Tidak ada yang sulit, tetapi dia bukan tipeku.~Rafandra Darren Adelio.
Kupikir dia itu berbeda, ternyata sama saja.~Kimmy Rosella.
Kisah di antara hati bertemu logika. Siapa yang mampu mengalahkan rasa? Lalu apakah keduanya dipertemukan dalam garis kehidupan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19#Anak-anak, Fasakh
Acara yang di maksud oleh Mama Lily adalah acara syukuran tetapi bersama anak yatim piatu dari beberapa yayasan yang basanya mendapatkan sumbangan tetap dari KImmy sendiri. Sehingga anak-anak yang datang mengenal mempelai wanita dan keluarganya dengan sangat baik.
Seperti yang terlihat saat ini, dimana Anak-anak mengajak Kimmy bercanda menghadirkan tawa riang gembira. Senyuman manis terus menghias wajah wanita yang kini tidak lagi jomblo. Rafa hanya memperhatikan dari kejauhan karena ia diajak ngobrol dengan beberapa tamu undangan lain yang merupakan partners bisnis keluarga Fairuz.
"Nak, ajak istrimu untuk makan dulu, nanti kita bisa lanjut obrolan." ucap Papa Fairuz memberi alasan agar sang menantu bisa menemui putrinya. Sejak lima belas menit obrolan, ia memperhatikan bagaimana Rafa selalu curi pandang mengamati Kimmy.
Namun obrolan yang masih terlalu serius, pasti membuat Rafa sungkan untuk pamit undur diri. "Rafa! Apa yang kamu tunggu? Pergilah, masih ada Papa disini."
"Baik, Pa. Maaf, Tuan-tuan, saya permisi dulu." Pamitnya seraya menangkupkan kedua tangan didada, lalu berbalik dengan langkah kaki menjauh dari para pria yang memang tengah membicarakan beberapa hal yang ia sendiri tidak begitu memahami.
Senang rasanya memiliki Papa mertua yang begitu perhatian. Jika menikah dengan keluarga lain, apakah kebebasan juga bisa dirinya dapatkan? Mungkin saja tapi kemungkinan itu sangat kecil. Yah bagaimanapun setiap orang tua keep sudut pandang masing-masing.
"Ciee, Kakak tampan datang jemput Bunda." goda salah satu anak panti yang bernama Ayumi.
Godaan itu mengalihkan perhatian Kimmy hingga tatapan mata kembali terpaut bersatu dalam pandangan sang suami. "Anak-anak, pergilah ambil makanan dan jangan berebut ya. Ayo, minta tolong sama kakak pelayan agar kalian tidak kesulitan."
"Bunda ngusir kami nih, ceritanya? Kok tega banget sih, hiks." Vino yang cengeng selalu mudah terbawa perasaan membuat Kimmy tersenyum manis.
Wanita itu merentangkan kedua tangan membiarkan Vino menghamburkan diri memeluk erat bersambut usapan kepala pelan. "Tidak ada yang berani mengusir kalian tapi ini sudah malam dan waktunya makan malam. Bunda hanya ingin kalian menjaga kesehatan."
Langkah Rafa terhenti mendengar pernyataan Kimmy yang begitu penuh kasih sayang mengurus anak-anak panti. Pemandangan itu tiba-tiba mengingatkan ia bagaimana pertemuan pertama yang mengesankan rasa tak suka dan enggan menyapa. Ya jika dipikir berbanding terbalik dengan suasana malam ini.
Vino melepaskan pelukan tetapi tak lupa mengecup pipi kanan Kimmy sebagai ucapan terima kasih, "Vino sayang Bunda," senyuman imut nan menggemaskan membuatnya dihadiahi kecupan kening hangat dari sang bunda.
Daya tarik anak-anak selalu mengitari Kimmy. Satu per satu menginginkan bagian masing-masing. Setiap anak mendapatkan cinta yang sama sebelum pergi menjauh menuju area makanan. Kini hanya tinggal sepasang pasutri yang saling menghadap dengan jarak dua meter.
"Sampai kapan menatapku seperti itu? Duduklah!" Kimmy menggeser posisinya ke bangku paling ujung, membuat Rafa menghela napas berusaha tetap sabar karena sejak sah menjadi suami istri hanya ada suara dingin sang istri.
Tampaknya Kimmy masih menolak takdir yang menjadikan mereka berdua jodoh di dunia ini, ia bisa apa? Apapun alasannya menikahi sang guru pengganti, tentu Allah SWT tahu pasti akan isi hati dan pikirannya. Di sisi lain harus belajar untuk memahami wanita yang selalu terkesan dingin.
"Apa aku harus membatalkan pernikahan kita sebelum dua puluh empat jam?" tanya Rafa begitu duduk di sebelah Kimmy.
Pertanyaan itu terdengar seperti anak kecil yang merajuk. Tak habis pikir dengan cara Rafa yang dengan mudahnya mengatakan pembatasan pernikahan. Meski hal tersebut diperbolehkan secara agama yang biasa disebut dengan fasakh.
Fasakh sendiri berasal dari bahasa Arab dengan arti, pemisahan, pembatalan, penghilangan, penghapusan atau pemutusan. Sedangkan Fasakh secara istilah adalah pembatalan pernikahan. Hal ini karena adanya alasan yang membuat pernikahan tidak bisa diteruskan.
Alasan terjadi fasakh pun ada beberapa. Di antaranya adalah karena adanya cacat atau penyakit yang terjadi setelah akad, sehingga menyebabkan tujuan pernikahan tidak tercapai. Di Indonesia, dasar hukumnya merujuk pada Kompilasi Hukum Islam (KHI), yakni berada pada Pasal 74 ayat (2) KHI.
Di sana ditegaskan bahwa batalnya pernikahan dimulai setelah putusan pengadilan Agama mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dan berlaku sejak saat berlangsungnya pernikahan.
Fasakh diputuskan oleh hakim pengadilan berdasarkan pengajuan dari suami, istri, wakilnya, atau pihak berwenang yang sudah mukallaf, balig, dan berakal sehat. Namun dengan catatan bila yang menjadi penyebab fasakh adalah perkara-perkara yang membutuhkan tinjauan dan pertimbangan hakim.
Sementara penyebab fasakh akibat tidak terpenuhinya syarat pernikahan dapat diputuskan tanpa melalui keputusan hakim. Jadi di pengadilan istri memiliki hak yang sama dengan suami untuk membatalkan pernikahan atas alasan yang dibenarkan syariat.
"Kenapa dibatalkan? Bukankah pernikahan ini juga keinginanmu. Rafandra Darren Adelio, selepas kata akad nikah. Kamu telah mengambil alih tanggung jawab kedua orang tuaku. Ingatlah itu." tegas Kimmy menoleh menatap Rafa tak berkedip.
Tatapan serius tak ingin dipermainkan. Meskipun ia masih berusaha menerima pernikahan kilat yang mendadak harus berbagi segala sesuatunya tanpa bisa protes. Terlalu mudah mengatakan berbagi tapi tak semudah itu ketika melakukan sesuatu dengan rasa serba salah.
Sementara Rafa mengerjap tak percaya akan penjelasan Kimmy. Bukankah istrinya itu guru olahraga tapi kenapa begitu memahami hukum agama dan negara. Bakat yang muncul membuatnya sebagai seorang siswa hanya bisa mendengarkan karena memang pikiran tidak sinkron setelah semua yang terjadi selama dua puluh empat jam terakhir.
"Maafkan aku, sekarang katakan apa yang harus kulakukan agar bisa mengurangi jarak di antara kita." seloroh Rafa mengalah menyadari tak sanggup berdebat lebih jauh lagi.