Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.
Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INTEROGASI GAYA SINETRON
Lina meletakkan ponsel Dinda di meja. Jantungnya berdegup kencang, namun wajahnya terlihat datar seperti tembok beton.
Raka berjalan masuk, napas terburu-buru. "aku Lupa bawa laptop!"
tepat saat itu Dinda keluar dari toilet, dinda langsung tersenyum manis ke arah Raka. "Kak Raka balik?"
"Iya, Din. Meetingnya batal," kata Raka, matanya menghindari tatapan Lina.
Lina menyilangkan tangan. "Oh? Batal? Padahal tadi kamu bilang meeting sama klien sangat penting. Klien yang mana? Budi gendut atau Budi kurus?"
Raka sempat kaget. "Eh... Budi gendut. Iya."
"Lucu ya" kata Lina dingin. "Karena Budi gendut nggak punya mobil. Dia naik ojek. Jadi mustahil dia minjem jaket bombermu buat di mobil."
Hening. Suara jangkrik seolah-olah ikut hadir di dapur itu.
Dinda tertawa gugup. "Mungkin... mungkin Budi sewa mobil, Kak Lina? Zaman sekarang kan banyak yang kayak gitu buat gaya-gayaan."
"Gaya-gayaan?" Lina menatap Dinda tajam. "Atau mungkin ada orang yang lebih suka 'gaya' di apartemen orang lain?"
Wajah Dinda memucat. "Kak Lina ngomong apa sih? Aku nggak paham."
"Nggak paham?" Lina mengambil ponsel Dinda dari meja, lalu menunjukkannya ke wajah Raka. "Terjemahkan ini, Raka. 'Sayang, jaketmu aku simpan di apartemen. Nanti malam jam 8 aku antar kan? 😘' Pengirim: Raka ❤️."
Raka melongo. Mulutnya terbuka-tutup seperti ikan mas yang kehabisan oksigen. "Itu... itu..."
"Itu apa?" desak Lina. "Itu kode rahasia? Itu bahasa alien? Atau itu bukti kalau kamu sudah tidur dengan adik kandungku?"
Dinda mencoba merebut ponselnya. "Kak, itu privasi! Kakak nggak boleh baca!"
"Privasi?" Lina tertawa sinis. "Sejak kapan selingkuhan jadi privasi? Sejak kapan mengkhianati istri jadi hak asasi manusia?"
Raka akhirnya membuka suara. "Lina, dengar dulu. Ini salah paham. Aku cuma... cuma bantu Dinda. Dia stres mengerjakan skripsi. Aku cuma eee teman curhat."
"Teman curhat?" Lina menaikkan alisnya. "Teman curhat yang mengirim emoji ciuman? Teman curhat yang menyimpan nomor dengan nama 'Raka ❤️'? Teman curhat yang nitip jaket di apartemen?"
"Apartemen itu..." Raka mulai mengeluarkan keringat dingin yang mengucur deras. "Apartemen itu milik teman! Aku cuma titip jaket!"
"Titip jaket di atas kasur?" tanya Lina. "Di atas bantal pink neon? Temanmu punya selera dekorasi yang sangat spesifik, Rak."
Dinda akhirnya mulai menangis. "Kak Lina jahat! Kakak nuduh-nuduh! Aku benci Kakak!"
"Benci?" Lina mendekat ke wajah Dinda. "Kamu benci aku? Padahal aku yang bayar uang kosmu bulan lalu? Aku yang belikan kamu obat saat kamu sakit? Aku yang melindungi kamu dari dunia luar? Dan balasannya adalah kamu tidur dengan suamiku?"
"Aku nggak tidur!" teriak Dinda histeris. "Kami cuma... cuma pelukan! Nggak lebih!"
"Pelukan?" Lina menoleh ke Raka. "Kau dengar itu, Raka? Adikku bilang kalian cuma pelukan. Apa kamu ingin menjelaskan detail 'pelukan' itu? Apakah pelukannya sambil rebahan? Atau pelukannya sambil mematikan lampu?"
Raka mengusap wajahnya. "Lina, tolong. Jangan bikin ribut. Nanti tetangga dengar."
"Tetangga?" Lina tertawa keras. "Kamu khawatir tetangga akan dengar? Tapi kamu nggak khawatir hatiku hancur? Kamu nggak khawatir harga diri ku sebagai seorang istri hancur berkeping-keping?"
"Aku minta maaf," kata Raka pelan. "Aku khilaf."
"Khilaf?" Lina menatapnya jijik. "Khilaf itu kalau kau lupa beli susu. Khilaf itu kalau kau lupa ulang tahun pernikahan. Ini bukan khilaf, Rak. Ini penghianatan tingkat dewa."
Dinda masih terisak-isak. "Kak Raka, kita pulang saja. Kak Lina marah banget."
Raka tampak ragu. Dia melihat Lina, lalu melihat Dinda.
"Pulang?" kata Lina. "Ke mana? Ke apartemen? Atau ke neraka? Karena sepertinya kalian berdua sudah memesan tiket VIP ke sana."
Raka menghela napas panjang. "Lina, kita bicara nanti ya. jika emosi kamu sudah reda."
"Emosi reda?" Lina tersenyum mengerikan. "Emosiku belum mulai, Rak. Ini baru pemanasan. Babak utama belum dimulai."
Lina mengambil kunci mobil dari saku Raka yang tergeletak di meja.
" kamu mau ngapain?" tanya Raka waspada.
"Aku mau jalan-jalan," kata Lina santai. "Biar kalian berdua bisa 'berdiskusi' soal skripsi Dinda. Tapi ingat, Raka Kalau kamu berpikir bisa menutupi ini dengan bohong lagi, aku akan pastikan seluruh keluarga besar tahu betapa 'baiknya' hati kalian."
Lina berjalan keluar rumah, meninggalkan Raka dan Dinda yang terpaku di dapur.
Di dalam mobil, Lina menyetir tanpa tujuan. Tangannya gemetar memegang setir. Air matanya akhirnya tumpah.
"Sialan," bisiknya. "Sialan kalian semua."
Tapi di balik air mata itu, ada tekad baja. Lina tidak akan hancur. Dia akan bangkit. Dan dia akan membuat mereka menyesal telah menginjak-injak hatinya.
Permainan baru saja dimulai. Dan Lina tidak pernah kalah dalam permainan apa pun.