"Hahaha… kamu memang tidak tahu apa-apa. Tidak heran kalau anak saya tidak senang denganmu nanti. Kamu tidak bisa memenuhi standar yang keluarga kami inginkan. Hhh!"
Nur Berliana Putri menggenggam tangannya sendiri, meremasnya karena merasa gugup. Tapi Kenzie segera menghentikan kegugupannya, dengan mengambil tangan tersebut.
Wajah Berliana mendongak ke arah suaminya, dan dia melihat bagaimana Kenzie tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Memberikan tanda, bahwa tidak usah menjawab atau menanggapi perkataan mamanya.
"Aku tidak pernah berharap memiliki menantu yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan seperti kami ini. Awas saja jika kamu membuat malu keluarga!"
***
Up hanya di Noveltoon untuk lomba menulis Novel wanita dengan tema air mata pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermuka Dua
"Aku ke luar dulu ya," pamit Kenzie.
Berliana tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengiyakan, sedangkan Juwita menghela nafas berat.
Saat ini mereka masih ada di ruan rawat inap rumah sakit.
Kenzie pamit untuk pergi keluar mencari makanan, karena Juwita tidak mau makan makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Jadi Kenzie harus mencari makanan di luar rumah sakit, sebab Juwita juga tidak mau pesan makanan lewat online food.
"Mama mau minum atau yang lainnya?"
Berliana menawarkan bantuan pada Juwita, berpikir bahwa mama mertunya butuh air minum atau yang lainnya yang diinginkan.
"Kenapa kamu harus ikut-ikutan menemaniku di sini? Aku bisa sendiri, aku tidak membutuhkanmu!"
Tiba-tiba saja Juwita berkata dengan ketus, membuat Berliana mengerutkan keningnya bingung dengan sikap mama mertuanya ini.
"Kamu ini hanya pengganggu! Kenapa tidak pergi saja dan biarkan aku sendirian?"
Berliana mengelengkan kepalanya tidak percaya dengan perkataan mama mertuanya ini. Padahal tadi, mamanya itu baru saja nangis-nangis minta maaf padanya.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu hanya membuat semuanya menjadi lebih buruk!"
"Ma. Mama..."
"Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi! Kamu hanya membuat hidupku semakin sulit!" Juwita memotong perkataan Berliana yang belum selesai.
"Kamu tidak tahu apa-apa! Kamu hanya mengacaukan segalanya!"
Perkataan-perkataan ini jelas menunjukkan ketidaksenangan Juwita pada keberadaan Berliana di dekatnya.
Awalnya Juwita marah karena Berliana yang harus menemaninya di rumah sakit akibat kecelakaan yang terjadi pada dirinya. Tapi karena Calista dan Alice sibuk dengan urusan mereka sendiri, Juwita terpaksa diam dan menerima Berliana.
Untuk membuat Berliana tidak betah, Juwita marah-marah dan berkata kasar pada Berliana. Meskipun tadi dia sudah minta maaf dan bahkan dengan menangis. Ternyata semuanya hanya akting Juwita.
Tapi Berliana hanya diam dan menerima perlakuan mama mertuanya, Nyonya Juwita.
Juwita tampaknya memiliki sifat yang bermuka dua. Saat Kenzie berada di dekat mereka, ia terlihat baik dan ramah pada Berliana. Namun, saat Kenzie tidak ada, ia menjadi agresif dan marah-marah pada Berliana yang memang tidak ia sukai sejak awal menjadi menantunya.
Saat Kenzie berada di dekatnya, Juwita menunjukkan sifat yang baik pada Berliana agar tidak menimbulkan kesan buruk pada anaknya, Kenzie. Ia juga terlihat sebagai orang yang baik dan sopan dan sudah menyadari kesalahannya. Namun, saat Kenzie tidak ada, ia tidak merasa perlu menunjukkan sifat yang sama pada Berliana. Ia bahkan merasa tidak nyaman dengan kehadiran Berliana yang sabar dan mau menungguinya di rumah sakit.
Sayangnya Juwita malah merasa lebih bebas untuk mengekspresikan perasaan tidak sukanya pada sang menantu, di saat tidak ada orang lain yang mengawasi. Terutama saat tidak ada anaknya, yaitu Kenzie.
"Seharusnya kamu pergi ke pondok pesantren sendiri dan tidak perlu ikut kembali!" Juwita kembali berkata dengan kesal.
"Ma, ma-mama tidak a-pa..."
"Ck, aku lebih suka sendiri daripada ada kamu!" ketus Juwita dengan nada tinggi.
Berliana merasa bingung dan tidak tahu bagaimana seharusnya bertindak di hadapan Juwita. Ia merasa senang dan bahagia saat Juwita baik padanya. Ia berpikir bahwa mama mertunya itu memang telah sadar dan bisa menerima kenyataan bahwa ia adalah istrinya Kenzie, menantunya sendiri.
Namun, nyatanya semuanya tidak sama seperti yang dirasakan oleh Berliana. Sekarang ia menjadi takut dan tidak nyaman saat Juwita marah-marah padanya. Ternyata mama mertuanya ini memiliki sifat bermuka dua, sehingga menimbulkan kesan yang lebih buruk pada Berliana.
Tadi, saat Juwita menangis dan meminta maaf padanya, Berliana merasa lega dan berdamai dengan dirinya sendiri yang selalu merasa tertekan dengan semua perlakuan mama mertuanya selama ini. Tapi pada kenyataannya semua itu tidak pernah terjadi.
Berliana ingin memperbaiki situasi ini, ia perlu menyadarkan pada mama mertunya bahwa perilakunya tidak dapat diterima. Ia perlu belajar untuk mengendalikan emosinya dan tidak menunjukkan sifat yang seperti ini, tapi Berliana tidak sanggup. Ia hanya bisa diam dan menangis dalam hati saja.
Setalah meminta maaf, seharusnya Juwita tidak berperilaku kasar dan berkomitmen untuk memperbaiki hubungan mereka di masa depan. Dengan cara ini, Juwita bisa membangun hubungan yang lebih baik dan saling menghormati dengan Berliana.
Tapi kenyataannya semua harapan Berliana tidak pernah menjadi kenyataan.
Dalam keadaan seperti ini, pada kenyataannya Juwita terpaksa menerima Berliana sebagai orang yang menemani di rumah sakit. Namun, ketika situasi hanya ada mereka berdua, Juwita membuat suasana menjadi tidak nyaman, ia mulai menunjukkan perilaku yang agresif dan kasar pada Berliana. Perilaku ini menimbulkan banyak pertanyaan, seperti apakah tindakan Juwita tepat atau tidak, dan apakah tindakan ini pantas untuk dilakukan? Padahal Berliana dengan senang hati menemaninya. Berharap agar mama mertunya itu mau menerimanya sebagai seorang istri dari anaknya, Kenzie.
Drettt drettt drettt
Ponsel milik Berliana bergetar, ada telepon masuk untuknya.
"Uthi?"
Ternyata panggilan telepon tersebut dari salah satu temannya yang sudah sampai di ponpes. Tapi karena tidak menemukan Berliana, akhirnya dia menghubungi untuk menanyakan tentang kabarnya, sebab tadi sore Berliana sudah memberi kabar jika dia dalam perjalanan menuju ke ponpes. Dan sekarang sudah hampir pukul 10.30 malam.
Berliana terpaksa menerima panggilan telepon tersebut, agar pihak ponpes tidak khawatir dengan keadaannya.
..."Assalamualaikum Thi." ...
..."Waallaikumsalam... Nur, kamu sudah di mana? kok gak ada kabar lagi." ...
..."Maaf Thi, Sa-ya ada di rumah sakit..."...
..."Lho, ada apa kok di rumah sakit? kamu dan suamimu tidak kenapa-kenapa, kan?" ...
Berliana terharu dengan pihak ponpes yang mengkhawatirkan keadaannya, sedangkan Juwita, yang sudah dia diusahakan untuk ditemani dengan dia menggagalkan rencananya pergi ke ponpes, justru marah dan tidak terima dengan keberadaannya.
..."Halo, Nur? Kamu masih di sana? ada apa? apa yang terjadi?" ...
Pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh ukhti di ponpes membuat Berliana tidak sanggup lagi menahan air matanya. Dia terisak-isak sendiri, tapi ponselnya sudah dia jauhkan supaya isakan-nya tidak terdengar.
..."Ti-dak Thi. Nur tidak kenapa-kenapa. Ini menunggu mamanya mas Kenzie yang baru saja kecelakaan." ...
..."Oh, ya Allah... tapi gak kenapa-kenapa bener, kan? mama mertuamu juga gak parah, kan? jika memang tidak bisa datang, tidak apa-apa. Kamu jaga mama mertuamu saja." ...
Ingin rasanya Berliana menceritakan perasaannya yang sebenarnya pada ukhti, tapi dia tahu batasan yang tidak bisa dia langgar. Aib perlakuan buruk mama mertunya adalah aib suaminya, jadi dia tidak bisa menceritakannya pada orang lain.
..."Ya, terima kasih Thi. Salam untuk teman-teman yang lain. Untuk Abah kyai Jalil, biar nanti Mas Kenzie yang memintakan ijinnya." ...
..."Iya-iya, hati-hati ya Nur." ...
..."Ya, Thi. Assalamualaikum..." ...
..."Waallaikumsalam..."...
Klik
Juwita, yang samar-samar mendengar perkataan Berliana yang sedang berbicara ditelepon dengan temannya, terseyum penuh kemenangan.
kuta senasib berlian
by your side..
by your side, hadir
yuk saling dukung, By Your Side
Yuk saling dukung, *By Side You
salam dari kekasihku menantuku