NovelToon NovelToon
Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu

Status: tamat
Genre:Cerai / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Annami Shavian

Nuri adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki satu orang anak berusia satu setengah tahun mendapat nafkah dari suaminya tak lebih dari lima ratus ribu perbulan selama tiga tahun usia pernikahan mereka. Selain itu, Nuri sering kali mendapat perlakuan tidak adil dari sang ibu kandung serta ke dua Kakak kandung terhadap dirinya. Suami Nuri yang bekerja di kota tidak pernah mengetahui bagaimana kehidupan keras Nuri di rumah ibu kandungnya. Nuri harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan sehari hari serta gaya hidup ibunya. Suatu hari hal buruk menimpa Nuri. Dimana sang suami menceraikan nya dan memilih untuk kembali bersama mantan istri sang suami dengan alasan Nuri adalah seorang istri yang tidak berguna dan tidak dapat di andalkan. Mampukah Nuri menjalani hidup dari keluarga yang tidak berlaku adil padanya serta sebagai seorang single mom?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bu haji yang baik

Aku menghitung lembar demi lembar uang hasil dagang jualan gorengan keliling tadi pagi dan terhitung jumlahnya ada delapan puluh ribu. Aku bersyukur sekali karena hasil dagangan ku mendapatkan keuntungan tiga puluh ribu. Ku sisihkan uang untuk modal lima puluh ribu, ku sisihkan untuk ku simpan sepuluh ribu karena aku harus memiliki tabungan. Dan sisa dua puluh ribu lagi untuk kebutuhan makan kami sehari hari.

Aku melirik ke arah pintu kamar ibu yang masih tertutup rapat. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh tapi ibu belum saja menampakkan batang hidungnya. Aku heran sebenarnya ibu sudah bangun apa belum sebab gorengan di atas meja sudah habis tak tersisa. Tidak mungkin di makan kucing karena aku tidak memelihara seekor kucing di rumahku. Apa ibu tidur lagi setelah makan? pikir ku.

Aku tidak ingin ambil pusing masalah ibuku yang belum bangun tidur. Biarkan saja dia tidur sesuka hatinya dan lebih baik aku pergi ke warung saja membeli bahan untuk dagangan ku besok pagi.

Aku bergegas pergi ke warung penjual sayuran untuk membeli bahan gorengan. Selain itu, aku juga akan membeli bahan untuk di masak. Kemudian aku berjalan menuju warung sayuran sambil menggendong Zain.

"Nur...Nuri..!"

Aku menoleh pada sumber suara yang terdengar dari arah sebuah rumah cukup besar. Ku lihat Bu Fatimah yang sudah bergelar haji dan orang orang di kampung menyebutnya haji Fatimah memanggilku di pintu gerbang rumahnya yang hanya sebatas dada. Aku terdiam karena aku heran ada apa Bu Fatimah tumben sekali memanggilku. Namun meskipun begitu aku penasaran lalu menghampirinya.

"Iya Bu haji, maaf ada apa ya?"

"Kamu mau kemana Nuri?"

"Saya mau ke warung pak Udin Bu haji."

"Berarti kamu melewati tempat loundri ya Nur?"

"Iya Bu haji."

"Saya boleh minta tolong tidak?"

"Minta tolong apa Bu haji?"

"Tolong bawakan cucian saya ke tempat loundri itu Nuri? soalnya mesin cuci saya sedang rusak. Ingin di cuci pakai tangan tapi tenaga saya sudah tidak kuat. Ingin pergi ke tukang loundri tapi kaki saya tidak kuat lagi kalau jalan terlalu jauh. Ingin menyuruh si Rayhan tapi anaknya sedang kuliah dan pulangnya malam. Jadi saya bingung mau minta tolong sama siapa Nur?" Keluh haji Fatimah padaku.

Haji fatimah merupakan seorang ibu berusia enam puluh lima tahun dan memiliki tiga orang anak. Dua anak perempuannya sudah berumah tangga dan sudah tinggal terpisah dengannya. Masing masing anaknya sudah hidup mapan. Dan satu anak laki laki yang masih berkuliah. Bu Fatimah sendiri seorang PNS yang sudah pensiun. Begitu pula dengan almarhum suaminya yang juga seorang PNS.

Aku tersenyum padanya."Iya Bu, biar saya bawakan ke sana."

"Apa kamu serius Nur? apa kamu bisa membawanya sementara kamu gendong anak mu?"

"Iya Bu, saya serius. Saya masih ada satu tangan lagi untuk membawanya."

Bu haji terlihat berfikir namun tak lama dia tersenyum."Ya sudah kalau begitu tunggu sebentar ya Nur?" Bu haji masuk kedalam rumahnya yang berlantai dua sementara aku menunggunya di pintu pagar. Namun tak lama Bu haji kembali lagi menghampiriku sambil membawa satu kantong kresek besar di tangannya.

"Ini pakaian nya Nur," ucap Bu haji padaku sambil menyodorkan kantong kresek berisi pakaian kotor. Aku mengambil kantong kresek yang berada di tangan Bu haji.

"ya sudah Bu haji saya bawa dulu ya." Aku hendak beranjak namun Bu haji mencegahku. Aku berbalik lagi melihat pada Bu haji. terlihat Bu haji mengambil uang di saku bajunya lalu menyelipkannya ke tanganku.

"Ini untuk jajan anak mu di ambil ya,"ucap bu haji.

"Mashaallah Bu haji tidak usah Bu, saya berniat ingin membawakan saja tidak perlu di upah Bu haji."Aku mau mengembalikan lagi pada tangannya namun Bu haji menolaknya. Jujur, aku memang berniat membantunya bukan mengharap upah darinya. Aku merasa jadi tidak enak hati padaku.

"Ambil saja Nur, saya bukan bermaksud mengupah. Tapi uang itu buat jajan anak mu. Ambil saja, tidak baik menolak rizki nanti rizki nya semakin menjauh lho." Bu haji memaksa untuk di ambil uang pemberiannya dan mau tak mau aku harus menerimanya nya.

"Kalau begitu terima kasih banyak Bu haji."

"Iya, sama sama Nuri."

"Kalau begitu saya bawa dulu ya Bu haji?"

"Iya Nuri, hati hati."

Aku bergegas pergi meninggalkan ibu haji yang masih memandangku menuju tempat loundri yang letaknya berdekatan dengan warung sayur.

Setelah tiba di sana ternyata tempat loundri yang ku tuju sedang tutup. Aku menghela nafas berat. Kecewa rasanya, sudah jauh jauh membawa pakaian satu kantong plastik besar malah tempatnya tutup.

Aku menghampiri warung sayur terlebih dahulu untuk membeli barang barang yang aku butuhkan sebelum mengembalikan baju kotor milik Bu haji . Setelah selesai berbelanja aku pun pulang dengan banyak tentengan di kiri kanan tanganku.

"Assalamualaikum bu haji !" aku berdiri di balik pintu pagar sambil memanggil sang pemilik menghampiriku. Tak selang lama Bu haji keluar dari rumahnya lalu menghampiriku.

"Apa sudah Nur?" tanyanya.

"Maaf Bu haji. Tempat loundri nya sedang tutup Bu."

"Aduh, bagaimana ini? Mana kebanyakannya pakaian si Raihan. Gimana kalau dia kehabisan pakaian ganti," gumam Bu haji lirih namun masih terdengar di kedua telingaku membuat ku menjadi merasa tidak tega melihat nya.

"Bu haji maaf, kalau boleh bagaimana kalau saya saja yang mencucikan pakaian kotor ini?" Aku menawarkan diri untuk membantu mencucinya karena jujur aku tidak tega melihat wanita yang sudah tua dan lemah seperti Bu Fatimah.

"A apa kamu serius Nur mau mencuci kan baju baju ini?" tanya Bu haji seperti yang belum percaya sama apa yang ku ucapkan.

"Benar Bu haji saya mau, tapi saya ingin mencucinya di rumah saya, apa boleh bu?"

"Boleh, boleh Nur. Terima kasih ya Nur."

"Sama sama Bu haji."

Bu haji melirik ke arah kantong kresek yang ku bawa hasil berbelanja di warung tukang sayur.

"Wah, belanjanya banyak sekali Nur, apa mau ada acara di rumah mu?"

Aku tersenyum tipis mendengar pertanyaan Bu haji.

"Tidak Bu, ini bahan membuat gorengan untuk di jual keliling tiap pagi Bu haji."

"Oh, jadi kamu jual gorengan tiap pagi Nur?"

"Sebenarnya baru tadi pagi sih Bu haji, hanya saya mau jualan lagi besok."

"Oh, kalau besok jualan lagi nanti kamu mampir kemari ya Nur?"

"Iya Bu. Saya akan mampir ke mari." Aku tersenyum senang mendapat pelanggan baru. Setelah itu, aku pamit pada Bu haji untuk kembali pulang ke rumahku.

Tiba di rumah Aku menurunkan Zain serta barang barang bawaan dan ku letak kan di atas lantai.

"Zain main sendiri ya nak? mama mau nyuci dulu."

"Iya mama." Zain masuk ke kamar untuk mengambil mainannya.

Ku lihat kamar ibu yang masih tertutup rapat dan sepertinya dia masih belum bangun tidur. Namun aku abaikan saja lalu aku bergegas untuk mencuci pakaian hajah Fatimah agar langsung bisa ter jemur karena hari sudah semakin siang. Satu persatu aku memasuk kan pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Kebanyakan pakaian kotor yang ku cuci adalah pakaian pria. Ada beberapa kaos, beberapa kemeja, beberapa pakaian dalam. serta beberapa celana Levis panjang yang terlihat dekil. Aku heran, bukan kah Raihan anaknya Bu hajah Fatimah adalah anak kuliahan tapi kenapa celananya rata rata dekil semua seperti habis main kotor kotoran. Dasar anak laki laki jorok sekali, pikir ku.

Ku sisihkan lima celana panjang yang terlihat dekil untuk ku sikat saja karena aku takut tidak akan bersih jika menggunakan mesin. Lalu ku rendam terlebih dahulu ke lima celana panjang dengan sabun.

Sambil menunggu cucian aku masuk ke dalam kamar untuk melihat Zain. Dia terlihat anteng sekali main sendiri. Seketika aku teringat pada uang pemberian dari Bu haji. tanganku merogoh di kedua kantong daster yang aku pakai mencari uang pemberian Bu haji. Uang yang terlipat itu aku lebarkan dan seketika mataku membelalak melihat uang di hadapanku. Uang satu lembar yang berjumlah seratus ribu.

Aku menatapnya dengan mata berkaca. "Alhamdulilah nak, kita dapat rizki melalui tangan Bu haji." Senyum pun mengembang di bibirku. Betapa bersyukurnya aku hari ini mendapat rizki yang tak terduga.

1
Yuliana Purnomo
wooow,,nafkah nya fantastic,,,
Yuliana Purnomo
mantep 👍
Yuliana Purnomo
oohh pasti Rayhan kerjasama dgn bang Supri
Yuliana Purnomo
ya ampun buuuk,, kelakuan masih aja sama
Yuliana Purnomo
dasar Sumi penasaran SM mobil yg bergoyang
Yuliana Purnomo
uuuh gemes mau njitak pala pak yanto,, rasanya,, tetangga sableng ini memang
Yuliana Purnomo
makin seru,, bikin penasaran
Yuliana Purnomo
seruuu,,,kasian Zain,, mudahan selamat gak di perdagangkn oleh sindikat
Yuliana Purnomo
gercep Oma, selidiki latar belakang nuri
Yuliana Purnomo
pokoknya nya baik' nya bukan main Nury,, totalitas dan klhas menolong sahabat nya
Yuliana Purnomo
heeemmm bahagia nya,,,adem banget liat yg kayak gini
Yuliana Purnomo
senang nya,, Akir nya lepas dr si Surya
Yuliana Purnomo
kaapook ketauan istri mu pak ustad
Yuliana Purnomo
bingung kan nurrrr?? aku juga bingung kalau disuruh milih antara Rayhan antau Andre
Yuliana Purnomo
mantapppp Nuur,,knpa gak dr dulu kamu melawan mereka 2,, walaupun keluarga mu tapi toxic semua
Yuliana Purnomo
amit amit sm sikapnya ustad Amir
Yuliana Purnomo
ustadz juga manusia Nury,,, wajarlah khilaf tipis 2 😉
Yuliana Purnomo
diih masa Hamidun siiih ?? sudah tau punya laki Modelan Surya,, kenapa gak kb lh??
Yuliana Purnomo
nasib mu komplit banget Nuri,,,ibu yg kebangetan, saudara kyk penjajah,,suami medit
Yuliana Purnomo
😢😢😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!