Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maira Anastasia, si Wanita Malam
Hiruk pikuk memenuhi sebuah tempat hiburan malam. Dentuman musik bass berdentum tanpa henti, berpadu dengan bau alkohol yang menusuk hidung. Lampu-lampu warna warni berkedip, menerangi para gadis berpakaian minim yang menari di atas lantai dansa. Mereka tersenyum, menggoda, dan merayu setiap pria hidung belang yang datang. Tujuannya hanya satu, mendapatkan uang dari pekerjaan yang kerap dipandang kotor oleh banyak orang.
Di salah satu ruangan VIP, seorang pria yang sudah setengah mabuk terduduk di sofa empuk dengan gelas minuman di tangannya.
"Maira... Maira... Maira..." lirihnya berulang kali, suaranya berat oleh alkohol.
Pria itu meraih Maira yang duduk di sampingnya, membelai leher jenjang wanita itu sambil mengendusnya rakus.
"Mengapa kamu menolak memberikan mahkotamu? Padahal aku akan membayarmu mahal. Kalau perlu akan aku jadikan kamu istri keduaku," rayunya dengan suara sengau.
Maira tersenyum. Senyum yang selama ini selalu berhasil membuat para pria kehilangan akal sehatnya. Jari lentiknya membelai wajah pria itu dengan lembut, seolah menenangkan.
"Sayaang..." ucapnya manja.
"Kau tahu, itu syarat mutlak dari aku," lanjut Maira dengan nada menggoda.
"Aku akan memuaskan dirimu dengan cara apa pun, asal jangan sentuh mahkotaku."
Senyumnya semakin lebar, tatapannya tajam namun tetap memesona. Pria itu terdiam sesaat, lalu tertawa kecil seolah menganggap semuanya tidak masalah. Bagi mereka, Maira tetaplah godaan yang sulit ditolak.
Siapa yang tak mengenal Maira Anastasia. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu sudah lama menjadi wanita malam. Namanya cukup terkenal di tempat hiburan tersebut. Hampir setiap tamu yang datang pasti menginginkan tubuhnya yang indah, wajahnya yang cantik, serta aura menggoda yang seolah melekat alami.
Maira adalah satu-satunya wanita malam dengan bayaran tertinggi di tempat itu. Namun, ia memiliki satu syarat mutlak. Ia akan menggunakan berbagai cara untuk memuaskan para pria hidung belang, tetapi tak seorang pun diizinkan menyentuh mahkotanya.
Meski terdengar tak masuk akal bagi seorang wanita malam, justru itulah yang membuat Maira semakin diburu. Para pria tetap berbondong-bondong ingin ditemani olehnya, seolah tantangan itu menambah nilai tersendiri.
Setelah urusan di dalam ruangan selesai, Maira akhirnya melangkah keluar. Wajahnya kembali datar, senyum menggoda itu lenyap begitu saja. Di luar, Roy sudah menunggunya. Sahabat dekatnya itu sekaligus anak pemilik tempat hiburan malam tersebut.
"Gimana?" tanya Roy dengan gaya kewanita-wanitaannya, alisnya terangkat penuh rasa ingin tahu.
"Ini uangnya," ucap Maira singkat sambil menyerahkan segepok uang ke tangan Roy.
Roy menerima uang itu dengan senyum puas. "Kamu hebat, Beb."
"Kamu sudah siapin baju ganti aku?" tanya Maira sambil merapikan rambutnya.
"Sudah, Beb," jawab Roy sambil mengangguk.
"Aku mandi dulu," ucap Maira lalu berlalu meninggalkan Roy menuju kamarnya.
Itu sudah menjadi kebiasaan Maira. Setiap kali selesai melayani pria hidung belang, ia akan langsung mandi dan mengganti pakaian. Meski ia bukan wanita baik-baik, menurutnya bersentuhan dengan para pria itu tetap terasa menjijikkan.
Di bawah shower, Maira mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Tangannya menggosok kulitnya kuat-kuat, seolah ingin menghapus setiap sentuhan, rabaan, dan napas pria tadi. Sabun ia gunakan berkali-kali, tanpa peduli kulitnya mulai memerah.
Ia bahkan menyikat giginya berulang kali, lalu menggunakan cairan pembersih mulut sampai rasa perih menyengat lidahnya. Bagian itu terasa paling menjijikkan baginya. Karena dengan itulah ia memuaskan para pria hidung belang tersebut.
Air terus mengalir, menutupi wajah Maira yang kini tak lagi menyimpan senyum menggoda. Hanya ada tatapan kosong dan napas yang ditarik panjang, seolah mencoba menenangkan diri sebelum kembali mengenakan topengnya sebagai Maira Anastasia, wanita malam paling diincar di tempat itu.
***
Maira sudah berganti pakaian. Gaun hitam pas di tubuhnya kini membalut tubuh yang kembali wangi dan segar. Rambutnya terurai rapi, make up tipis menonjolkan kecantikan alami yang selama ini menjadi daya jualnya.
"Beb, ada klien VVIP buat kamu malam ini," ucap Roy sambil berjalan di samping Maira.
"Oh ya?" Maira menghentikan langkahnya sejenak. Matanya menyapu setiap sudut tempat hiburan itu, seolah mencari sosok yang dimaksud.
"Di mana orangnya?"tanyanya karena tak menemukan sosok yang dimaksud Roy.
"Dia gak ngajak ketemuan di sini," jawab Roy sambil membuka ponselnya.
"Dia minta ketemu di Hotel Adeline, kamar dua nol enam."
Maira mengangguk kecil. Bibirnya melengkung tipis.
"Kita ke sana."
Tanpa menunggu Roy menjawab, Maira melangkah lebih dulu keluar dari tempat hiburan malam itu. Roy pun segera menyusul, mengambil mobilnya di parkiran dan bersiap mengantar Maira ke hotel tujuan.
Di dalam mobil, Maira sibuk merapikan penampilannya. Ia mengoleskan lipstik ke bibirnya dengan gerakan santai, seolah semua ini hanyalah rutinitas biasa.
"Dari mana pelanggan itu tahu aku?" tanyanya sambil menatap bayangannya di kaca kecil.
"Dia beberapa kali datang ke sini," jawab Roy singkat, tetap fokus menyetir.
"Katanya sering lihat kamu."
"Oh," balas Maira ringan.
Tak lama kemudian, mobil Roy memasuki area parkiran Hotel Adeline. Lampu-lampu gedung itu terlihat lebih tenang dibanding hiruk pikuk tempat hiburan malam yang baru saja mereka tinggalkan.
"Kamu tunggu aku di sini," ucap Maira sambil membuka pintu mobil.
"Sampai aku beres sama si VVIP itu."
Dengan langkah percaya diri dan lenggok yang sudah menjadi ciri khasnya, Maira masuk ke dalam hotel. Hak sepatunya berdetak pelan di lantai marmer menuju lift, lalu berhenti di depan kamar bernomor 206.
Maira berdiri sejenak, merapikan rambutnya, lalu menekan bel kamar. Tak lama kemudian, pintu terbuka.
Seorang pemuda tampan berdiri di hadapannya. Usianya sekitar dua puluh delapan tahun. Wajahnya tegas, sorot matanya dingin, dan tidak ada senyum sedikit pun di sana seperti para pria yang pernah Maira temui.
"Maira Anastasia?" tanyanya singkat.
"Hmmm," Maira mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Silakan masuk," ucap pria itu sambil memberi jalan.
Maira melangkah masuk dan langsung duduk di tepi ranjang. Ia sengaja memilih posisi yang memperlihatkan sisi menggoda dirinya. Kakinya disilangkan perlahan, sikap tubuhnya santai namun penuh percaya diri.
"Bisa kita mulai sekarang?" ucap Maira dengan nada menggoda.
"Soalnya waktu saya mepet."
Namun sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya, pria itu justru mengambil selimut dari ranjang dan menutup tubuh Maira hingga rapat. Seketika Maira terperangah. Alisnya terangkat, matanya membulat tak percaya.
"Apa maksud kamu?" tanyanya spontan.
Pria itu menatapnya datar.
"Sebaiknya aurat kamu ditutup," ucapnya dingin.
Maira terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum menggoda di wajahnya memudar dan hanya ekspresi terkejut yang terukir.