalam diam, kemudian berkata pelan, "Jika kau benar-benar menginginkannya kembali, pergilah dan jemput dia. Sebelum terlambat."

Namun, di lubuk hati Jae Hyun, ia tahu—mungkin kali ini ia benar-benar sudah terlambat. Nesya sudah pergi. Dan bisa saja, ia tidak akan pernah kembali.

***************

Di dalam pesawat, Nesya duduk di dekat jendela, memandang hamparan awan putih di luar. Ada banyak perasaan yang berputar di hatinya—lega karena akhirnya bisa pulang ke rumah, namun di sisi lain, ada sesuatu yang terasa berat di dadanya. Kenangan tentang Jae Hyun masih melekat, meskipun ia mencoba mengabaikannya.

Di sebelahnya, Dirga duduk dengan tenang. Sesekali ia melirik ke arah Nesya, memastikan gadis itu baik-baik saja. Sejak mereka berangkat dari Korea, Dirga selalu ada di sisinya. Pria itu seperti benteng yang kokoh, selalu siap melindungi Nesya dari apapun yang menyakitinya.

"Kamu baik-baik saja?" suara Dirga memecah keheningan di antara mereka.

Nesya tersenyum tipis dan mengangguk. "Aku baik-baik saja. Hanya… sedikit lelah."

Dirga menatapnya dalam. "Kalau kamu butuh sesuatu, kasih tahu aku, ya. Aku di sini buat kamu, Nes."

Ucapan itu terdengar tulus, membuat hati Nesya terasa hangat. Dirga memang selalu begitu—terlalu baik, terlalu perhatian. Tapi di hati Nesya, ia hanya sebatas teman.

"Aku tahu. Terima kasih, Dirga. Tanpamu, mungkin aku tidak sekuat ini," jawabnya jujur.

Dirga mengulum senyum. Meski ia tahu posisinya di hati Nesya hanya sebagai teman, ia tak pernah berhenti berharap bahwa suatu hari gadis itu akan melihatnya lebih dari sekadar sahabat.

Setibanya di Indonesia, udara hangat menyambut mereka di pintu kedatangan. Langkah Nesya terasa ringan, meski pikirannya masih berkecamuk. Ada satu hal yang memenuhi hatinya saat ini—kerinduan pada kedua orang tuanya.

Saat berjalan keluar dari bandara, pandangan Nesya langsung tertuju pada sepasang suami istri paruh baya yang berdiri di dekat pintu masuk. Wajah mereka dipenuhi kekhawatiran, namun saat melihat Nesya muncul, mata mereka berbinar penuh kebahagiaan.

"Ibu… Ayah…" suara Nesya bergetar, dan tanpa ragu ia berlari ke arah mereka.

Ibu Nesya memeluknya erat, seolah takut kehilangan putrinya lagi. "Kamu baik-baik saja, Nak? Ibu khawatir sekali… Kenapa kamu nggak cerita soal kondisimu?"

Nesya menahan air matanya. Pelukan hangat ibunya adalah sesuatu yang ia rindukan selama ini. "Aku baik-baik saja, Bu. Maaf karena aku nggak cerita. Aku hanya nggak ingin kalian cemas."

Ayah Nesya menepuk lembut punggungnya. "Yang penting kamu sudah pulang. Rumah ini selalu terbuka buat kamu, Nak."

Dirga berdiri sedikit di belakang, menyaksikan momen haru itu. Ia tidak ingin mengganggu, meski jauh di dalam hatinya, ia berharap bisa menjadi bagian penting di hidup Nesya lebih dari sekadar teman.

Saat perjalanan pulang, Nesya merasa tenang. Baginya, berada di rumah bersama orang tua adalah tempat terbaik. Di sini, ia bisa memulai segalanya dari awal, tanpa bayang-bayang masa lalu atau hubungan pura-pura yang menyakitkan.

Namun, di sudut hatinya yang terdalam, ada sosok Jae Hyun yang masih sulit ia hapuskan. Entah mengapa, meskipun mereka menikah hanya dalam kontrak, kehadiran pria itu meninggalkan bekas yang sulit dihapus begitu saja.

Apakah ini benar-benar akhir dari kisah mereka? Atau takdir akan membawa mereka bertemu kembali?

Untuk saat ini, Nesya hanya ingin memulihkan dirinya dan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya di tempat yang ia sebut rumah.

Orang tua Nesya menyambutnya dengan wajah penuh kebahagiaan. Mereka tak menyadari bahwa di balik senyum putri mereka, ada luka dan kelelahan emosional yang tak terlihat. Bagi mereka, yang terpenting adalah Nesya pulang dalam keadaan selamat dan sehat.

Di ruang tamu rumah sederhana itu, Nesya duduk di antara kedua orang tuanya. Ibunya tak henti-hentinya menatap wajah putrinya dengan raut syukur. "Akhirnya kamu pulang juga, Nak. Ibu senang sekali," katanya sambil menggenggam tangan Nesya erat.

"Iya, Bu... Aku juga kangen banget sama Ibu dan Ayah," jawab Nesya dengan suara lembut, mencoba menyembunyikan kegundahan hatinya.

Ayahnya tersenyum lebar. "Gimana kuliahmu di Korea? Pasti menyenangkan, ya? Kamu anak yang pintar, Ayah yakin hasil akhirnya membanggakan," ujarnya penuh keyakinan.

Nesya mengangguk pelan. "Alhamdulillah, kuliahku lancar, Yah. Tinggal menunggu hasil akhirnya saja," jawabnya tanpa menjelaskan beban fisik dan emosional yang harus ia hadapi selama di Korea.

Di sudut ruangan, Dirga duduk diam sambil mengamati interaksi hangat itu. Ia tahu bahwa Nesya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu, tapi ia memilih untuk diam. Baginya, asalkan Nesya merasa nyaman di rumah, itu sudah cukup.

"Ibu masakin makanan kesukaanmu, Nak. Kamu pasti kangen sama masakan rumah," ujar ibunya penuh semangat sebelum beranjak ke dapur.

Saat hanya berdua dengan Ayahnya, Nesya memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan hati. Ia merasa bersalah karena menyembunyikan kenyataan—tentang pernikahan kontraknya dengan Jae Hyun, operasi bahunya, dan alasan sebenarnya ia pulang ke Indonesia.

"Nes, kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri ya, Nak," suara Ayahnya yang lembut membuyarkan lamunannya. "Rumah ini selalu jadi tempatmu pulang."

Nesya menelan rasa sesak di dadanya, lalu memaksakan senyum. "Iya, Yah. Terima kasih. Aku senang bisa pulang ke sini lagi."

Sementara itu, di benaknya terlintas wajah Jae Hyun—pria yang ia tinggalkan di Korea. Ia mencoba mengusir bayangan itu, meyakinkan dirinya bahwa keputusan untuk pulang adalah yang terbaik. Kini, yang ia inginkan hanyalah memulai hidup baru tanpa beban masa lalu.

Namun, di sudut hatinya, ia tak bisa memungkiri bahwa ada bagian dari dirinya yang masih menunggu sesuatu dari Jae Hyun—entah itu penjelasan atau sekadar pengakuan atas apa yang mereka lalui bersama.

1
Greenindya
lanjut thor
ceritanya bikin deg-degan
Amelia's Story: siap,.🥰🥰🥰
total 1 replies
Dea lestari tari
cerita yg menark
Serenarara
Semangat ya thor nulisnya.
Amelia's Story: siap terimakasih ka sudah mampir
total 1 replies
seftiningseh@gmail.com
jangan lupa dukungan nya di novel aku judul nya istri kecil tuan mafia yaa kak
semagat terus yaa kak
Amelia's Story: siap ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!