NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Seekor kuda melesat kencang menuju Benteng Draven. Melihatnya terus mendekat dari kejauhan, para penjaga gerbang langsung bersiaga.

Kuda itu berhenti mendadak tepat di depan gerbang. Penunggangnya segera menyerahkan sepucuk surat yang langsung diterima oleh salah seorang prajurit penjaga.

Begitu melihat stempel berwarna hitam di atas amplop, wajah prajurit itu langsung berubah serius. Tanpa membuang waktu, ia berlari menuju tenda komandan.

“KOMANDAN!”

“ada apa?”

Kaelen langsung menoleh dan menghampiri prajurit tersebut.

“ada surat dari Ravenhold,”

“surat?”

Kaelen menerima surat itu dengan sedikit heran. Benteng-benteng di Alterus jarang berkirim surat kecuali dalam keadaan mendesak atau untuk memberitahukan kedatangan rombongan penting.

Kaelen langsung membuka dan membaca surat itu. Isinya ternyata bukan laporan perang ataupun permintaan bantuan, melainkan pemberitahuan mengenai kedatangan sebuah rombongan dari Ravenhold. Terakhir kali mereka datang adalah lima tahun yang lalu. Saat itu Kaelen bahkan belum menjabat sebagai komandan, sehingga ia belum pernah bertemu langsung dengan mereka.

“pasukan inspeksi dari istana akan datang untuk mengecek kondisi benteng,” ucap Kaelen kepada sang prajurit.

“Kemungkinan besar mereka tiba hari ini. Minta dapur menyiapkan hidangan yang layak untuk menyambut mereka,” perintahnya yang langsung di angguki oleh prajurit di depannya.

Setelah itu, Kaelen memanggil beberapa orang, salah satunya adalah orang yang bertanggung jawab menjaga gudang senjata.

“bagaimana kondisi senjata yang masih tersimpan di gudang?”

“Seluruh senjata dalam kondisi baik, Komandan. Perawatan rutin tetap kami lakukan sesuai perintah Anda.”

“kerja bagus.”

“komandan!” panggilan prajurit yang lain langsung disahuti oleh Kaelen.

“ya?”

“suratnya kan baru sampai pagi ini, di dalam surat juga tertulis mereka berangkat tujuh hari setelah surat dikirimkan, bukankah seharusnya tujuh hari lagi mereka sampai di sini?”

“Kalau itu pasukan biasa, benar. Perjalanan dari Ravenhold ke Draven membutuhkan sekitar empat belas hari. Itu pun jika mereka bergerak cepat.”

Kaelen menatap ke arah pegunungan di kejauhan.

"Tapi..."

"Yang datang kali ini bukan pasukan biasa."

"Mereka adalah pasukan elit istana."

"Dan tiga tahun terakhir..."

"...mereka dipimpin oleh Lysander Regalis."

Prajurit itu langsung terdiam.

Nama itu pernah menggemparkan ibu kota karena sama persis dengan nama putra mahkota yang telah menghilang bertahun-tahun lalu.

Namun yang membuat namanya benar-benar dikenal bukanlah namanya, melainkan kemampuannya. Kisah-kisah tentang aksinya di medan perang telah menyebar ke hampir seluruh pasukan Alterus. Ia dikenal sebagai pemanah ulung sekaligus petarung yang mampu bertarung di garis depan.

Dan yang paling sering diceritakan…

Perjalanan Ravenhold menuju Draven yang biasanya ditempuh dalam empat belas hari, mampu ia selesaikan hanya dalam tujuh hari.

Semua orang bekerja sama membuat Benteng Draven tampak lebih rapi dari biasanya. Mereka hanya diminta merapikan apa yang memang perlu dirapikan dan menyiapkan jamuan yang layak. Jika ada kekurangan, tidak perlu disembunyikan. Itulah pesan Kaelen kepada seluruh prajurit.

Semua orang terlihat sibuk ke sana kemari. Sebagian mengangkat meja dan kursi menuju tenda jamuan. Yang lain membersihkan halaman benteng, sementara para juru masak di dapur sibuk menyiapkan hidangan terbaik yang mereka bisa.

Xavier berdiri di depan tenda dengan wajah bingung. Ke mana pun ia memandang, semua orang tampak sibuk. Tidak ada satu pun yang terlihat menganggur.

“HEH KAMU!”

Xavier melihat kanan kiri.

Namun tidak ada orang.

Ia kemudian menunjuk dirinya sendiri,

“aku?”

“iya, cepat ke sini!”

“ada apa?”

“Kamu lagi nggak ada kerjaan, kan? Bantu cabuti rumput ini.”

Setelah memberi perintah, prajurit tersebut langsung pergi meninggalkan dirinya yang masih mematung di tempat.

Xavier menatap rumput liar yang tumbuh cukup tinggi, lalu mengalihkan pandangannya ke arah prajurit yang baru saja pergi. Sesaat ia hanya berdiri mematung, kemudian menoleh ke kanan dan kiri. Melihat semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, akhirnya ia menghela nafas pelan, berjongkok, lalu mulai mencabuti rumput satu per satu.

Sementara itu, Evren yang masih berjaga di pos sayap kiri benteng hanya bisa memandangi kesibukan yang mendadak memenuhi seluruh area benteng.

“ada apa?” tanyanya kepada prajurit yang berjaga bersamanya.

“petugas elit ibukota akan sampai di Draven hari ini untuk melakukan inspeksi rutin.”

“Bukankah mereka hanya datang untuk inspeksi? Kenapa semua orang sampai sesibuk ini?”

"Komandan hanya ingin memberikan sambutan yang pantas."

Lalu ia menoleh memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.

"Lagipula..."

"...mereka bukan sekadar petugas inspeksi."

“Setiap anggota di dalamnya adalah prajurit elit istana. Bukan orang sembarangan.”

Dulu ia pernah mendengar desas desus tentang kelompok elit. Namun selama perjalanan perangnya, ia belum pernah sekalipun berpapasan dengan mereka.

Perhitungan Kaelen ternyata tidak meleset. Tepat saat matahari berada di atas kepala, rombongan Lysander tiba di gerbang Benteng Draven. Penjaga gerbang langsung membukakan gerbangnya lebar-lebar lalu mengarahkan mereka ke tenda aula perjamuan.

Lysander duduk tegak di atas kudanya sambil mengamati sekeliling. Wajahnya datar dengan sorot mata yang tajam. Hanya dengan kehadirannya saja, suasana di sekitar gerbang berubah sunyi. Para prajurit yang biasanya saling bercanda langsung berdiri tegak. Tidak ada yang berani menatapnya terlalu lama.

Lysander turun dari kuda lalu berjalan masuk ke dalam tenda. Di dalam sudah ada Kaelen dan Tuan Alaric yang langsung berdiri dan menyambut kedatangannya.

Alaric menatap Lysander dengan sorot mata yang hangat. Tatapan seorang lelaki tua yang seolah sedang melihat anaknya sendiri. Lysander yang merasakan tatapan itu pun hanya tersenyum tipis ke arahnya.

“Tuan Tuan, kebetulan sekarang sudah waktu makan siang, silahkan nikmati hidangan sederhana yang sudah kami siapkan,” ucap Kaelen dengan begitu ramah.

Para juru masak mulai masuk satu per satu dan menyajikan hidangan di atas meja.

Lysander menatap makanan di depannya tanpa berkata apa pun.

Yang lain ikut diam.

Tidak seorang pun menyentuh sumpit mereka.

Kaelen yang sudah hendak mengambil sumpit menghentikan gerakannya. Ia melirik satu per satu tamunya. Bahkan penasihat di sampingnya pun masih duduk diam.

Baru, ketika Lysander mengangkat sumpit dan menyuapkan makanan ke mulutnya, semua orang akhirnya mulai menyantap makanan di depan mereka, begitu juga dengan sang penasihat.

Kaelen akhirnya ikut mengangkat sumpit. Meski begitu, kepalanya masih dipenuhi pertanyaan. Apa sebenarnya yang baru saja terjadi?

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!