"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Jurus Pengunci Sendi
Dan suatu hari, utang itu akan ia tagih.
Kalimat itu tidak Rangga ucapkan.
Ia hanya menyimpannya di tempat paling dalam, di balik wajah tenang yang sudah terlalu sering dipakai untuk bertahan hidup.
Di depan meja kerja, Pak Bambang masih menatapnya seperti sedang menilai pisau baru. Tajam, tapi belum diketahui apakah akan patah saat menghantam tulang.
"Mulai malam ini," kata Pak Bambang, "kamu ikut jadwal UGD saya."
Rangga berdiri tegak. "Baik, Pak."
"Jangan senang dulu. Jadi anak didik saya bukan berarti kamu dapat perlindungan enak. Justru sebaliknya. Kalau kamu salah, saya yang pertama akan memarahi kamu di depan semua orang."
"Saya siap."
Pak Bambang menyandarkan punggung ke kursi. "Dokter muda biasanya butuh waktu lama untuk memahami UGD. Di sini pasien datang tanpa memberi salam. Luka datang sebelum diagnosis lengkap. Keluarga pasien datang dengan panik, marah, kadang membawa kamera, kadang membawa pengacara, kadang membawa masalah yang lebih tajam dari pisau."
Ia menunjuk pintu.
"Di luar sana, kemampuan saja tidak cukup."
Rangga mengangguk.
"Saya mengerti, Pak."
"Belum." Pak Bambang menatapnya tajam. "Kamu baru melihat satu kasus. Hari pertama memang sering menipu. Orang merasa dirinya pahlawan setelah menyelamatkan satu pasien. UGD akan menguji apakah kamu dokter, atau cuma orang beruntung."
Kata beruntung membuat jantung Rangga berdetak lebih keras.
Di dalam kepalanya, sistem masih diam.
Rahasia itu tetap berdiri di antara dirinya dan seluruh dunia.
"Saya akan belajar," katanya.
Pak Bambang mengangkat alis. "Bagus. Tiga bulan. Kalau dalam tiga bulan kamu bisa menjaga kepala tetap dingin, tangan tetap bersih, dan hati tidak goyah, saya ajukan ke Pak Hendra agar kamu dipertimbangkan sebagai dokter tetap."
Dokter tetap.
Kata itu muncul lagi, kali ini lebih nyata.
"Terima kasih, Pak Bambang."
"Jangan panggil saya seperti sedang menerima hadiah." Pak Bambang mendengus. "Ini bukan hadiah. Ini beban."
Rangga hampir tersenyum. "Baik, Pak. Saya terima bebannya."
Pak Bambang menatapnya beberapa detik, lalu tawa pendek keluar dari hidungnya.
"Lumayan. Setidaknya kamu tidak terlalu kaku."
Di luar ruangan, suara UGD kembali naik. Awalnya hanya langkah cepat. Lalu teriakan. Kemudian bunyi sesuatu menghantam meja.
BRAK!
Pak Bambang langsung berdiri.
Rangga sudah bergerak sebelum diperintah.
Pintu dibuka.
Koridor UGD berubah kacau.
Di depan meja triase, seorang pria bertubuh besar menggenggam kapak kecil yang biasa dipakai membelah kayu. Kaosnya basah oleh keringat, matanya merah, dan suaranya pecah karena panik.
"Panggil dokter sekarang! Kalau istri saya mati, kalian semua saya habisi!"
Seorang perawat mundur dengan wajah pucat. Dua petugas keamanan berdiri di dekatnya, tapi tidak berani maju. Di kursi roda beberapa meter dari pria itu, seorang perempuan hamil menahan perutnya sambil merintih. Wajahnya pucat kehijauan. Keringat membasahi jilbab tipis yang menempel di dahi.
"Pak, tolong turunkan kapaknya," kata dr. Alya dari sisi lain meja triase. Suaranya tenang, tetapi tubuhnya tegang. "Kami sedang menyiapkan dokter bedah."
"Dari tadi bilang siap! Dari tadi bilang tunggu!" pria itu mengayunkan kapak ke udara. "Dia hamil! Dia kesakitan dari pagi! Kalian mau tunggu sampai dia mati?"
Perempuan di kursi roda menggigit bibir sampai berdarah.
"Mas..." suaranya lemah. "Jangan..."
Pria itu menoleh, dan di wajahnya yang kasar terlihat ketakutan seorang suami yang tidak tahu harus memohon kepada siapa. Tapi ketika ia kembali melihat para petugas, ketakutan itu berubah menjadi amarah.
"Siapa dokternya? Keluar!"
Pak Bambang melangkah maju. "Saya dokter jaga senior. Nama saya Bambang. Turunkan kapak itu, baru kita bicara."
"Bicara?" Pria itu tertawa kasar. "Istri saya mau mati, Dokter, dan kalian mau bicara?"
dr. Yoga muncul dari ruang tindakan, wajahnya tegang. "Pak, pasien dicurigai apendisitis akut. Nyeri kanan bawah, demam, tanda peritonitis. Kemungkinan perforasi."
Mata Pak Bambang mengeras.
"Usia kehamilan?"
"Sekitar dua puluh delapan minggu."
Kehamilan trimester akhir, apendisitis perforasi, kemungkinan infeksi menyebar.
Satu tubuh membawa dua nyawa.
Rangga menatap perempuan itu.
Dalam sekejap, suara dingin kembali muncul di dalam kepalanya.
[Terdeteksi pasien kritis: apendisitis perforasi pada ibu hamil.]
[Risiko kematian ibu dan janin meningkat cepat.]
[Aktifkan check-in?]
Kali ini Rangga tidak membeku terlalu lama.
Ya.
[Check-in berhasil.]
[Anda telah memperoleh: Teknik Bedah Apendektomi Kelas Dunia.]
[Paket kemampuan tambahan terbuka: Jurus Pengunci Sendi.]
[Catatan: Jurus Pengunci Sendi digunakan untuk melumpuhkan ancaman fisik tanpa cedera permanen.]
Arus baru menghantam tubuh Rangga.
Anatomi abdomen ibu hamil terbuka di benaknya: posisi apendiks yang terdorong rahim, risiko kontraksi prematur, jalur sayatan, kontrol infeksi, cara bergerak cepat tanpa mengguncang janin. Bersamaan dengan itu, pola gerak yang asing menyebar ke ototnya.
Sudut pergelangan.
Titik lemah bahu.
Sendi siku.
Rahang.
Cara menghentikan orang bersenjata tanpa mematahkan hidupnya.
Pria itu tiba-tiba maju.
"Jangan dekat!" teriak seorang perawat.
Kapak di tangannya bergerak liar ke arah meja triase.
Pak Bambang bersiap maju, tapi Rangga lebih dekat.
"Pak," kata Rangga.
Pria itu menoleh.
"Turunkan kapaknya. Istri Bapak butuh operasi sekarang."
"Lo siapa?" mata pria itu membelalak. "Dokter? Kamu masih bocah!"
"Saya dokter yang akan membawa istri Bapak ke ruang operasi."
"Bohong!" Pria itu mengangkat kapak. "Jangan main-main dengan saya!"
Kapak itu turun.
Beberapa orang menjerit.
Rangga bergerak.
Tidak cepat seperti orang berlari.
Lebih mirip bayangan yang tiba-tiba sudah berada di tempat yang salah bagi lawannya.
Tangan kirinya menangkap pergelangan pria itu dari sisi luar. Jempolnya menekan titik di bawah tulang. Tangan kanannya memutar siku dengan sudut kecil yang hampir tidak terlihat.
KRAK.
Sendi itu terlepas dari posisinya.
Kapak jatuh ke lantai.
Pria itu bahkan belum sempat berteriak ketika Rangga memutar bahunya, menahan siku, lalu menekan rahang bawahnya dengan dua jari.
Klik.
Mulut pria itu terbuka kaku. Suaranya berubah menjadi erangan tertahan.
Dalam kurang dari tiga detik, tubuh besar itu berlutut di lantai, kedua lengannya tergantung lemas, rahangnya tidak bisa menutup.
UGD sunyi.
Sangat sunyi.
dr. Yoga menatap seperti melihat sesuatu yang tidak masuk akal.
Petugas keamanan yang tadi ragu-ragu akhirnya maju, tetapi berhenti karena tidak tahu lagi apa yang harus diamankan.
Rangga menahan pria itu tetap berlutut, tidak menambah tekanan.
"Pak, saya tidak mematahkan apa pun," katanya rendah. "Sendi Bapak hanya saya lepas sementara. Setelah istri Bapak aman, saya pasang kembali. Kalau Bapak bergerak lagi, operasi istri Bapak tertunda."
Air mata keluar dari mata pria itu. Entah karena sakit, takut, atau malu.
Perempuan hamil di kursi roda menangis. "Mas... sudah... tolong..."
Rangga menoleh ke dr. Alya.
"Dokter Alya, siapkan transfer ke Ruang Operasi. Perlu informed consent darurat. Pak Bambang, saya butuh tim bedah, anestesi, obgyn standby kalau janin distress."
Pak Bambang menatapnya.
"Kamu baru saja melumpuhkan orang bersenjata, lalu langsung minta obgyn standby?"
"Pasiennya belum aman, Pak."
Untuk sesaat, wajah Pak Bambang seperti ingin tertawa sekaligus memaki.
"Bagus. Yoga!"
dr. Yoga tersentak. "Ya, Pak?"
"Hubungi obgyn. Suster, bawa pasien ke IBS. Alya, formulir PTM. Keamanan, ambil kapak itu dan jangan kasar pada suaminya. Dia hanya kehilangan akal karena panik."
"Siap!"
Gerakan UGD kembali hidup.
Rangga melepaskan pria itu kepada petugas keamanan dengan hati-hati. Sendi pria itu masih terlepas, membuatnya tidak mungkin mengangkat tangan. Namun tidak ada luka terbuka, tidak ada tulang patah, tidak ada darah.
Jurus itu memang mengerikan.
Dan terlalu bersih.
Rangga menunduk mengambil kapak dengan kain, lalu menyerahkannya kepada keamanan. "Simpan sebagai barang bukti internal. Jangan ditaruh dekat keluarga pasien."
dr. Alya sudah mendorong kursi roda ke arah brankar. "Bu, kami akan bantu. Tolong tetap bernapas pelan."
Perempuan itu hanya mampu mengerang. Rangga tidak membutuhkan nama untuk memahami apa yang ada di depannya: pasien hamil, nyeri perut, infeksi, waktu yang menipis.
Suaminya berusaha bicara, tetapi rahangnya tidak bisa menutup. Air matanya jatuh ke lantai.
Rangga berjongkok di depannya.
"Dengar saya, Pak. Istri Bapak perlu operasi. Saya akan pasang kembali rahang Bapak setelah Bapak menandatangani PTM dan berjanji tidak mengganggu tim."
Pria itu mengangguk berkali-kali.
"Kalau Bapak mau membantu istri Bapak, jangan jadi bahaya tambahan."
Anggukan itu makin cepat.
Rangga menyentuh rahangnya.
Klik.
Pria itu terbatuk, lalu langsung menangis. "Dokter... tolong istri saya. Anak saya..."
"Tanda tangan dulu. Setelah itu ikut perawat. Jangan masuk ruang operasi kecuali diminta."
"Saya tanda tangan. Saya tanda tangan apa saja."
dr. Alya menyodorkan formulir PTM di atas papan jalan. Tangannya tetap profesional, tapi matanya beberapa kali mencuri pandang ke arah Rangga.
"Pak, ini Persetujuan Tindakan Medis. Operasi diperlukan karena infeksi di perut Ibu bisa membahayakan ibu dan janin. Dokter akan menjelaskan singkat."
Pak Bambang mengambil alih penjelasan dengan cepat. "Kemungkinan apendiks sudah pecah. Kita harus operasi untuk membersihkan infeksi dan mengangkat sumber masalah. Risiko ada, termasuk kontraksi prematur dan perdarahan. Tapi tanpa operasi, risikonya jauh lebih besar."
Pria itu menandatangani dengan tangan gemetar. Bahunya masih sakit, tetapi ia tidak berani mengeluh.
Di sepanjang koridor menuju IBS, perawat mendorong brankar dengan cepat. Rangga berjalan di sisi pasien, membaca tanda vital dari monitor portable.
"Tekanan darah turun. Demam tinggi," kata dr. Alya.
"Cairan masuk. Antibiotik spektrum luas sekarang," jawab Rangga. "Jangan tunggu."
dr. Yoga yang berlari di belakang membawa berkas operasi menatap punggung Rangga.
Beberapa jam lalu ia menyuruh dokter muda itu minggir kalau tidak bisa apa-apa.
Sekarang ia sendiri yang mengejar langkahnya.
Di depan pintu Ruang Operasi, perempuan hamil itu tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Rangga.
Cengkeramannya lemah, tetapi putus asa.
"Dokter..." bibirnya gemetar. "Selamatkan anak saya..."
Rangga berhenti.
Suara monitor berdetak cepat. Lampu operasi menyala di balik pintu. Dari jauh, suaminya yang ditahan keamanan menangis sambil memanggil namanya.
Pak Bambang berdiri di samping Rangga, wajahnya serius.
"Rangga, dalam kasus seperti ini, prioritas medis tetap ibu. Kamu paham?"
"Saya paham, Pak."
Perempuan itu menatapnya dengan mata penuh ketakutan. "Anak saya..."
Rangga menunduk, menutup tangan pasien dengan telapak tangannya yang masih dingin.
"Dua-duanya," katanya.
dr. Alya mengangkat wajah.
dr. Yoga menahan napas.
Rangga menatap pasien itu dengan tenang.
"Saya selamatkan dua-duanya."