NovelToon NovelToon
Satu Imam Dua Makmum

Satu Imam Dua Makmum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Adiba Aza hra

Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Trauma Aira

Azam terduduk gelisah di depan ruang IGD, sedangkan Bi Nia sudah pulang terlebih dahulu. Orang tua mereka juga sudah berkumpul di depan ruang IGD dengan raut wajah penuh kecemasan.

"Kenapa hal seperti ini bisa terjadi, Azam?" tanya Ayah Fikri dingin.

Azam terdiam membeku.

"Apa kamu masih mau sama putri saya atau tidak?" lanjut Ayah Fikri dengan nada yang begitu mencekam.

"Maafin Azam, Yah, Ma ..."

"Jujur saja Zam, Ayah benar-benar kecewa sama kamu," kata Ayah Fikri lalu berbalik meninggalkan yang lain.

Azam mengepalkan kedua tangannya erat. Bayang-bayang akan tawa Aira yang meminta dibelikan ini-itu, serta ingatan akan wajah teduh itu saat tersenyum tadi pagi mendadak berputar di kepalanya.

BUGH! BUGH!

Azam memukul dinding rumah sakit begitu kuat untuk meluapkan rasa frustrasinya. Ibu Nilta bergegas mendekat demi menenangkan sang putra. "Yang sabar, Nak. Yang kuat. Kamu jangan rapuh kayak gini, nanti gimana sama Aira, hem?"

Mendengar nama Aira disebut, Azam langsung menegakkan tubuhnya. Tak lama kemudian, pintu IGD akhirnya terbuka dari dalam.

"Dok, gimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Azam tak sabaran.

Dokter laki-laki itu menghela napas dalam, lalu mengembuskannya pelan. "Istri Anda mengalami pendarahan hebat yang mengakibatkan keguguran, Pak."

DEG!

"Tidak!!! Ini tidak mungkin!!! Pasti Anda salah, Dok! Saya sama istri saya bahkan belum tahu kalau kami akan menjadi orang tua!!!" kata Azam emosi.

Laki-laki tampan itu menarik kuat jas dokter di depannya, namun segera dipisahkan oleh Ayah Niko.

PLAK!

Ayah Niko menampar kuat pipi kanan sang putra. "INI KESALAHAN KAMU, AZAM!!! JADI BERHENTI BERSIKAP SEOLAH-OLAH DOKTERNYA YANG SALAH!!!" bentak Ayah Niko.

Azam terduduk lemas di lantai rumah sakit yang dingin. Air matanya keluar begitu deras. Berkali-kali Azam memukul lantai dengan keras hingga membuat buku-buku jari jemarinya berdarah. Dari kejauhan, Ayah Fikri ikut menangis. Beliau benar-benar tidak menyangka putri kesayangannya harus melewati ujian seberat ini.

"Mohon maaf, Pak. Bisa ikut ke ruangan saya?" tanya dokter kepada Ayah Niko, yang langsung diiyakan dengan anggukan.

Azam segera bangkit lalu berlari memasuki ruang IGD. Di sana, Azam bisa melihat dengan jelas sosok perempuan cantik yang sangat dicintainya terbaring lemah tak berdaya.

"Maaf, Mas. Kami akan memindahkan Mbak Aira-nya dulu ya," suara lembut nan halus itu sempat mengagetkan Azam yang masih membeku di depan brankar Aira.

"Kamu?" Azam mengernyit.

Perawat dengan papan nama Safira Ainunaya itu tersenyum lembut ke arah Azam. "Ada yang ingin Masnya tanyakan sebelum kami pindahkan pasien ke kamar inapnya?"

Entah kenapa Azam merasa familier dengan perempuan berhijab di depannya itu. "Pindahkan istri saya ke kamar paling mewah, paling bagus di rumah sakit ini," kata Azam dingin. Laki-laki itu berusaha keras mengingat-ingat di mana ia pernah melihat perempuan itu.

***

Setelah dipindahkan, Azam menggenggam erat tangan mungil Aira yang tidak ditusuk jarum infus. Ibu Nilta dan Hanum sudah berdiri setia di sebelah kiri brankar Aira.

"Kenapa hal seperti ini bisa terjadi, Azam? Lihatlah wajah ini, wajah yang selalu tersenyum ceria kini terlihat begitu pucat dan muram," kata Ibu Nilta sedih. "Kamu yang sabar ya, Nak, yang kuat. Semoga apa yang sudah Allah ambil dari kamu kelak akan Allah ganti dengan yang lebih baik, sehat, dan kuat," sambung Bu Nilta lembut, lalu mencium kening Aira penuh kasih.

Lagi dan lagi, air mata Azam kembali menetes mengenai punggung tangan Aira. "Maafkan Mas, Sayang. Maafkan Mas yang belum bisa menjaga kamu dan buah hati kita," lirih Azam penuh penyesalan.

Hanum mengusap air matanya sendiri lalu menatap sang kakak dengan pandangan sendu.

Perlahan-lahan, Aira mulai membuka kedua matanya. Perempuan cantik itu sempat meringis karena merasakan rasa nyeri yang hebat di perutnya. "Minum," ucap Aira pelan.

Azam yang mendengar ucapan pelan Aira langsung mengambil gelas berisikan air hangat, lalu membantu sang istri untuk minum secara perlahan.

"Mas," lirih Aira.

Azam mengangguk cepat. "Iya, Sayang, ini aku. Aku ada di sini."

Aira mengerjipkan kedua matanya perlahan-lahan, lalu meminta Azam untuk mendekatkan wajah ke arahnya. "Mas, kamu terluka," bisik Aira sembari mengusap lembut sudut bibir Azam, lalu menyentuh pipi kanan Azam yang mulai memar akibat tamparan tadi.

"Luka ini tidak ada apa-apanya dibanding rasa takut aku kehilangan kamu, Aira," bisik Azam. Tetes demi tetes air mata kembali membasahi wajah tampannya.

"Kamu kenapa nangis, Mas? Aku enggak apa-apa kok, aku ..." Aira mendadak menghentikan ucapannya saat tiba-tiba ingatannya kembali berputar pada kejadian menyakitkan di kamar mandi beberapa jam yang lalu. Seketika, mata bulatnya langsung berkaca-kaca. "Mas ..." isak Aira.

Azam mengangguk pelan, lalu memeluk erat tubuh mungil sang istri tercinta. "Maafkan Mas, Dek. Mas enggak bisa jagain kamu sama buah hati kita."

DEG!

Aira terdiam kaku. Ucapan Azam benar-benar membuatnya semakin yakin kalau mereka telah kehilangan janin dalam kandungannya.

"ENGGAK, INI GAK MUNGKIN, MAS! INI GAK MUNGKIN!!!" Aira berteriak histeris sembari memukul bahu kokoh Azam. Perempuan itu benar-benar hancur. "Mas, cubit aku, Mas, hiks ... Pasti aku lagi mimpi buruk kan, Mas?" isak Aira pilu.

Azam menggeleng lemah. Laki-laki itu hanya bisa memeluk erat tubuh sang istri yang masih terisak hebat di dadanya.

Sementara itu, setelah memastikan situasi tenang, Ayah Niko, Ibu Nilta, dan Hanum memilih untuk pamit pulang terlebih dahulu agar pasangan itu bisa berbicara berdua. Tanpa mereka sadari, Ayah Fikri masih meneteskan air matanya dalam diam. Ayah Fikri berdiri kaku di depan pintu kamar inap sang putri, tidak tega untuk melangkah masuk melihat kehancuran hati anaknya.

1
Redmi
Lanjutkan 😎
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍🙏
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut👍
Saddam Husein
lanjut👍
Saddam Husein
Semangat terus kak 😎👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
hubungan sama orang tua atau saudara terasa asik biasanya kebanyakan kn nya fokus ke pemeran utama yg ini nih asikkkk gokil /Drool//Joyful//CoolGuy/
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Mantap gw yg cowo aja ngakak bca nya 🤣😄
Adiba Azahra
Wah, terima kasih banyak, Kak! 😍 Semoga makin baper ke depannya, ya. Ikuti terus kelanjutan ceritanya! 🔥🚀
Ridwan Hasan: Dari judul nya udah nyesek 🙏 Bagus kak semangat siap menyemak 👍
total 3 replies
Redmi
Lanjuttttttttttt 😍
Redmi
Aaaa ikut baper 😍🙏
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍
Redmi
Lanjut kak Bagus
Adiba Azahra: Terima kasih banyak, Kak! 🥰 Ditunggu kelanjutannya, ya, secepatnya! 🚀🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!