Menikah di masa muda karena perjodohan memang adalah hal klise. Namun, kenyataan nya hal klise seperti itu yang di jalankan oleh Dea Amelia Wijayanto. Mengubahnya menjadi gadis yang tidak terurus hanya karena mengurus seorang anak dan suami. Pengkhianatan menghancurkan hidup Dea.
Lucas Sandoro, suami yang dingin dan tak mencintai Dea. Kehidupan seperti apa yang sebenarnya pernikahan itu?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Bab 19
----------------------
.
.
.
Ke dua mata bulat bening itu menatap gambar USG ke duanya dengan mata bercahaya. Ia merasa begitu senang hanya menatap gumpalan daging yang sudah memiliki detak jantung itu. Ia mengelus perut yang sedikit menonjol itu dengan senyum cerah.
Dea menyimpan gambar USG ke dalam tas kecilnya.
"Terimakasih telah datang pada Mama, sayang!" Tutur Dea masih membelai perutnya.
"Hem!" Deheman seorang lelaki membuat Dea mengalihkan pandangannya pada lelaki yang berdiri di sampingnya itu dengan pandangan heran.
"Kenapa kau memandangi aku seperti itu?" tanyanya keheranan.
"Tidak ada aku hanya heran saja kenapa Kakak ada di sini?" tanya Dea jujur.
Lelaki bermata tajam itu tersenyum mendengar pertanyaan Dea. Ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Dea. Membuat Dea terkekeh kecil melihat tingkah laku lelaki itu.
"Tentu saja untuk menemui dirimu Nona cantik," godanya yang mendapat pukulan kecil dari Dea di bahu kekarnya.
"Jangan menggodaku, Kakak dan satu lagi aku bukan seorang gadis tapi seorang Ibu. Jadi seharusnya aku di panggil Nyonya bukan Nona." Koreksi Dea dengan wajah di buat garang.
Lelaki itu terkekeh melihat wajah mengemaskan Dea Namun senyum itu luntur saat ia menatap rintik-rintik hujan membasahi bumi dengan brutal. Orang-orang yang berada di luar gedung Rumah Sakit dan di jalan berlari mencari tempat berteduh.
"Hujan!" seru Dea dengan suara ceria.
Dea mengulurkan telapak tangannya menampung hujan deras dengan wajah ceria. Lelaki itu menatap Dea dengan wajah sendu.
"Dea!"
"Dea!"
"Dea!"
Seru lelaki itu tiga kali dengan suara sendu. Dea yang awalnya menatap hujan yang turun dengan wajah ceria langsung menatap ke arah wajah tampan lelaki Cina itu. Ada sebuah luka di sana! Di mata tajam dan tegas itu.
Tangan Dea yang awalnya menampung bulir air yang jatuh dari langit kini berada di samping tubuhnya. Tetesan demi tetesan turun dari tangan Dea bekas air hujan.
"Apa ada sesuatu yang terjadi, Kak?" tanya Dea dengan perasaan tak enak.
Mata tajam itu meyendu dan meneteskan air asin begitu saja. Dea terdiam menatap lelehan air yang jelas-jelas tak pernah membasahi pipi putih Kris.
Lelaki yang di kenal kuat dan berkepribadian keras itu menangis di depan dirinya. Biar di ulangi lelaki itu menangis! Dea mengangkat ke dua tangannya dan ke dua ibu jari Dea menghapus air mata lelaki itu.
Hangat! Air mata lelaki itu hangat tak seperti sifat lelaki itu yang dingin. Meski ia tak pernah dingin pada Dea. Dea ingat dulu lelaki itu lah yang menghapus air matanya. Namun sekarang Dea lah yang mengantikan posisi lelaki itu.
Kris terlihat aneh dan begitu lemah saat ini. Dea memeluk tubuh Kris, membuat Kris membungkuk dan membenamkan wajahnya di leher Dea. Ia menghirup aroma lavender di sana. Dea menepuk perlahan punggung Kris dengan pelan.
Dari kejauhan Bara menatap ke duanya dengan perasaan tak menentu. Ia merasa sakit dan penasaran dalam waktu sekaligus. Ia sakit melihat Dea memeluk lelaki lain dan penasaran dengan siapa lelaki tersebut hingga mendapatkan pelukan dari Dea.
"Dea! Kenapa harus begini? Aku hancur Dea! Sungguh, aku hancur dengan kenyataan ini. Harus bagaimana aku menghadapi semua ini? Aku takut!! Aku sangat takut dengan semua kenyataan ini." Tutur Kris masih dengan posisi yang sama.
"Apa yang membuat Kakak begini, hem?" tanya Dea pelan.
Kris semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Dea. Ia Dea merasakan lehernya basah karena air mata Kris. Orang-orang yang melihat ke duanya hanya menatap heran.
"Kak Kirs, katakan padaku jangan begini kau membuat aku takut, Kak! Aku menceritakan semuanya padamu Kakak jadi sekarang gilirannya Kakak menceritakan semuanya padaku!" tutur Dea.
Mendengar perkataan Dea. Kris melepaskan pelukan Dea dan berdiri tegak. Ia menghapus kasar air matanya dan memandang Dea dengan pandangan tak terbaca.
"Aku mencintaimu, Dea! Aku sangat mencintaimu Dea Amelia Wijayanto, namun aku tak akan pernah bisa memilikimu dan membawamu bersamaku lagi." Tutur Kris dengan wajah serius.
"Mencintai aku?" ulang Dea dengan pandangan tak percaya,"Jangan becanda Kak!" lanjut Dea dengan wajah risau.
"Aku terlihat becanda di matamu?" tanya Kris dengan serius.
Bahkan kristal bening itu jatuh dari ke dua mata tajam Kris. Dea merasa sakit melihat wajah Kris yang terluka. Ia bingung dengan situasi yang dia hadapi saat ini. Dea mengeleng kan kepalanya dan membalikan tubuhnya.
"Maaf Kak, aku tak akan pernah bisa membalas kan perasaanmu saat ini dan nanti. Perasaan Kakak terlalu berat untuk aku pikul." Tutur Dea lalu melangkah terburu-buru meninggal kan Kris yang masih berdiri di tempat yang sama.
Mata sendu Kris menatap Dea yang semakin menjauh. Ia tersenyum pahit karena apa yang Dea katakan dan apa yang terjadi pada dirinya.
"Benar. Kau tak akan pernah mencintaiku Dea. Awalnya aku ingin memaksamu menjadi milik ku apa pun yang terjadi walau pun aku harus merebutmu dengan cara gila sekalipun. Namun sekarang semuanya tak mungkin lagi, Dea!" tutur Kris lirih.
"Aku! Aku akan segera pergi dari dunia ini selama-lamanya, De! Dan sepertinya aku tak bisa mendapatkan cintaku dari siapa pun juga," ucap Kris lagi dengan tawa hampa.
* * * *
Bintang Sandoro! Anak itu kembali lagi membekap ke dua telinganya. Dan meringkuk di dalam selimut tebal bergambar kartun ke sukaannya. Bunyi pecahan dan teriakan yang sudah lama tak pernah ia dengar kini mengalun kembali.
Mama dan Papanya, kembali bertengkar entah karena masalah apa. Anak itu sama sekali tak tau. Di ruagan tengah terlihat berantakan. Pecahan dari keramik kaca itu terlihat jelas dan beberapa lembar foto yang tergeletak di lantai.
"CK! Kau terus saja mengelak dengan apa yang aku katakan Dea!" teriak Lucas marah.
"Berapa kali aku katakan aku dan Kakak Kris tak punya hubunggan apa-apa. Dan dia memelukku karna dia membutuhkan aku, Kak!" bantah Dea tak kalah lantangnya dari nada yang di hempas kan oleh Lucas.
Lelaki imut itu tersenyum sinis mendengar perkataan Dea. Dea melihat senyum sinis Lucas, membuat ia menarik dan mengeluarkan nafas kasar.
"Membutuhkan mu?" ulang Lucas dengan nada remeh.
"Hei!" Teriak Dea yang tak bisa lagi mengontrol emosi nya.
"Kau berselingkuh bersama Kakak ku, bertahun-tahun di belakangku apa pernah reaksiku seperti ini hah? Aku bahkan tak pernah membentak dan murka padamu. Hanya karena Kakak Kris memelukku kau marah padaku dan menuduhku berselingkuh. Wah! Kau hebat sekali Kak!" Cibir Dea dengan wajah memerah.
Lucas yang mendengar perkataan Dea mengungkit berselingkuhan nya dengan Mutia membuat ia kembali marah.
"Jadi karena itu kau mau balas dendam dengan selingkuh di belakangku bersama Kris, hah!" teriak Lucas menuding Dea.
Dea tertawa sinis mendengar perkataan Lucas. Meski Dea ingin balas dendam namun bukan dengan menyelingkuhi Lucas. Karena ia tak ingin sama dengan lelaki itu.
"Kau tertawa?" berang Lucas tak percaya melihat Dea yang tertawa.
"Sudahlah aku capek aku butuh istirahat, " ucap Dea menghentikan tawa sinis nya. Dea melangkah melewati Lucas menuju tangga.
Namun Lucas yang tak terima hendak menarik tangan Dea, namun yang tertarik justru tali tas kecil yang di sandang Dea.
Bruk !
Karena kuatnya tarikan Lucas membuat barang yang berada di dalam tas Dea berhamburan keluar bersama tas kecil yang lupa di kunci. Di lantai gambar USG janin Dea ikut tergeletak.
Dea panik melihat Lucas memungut gambar USG itu. Dengan gerakan cepat Dea hendak merebut gambar itu. Namun gerakan reflek Lucas begitu cepat.
Lucas menatap tanggal dan berapa bulan janin itu tumbuh. Ia menatap Wajah Dea dengan pandangan tak terbaca.
"Kau hamil?" tanya Lucas dengan wajah dingin.
Dea tak menjawab ia merebut gambar USG itu dan menatap Lucas dengan wajah tenang. Tidak! Lebih tepatnya ia berusaha berwajah tenang di depan Lucas.
Dea membalikan tubuh dari hadapan Lucas dan melangkah menaiki tangga. Saat kaki jenjang Dea berada di tangga ke empat suara Lucas terdengar jelas. Langkah kaki Dea berhenti dengan wajah terkejut.
"Anak siapa itu?"
Bagaimana di sambar petir di siang bolong. Jantung Dea bahkan berhenti berdetak saat itu juga. Bagaimana bisa lelaki imut itu menanyakan anak siapa yang ia kandung.
.
.
.
.