Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma kecil
Vivian beserta yang lainnya berkumpul mengitari meja bundar. Di hadapan mereka berdiri seorang pemateri, yang sedang menyampaikan penjelasan tentang perusahaan, sejarah berdirinya, para tokoh penting di dalamnya, serta segala peraturan yang berlaku.
Setelah usai, mereka pun dibagi ke dalam beberapa divisi sesuai dengan keahlian masing-masing. Vivian dan Bila satu tim, ditempatkan di Divisi Pemasaran.
Sebelum mulai bekerja, mereka diajak berkeliling mengenal seluruh bagian perusahaan. Mulai dari gudang penyimpanan bahan baku, ruang perancangan, ruang produksi, hingga menuju bagian pemasaran dan pengiriman.
Mata Vivian tampak berbinar antusias sepanjang perjalanan. Bagaimanapun juga, ini adalah industri fashion, sesuatu yang sangat ia sukai dan impikan.
Hingga akhirnya tibalah saatnya mereka diserahkan ke divisi masing-masing.
Vivian melangkah beriringan bersama Bila memasuki area Divisi Pemasaran. Seketika, semua mata karyawan tertuju kepada mereka.
Bukan kepada Vivian, melainkan kepada Bila. Kabar telah tersebar luas bahwa adik Sang CEO akan mulai magang di sini. Sayangnya, kabar itu meleset jauh dari sasaran. Semua orang meyakini bahwa Bila-lah adik sejati Sang Pemilik Perusahaan.
Sejak kedatangannya, para karyawan berbondong-bondong bersikap ramah dan penuh hormat kepada Bila. Alih-alih membantah, Bila justru tampak menikmati hal itu.
Ia membiarkan semua orang salah paham, seakan-akan dialah adik Tuan Raynor yang sesungguhnya.
Vivian pun tidak merasa marah. Sebenarnya ia justru merasa lega. Identitas aslinya tersamarkan dengan sempurna, dan hal itu membuatnya merasa lebih tenang, pikirnya.
Namun... dari sekian banyak orang yang buta akan kenyataan, ada satu orang yang sebenarnya tahu kebenarannya, dan memilih menyimpannya rapat-rapat dalam diam.
Renika.
Wanita itu berjalan dengan sikap angkuh dan tegas. Di sampingnya berdiri seorang pria tampan dan gagah. Itu adalah Satria, calon Manajer Pemasaran sekaligus calon atasan Vivian. Sekali lagi, dunianya seakan berputar kembali pada pria itu.
"Selamat siang semuanya..." sapa Renika, suaranya terdengar berwibawa selaku General Manager di perusahaan ini.
"Selamat siang, Bu..." sahut seluruh karyawan serentak dan kompak, tak terkecuali Vivian yang berdiri di barisan paling depan.
Berbagai wejangan dan penjelasan yang terasa membosankan terus mengalir dari mulut Renika. Perlahan rasa kantuk mulai menyerang Vivian, hingga tanpa sadar ia menguap lebar di hadapan semua orang.
Sial, nasib baik tak berpihak padanya. Renika melihatnya, wajahnya langsung berubah murka.
"Kamu tidak sopan sekali!" bentaknya tajam, suara kasar itu menggema di ruangan. "Saya sedang berbicara di sini, dan kamu seenaknya menguap sembarangan!"
Vivian tertegun, tubuhnya seketika menegang ketakutan. Matanya memanas, bulir air mata nyaris tumpah di hari pertamanya bekerja. Satria yang melihat itu hendak melangkah mendekat, membela. Namun Renika segera mencegatnya dengan tatapan tajam.
"Saya tidak sudi membimbing orang yang tidak memiliki tata krama seperti dia!" tegas Renika kembali, menatap tajam ke arah Vivian. "Silakan ajari dia dengan baik. Besok saya akan mengujinya. Jika sampai belum ada perubahan, satu divisi ini yang akan menanggung akibatnya... Paham?"
"Paham!" sahut seluruh karyawan serentak dengan suara tegas.
Sementara itu, Vivian masih berdiri mematung di tempat. Tubuhnya gemetar, rasa takut menyerang. Hingga ketika ketukan sepatu menjauh, suaranya kian samar, barulah para senior mendekat, dengan tatapan begitu lekat.
Seorang karyawan senior berambut ikal berdiri di depannya. "Kamu dengar tadi? Jika besok saat diuji kamu tak mampu menjawab, kitalah yang menanggung akibatnya. Jadi... kamu harus patuh pada kami."
Vivian hanya bisa menunduk dalam, tak bersuara. Rasa takut perlahan menyelimuti hatinya, seakan intimidasi serupa dari masa lalu kembali menghantuinya.
"Heh, kalau dinasihati senior itu dengarkan!"
"I-iya, Kak..." jawabnya terbata-bata.
Sang senior tersenyum miring. "Teman-teman... kalian haus? Mau pesan minuman?"
"Mau..."
"Aku kopi..."
"Teh manis..."
"Matcha..."
Berbagai jenis minuman disebutkan satu per satu, hingga beberapa nama minuman yang sama sekali belum pernah didengarnya.
"Bila, kamu mau minum apa?" tanya senior itu berubah ramah seketika.
"Hmm... jus saja, jus mangga," jawab Bila santai.
"Kamu dengar itu? Catat semuanya, jangan ada yang terlewat. Ayo, sana..."
Vivian bergegas melangkah ke depan, namun kakinya tak seimbang. Ia terhuyung, nyaris jatuh, hingga sepasang tangan kuat sigap menahannya.
"Vi, kamu tak apa? Apa mereka bersikap kasar padamu?" tanya Satria lembut, penuh kekhawatiran.
Belum sempat Vivian membuka mulutnya, suara berat dan tajam terdengar. Renika berdiri tak jauh dari sana, wajahnya merah padam menahan amarah.
"Satria..."
Suaranya tegas dan menggema di seisi ruangan. Di kantor ini, Satria memang tak berani membantah, kekuasaan berada di tangan wanita itu.
Vivian melepaskan diri dengan cepat. Ia berlari terseok-seok meninggalkan tempat itu, menjauh dari segala kerumitan yang membelenggunya.
Satria terpaku di tempat, kedua tangannya mengepal erat. Ia ingin melindungi, namun kuasa tak memungkinkannya. Ia tak berani melangkah mengejar.
"Maafkan aku, Vivian..."
****************
Vivian berjalan dengan tangan penuh kantong minuman. peluh menetes deras, membanjiri dahinya. wajahnya yang polos tanpa make-up semakin mengkilap. tangannya bahkan tak sanggup mengusap peluhnya sendiri.
Sampai ia kembali ke kantor. Semua orang tampak tertawa riang, mengerubungi Bila yang duduk di meja, tanpa tatakrama.
Vivian, yang tubuhnya masih sedikit bergetar, tanpa sengaja menabrak sisi meja. Tubuhnya runtuh, terkulai lemah.
Minuman di tangan berakhir membanjiri lantai. Gelas plastik berjatuhan, es batu berhamburan seperti air matanya. Tapi, itu tidak seberapa... karena di sisi lain ada yang jauh lebih fatal.
"Aaaah... dokumenku!" pekik karyawan berambut ikal, penuh histeris. Matanya menatap Vivian penuh amarah yang meluap-luap.
"Dasar anak baru pembawa sial!" makinya keras tanpa ampun. "Kamu memang tidak becus dan tidak pernah cocok berada di sini!"
Kata-kata itu menghantam dada Vivian bertubi-tubi, persis seperti hinaan-hinaan yang pernah terdengar di masa lalu. Napasnya seketika tertahan, dadanya sesak luar biasa.
Pandangannya mulai kabur, telinganya berdenging hebat. Tubuhnya gemetar semakin kuat, kakinya melemah seperti jelly, ia tak sanggup lagi berdiri.
Tangannya memeluk dirinya sendiri erat-erat, merosot jatuh ke lantai di tengah genangan cairan, tak lagi peduli pada tatapan semua orang.
Rasa takut yang dulu pernah ia rasakan kini kembali menyerang tanpa peringatan, perlahan melumpuhkan kesadaran. Pendengaran memudar.
Dari jauh, ia mendengar samar suara Satria yang memanggil namanya. Lalu, semuanya gelap. Tanpa cahaya, tanpa kesadaran yang tersisa.