NovelToon NovelToon
Air Mata Shafira

Air Mata Shafira

Status: tamat
Genre:Angst / Keluarga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Tamat
Popularitas:146.8k
Nilai: 4.7
Nama Author: Gentra

Shafira adalah, seorang perempuan yang berusia 25 tahun dan sudah menikah dengan seorang pria berkepribadian keras bernama Erick. Selama menikah, ia kerap kali mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Namun, perempuan itu selalu sabar menghadapi kekasaran dari pria yang dinikahinya itu.

Sikap kejam Erick tidak di situ saja, ia tega selingkuh dengan rekan kerja yang merupakan cinta pertamanya, tanpa sepengetahuan istrinya.
Namun, suatu hari hal naas terjadi saat perselingkuhan itu akhirnya terbongkar.

Akankah Shafira bisa mempertahankan pernikahan mereka setelah semua yang terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

“Cukup!” teriak Shafira saat itu juga, ia mencoba memisahkan dua pria yang diam-diam mencintainya.

“Kumohon! Jangan berkelahi lagi, apa tidak cukup kalian saling menyakiti!” Kata Shafira sambil menangis. Ia sudah merapat ke dinding di sudut ruangan, dengan wajah yang berurai air mata.

Shafira ingin melerai perkelahian kedua pria itu, tapi tubuhnya masih lemah hingga ia khawatir justru dirinya sendirilah yang terkena bogem mentah.

Erick menoleh ke arah Shafira hingga timbul rasa kasihan di hatinya. Pada saat yang bersamaan telepon genggamnya bergetar dari saku jasnya. Ia berdiri dari lantai di mana ia mengurung Ardan tadi, sambil melihat layar teleponnya. Nama si pemanggil itu adalah Hendra.  

Di luar rumah, tidak seperti perkiraan Hendra sebelumnya, memang mereka mempunyai jumlah yang cukup hingga bisa melawan pengawal Ardan satu lawan satu.

Diawal-awal perkelahian terlihat seimbang, lama kelamaan anak buah Ardan bisa dikalahkan. Namun, hal yang tidak bisa dihindari adalah, bala bantuan yang datang di luar dugaan. Membuat mereka harus kembali berkelahi.  

Hendra ingin menghentikan Ardan yang berlari memasuki rumahnya, tapi langkahnya terhenti oleh seorang pria yang mirip seperti perwira polisi. Mereka berkelahi dengan kekuatan yang seimbang.

Sementara di dalam villa, Erick sudah berpikir jika Ardan bisa masuk dengan mudah, itu artinya anak buahnya pun terdesak di luar sana. Namun, ia mengabaikan urusan anak buah yang sudah ia percayakan pada Hendra.  

Sekarang ia harus mengurus Shafira, karena memang itulah tujuan awalnya.

Erick mendekati istrinya dan mengusap air mata yang meleleh di pipinya dengan jari tangannya. Seketika Shafira memundurkan kepala untuk menghindari perbuatan suaminya itu.

Tentu saja Shafira gugup dengan perbuatan Erick yang tiba-tiba berubah lembut. Ia tidak terbiasa dengan sikap seperti itu karena sebelumnya sang suami selalu kasar, bahkan ketika di atas tempat tidur, laki-laki itu seperti hilang perasaannya.

“Ayo pulang! Aku tidak mau arwah ibumu marah padaku!” kata Erick sambil tersenyum lebar.  

Ia tahu betul apa yang menjadi kelemahan Shafira, yaitu dengan mengaitkan semuanya pada mendiang sang ibu, dengan begitu pasti Shafira akan takluk kepadanya.

“Shafira, jangan tertipu lagi sama dia, kau tahu, kan, dia tidak akan melepaskan Wulan begitu saja!” Ardan saat itu sudah berdiri, ia berkata dengan tegas mengembalikan logika. Shafira seharusnya bisa menyadari kenyataan dengan sebenarnya jika ia hidup, dalam keadaan suami yang menduakan cintanya.

Ardan berharap jika Shafira mau menerima dirinya, maka ia akan menjadikan wanita itu sebagai istri satu-satunya. Namun, ia ragu apakah wanita itu akan menerima dirinya dengan mudah.

Shafira adalah orang yang begitu penurut, serta sangat menghargai keputusan ibunya yang telah tiada. Walaupun pada kenyataannya Erick yang bersalah, tapi kebaikan hati Shafira membuatnya menuruti permintaan suaminya.

“Ardan, maafkan Aku! Erick bener, kalau aku pergi darinya, maka mendiang Ibu bisa marah padaku karena aku tidak taat pada suamiku!” kata Shafira, suaranya terdengar gemetar dan pelan.

Gadis itu bukannya tidak tahu jika ia kembali ke rumah Erick, maka ia akan mendapatkan penindasan dari ibu mertua ataupun dari Wulan. Akan tetapi, ada sedikit keyakinan dalam hatinya dan juga harapan yang besar jika suaminya akan berubah dan tidak akan menyakitinya seperti dulu lagi.

“Shafira, Apa kamu yakin dengan keputusanmu?” tanya Ardan sedikit ragu, ia tetap ingin melindungi wanita itu karena kasih sayang dalam hatinya.

“Ya, maafkan aku, Ardan! Aku sudah merepotkan!”  

“Shafira, tidak perlu meminta maaf karena membuatmu bahagia bukan hal yang merepotkan!”

Tiba-tiba ucapan Ardan ini menyentuh hati Erick, ia memperhatikan dua orang yang sedang berbicara di hadapannya. Interaksi keduanya membuat otaknya berpikir jika memang benar, antara Ardan dan Shafira tidak memiliki hubungan perselingkuhan, tetapi hanya teman biasa.

Matanya mengerjap beberapa kali saat melihat wajah Shafira yang berbinar-binar, rasanya tidak rela jika ada pria lain yang bisa membahagiakannya.  

Rasa sesal tiba-tiba menyusup di hati Erick, tapi ia mencoba menepisnya. Hatinya gamang kalaupun ia harus menerima Shafira, bagaimana dengan Wulan. Ia tahu jika wanita itu tidak akan menerima istri pertamanya itu. Apalagi ia sudah merencanakan akan menceraikannya jika mengetahui Shafira berbuat kesalahan.

“Ardan, aku tetap ingin berteman denganmu, tapi aku harus kembali ke rumah suamiku karena ini adalah wasiat dari ibu! Sekali lagi maafkan aku!” kata Shafira, dengan rasa bersalah.

“Ya, aku mengerti! Semoga kau bahagia Shafira ...!” Ardan mengucapkan kata-kata itu dengan perasaan tercekat di hatinya. Ia sudah menebus rasa cintanya pada Shafira dengan doa yang paling rela.  

“Semoga kebahagiaan berada di pihak Shafira, dan aku akan baik-baik saja,” batinnya.

Erick merengkuh bahu Shafira dengan lembut, ia mendongakkan kepala penuh kemenangan. Keegoisan lah yang membuatnya sama sekali tidak mengucapkan terima kasih atau maaf, pada Ardan. Walaupun, sudah jelas pria itu yang menyelamatkan dan membuat Shafira jauh lebih baik.

Ardan menoleh pada Erick dan ia menghadang langkahnya yang sudah hendak pergi dengan Shafira. Ia menarik kerah baju Erick dengan paksa dan berkata dengan tegas di hadapannya.  

“Erick!” katanya ketus.

“Ardan!” Shafira memanggil, karena khawatir mereka akan kembali bertengkar.

“Tenanglah!” kata Erick, ia mengeratkan tangannya yang memegang bahu Shafira. Ia tidak bisa melawan Ardan kali ini, karena satu tangannya lagi sedang memegang telepon genggam.

“Ingat ...! Aku menyerah kali ini karena Shafira yang memintanya, tapi kalau kau berbuat hal yang sama lagi, maka aku tidak akan tinggal diam! Aku punya kekuatan yang sama dengan dirimu! Jangan sombong, kau tidak bisa meremehkan semua orang!”

“Aku tahu!” Erick berkata sambil menahan diri sekuat hatinya, ia kesal dan cemburu sekali dengan laki-laki yang ada di hadapannya, tapi sekarang mereka harus berdamai demi Shafira.

Seharusnya hal ini membuat Erick bisa menceraikan Shafira dengan mudah, karena ia sudah menemukan kesalahan yang besar. Istrinya pergi dari rumah, itu hal yang tidak pantas. Namun, di sisi lain hatinya menolak bercerai, ia justru menginginkan wanita itu kembali ke rumahnya.

Ardan melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah baju Erick, dan membiarkan mereka berdua berjalan melewatinya.

Ia melihat kepergian sepasang suami istri itu dengan hati yang kecewa, karena Shafira memilih kembali pada suaminya.

Ardan menatap punggung Shafira dan Erick berjalan menjauh, seolah-olah itu adalah perpisahan untuk terakhir kalinya. Namun, harapannya besar jika Shafira akan jauh lebih baik sekarang. Ia tahu saat berhadapan dengan Erick tadi, mata pria itu menatap Shafira dengan lembut. Jadi, kemungkinan pria itu tidak akan menyiksa istrinya lagi.

Sesampainya di halaman vila, Erick melihat ke sekeliling di mana ada beberapa anak buahnya yang masih berkelahi.

“Cukup hentikan perkelahian kalian!” teriak Erick dengan lantang membuat beberapa orang menghentikan aksi mereka.

“Tuan! Apa Anda baik-baik saja?” Hendra berteriak dan berlari mendekati Erick, sebagai anak buah andalan tentu ia khawatir pada tuannya itu. Wajahnya sudah babak belur tapi ia tetap kuat dan baik-baik saja.

“Aku baik, misi kali ini selesai, kalian boleh pulang!” kata Erick lagi, sambil terus berjalan keluar dari pintu gerbang dan menuju mobil roll royce nya.

“Ayo!” Hendra berteriak, memberi isyarat kepada beberapa rekannya sambil melambaikan tangan.

Mereka pulang dengan kendaraannya masing-masing, meninggalkan keadaan villa yang berantakan. Banyak anak, buah Ardan bernapas dengan lega, sambil mengusap sudut bibir mereka yang berdarah.

Sekarang perkelahian sudah dihentikan, pihak lawan sudah pulang.  

Kejadian hari itu mirip keadaan dalam perang di mana salah satu pihak mengeluarkan bendera putih hingga mereka membiarkan pihak lawan keluar dari halaman dengan tenang.

Sore harinya, Shafira sudah berada di rumah sang suami, akan tetapi di rumah itu masih ada Wulan yang membuatnya sangat tidak nyaman.

“Ayo! Masuklah di kamarmu, dan istirahat saja!” kata Erick setelah memasuki rumahnya, sambil menggandeng tangan Shafira.  

“Benarkah aku boleh istirahat dan tidur?” tanya Shafira ragu, ia menatap sekeliling rumah, keadaannya masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan.

“Ya!” jawab Erick singkat.

Mirna dan Wulan melihat kedatangan dua orang itu dengan tatapan nanar. Mereka tidak percaya jika Erick membawa kembali Shafira ke rumah mereka.

Sebelumnya Mirna dan Wulan berpikir jika setelah mengetahui Shafira berada di rumah Ardan—laki-laki yang menjadi selingkuhannya, maka Erick akan menceraikannya saat itu juga.

Namun siapa sangka justru mereka menunjukkan sikap yang berbeda, tidak ada permusuhan sama sekali yang ditunjukkan oleh Erick pada istrinya.

Wulan tidak menyangka akan seperti ini hasil akhirnya. Ia menyesal karena telah pulang lebih dulu dari vila, setelah melihat kedatangan Ardan beserta anak buahnya. Sementara Erick ada di dalam villa. Ia berpikir jika Shafira pasti akan dimarahi habis-habisan oleh suaminya. Saat itu ia ikut melihat aksi perkelahian antara anak buah Ardan dan Erick. Ia bisa menilai jika kekuatan anak buah Erik lebih kuat dan pasti menang.

“Sayang! Kenapa mau bawa dia pulang, sih?” kata Wulan, sambil menghambur ke dalam pelukan Erick.

1
Rusmiati Eyus
ceritany bgs dn sngt menarik
💞®²👸ᖽᐸ🅤ᘉᎿ🅘💞: Terimakasih kk🙏
total 1 replies
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya indah nya
sungguh mantap sekali ✌️ 🌹🌹🌹
terus berkarya dan sehat selalu 😘😘
Yunerty Blessa: Sama² kak thor....karya yang baik
dan yang penting tetap semangat kak thor ✌️
total 2 replies
Yunerty Blessa
cerita yang menarik....ada sebahagian bisa dijadikan pelajaran..
syabas kak thor
Yunerty Blessa
sabar bu Renata... mereka adalah tamu kalian...
Yunerty Blessa
ibu mertua yang baik dan perhatian sekali....
Yunerty Blessa
tahniah buat kelahiran baby boy kalian...
Yunerty Blessa
aduh lucunya 🤣🤣
Yunerty Blessa
akhirnya Riyan dan Shafira bisa hidup bahagia lagi.... tahniah buat pernikahan kalian....
Yunerty Blessa
menyesal kan
Yunerty Blessa
maka nya isteri itu disayangi bukan disyaki
Yunerty Blessa
apa sudah jadi dengan Erick....
Yunerty Blessa
akhirnya Shafira menerima Riyan juga...
Yunerty Blessa
syabas Riyan
Yunerty Blessa
salah satu nya wasiat kedua orang tua Shafira tidak ditetapi oleh Erick 😏
Yunerty Blessa
takut pilihan nya dibeli oleh calon Ardan....
Yunerty Blessa
terima lah Shafira...
Yunerty Blessa
itulah balasan buat Erick kerana terlalu jahat sama Shafira
Yunerty Blessa
seorang anak haus akan kasih sayang seorang ibu
Yunerty Blessa
kalau memang kau tidak mahu kehilangan Shafira lagi.....nikahi dia Riyan....
Yunerty Blessa
berarti Riyan juga suka dengan Shafira....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!