Devan Pramudya, pemuda tampan ini harus terpaksa menyaksikan perbuatan tak senonoh calon istrinya tepat di depan mata. Pernikahan yang beberapa hari lagi akan digelar terancam batal.
Rina yang tak ingin anaknya mendapatkan reputasi buruk dan mencoreng nama perusahaan itu, mendesak Devan untuk tetap melanjutkan pernikahan.
Arabella Maharani, gadis penjual susu kedelai ini tak sengaja menabrak mobil Devan. Alhasil, mobil tersebut memiliki kerusakan membuat Arabella harus bertanggung jawab.
"Menikahlah denganku!" seru Devan.
"Apakah kau gila? Aku menabrak mobilmu. Apakah otakmu juga ikut mengalami kerusakan?!" ketus Bella.
"Bukankah ini tawaran yang langka, Nona? Banyak wanita yang ingin mendapatkan tawaran ini. Lagi pula jangan sok jual mahal! Tampangmu sama seperti botol susu yang kau bawa," ucap Devan sinis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Table Manner
Siang ini Rina, Bella, dan juga Mayang tengah berada di ruang makan. Setelah melalui latihan berjalan yang cukup memakan waktu lama. Kini gadis itu dibawa ke ruang makan untuk mempelajari sesuatu.
Tak lama kemudian, datang tiga orang pelayan yang tengah membawakan tiga hidangan.
Pelayan pertama meletakkan piring yang berisi steak. Lalu pelayan kedua menaruh mangkuknya ke atas meja yang berisi sup. Dan pelayan yang terakhir, membawa piring yang hanya berisi satu buah pisang saja.
Hidangan yang pertama dan kedua menurut Bella lumayan. Namun, saat melihat satu buah pisang yang diletakkan di atas membuat Bella cukup tertegun.
"Di sini Mayang akan mengajarimu tata cara makan," ujar Rina.
"Tata cara makan?" tanya Bella bingung.
"Iya. Aku perhatikan caramu menyantap hidangan sangatlah kacau. Terkadang kau makan terlalu tergesa-gesa, serta cara kau yang menyudahi makananmu yang menurutku kurang sopan," terang Rina lagi sembari bersedekap.
Bella terdiam sembari mendengarkan ucapan mertuanya. Sementara mata gadis itu tak luput dari makanan yang ada di hadapannya. Bella meneguk air liurnya saat melihat steak yang tampaknya sangat lezat. Cacing yang ada di dalam perutnya mulai berdemo untuk minta diisi.
"Bella, apakah kau mendengarkan mama?" tanya Rina saat menyadari pandangan menantunya tak luput dari makanan yang ada di depannya.
"Ah, iya Ma." Bella langsung mengarahkan pandangannya pada Rina.
"Kau tahu, terhitung sejak dimana kau menjadi menantuku, berarti kau juga sudah termasuk orang penting. Nanti orang-orang baik dari rekan bisnis atau pun pertemuan penting lainnya akan mengundang Devan dalam jamuan makan. Tentu saja Devan akan mengajakmu yang notabenenya adalah istrinya. Maka dari itu, agar kau tidak mempermalukan dirimu, kau harus tahu tentang table manner," papar Rina panjang lebar.
"Jelaskan padanya apa itu table manner, Mayang." Rina langsung melayangkan pandangannya pada pelayannya itu.
"Baik Nyonya."
"Table manner adalah sebuah aturan yang digunakan ketika sedang mengonsumsi makanan, termasuk didalamnya penggunaan alat-alat makan serta posisi duduk yang baik," terang Mayang.
"Bawa steak itu ke hadapannya!" titah Rina.
Mayang mengangguk. Wanita tersebut mendekatkan piring yang berisi steak tepat di hadapan Bella. Wanita itu juga meletakkan beberapa alat makan di hadapan Bella serta serbet.
"Pilih salah satu alat makan apa yang akan kau gunakan untuk menyantap hidangan yang ada di depanmu," tukas Rina.
Bella menggeser kursinya meraih pisau serta garpu yang ada di depannya. Hal itu sontak membuat Rina langsung mendecak kesal.
"Menantuku, tegapkan badanmu. Jangan menggeser kursi!" sergah Rina.
Rina mengambil posisi duduk tepat di samping menantunya. Bella memperhatikan gerak-gerik Rina yang dimulai dengan meletakkan serbet di paha. Badannya yang tegap dengan menatap ke depan tanpa memperhatikan makanan yang terlalu berlebihan.
Bella pun mulai menirukan pergerakan mama mertuanya dari posisi duduk maupun cara Rina memotong daging yang ada di hadapannya dengan cara yang elegan.
Rina meletakkan kembali alat makannya setelah memasukkan tiga suapan ke dalam mulutnya.
"Baiklah, sekarang kita lanjut dengan supnya," titah Rina.
Mayang pun kembali berjalan ke depan, meletakkan mangkuk sup tepat di depan Bella.
"Untuk hidangan kali ini, alat makan apa yang akan kau gunakan?" tanya Rina.
Bella mengambil sendok yang ada di depannya. Rina pun mengangguk. "Silahkan digunakan, aku ingin melihat caramu memakannya," ujar Rina.
Bella sedikit ragu. Ia pun mencelupkan sendok tersebut ke dalam sup dan kemudian meniupnya perlahan lalu menyeruput kuah sup tersebut hingga mengeluarkan suara.
Lagi-lagi Rina mendecak kesal.
"Makanlah tanpa bersuara Bella!" Rina tampak mulai frustasi dengan menantunya ini.
Rina pun mengambil alat makan yang ada di depannya. Ia memperagakan cara memakan sup tersebut. Ia menyendokkan supnya ke arah luar.
Bella lagi-lagi mengangguk dan kemudian menirukan cara mertuanya itu menikmati sup tersebut.
Setelahnya mereka pun lanjut dengan hidangan ketiga yaitu satu buah pisang.
"Kali ini, alat makan apa yang akan kau gunakan untuk menyantap pisang itu? tanya Rina.
Bella langsung tertegun sembari memperlihatkan wajah bodohnya. "Apakah memakan satu buah pisang harus menggunakan alat makan. Atau jangan-jangan ini jebakan mama untuk mengecohkanku," batin Bella
Dengan penuh percaya diri, Bella langsung mengambil pisang tersebut dengan tangannya. Gadis itu membuka kulit pisang itu dengan cepat dan langsung memasukkannya ke dalam mulut.
Dan kini, Rina lah yang tertegun. Ia menatap sang menantu dengan mata yang terbelalak.
"Auhh ... Lama-lama bisa darah tinggi aku," gumam Rina seraya memegang tengkuk lehernya.
Bella pun langsung menghentikan makannya. Perlahan ia menatap ke arah Rina. "Apakah aku salah, Ma?" tanya Bella dengan wajah polosnya.
Rina hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia beranjak dari tempat duduknya.
"Mayang, tolong kau ajarkan menantuku ini. Aku butuh istirahat dulu," tukas Rina memperlihatkan wajah muramnya.
"Baik, Nyonya."
Rina pun langsung berjalan meninggalkan ruang makan. "Bisa-bisanya ia memakannya dengan sangat percaya diri. Bukan hanya Devan saja, kali ini menantuku juga cukup memusingkan kepalaku," gerutu Rina.
Sepeninggal Rina, Mayang kembali menghidangkan piring yang berisi satu buah pisang ke hadapan Bella.
Ia juga mengambil satu buah pisang untuk digunakan sebagai contoh.
Mayang meraih pisau dan garpu. Hal tersebut tentu saja membuat Bella terkejut. Biasanya ia memakan pisang langsung dengan tangannya, tetapi kali ini pisau dan garpu lah yang digunakan untuk mengeksekusi pisang tersebut.
Mayang memotong kedua sisi bagian ujung pisang. Lalu ia pun membelah bagian tubuh pisang secara perlahan. Setelah isi dalam pisang terlihat, Mayang memotongnya hingga beberapa bagian. Dan pisang pun siap disajikan.
"Contohnya seperti ini, Nyonya. Silahkan anda praktikkan," ujar Mayang.
"Orang kaya memang beda. Mereka bahkan memilih cara yang rumit untuk sekedar menyantap satu buah pisang saja," batin Bella.
Gadis itu pun segera melakukan cara membuka pisang yang sesuai seperti diajarkan oleh Mayang tadi.
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, atau vote jika ada.
Yang belum favorit, yuk difavoritkan supaya mendapatkan notifikasi update terbaru nya~
Ig: ayasakaryn24