Ahimsa Radeya Sanjaya adalah kandidat Presdir dari kerajaan bisnis milik kakeknya. Salah satu syarat yang harus dia penuhi sebelum menjadi seorang Presdir pilihan adalah menikahi perempuan pilihan kakeknya. Sevim Zehra Mahveen adalah perempuan yang harus dia nikahi.
Awalnya Ahimsa menyetujui syarat tersebut hanya untuk mendapatkan posisi sebagai Presdir. Namun, akhirnya dia jatuh cinta kepada Sevim. Sayangnya, meskipun saling mencintai, tapi mereka seringkali dibuat salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batal
Kakek geram ketika Hyana memperlihatkan surat perjanjian yang di fotonya. Padahal, kakek sudah menantisipasi sebelumnya, tapi tetap saja kecolongan. Beliau langsung menyuruh anak buahnya untuk mengambil surat perjanjian tersebut. Tidak sampai disitu beliau langsung meminta Hyana untuk mengumpulkan anggota keluarga, juga keluarga Affandy. Kakek mengadakan pertemuan mendadak .
Semua anggota keluarga sudah berkumpul, kecuali Ahimsa dan Sevim. Keduanya sedang berada di lokasi proyek yang saat ini ditangani oleh Ahimsa.
" Himsa sama Sevim, mana Na?", tanya kakek pada cucunya.
" Lagi dijalan kek, sebentar lagi juga sampai..",
" Yah, emangnya ada apa sih..kok tiba-tiba kita dikumpulin kayak gini..", tanya Mami Anin.
" Nanti juga tau, kita tunggu Himsa sama Sevim..",
Bintang utama yang ditunggu akhirnya tiba. Ahimsa langsung duduk berdampingan dengan Sevim. Suasana tegang menyelimuti ruangan itu, karena raut muka kakek yang sangat tidak bersahabat. Biasanya jika melihat Sevim, beliau langsung tersenyum sumringah, namun kali ini tidak. Pandangannya mengintimidasi serta menunjukkan kemarahan.
" Karena Himsa sama Sevim udah tiba, kakek mau ngasih pengumuman sekaligus keputusan. Kakek harap kalian bisa terima. Kakek sudah memutuskan..Himsa dan Sevim batal menikah..",
Sevim yang sedari tadi menunduk, langsung menaikkan pandangannya. Benarkah yang di dengarnya? Akhirnya.., harapan Sevim terwujud juga. Dia tidak harus menikah dengan laki-laki yang bukan pilihannya.
Sedangkan Ahimsa, langsung memasang wajah heran. Dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun, tapi kenapa tiba-tiba kakeknya memutuskan untuk membatalkan pernikahannya? Whats wrong?
" Kenapa tiba - tiba gini yah? Padahal, persiapannya sudah 70%..", tanya Eliza.
" Pernikahan tetap berlangsung, bukan Himsa yang akan menikah dengan Sevim. Tapi, Harsa yang akan menikahi Sevim..",
" Apa? ",
" Kek.."
" Kek.., kenapa?"
" Yah..kenapa kayak gini?",
" Kalian nggak usah protes.., kalian baca sendiri aja..Ahimsa tetap jadi Presdir, tapi yang menikahi Sevim tetap Harsa..", ucap kakek dengan melemparkan berkas ke atas meja.
Disusul, dengan kakek yang keluar dari ruangan tersebut. Mami Anin, mama Eliza, Papa Fandy, Papi Galang, Sevim, Ahimsa, Hyana, tidak bisa menyembunyikan wajah keterkejutannya. Hanya Harsa saja yang berwajah datar, hanya dia yang memang sebelumnya sudah di beritahu oleh kakek, termasuk memintanya untuk menikahi Sevim.
Papa Fandy, langsung meraih berkas itu dan membacanya. Betapa kagetnya beliau ketika membaca satu persatu poin yang ada dalam surat perjanjian itu.
" Kenapa Pah..?"
" Mas..itu apa?", tanya Papi Galang.
" Kamu baca sendiri Lang.., Vim..Papa bener-bener kecewa sama kamu.."
" Apa yang Sevim lakukan pah?"
" Mama liat sendiri aja..",
Mama Eliza dan Mami Anin sama - sama membekap mulutnya tidak percaya. Mereka benar-benar kecewa dengan ulah kedua anaknya.
" Mi..ada apa sih? " tanya Himsa penasaran.
" Keterlaluan ya kalian Aa'.., pernikahan itu bukan main-main",
" Maksud Mami apa sih? Aa' nggak ngerti.."
" Surat perjanjian apa yang kalian buat, heh..",
" Vim.., pulang sekarang. Kamu harus jelasin sama Papa Mama di rumah.."
Sevim langsung mengekor dibelakang Mamanya dengan wajah tertunduk. Rasanya malu sekaligus takut.
" Bang Harsa, nolak permintaan kakek kan bang?", tanya Hyana.
" Siapa yang bisa nolak? Abang tetap terima.."
" Bang.., tega?"
" Ini semua kan ulah kamu Na.., andai aja kamu nggak ngadu sama Kakek, semuanya nggak akan terjadi.."
" Maksud Na nggak gitu bang.."
" Kamu ya Na.., yang ngasih tau sama kakek?"tanya Ahimsa kali ini.
" Iya Aa.."
" Kenapa sih kamu ikut campur urusan Aa.., seneng ya kakak batal nikah.."
" Maksud Na.., nggak gitu Aa..",
" Aargggghhhh, ini semua gara-gara kamu tau nggak.., kacau kacau..",
" Hiks hiks.. Hyana nggak bermaksud gitu Aa.., Abang.., jangan terima permintaan kakek..",
Sevim tertunduk di hadapan kedua orang tuanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Berkelitpun tidak bisa karena bukti sudah ada didepan mata.
" Papa kira kamu ikhlas, mau menikah smaa Himsa. Ternyata cuma di depan aja. Di belakang Papa Mama.., kamu malah merencanakan sesuatu. Kamu pikir, pernikahan itu main-main Vim..?"
" Nggak Pah..",
" Kalau udah kayak gini, kamu tuh udah kayak bola, dioper sana sini. Papah nggak bisa berbuat apa-apa.., selain kamu harus terima apa yang kakek minta..",
" Iya Pah, Sevim terima..",
" Masih mau jadi desainer? Mau kuliah di London? Nggak akan pernah Papa izinin. Mimpi aja sana!!!",
Mama Eliza hanya memandang datar ke arah putrinya tanpa membela Sevim seperti biasa jika suaminya marah. Hilang sudah harapannya untuk menjadikan Ahimsa sebagai menantunya. Padahal, feelingnya sebagai seorang ibu mengatakan, Ahimsa adalah laki-laki yang tepat untuk Sevim. Tapi, sekarang harapannya sirna.
" Mama ke kamar dulu ya Pa..",
Baru pertama kali ini Mamanya bersikap demikian. Sevim merasa bersalah, karena sepertinya Mamanya sangat kecewa terhadapnya.
" Kamu pikir aja baik-baik, kenapa Mama kamu sampe kayak gitu.."
Sevim menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Hatinya hancur. Benar apa yang dikatakan oleh Papanya, jika dirinya sudah seperti bola. Dioper sana dioper sini. Jika kemarin calon suaminya adalah Ahimsa, sekarang berubah menjadi Harsa. Apa kakek tidak memikirkan perasaannya?
Sevim menangis dalam diam, ini juga hasil dari perbuatannya. Jika saja dia mendengarkan kata-kata Ahimsa untuk tidak membuat surat perjanjian, pasti tidak akan kacau seperti ini. Impiannya untuk menjadi desainer? Pupus sudah.
" Halo mbak Rani..",
" Halo Vim.., kamu nggak balik ke kantor? "
" Nggak mbak.., ada masalah tadi..",
" Apaan?"
" Aku sama Himsa batal nikah..",
" Lho.. kok bisa? kenapa? "
" Aku jadinya nikah sama Harsa mbak..",
" Hah? Serius? Kenapa Vim?"
" Adalah mbak..besok aja aku cerita. Aku cuma mau tanya, tadi yang masuk ke ruangan Himsa, selain Hyana . Siapa mbak? "
" Hmmm,, tadi yang masuk..Harsa sama bodyguardnya. Katanya yang nyuruh Pak Adiguna..",
Cukup, akhirnya Sevim tahu siapa dalang dibalik ini semua. Hyana atau Harsa. Ya.., mereka berdua salah satu orangnya.
Ahimsa kecewa dengan keputusan yang dibuat oleh kakeknya. Percuma dia tetap menjadi Presdir, jika perempuan yang diinginkannya lepas dari genggaman.
" Aa..",
" Mi.., kenapa jadi kayak gini?"
" Ya udah, mau gimana lagi? Yang penting kan kamu jadi Presdir? Itu kan yang kamu mau? "
" Sevim Mi..",
" Kenapa? Dia tetep jadi mantu Mami kok..",
" Iya..tapi jadi istri Harsa, bukan jadi istri Aa Mi.."
" Emang kenapa? Kamu cinta sama dia? Kalo kamu cinta, mestinya nggak usah ada surat perjanjian itu Aa.. ini kan salah kamu sendiri..",
" Mi..."
" Terlambat Aa.., kamu terima aja keputusan kakek. Kalo kamu emang cinta sama Sevim, masih ada waktu. Kamu pikirin aja sendiri caranya..",
Dada Ahimsa terasa nyeri, angan-angannya tidak sesuai dengan kenyataan. Bagaimana bisa perempuan yang menjadi calon istrinya, kini berganti menjadi calon kakak iparnya? Ini mimpi kan? Bukan..ini kenyataan yang terjadi karena kebodohannya. Ingin memastikan, Ahimsa akhirnya memutuskan untuk menghubungi mantan calon istrinya yang sekarang berganti menjadi calon kakak iparnya.
“ Halo…”
“ Halo..”
“ Are you okay?”
“………..”
“ Se.. can you hear me?”
“ Iya.. aku denger..”
“ Okay ? “
“ Not okay..”
“ Kamu terima Se?”
“ Emang apa yang harus lakuin Him, selain terima ..”
“ Kamu nggak keberatan ?”
“ Aku mencoba menerima, seperti saat dulu aku terima menikah
sama kamu..”
“ Kamu harus nolak Se..”
“ Kasih aku alasan buat nolak pernikahan ini Him..”
Aku bakal nolak seandainya kamu bilang, kamu menginginkan aku Him,, ayo bilang Aa’….
Aku nggak bisa bilang Se.., aku takut kamu tetap nolak aku
“ Aku nggak bisa liat kamu dipermainkan sama pernikahan Se..”
Sevim hanya diam, seandainya saja Ahimsa mengatakan seperti yang dia inginkan. Sudah pasti dia akan menolak permintaan kakek dan memilih menikah dengan Ahimsa disbanding dengan Harsa. Alasannya? Hanya Sevim yang tahu.
“ Maaf Him,,aku tetap terima. Udah dulu ya…”
Sevim memutuskan panggilannya.Berbicara lama-lama dengan Ahimsa hanya akan membuat hatinya hancur. Jika dia sempat tertarik dengan Harsa, namun kenapa kini saat kesempatan untuk memiliki Harsa sudah di depan mata. Rasanya berat, hatinya berkata untuk tidak. Apa karena Ahimsa?
Sudah pada tau kan, kalo akhirnya yang nikah itu Sevim sama Aa.., tapi kenapa tiba-tiba berubah lagi? kenapa kira-kira?
Pesan buat Aa Himsa dong,,,
Dari Author,,," Kalo Cinta jangan gengsi Aa..."
semoga ad kelanjutan season 2nya
Selamat ya Sevim untuk kelahiran baby girl