Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*32
Mika benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Karena apa yang Paris ucapkan barusan itu terlalu mendadak untuk Mika. Dia bingung. Sangat bingung dengan keadaan saat ini. Entahlah. Suami barunya itu cukup sulit untuk dia tebak ke mana arahnya yang sesungguhnya.
"E ... Mika, lupakan apa yang baru saja aku katakan." Paris berusaha mengalihkan obrolan mereka. Dia yang terbawa suasana, malah bicara ngelantur sesuka hati. Karenanya, dia tidak ingin pembicaraan aneh itu terus berlanjut.
Paris melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Sudah waktu makan siang. Mika mau makan apa? Aku pesan makanannya sekarang."
"Makan ... apa-apa saja boleh."
"Apa-apa saja? Bagaimana kalau ayam rendang?"
"Ayam rendang? Bisa."
"Mm ... ya sudah kalo gitu, aku pesan sekarang."
"Oh iya. Nanti, setelah makan, aku temani kamu belanja. Rumah ini gak ada makanannya. Akan sulit jika kamu pergi sendirian. Jadi, kita akan belanja berdua. Bagaimana? Keberatan tidak?"
"Ah, itu ... boleh juga. Kalo Mas Paris gak sibuk."
"Tentu saja tidak." Paris terlihat bahagia dengan persetujuan Mika.
"Oh iya, Mik."
"Hm? Ada lagi?"
"Aku sudah carikan asisten rumah tangga yang akan membantu kamu mengurus rumah. Orangnya akan datang nanti sore. Kamu bisa nilai orang itu dengan pandangan mu. Jika kamu tidak suka, kamu bisa katakan padaku. Aku akan menggantikannya dengan yang lain. Semua terserah kamu. Asal kamu puas, aku juga akan merasakan hal yang sama."
Mika cukup terharu akan kata-kata yang Paris ucap. Semakin mengenal Paris, semakin Mika merasa nyaman dan bahagia dengan kehadiran pria tersebut. Walau begitu, walau hati merasa nyaman bahkan mungkin sudah tumbuh rasa suka. Mika cepat-cepat menyadarkan dirinya akan siapa dia, lalu, siapa pula Paris.
'Mika. Dirimu hadir karena dipaksakan. Jangan lupakan akan hal tersebut. Sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik, alias salah. Hal yang salah cepat atau lambat akan diubah, Mika. Ingatlah akan hal itu,' ucap Mika dalam hati.
*
Makanan yang Paris pesankan sudah tiba. Mereka berdua makan bersama di meja makan. Sambil makan, Paris terus mencuri pandang untuk memperhatikan wajah istri barunya itu.
"Mm ... Mika."
"Iya?"
"Boleh aku tahu apa makanan yang kamu suka? Dan, apa yang tidak kamu sukai. Ah, iya. Apa kamu punya riwayat alergi terhadap sesuatu, Mika?"
Mika yang sedang mengunyah makanan perlahan mengangkat wajahnya. Gerakan Mika melambat. "Aku ... tidak punya riwayat alergi, Mas. Tapi, kalo untuk makanan yang aku suka. Sepertinya, aku suka semua makanan. Terutama, cemilan dan buah-buahan. Aku sangat suka dua jenis makanan ini. Namun, meskipun begitu, aku cukup pemilih jika disuguhkan makanan laut. Ada banyak jenis ikan yang tidak aku sukai."
Penjelasan panjang lebar kali tinggi yang Mika ucap langsung Paris tanggapi dengan anggukan pelan. Usaha Paris untuk mengenal Mika lebih dekat cukup untuk diacungkan jempol. Pria ini sangat istimewa sebenarnya. Ketika dia tertarik pada seseorang, dia perlahan akan menunjukkan rasa sukanya secara terang-terangan. Lalu, akan dia pertahankan orang yang dia sukai itu dengan segala cara.
"Oke. Sekarang aku sudah tahu. Ayo lanjutkan makan siangnya. Setelah itu, istirahat."
Mika hanya bisa menjawab dengan anggukan pelan. Wajah si wanita masih terlihat sedikit bingung akan apa yang baru saja terjadi. Namun, Mika tidak ingin banyak bicara. Dia melanjutkan makan siangnya dengan cepat, lalu bersiap-siap untuk istirahat setelah membereskan meja makan.
Hari baru yang panjang itu belum berakhir. Karena akan ada tantangan yang lebih besar lagi yang akan Mika lewati bersama Paris. Tepatnya, saat Paris mengajak Mika untuk berbelanja bahan makana di mall.
Hm, Mika canggung bukan kepalang ketika tempat tujuan mereka sudah di depan mata. Dia yang tidak pernah berbelanja bersama pria lain, kali ini mencoba hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
"Ada apa, Mi?"
"Ah, ti-- tidak. Aku hanya ... hanya sedikit canggung, Mas. Ini ... pertama kalinya aku belanja dengan laki-laki," ucap Mika sambil nyengir terpaksa.
Paris tersenyum lembut. "Tidak ada yang berbeda, Mika. Mau kamu belanja sendiri, atau belanja dengan aku. Jatuhnya akan sama saja. Ah, kalau tidak begini saja. Anggap aja aku gak ada. Kamu bisa belanja sesuka hatimu. Bagaimana?"
"Hah? Anggap kamu gak ada? Caranya gimana?"
Jujur, Mika benar-benar bingung. Tapi Paris malah tidak ingin membiarkan Mika berpikir terlalu lama. Dia raih tangan Mika dengan lembut, lalu dia bawa berjalan. Mau tidak mau, yang punya tangan hanya bisa menurut dengan pasrah. Mengikuti langkah kaki Paris yang menuntun Mika berjalan ke tempat yang ingin mereka tuju.
Awalnya canggung, tapi karena bimbingan Paris, Mika malah merasa nyaman. Bahkan, berbelanja membuat hati Mika bahagia. Mulai dari memilih bahan makanan, hingga beberapa kebutuhan lainnya untuk rumah baru mereka. Semuanya mereka pilih bersama-sama.
Mika tersenyum bahagia. Hari ini, karena sikap Paris padanya, dia mendadak lupa akan status dirinya yang tak lain adalah orang ketiga. Mika lupa batasan diri karena telah terbawa suasana.
"Nah, semuanya sudah di beli. Sekarang, ayo ke sana!" Paris berucap sambil mengarahkan pandangan ke bagian pakaian.
"Ke ... mana?"
"Ikut saja. Kamu juga akan tahu nantinya."
"Tapi-- "
Paris tetap tidak ingin menunggu Mika untuk menyelesaikan ucapan. Tangan Mika kembali Paris tarik menuju ke temat yang ingin Paris datangi.
"Pakaian?"
"Hm."
"Kenapa ke sini, Mas? Aku ... tidak butuh ini."
"Siapa bilang kamu tidak butuh, Mi? Itu lemari kosong yang ada di pojokan kamar gak ada isinya lho."
"Tapi, kan-- "
"Mikaila. Ayo coba!" Paris malah memberikan sepasang baju ke tangan Mika. "Sepertinya, ini cocok untuk kamu, Mi."
"Apa? Ini .... " Tentu saja yang Mika lihat pertama-tama bukan model dari baju tersebut. Melainkan, harganya. Maklum, Mika adalah gadis yang sudah terbiasa hidup sederhana. Semuanya pasti dia lihat dari harga jika ingin membeli sesuatu.
"Harganya." Mata Mika membulat ketika melihat harga baju yang ada di tangannya.
"Harga? Kenapa?"
Dengan gerakan cepat, Mika menyodorkan baju yang ada di tangannya ke tangan Paris. "He, tidak, Mas. Aku tidak tertarik dengan modelnya. Yang lain saja." Mika nyengir tak enak.