Hai, ceritanya aku revisi lagi ya! ada beberapa kalimat yang di tambah dan di hilangin!
Laura Hendrik wanita cantik yang berusia 21 tahun, terpaksa menikah dengan pria asing karena kesalah pahaman dari warga yang mengira mereka tengah kumpul kebo.
Namun bagaimana jika orang asing itu adalah Arvin Indorto, musuh bebuyutan nya sejak kecil? apakah akan tumbuh benih cinta di antara mereka? atau pernikahan mereka akan kandas begitu saja?
Tidak ketinggalan sosok pria tampan yang selalu membuat hati Laura menghangat, kisah cinta segitiga antara mereka akan di mulai!
Yuk ikutin kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina yuwita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberi Nasehat
Santi memicingkan mata, menatap adik sepupunya penuh selidik setelah mendengar cerita perihal pernikahan mereka barusan.
"Kamu nggak bisa bohongin kakak, sekarang ayo jujur!" Laura sedikit gugup mendengar pernyataan dari kakak sepupunya yang tidak mempercayai jika mereka berdua berusaha menerima satu sama lain.
"Apaan sih kak, siapa juga yang bohong" bantah Laura tanpa berani menatap mata Santi.
"Come on Ra dari kecil sampe gede kamu selalu sama kakak, jadi kakak tau kalo kamu lagi bohong. lagian kalo kalian belajar saling mencintai, nggak mungkin Arvin tidur di kasur tipis di luar bukan di kamar" kata Santi berharap agar Laura menceritakan semuanya sedeteil mungkin. bukan maksud untuk ikut campur rumah tangga yang di jalani Laura sekarang. tapi Santi hanya tidak ingin Laura yang sudah di anggap adik nya sendiri, menjalani kehidupan rumah tangga yang tidak sehat.
"Nggak papa kalo emang kamu nggak mau cerita" sambung Santi saat adik sepupunya itu tidak kunjung memberikan jawaban. Laura yang diam-diam melirik wajah sendu itu, akhirnya memberanikan diri menceritakan yang sejujurnya.
"Emmtt tapi kakak janji ya jangan bilang sama Mama atau Papa?" ucap Laura mengangkat jari kelingking.
"Kakak janji!" jawab Santi mengangguk pasti sambil menyambut kelingking Laura seperti yang sering di lakukan sejak dulu setiap ada rahasia antara mereka.
"Sebenernya aku sama Arvin cuma...nikah kontrak" Laura menggigit bibir bagian dalam setelah mengatakan rahasia yang hanya dirinya dan Arvin saja yang tahu. Santi menghela nafas berat, hal yang dia takutkan sedari tadi ternyata benar.
"Ra, kamu tau sendirikan pernikahan itu bukan untuk main-main?" tanya Santi di jawab anggukan kepala oleh Laura.
"Terus kenapa dengan mudah kalian buat kontrak pernikahan? kalian kan bisa belajar memulai kehidupan baru, memulai mencintai dengan tulus satu sama lain" Santi menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Emangnya kamu udah siap dapet gelar Janda? udah siap liat Mama sama Papa sedih saat tau pernikahan anak semata wayang mereka hancur dalam waktu singkat? mereka berdua memang bilang its okay, tapi percayalah dalam hati mereka sangat sakit. jadi udah siap ngehadapin semua itu?"
DEG
Kalimat demi kalimat yang di lontarkan Santi barusan seolah menusuk hati nya. Laura memang pernah berpikir sejauh itu, tapi dia tidak pernah berpikir jika luka yang akan dia torehkan begitu besar nantinya. apakah dia harus belajar mencintai Arvin, menghilangkan satu nama yang mulai mengisi hatinya? lalu bagaimana dengan Arvin? apa dia mau memulai dari awal?
"Entah lah kak, liat kedepannya nanti gimana" jawab Laura merebahkan tubuhnya.
"Kakak cuma mau yang terbaik untuk kamu. ya udah kalo gitu kakak pamit pulang, masih ada pasien yang harus di tangani" Laura pun beranjak turun, mengantar Santi ke depan pintu. setelah itu Laura kembali masuk ke dalam kamar, saat ini dia hanya ingin tidur karena kelopak matanya sudah sangat berat.
Tok Tok Tok
Laura yang baru saja memejamkan mata terpaksa bangun saat suara ketukan pintu yang tidak kunjung berhenti. siapa lagi jika bukan ulah Arvin, entah apa yang di inginkan manusia satu itu.
Ceklek
"Apa?" tanya Laura menyembulkan kepala di balik pintu.
"Laper" jawab Arvin menepuk-nepuk perut yang belum terisi penuh dari semalam. Laura menghela nafas kasar, jika saja tidak mengingat bahwa dia sedang sakit mana mungkin Laura mau membuat untuknya.
20 menit kemudian
"Jadi yang Lo masak selama setengah jam cuma bubur sama telor ceplok doang?" seru Arvin menatap jijik makanan yang ada di hadapannya.
"Jangan cerewet, di sini cuma ada itu" ketus Laura sambil terus memasukkan bubur ke dalam mulut walau masih panas.
"Ya Lo kan tinggal beli ayam atau daging kek ke pasar, gitu aja susah" seketika Laura mendongak saat mendengar perkataan Arvin.
"Pertanyaan gue sekarang, Lo ada duit nya nggak? kalo nggak ada, diem! nggak usah banyak omong, makan aja apa yang ada. karena ini tempet kost bukan mansion mewah" ucap Laura menatap datar, bagaimana bisa dia memiliki suami yang cerewet seperti ini.
"CK..." Arvin hanya mampu berdecak kesal, sebab yang di katakan Laura barusan memang benar. dia sekarang tidak memiliki apa pun, jangankan membeli daging membeli permen pun Arvin tidak bisa karena sekarang dirinya benar-benar miskin. akhirnya mau tidak mau Arvin mengisi perut dengan bubur buatan Laura.
"Thanks, buburnya lumayan" ucap Arvin beranjak, berlalu dari meja makan. setelah membersihkan sisa-sisa makanan, Laura meraih air putih dan obat yang tadi di berikan oleh dokter Santi.
"Kok nggak ada?" gumam Laura yang tidak mendapati keberadaan Arvin di kasur tipis ruang tengah. Laura pun berjalan ke arah pintu keluar saat samar-samar mendengar suara orang yang sedang adu mulut.
"Gue udah bilang, Laura nggak ada di rumah. lagian ngapain Lo nyari bini orang huh?" sentak Arvin mendorong bahu Fiza yang ingin melangkah masuk.
"Kenapa saya cari Laura, itu urusan saya. kamu tidak berhak untuk ikut campur"
"Gue suami sah secara hukum dan agama, jadi gue berhak ngelarang siapapun deketin dia!"
"Oh ya? tapi sayang, saya tetap berjuang untuk merebut Laura dari pria penjahat kelamin seperti anda!" tegas Fiza menarik sudut bibir, seolah sedang mengejek. Arvin yang mendengar hal itu dadanya terasa sesak dan terbakar, entah karena Fiza ingin merebut Laura atau tidak terima di Katai penjahat kelamin. tangannya mengepal erat serta rahang yang mengeras.
"Brengs*ek!" Arvin melayangkan bogem mentah, tepat mengenai mata kiri Fiza.
BUGH
"Fiza" Laura yang baru membuka pintu, sontak memekik kaget melihat Fiza yang tersungkur di lantai.
"Kamu nggak papa?" tanya Laura membantu Fiza berdiri, terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya yang mana membuat hati Arvin semakin terbakar. ada apa dengan dirinya? kenapa dia memiliki perasaan tidak suka melihat kedekatan Laura dengan orang lain? padahal mereka hanya sebatas pasangan kontrak selama tiga bulan, seharusnya wajar jika Laura memiliki hubungan spesial dengan orang lain. toh dia sendiri malahan melakukan hal lebih pada wanita-wanita nya.
"Aku baik-baik aja" jawab Fiza tersenyum tipis, dia bahagia bisa melihat pujaan hati kembali.
"Baik-baik gimana, mata kamu aja sampe nggak bisa buka gitu" omel Laura mengusap perlahan sedikit darah di ujung mata.
"Aawhhh"
"Sorry sorry Fyuuhh" Laura meniup lembut mata Fiza, kemudian berbalik menatap orang yang sudah menyebabkan mata Fiza bengkak.
"Salah apa sampe Lo mukul dia?" tanya Laura dingin, berbeda dari caranya berbicara dengan Fiza yang lemah lembut.
"Gue cuma ngelatih tangan doang, emangnya masalah buat Lo" jawab Arvin memasukkan kedua tangan ke saku celana. laura menghela nafas, percuma berbicara dengan manusia yang otaknya konslet.
*
*
*
Bersambung.....
Dukung karya aku dengan cara 👇
🌳 Like 👍
🌳 Komen Sebanyak-banyaknya 🥰
🌳 VOTE
🌳 Hadiah🙈
🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐