Kisah tentang 3 orang gadis yang menemukan cinta sejati mereka.
3 gadis itu adalah
Nurul si gadis manis yang cerdas
Lidya si gadis cantik yang tomboy
Ani si gadis cantik dan imut
Sebuah ikatan persahabatan dengan karakter yang berbeda-beda menambah keseruan perjalanan mereka dalam menemukan sang pangeran.
Perjalanan cinta yang di mulai dari sebuah kecelakaan yang berkesan, si Killer yang tampan penghuni Perpustakaan dan cemburu salah alamat akan mewarnai kisah perjalanan cinta mereka.
Kira kira pria seperti apa ya yang akan menjadi pangeran mereka?
Seseru apa sih perjalanan cinta mereka?
Yuk ikuti terus perjalanan mereka dalam meraih cinta sang pangeran pujaan hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurain Higa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis penakut
"Apa kamu yang bernama Lidya?"
Lidya hanya mengernyitkan keningnya. "Iya Pak ada apa?" tanya Lidya kemudian
"Jadi kamu yang mengacak-ngacak buku di meja kerjaku?" tanya Raka dengan tatapan mengintrogasi
"Ekh itu... maaf Pak saya tidak sengaja." jawab Lidya asal
"Tidak sengaja?" ucap Raka dengan nada yang sedikit naik 1 oktaf lebih tinggi
Tanpa ia sadari ucapannya dengan nada yang tinggi itu menarik perhatian orang-orang sekitar. Bagaimana tidak, Raka yang menjadi pusat perhatian para jamaah wanita saat ini sedang memarahi Lidya dihadapan mereka.
Dari kejadian tersebut muncullah berbagai gosip antara hubungan Lidya dan Raka.
Setelah menyadari hal itu, Raka segera menetralkan amarahnya.
"Iya Pak" jawab lidya, "Karena waktu itu_"
Belum sempat Lidya mengucapkan alasannya, Raka langsung menyela ucapannya begitu saja.
"Besok setelah istirahat kamu datang ke ruanganku."
"Tapi Pak" protes Lidya, "Bukankah hukuman kita nanti hari Minggu?"
"Ya itu hukuman untuk kalian," jawab Raka, "Dan besok hukuman untukmu Lidya." sambung Raka dengan nada yang penuh penekanan.
Lidya hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. "Baik Pak" ucap Lidya karena ia tidak punya alasan untuk membantah lagi.
"Ayo Ren, urusan kita sudah selesai."
Raka pun menarik tangan Rendi agar mengikutinya. mau tidak mau Rendi mengikuti Raka dengan langkah yang berat, karena sebenarnya ia ingin bersama Nurul lebih lama lagi, walau pun hanya sekedar memandang wajah yang manis itu.
Seperti halnya Rendi, Ani pun merasakan hal yang sama. meski situasinya tidak mendukung tapi setidaknya ia masih dapat melihat sosok yang dirindukannya itu.
Namun hal itu juga membuat Ani menahan rasa sakit di hatinya. Bagaimana tidak, ketika ia melihat ke arah Rendi pada saat yang bersamaan Rendi hanya terus menatap wajah Nurul walaupun saat itu Nurul sedang menunduk, namun Rendi tetap menatapnya dengan intens seakan - akan terpancar dengan sangat jelas bahwa Rendi begitu merindukan sahabatnya itu.
Ya sahabatnya, sahabat yang sudah jelas-jelas menolak Rendi, namun Rendi tetap saja mengejar sahabatnya itu.
****
Setelah kepergian Raka dan Rendi, kini perhatian orang-orang berpusat kepada mereka bertiga.
Sorot mata orang-orang itu seakan-akan meminta penjelasan dari mereka.
"Sebaiknya kita pergi saja dari sini" usul Nurul karena sudah tidak tahan lagi dengan tatapan dari orang-orang tersebut
"Hmmm" jawab Lidya singkat
Mereka pun meninggalkan tempat itu, meninggalkan orang-orang tersebut yang sedang sibuk dengan segala macam dugaan yang ada di pikiran mereka.
Mereka bertiga mempercepat langkah agar cepat terbebas dari kerumunan orang-orang itu dan segera pulang ke rumah masing-masing.
****
*Keesokan harinya
Hari ini tepatnya hari Jum'at, kegiatan belajar mengajar di sekolah hanya berlangsung selama beberapa jam saja.
Ketika bel istirahat berbunyi, Lidya langsung pergi ke ruang Perpustakaan untuk menemui Raka.
Awalnya Nurul dan Ani ingin sekali menemani Lidya ke Perpustakaan hanya saja Lidya tidak ingin kedua sahabatnya itu terkena imbas amarah dari si Killer yang tampan penghuni Perpustakaan.
"Assalamualaikum" ucap Lidya ketika berada di depan pintu Perpustakaan.
"Waalaikumussalam" jawab Raka
Setelah mendengar jawaban salam dari Raka akhirnya Lidya masuk ke dalam ruangan itu, seketika bulu kuduknya berdiri. Iya merasa ketakutan, tapi rasa takutnya ini bukan karena berhadapan dengan Raka. Rasa takutnya tentang hal-hal yang berbau mistis. Namun Lidya berusaha untuk menghilangkan rasa takut itu.
Raka yang masih sibuk dengan laptopnya dengan sengaja mengacuhkan keberadaan Lidya yang sedang berdiri dihadapannya itu.
Jujur saja, jika ia tidak melakukan kesalahan seperti yang dikatakan Raka, maka ia akan sangat berani membentak Raka.
Namun sayangnya saat ini statusnya adalah seorang tersangka, lebih tepatnya tersangka yang siap untuk menjalani sebuah hukuman.
"Sebenarnya apa yang diinginkan orang ini?" gumam Lidya di dalam hatinya.
Kurang lebih selama 10 menit hal itu berlangsung, Lidya pun mulai merasa kesal.
Lidya sesekali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tiba tiba ia merasa merinding sambil memikirkan hal-hal yang menakutkan.
Bagaimana tidak, saat ini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan sebesar itu, suasana yang hening karena seluruh siswa berada di kantin sekolah yang berjarak sedikit jauh dari Perpustakaan.
Refleks ia pun berjalan dangan sangat pelan hendak keluar dari ruangan itu, namun Raka menyadari hal itu.
"Kamu mau ke mana Lidya?" tanya Raka
Lidya yang sudah tidak bisa mengontrol rasa takutnya tidak bisa menghentikan langkah, bayangan tentang hal-hal mistis itu terus menghantuinya.
Jujur saja, Lidya adalah orang yang sangat pemberani selama hal itu tidak berbau mistis, jika berhadapan dengan hal mistis seperti ini, Lidya tidak dapat mengontrol rasa takutnya lagi.
"Apa bapak ingat tentang sesuatu yang mengatakan bahwa jika ada seorang Pria dan seorang Wanita di dalam satu ruangan, maka yang ketiganya adalah..." ucapannya terhenti sambil mengatur nafasnya kembali. "S e t an...." teriak Lidya kemudian lari terbirit-birit.
"Dasar gadis penakut" gumam Raka sambil tersenyum.
.
.
.
Hay Readers
Jangan lupa
Like
Vote
Favorit ya...
Happy reading Readers