Elvan begitu mencintai istrinya. Begitu juga istrinya yang sangat mencintainya. Namun, setelah menikah tiga tahun lamanya, Clara yang merupakan istri Elvan mulai berubah sikap. Di sela-sela rumah tangganya yang tak baik-baik saja, Elvan terjebak satu malam bersama Rania yang merupakan office girl yang bekerja di kantornya.
Akankah Elvan mempertanggung jawabkan perbuatannya? Ataukah dia tetap pada pendiriannya untuk tetap setia dengan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.19
Beberapa hari kemudian.
Rania yang hendak pergi ke supermarket, dia menghentikan langkahnya saat mendengar ada yang memanggil namanya. Kebetulan saat ini dia sedang melangkah keluar dari gerbang apartemen.
''Hey tunggu!'' ucap seseorang dari arah belakang Rania.
Rania menoleh ke belakang, dia terkejut melihat Clara di belakangnya.
"Cla ... ra " ucapnya terbata. Jujur saja saat ini Rania merasa takut.
"Jadi kamu belum juga pergi dari sini? Kamu tidak mendengarkanku ha," Clara membentak Rania.
"Maaf," ucap Rania dengan menunduk.
"Sekarang, cepat pergi! Atau kamu mau aku menyeretmu dari sini."
"Aku berkemas dulu, setelah itu langsung pergi."
"Bagus, tidak pakai lama."
Rania langsung pergi dari hadapan Clara. Dia melanjutkan langkahnya menuju ke apartemen.
Sesampainya di apartemen, Rania tidak melihat Bi Darmi. Dia ingat jika tadi pagi Bi Darmi izin mau mengunjungi saudaranya. Ini bisa di jadikan kesempatan olehnya untuk pergi. Rania langsung saja masuk ke kamarnya. Dia mulai mengemasi pakaiannya. Rasanya enggan untuk pergi, karena dia sudah nyaman tinggal disana. Namun dia takut dengan ancaman Clara. Dia takut jika Clara menyakiti anak yang ada di dalam kandungannya.
Sebelum keluar dari apartemen, sejenak dia menatap ke belakang melihat apartemen mewah yang belakangan ini dia tempati.
"Selamat tinggal Mas Elvan, Bi Darmi, aku pergi dulu," gumam Rania.
Rania mulai keluar dari apartemen. Sesampainya dia di pintu gerbang depan, ternyata Clara masih disana. Clara menyunggingkan senyumnya melihat kepergian Rania.
''Bagus, kamu memang sudah sepantasnya pergi dari kehidupan suami saya. Awas saja kalau berani kembali lagi,'' ucap Clara yang merasa senang.
''Saya permisi dulu,'' setelah mengatakana itu, Rania melanjutkan langkahnya melewati Clara yang masih menatapnya tak suka.
Rania masih bingung mau pergi kemana. Dia sudah tidak punya keluarga lagi. Apalagi neneknya yang sudah merawatnya sejak kecil, kini sudah meninggal. Neneknya selalu bungkam saat Rania bertanya siapa ayah dan ibunya. Jadi sampai sekarang dia tidak tahu siapa orang tuanya.
Rania melihat ada angkot yang lewat. Dia menyetop angkot itu, lalu masuk ke dalam. Entah tujuannya kemana, yang pasti untuk saat ini dia harus pergi.
Setelah angkot itu berhenti, Rania kembali menaiki angkot lain dengan tujuan yang berbeda. Yang ada di pikirannya sekarang, dia harus pergi yang jauh dari sekitar sana.
Setelah tiga jam perjalanan dengan menaiki angkot, lalu ojek, kini Rania sudah sampai di kampung pinggiran kota. Mungkin untuk saat ini lebih baik dia tinggal disana dulu.
Rania menatap plang nama kampung yang ada di depannya. Disana tertulis nama kampung kencana.
Rania melihat ada seorang warga yang lewat.
''Permisi, Pak.'' ucap Rania dengan ramah.
Lelaki tua itu menghentikan langkahnya di dekat Rania.
''Ada apa, Neng?''
''Pak, saya niatnya mau pindah ke kamapung ini. Tapi saya tidak punya tempat tinggal. Apa kira-kira ada kontrakan?''
''Maaf, Neng. Disini desa pinggiran, jadi tidak ada kontrakan. Apalagi warganya sebagian besar buruh pabrik, ada juga pemulung dan petani,'' ucapnya.
''Tolong saya, Pak. Saat ini saya tidak ada tempat tujuan, Saya takut karena ada orang yang berniat menyakiti saya,'' ucapnya.
Lelaki itu tampak berpikir. Akhirnya menganggukkan kepalanya.
''Baiklah. Mari ikut saya! Kebetulan tetangga saya seorang janda yang hidup sendiri. Nanti saya akan meminta tolong agar mau menerimamu di rumahnya. Kalau boleh tahu Neng siapa namanya?''
''Nama saya Rania,'' ucapnya.
''Mari ikut saya, Neng!'' ajaknya.
Rania terus berjalan mengikuti orang itu.
Kini keduanya telah smmpai di depan rumah yang di maksud. Lelaki yang bersama Rania mengetuk pintu itu. Tak lama janda cantik pemilik rumah langsung keluar.
''Eh Pak Setyo, ada apa?''
''Begini, Amira. Ini ada wanita muda yang tidak tahu arah tujuannya. Bolehkah untuk sementara waktu tinggal di rumahmu?''
Sejenak Amira menatap Rania dari atas sampai bawah.
''Masuklah!'' ucapnya.
''Terima kasih, Tante.'' ucapnya ramah.
''Sama-sama'' jawabnya.
Rania senang karena masih ada orang baik yang mau menerimanya.
...........
Elvan baru pulng kerja. Kepulangannya di sambut oleh Clara. Bahkan dengan sengaja Clara mengenakan lingeria berwarna merah.
''Selamat datang, Mas. Biar aku bantu bawa tasnya,'' Clara mengambil tas kerja suaminya.
Elvan menatap istrinya dengan sedikit heran.
''Ngapain sore-sore seperti ini berpakaian tidak layak seperti itu?'' tanya Elvan.
''Aku hanya mau menyenangkan suamiku. Ayolah!'' Clara menggesek-gesekkan dadanya di lengan suaminya.
''Maaf, aku lelah. Mau istirahat dulu,'' Elvan berlalu pergi dari hadapan istrinya.
Clara mengikuti suaminya hingga sampai ke kamar. Dia menaruh tas kerja suaminya, lalu mulai mendekati suaminya yang sedang melepaskan kemejanya. Clara bertingkah menggoda untuk memancing suaminya. Namun tampaknya Elvan sama sekali tidak tergoda.
''Berhentilah melakukan hal bodoh, Cla!'' ucapnya. Lalu dia melangkah menuju ke kamar mandi.
''Aku ini istri kamu, Mas. Kenapa seolah kamu menjauhiku?''
''Istri macam apa yang berani main serong?'' ucapnya, sebelum dia memasuki kamar mandi.
Clara masih menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup itu.
'Sial, susah sekali untuk membuat Mas Elvan kembali bertekuk lutut kepadaku,' batin Clara sambil mengepalkan tangannya.
Clara memilih untuk keluar dari kamar itu.
Lima belas menit kemudian, Elvan keluar dari kamar mandi. Dia langsung mendekati lemari dan mencari pakaian ganti. Belum juga sempat mengambil pakaian, dia mendengar ponsel miliknya berdering. Elvan yang masih memakai handuk, dia mendekati meja kecil yang ada di samping ranjang. Ternyata yang menghubunginya itu Bi Darmi. Kebetulan dia sempat menyuruh BI Darmi menyimpan nomornya. Karena takut jika suatu saat dia susah menghubungi Rania.
Elvan memencet tombol hijau, lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.
''Hallo, ada apa, Bi?'' tanya Elvan.
''Maaf jika saya mengganggu, Tuan. Saya hanya mau memberi tahukan bahwa Non Rania tidak ada di apartemen. Semua pakaiannya juga tidak ada?''
''Apa? Bagaimana bisa?'' Elvan tampak terkejut.
''Maaf, Tuan. Tadi saya habis pergi ke rumah saudara saya. Jadi saya tidak tahu kepergian Non Rania.''
"Iya, Bi. Nanti saya kesana mau selidiki. Tidak mungkin jika Rania pergi tanpa sebab."
Hanya sebentar mereka berteleponan. Elvan kembali menaruh ponselnya di atas meja. Lalu dia segera mengenakan pakaiannya.
Setelah selesai berpakaian, Elvan kembali mengambil ponselnya, lalu dia duduk di sofa. Elvan melihat rekaman CCTV di apartemen itu yang kebetulan tersambung ke ponselnya. Dia melihat Rania yang buru-buru masuk ke apartemen. Bahkan dia keluar dari kamar juga dalam hitungan menit.
'Pasti ada pemicu yang membuat Rania pergi. Lebih baik aku cek CCTV di dekat pos satpam depan apartemen,' batin Elvan.
Elvan menyambar kunci mobilnya, lalu segera pergi.
Clara yang sedang bersantai, dia melihat suaminya menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
"Mas, kamu mau kemana?" tanya Clara.
"Mau pergi sebentar," ucapnya, lalu melanjutkan langkahnya. Elvan mengabaikan istrinya yang kembali bertanya.
Tiga puluh menit kemudian, Elvan sampai di area apartemen. Elvan langsung saja memarkirkan mobilnya, lalu dia menghampiri satpam depan yang sedang berjaga.
Sesampainya di pos satpam, Elvan bertanya mengenai Rania. Mungkin saja satpam depan melihatnya.
Berdasarkan penjelasan dari satpam, ada seorang wanita yang sempat mengobrol dengan Rania. Wanita itu menyuruh Rania untuk pergi. Untuk memastikan penjelasan itu benar atau tidak, Elvan meminta untuk mengecek CCTV di dekat pos satpam.
Setelah melihat rekaman CCTV itu, sekarang Elvan tahu apa penyebab Rania pergi. Ternyata Clara yang menemuinya.
'Beraninya kamu mengusir ibu dari anakku, Cla. Tingkahmu makin hari makin keterlaluan saja,' batin Elvan yang merasa geram.
Tokoh2nya kuat karakternya...
Tokoh2nya kuat karakternya...