Vania Abigail, wanita cantik yng harus menjadi korban pembunuhan oleh suaminya yaitu Justin Andrian, dengan merencanakan kecelakaan yang seolah itu terjadi secara alami.
beruntung Vania diselamatkan oleh seorang laki-laki dan membantu Vania agar bisa kembali sehat. Namun karna luka bakar yang dialaminya cukup serius, sehingga mereka memutuskan untuk mengoperasi dan memberikan Vania identitas baru sebagai Elena Sinclair.
Balas dendam dengan menghancurkan rumah tangga mantan suami adalah tujuan Elena mulai detik ini.
Ia kan menggoda Justin dengan berbagai macam cara dan membuatnya jatuh cinta, lalu meninggalkannya setelah Justin kembali merasakan cinta dari seorang Elena.
Apakah Elena mampu menjadi seorang pelakor seperti sumpahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bucin fi sabilillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Romantis?
"Mas, ayo kita makan diluar!" Ajak Reema dengan manja.
Sementara Justin masih berkutat dengan dokumen-dokumen yang harus ia selesaikan segera. Pikirannya sedang kacau karena tidak bisa menemukan bukti sedikitpun tentang kejahatan Rexy.
Jika ingin membalas, ia harus mencari orang yang memang benar-benar profesional agar tidak menghancurkan rencana dan hidupnya dikemudian hari.
"Mas?" Panggil Reema lirih.
Ia sudah habis akal menyuruh Justin untuk mengisi perut. Karena sedari tadi, selain air putih tidak ada yang dimakan oleh pria tampan itu.
"Bersiaplah!" Ucap Justin membereskan semua map yang ada dimejanya.
Reema tersenyum, ia segera menggandeng tangan Justin dan segera bersiap untuk pergi makan malam romantis yang sudah ia siapkan.
"Mas, bagaimana kejadian tadi pagi, apa sudah ada kejelasan?" Tanya Reema dengan hati-hati.
"Tidak ada. Semuanya bersih tanpa bukti!" Ucap Justin menatap lurus kedepan.
Saat ini mereka sedang berkendara, menuju salah satu restoran bintang lima yang berada tak jauh dari rumah mereka.
"Mas, apa kita akan aman untuk selanjutnya?" Tanya Reema.
"Aku tidak tau, Honey. Semoga saja mereka tidak berani untuk berbuat lebih!" Ucap Justin.
"Mas, besok temani aku ke dokter ya," Ucap Reema.
"Dokter apa? Kamu sakit?" Ucap Justin terkejut.
"Ih, tapi katanya mau aku hamil, gimna sih Mas?" Ucap Reema kesal.
"Astaga, Honey. Ngomong itu lengkap-lengkap dong! Mas aku mau ke dokter kandungan, gitu!" Ucap Justin terkekeh.
"Kamu aja yang gak konek, Mas!" Ucap Reema kesal.
"Haha, maaf Honey. Besok kita ke dokter kandungan, ya. Aku carikan dokter terbaik di kota ini untuk kamu!" Ucap Justin membelai kepala Reema dengan lembut.
"Mas, ada perempuan yang waktu itu mengecup pipimu di cafe, kamu tidak bertemu dengan dia lagi kan?" Tanya Reema sembari menatap Justin dengan serius.
Deg!
Pria tampan itu gelagapan, namun ia masih berusaha untuk mengendalikan diri agar Reema tidak mengetahui kebenarannya.
"Tidak, Honey. Lagian itu hanya kebetulan saja!" Ucap Justin mengelak.
"Beneran? Ah, kamu kan buaya, Mas. Aku gak percaya kalau kamu tidak bertemu dengan dia!" Ucap Reema ketus.
"Kamu kan tau kondisi perusahaan sedang tidak stabil. Lalu bagaimana aku bisa membuang waktu untuk mencari tahu perempuan itu, sementara pekerjaanku banyak? Lagian aku sudah memiliki istri yang cantik, bohay dan semok!" Ucap Justin dengan mulut manisnya.
"Jangan memujiku seperti itu, Mas!" Ucap Reema dengan wajah yang merona.
Walaupun pada awalnya ia memiliki niatan buruk kepada Justin, namun melihat perhatian dan cinta yang diberi oleh pria tampan ini, membuatnya juga merasakan jatuh cinta.
Terkadang ia mendua dengan rekan kerjanya, namun Reema tetap merasakan cinta Justin sama besar dengan napsu yang dimiliki oleh pria tampan itu.
"Ah, aku menanti hari dimana ada seorang bayi mungil yang lahir ke dunia, menyambutku pulang dan memanggilku Papa," ucap Justin dengan wajah antusias dan juga merona.
Mas, segitu inginnya kamu untuk memiliki anak? Sungguh aku belum memikirkannya sama sekali!. Batin Reema sendu.
Mereka terus mengobrol, hingga mobil berhenti di halaman restoran itu. Reema dan Justin segera keluar dari mobil. Berjalan bergandengan tangan, menempati meja yang sudah dipesan sebelumnya.
"Malam ini sedikit terasa lengang ya, Mas?" Ucap Reema menatap sekitarnya.
"Sepertinya begitu, Honey. Ah iya, kamu sudah memesan makanan?" Tanya Justin menatap Reema dengan genit.
"Sudah, Mas," ucap Reema masih menatap ponselnya.
Ia sedikit mengangkat kepala dan menatap kearah Justin. "Jangan tersenyum seperti itu, Mas. Kamu mesyum banget!" Ucap Reema bergidik.
"Haha, tunggu nanti malam ya, Hon. Aku sudah merasa ribuan tahun tidak menyentuhmu!" Ucap Justin tersebut semakin genit.
"Jangan gila, Mas! Besok pagi, kamu ada meeting penting dan aku juga ada kerjaan, jangan macam-macam!" Ucap Reema memperingati Justin.
"Haha, macam-macam juga sama istri sendiri!" Ucap Justin.
Namun ia terdiam ketika matanya menangkap sosok yang begitu familiar dan sangat ia rindukan selama berada di London.
"Mas, apa kamu melihat sesuatu?" Tanya Reema mengernyit dan menatap sekeliling Restoran yang terlihat tidak terjadi apa pun.
"Tidak ada, Aku pikir melihat rivalku di sini, ternyata hanya mirip! Ayo kita makan!" Ucap Justin mengelak.
Reema tersenyum dan terus bercerita banyak hal dengan anggun kepada Justin. Sementara pria tampan itu mencuri-curi pandang kepada sosok yang ia lihat tadi.
Siapa lagi kalau bukan Elena. Wanita cantik yang mulai merasuki hatinya. Terlihat duduk sendiri tanpa pasangan, kecuali sang supir pribadi yang siaga 24 jam untuknya.
Baby, apa ini kebetulan atau memang kita berjodoh?. Batin Justin senang.
"Mas, aku merasa senang hari ini, karena jarang-jarang kita memiliki waktu seperti ini," ucap Reema tersenyum bahagia.
"Aku juga, Hon. Makanya, kalau sudah malam itu segera pulang. Karena aku sudah berada di rumah!" Ucap Justin menyuapi Reema sepotong danging.
"Ah, besok akan aku usahakan agar kita bisa makan malam di rumah terus bareng-bareng," ucap Reema manja.
Elena menatap sepasang sejoli itu dengan berbagai macam siasat untuk mendekati mereka dan mengganggu Reema.
Membuat wanita cantik itu malu di depan umum, walaupun nanti ia juga akan merasakan dampaknya. Namun itu adalah resiko yang harus ia hadapi.
Pandangan matanya bertemu dengan Justin. Elena tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Justin juga tersenyum namun membatasi diri untuk melakukan kotak dengan Elena.
Reema menyadari sesuatu, ia menatap arah pandang Justin. Sesuatu hal berhasil memancing emosinya. Namun sebisa mungkin ia tahan karena ini di tempat umum dan tidak bagus untuk reputasinya nanti.
"Mas, habiskan makananmu! Siapa yang kamu lihat Mas? Apa aku tidak lagi menarik untuk dipandang?" Tanya Reema memotong danging dan memakannya.
"Hmm? Tidak ada yang menarik, Hon. Aku hanya kepikiran tentang sesuatu!" Ucap Justin tersenyum.
"Apa?" Tanya Reema mengernyit.
"Gaya apa yang akan kita praktekan malam ini?" Ucap Justin.
Wajah Reema langsung merona mengingat semua gaya yang Justin berikan membuatnya semakin tidak bisa berpaling dan menolak.
"Kamu genit banget, Mas. Aku tidak akan bisa mengampunimu jika ketahuan genit sama perempuan lain!" Ucap Reema mengancam Justin.
Ia menusuk daging itu dengan keras dan membuat Justin terkekeh geli. Padahal kamu bermain diluar sana, tetapi aku tidak pernah berfikir untuk menyakiti. Lebih baik, aku kembalikan kamu kepada orang tuamu, Reema. Batin Justin mennyiratkan luka.
"Gak akan Honey, selama kamu gak genit sama laki-laki lain," Ucap Justin tersenyum.
Reema tergagu. Apakah Justin mengetahui permainanku di luar?. Batin Reema.
"Kamu kan tau kalau aku setia sama kamu, Mas. Tiga tahun pun aku tetap sabar menunggu untuk kamu nikahi!" Ucap Reema tersenyum.
"Ah, syukurlah. Aku tidak ingin menikahi lagi, kalau sampai pernikahan kita berada lama masalah!" Ucap Justin tersenyum dan menggenggam tangan Reema.
"Aku mencintaimu, Mas!" Ucap Reema membalas genggaman tangan Justin.
"Aku juga mencintaimu," Ucap Justin. Elena. Batinnya