Siapa bilang niat balas dendam akan berakhir sesuai rencana?
Buktinya nih si Nisa!
Hatinya udah di buat jungkir balik sama Aziz. Tetap aja hatinya gak bisa berpaling dari pria galak yang acap kali berkata nyelekit di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
...🥀🥀🥀🥀...
Jauh di bawah alam sadar, Nisa yang kala itu mulai terperosok di alam mimpi.
“Ya ampun, si Aziz beneran ngerjain bangat ya! Dasar asisten koki sia lan! Bisa bisa nya dia turunin aku di tempat kaya gini! Mana sepi, kaga ada kendaraan yang lewat apa ya! Astaga!” beo Nisa, di bawah langit gelap, dengan terang bulan.
“Kaki aku pegel bangat ini! Gimana kalo ada orang jahat, terus mau culik aku! Ya ampun! Serem.” gerutu Nisa, netra nya mengedar dengan tatapan waspada. Hanya ada cahaya dari lampu penerang jalan.
Nisa terus menyusuri jalan, hingga langkah nya membawa ia pada padang berumput hijau di bawah sinar lampu. Sementara di sisi lain, tampak pohon melati yang tengah kuncup bunga nya. Dengan sebuah pohon beringin besar, yang gak jauh dari posisi Nisa berada saat itu.
“Nis! Mau kemana kamu?” seru Sabah.
Nisa menoleh ke asal suara. Di mana ada sang ayah, Sabah berdiri di depan sebuah rumah dengan bangunan sederhana. Ia mengucek mata nya, memastikan pandangan nya yang gak salah.
“Loh ayah, itu benar ayah! Kenapa ayah bisa di sana? Itu rumah siapa lagi?” cecar Nisa pada diri nya sendiri.
Sabah kembali berseru pada Nisa, pria paruh baya itu bah kan melambai kan tangan nya pada anak semata wayang nya.
“Ke sini! Jangan diam aja di situ!”
Nisa berlari menghampiri sang ayah, “Iya, yah! Nisa ke sana!”
“Gak usah lari larian! Ayah dan ibu tetap akan ada di sini, kami setia menunggu kamu, mengawasi kamu dari sini! Mau kamu ada di mana pun! Ayah dan ibu akan tetap ada di hati kamu. Ingat itu ya Nis! ” ujar Sabah.
Sabah menge lus puncak kepala Nisa, saat wanita muda itu ada di hadapannya dengan nafas nya yang ngos ngosan.
Grap.
Bukan lagi mencium punggung tangan kanan sang ayah, seperti yang biasa Nisa laku kan selama ini. Nisa justru melingkarkan kedua tangannya pada pinggang sang ayah.
Memeluk nya erat, dengan mendarat kan kepala nya pada dada bidang sang ayah yang sudah paruh baya.
“Ayah jangan ngomong gitu ihs! Hati Nisa sakit dengernya!” beo Nisa dengan mata berembun.
‘Hati aku emang sakit dengar ucapan ayah, tapi berada dalam pelukan ayah. Pikiran ku jadi tenang, seketika kesal ku sama si asisten koki itu, jadi lenyap gitu aja. Ini pasti karena ada ayah di sisi ku! Aku gak sendiri di tempat asing ini, gak ada lagi yang perlu aku takutin!’ pikir Nisa.
Sabah menge lus punggung Nisa dengan nada meyakin kan, “Segala yang bernyawa, pasti akan kembali pada sang pencipta, nak! Sampai saat itu tiba, kamu harus ikhlas, terima kenyataan dengan lapang! Biar kamu bisa lanjut kan hidup mu dengan tenang, tanpa beban.”
‘Kata kata ayah dalam amat sih! Kaya punya makna tersendiri gitu! Tapi kok otak ku gak nyampe buat ngartiin nya ya!’ pikir Nisa.
Nisa mendongak, dengan air mata yang gak bisa lagi terbendung.
“Ayah lagi kenapa sih! Kata kata ayah buat Nisa jadi mewek! Mending ayah diam deh! Gak usah banyak omong!” beo Nisa dengan bibir mengerucut kesal.
“Alhamdulilah anak ibu udah di sini! Gak nyasar kan sayang jalan nya?” ujar Naraya dengan tatapan haru.
Nisa mengurai pelukan nya dari sang ayah, ia melihat Naraya muncul dari dalam rumah dengan pakaian serba putih, wajah nya yang gak lagi muda tampak bercahaya.
“Gak nyasar gimana, bu? Kapan Nisa mau ke hotel tempat pesta pernikahannya Tuan Alex dan Wati di gelar. Tapi kenapa juga ya, Aziz malah tinggalin Nisa di tempat kaya gini! Jadi bingung nih Nisa!” cerocos Nisa penuh dengan gurat kebingungan di wajah nya.
“Kamu salah ingat, Nisa! Seingat ibu, kalian itu lagi perjalan ke rumah baru ibu dan ayah.” beo Naraya.
Naraya menggiring Nisa masuk ke dalam rumah yang tampak sederhana. Di ikuti Sabah, pria paruh baya itu menyusul kedua nya masuk ke dalam rumah. Sementara pintu rumah sengaja di biarkan terbuka.
“Nisa gak salah ingat, bu!” bantah Nisa.
“Gak salah ingat gimana! Suami kamu mana? Kamu gak lagi bertengkar dengan suami mu kan?” timpal Sabah dengan nada terkekeh.
Sabah mendaratkan bobot tubuhnya di sofa. Dengan Naraya yang kini ikut bersandar pada rangkulan nya.
“Suami apa lagi, yah! Nisa belum nikah yah!” bantah Nisa dengan tegas, netra nya kembali mengamati rumah sederhana orang tuanya.
“Kamu sudah menikah dengan nak Aziz! Tapi sayangnya kami gak bisa ikut hadir di hari bahagia kalian!” timpal Naraya. Seakan menegas kan hubungan Nisa dan Aziz.
Nisa menghempas kan bobot tubuh nya kasar di sofa tunggal. Menyandarkan punggung dan kepala nya pada sofa.
‘Kok aku ngerasa damai bangat ya di tempat ini!’ batin Nisa dengan mata terpejam.
“Jadi istri harus mengalah sama suami. Biar rumah tangga semakin awet, ada kala nya suami juga butuh di mengerti istri, Nis!” beo Sabah.
Nisa mendengus kesal, lalu menegak kan punggung nya. Di rumah itu hanya ada satu kamar, dengan ruangan besar terbuka.
“Gak usah bahas omongan yang gak mungkin Nisa akui, bu, yah! Nisa ini belum ada ikatan pernikahan dengan Aziz! Ayah dan ibu bisa anggap kami sedang bertengkar!” celetuk Nisa.
“Gak bisa gitu dong, Nis! Marah boleh, tapi masa iyo sampe gak mau mengakui status kalian! Dosa loh!” celetuk Sabah.
“Ini serius rumah ayah dan ibu?” tanya Nisa, mengalihkan perhatian keduanya.
“Serius lah, Nis! Rumah baru ayah dan ibu, terlihat sederhana tapi cukup nyaman untuk kami berdua tinggali. Di sini lah tempat kami pulang yang sesungguhnya, nak! Rumah keabadian hingga hari akhir itu tiba.” beo Sabah dengan bangga.
“Tapi ini kelewat sederhana. Apa ayah dan ibu nyaman tinggal di rumah sederhana kaya gini? Apa ayah dan ibu gak mau tinggal dengan Nisa? Nisa yakin, bisa beli kan kalian rumah yang lebih mewah dari ini dari hasil Nisa kerja sama Tuan Alex.” desak Nisa.
Sabah menggeleng, “Ayah dan ibu udah nyaman di sini, nak!”
Nisa beranjak dari duduknya, melangkah ke arah pintu. Berharap hembusan angin alami, mampu membuatnya kembali merasakan kesegaran.
“Bagi kalian nyaman. Tapi bagai mana dengan ku? Nisa gak nyaman di sini yah! Ini terlalu sempit untuk Nisa!” protes Nisa.
“Harta gak dibawa nak, hanya amal jariyah, doa anak soleh yang mendoakan orang tua, dan ilmu yang bermanfaat. Hanya 3 amalan itu yang kami bawa.” ujar Naraya, senyum nya seakan mampu membuat Nisa bungkam.
Sabah menghembuskan nafasnya kasar, “Lagi juga kamu gak akan tinggal di sini, Nis! Belum saat nya kamu tinggal bersama dengan kami! Masih ada nak Aziz yang sangat membutuh kan kamu! Dia yang akan menjaga mu menggantikan tugas ayah.”
Nisa membola gak percaya, “What? Nisa gak salah dengar, yah?”
“Gak lah, ayah sudah percayakan perusahaan untuk di kelola nak Aziz. Kami yakin, perusahaan itu akan berkembang pesat di bawah kepemimpinan nya.” ujar Sabah tanpa ada keraguan di wajah nya.
Nisa menggeleng gak percaya, “Gak bisa gitu, yah! Ayah jelas keliru! Mana bisa Aziz yang kelola perusahaan? Kan ada ayah dan ibu yang terbiasa mengelola nya! Kenapa sekarang harus Aziz? Apa sepercaya itu kalian sama Aziz?”
Sabah tersenyum dengan tulus, “Kami percaya, nak! Sama seperti kami percaya, kamu pasti bisa bahagia bersama dengan nak Aziz! Sampaikan salam ibu dan ayah untuk nya ya!”
“Nisa, Nis!” seru Aziz, dari arah luar rumah.
“Aziz! Kebetulan itu anak nya nongol! Poko nya ayah sama ibu harus percaya sama Nisa! Kami belum menikah! Keputusan ayah sama ibu itu keliru buat serahin perusahaan sama Aziz!” seru Nisa, panjang kali lebar pada Sabah dan Naraya, sebelum berlalu dari keduanya.
Brugh.
Dari arah punggung Nisa, suara pintu tertutup rapat terdengar nyaring. Membuat Nisa kembali menoleh ke arahnya.
“Loh mana rumah ayah dan ibu? Tadi ada disini, tapi sekarang kenapa jadi batu nisan? Ini pasti mimpi!” gumam Nisa dengan tatapan gak percaya.
Suara Aziz kembali menggema di telinga Nisa, “Nis bangun, Nis!”
Pluk pluk.
Nisa membuka kedua matanya, usai Aziz menepuk lembut pipi Nisa.
‘Loh kok jadi Aziz yang sedekat ini di mata gua? Tadi bukannya ada batu nisan?’ pikir Nisa, dengan mata mengerjap.
Aziz menghembuskan nafas lega, melihat Nisa yang akhirnya terbangun. Pria dingin itu kembali pada kursi kemudinya. Usai membantu Nisa membuka sabuk penga man.
“Huh gila lu! Tidur kenapa kaya kebo sih! Gua kata lu gak bakal bangun lagi! Tapi syukur deh, melek juga lu!” cerocos Aziz, meski tampak jelas pria itu khawatir dengan Nisa.
Nisa menoleh ke arah Aziz, menatap pria itu penuh tanya, “Ini gua lagi mimpi apa nyata sih?”
Aziz mengerutkan keningnya, ‘Ini anak kelamaan tidur di jalan kali ya? Rada koslet otaknya!’ pikir Aziz.
Kreeeek.
Bersambung …
lain kamar aja lah nis bukan muhrim loh ,tadi kata mu ini itu macam tau itu salah kalau masih satu kamar ya pada Bae itu mah 🤣🤣🤣