NovelToon NovelToon
Dear Khadijah

Dear Khadijah

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cintamanis / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:242.6k
Nilai: 5
Nama Author: AYSEL

Di pertemukan oleh waktu, di persatukan oleh takdir.
Namun, di pisahkan oleh ketamakkan.

Aishleen Khadijah dan Albiru Adityawarman.

Dua insan berbeda karakter, awal pertemuannya begitu unik.
Diam-diam saling mengagumi dan melangitkan nama masing-masing dalam doa.
Hingga pada akhirnya dipersatukan oleh takdir.
Saat kebahagiaan tengah menyelimuti keduanya, mereka harus terpisah oleh ketamakkan.

Takdir buruk apa yang memaksa mereka harus berpisah?
Akankah takdir baik menyertai keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYSEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertikaian Mama dan Barid

...19. Pertikaian Mama dan Barid....

Khadijah.

Plakk!!!

Tangan mungil itu mendarat tepat dipipi Barid. Ialah tangan Senja, sorot mata tajamnya merah menyala meski penuh dengan bulir-bulir bening dikelopak mata.

“Kamu ngomong apa, Barid! Bisa-bisanya kata kotor itu keluar dari mulut kamu!” Senja histeris dan menangis tersedu. Kerah kemeja Barid ditarik paksa olehnya. “Minta maaf sama Abang! Sekarang!” teriak Senja.

“Mah... Udah, Mah. Sabar... Jangan kayak gini, malu dilihat banyak orang,” seseorang yang mirip dengan Biru mencoba melerai, memeluk Senja dan mencoba menenangkan.

“Pah... Barid, Pah. Beraninya dia ngomong kayak gitu sama anak kita,”

“Barid tau, Mah! Barid tau Abang bukan anak Mama! Dia cuman anak ja lang yang suka pamerin tubuhnya di luar sana!”

Plakk!! Sekali lagi, tangan itu kembali mendarat ditempat yang sama. Membuat Barid terhuyung mundur beberapa langkah. Barid mengambil kembali baju toga yang ia campakkan tadi, lalu pergi meninggalkan mereka dengan luapan emosi. Laki-laki itu masih sempat menyenggol kencang bahu Biru, hingga membuat sang pemilik bahu sedikit terhuyung.

“Astaghfirullahaladzim, Pah....”

“Sabar, Ma... Kita pulang, ya,”

“Tapi Barid...” Pria yang disebut Papa oleh Senja itu membantu Senja berdiri, lalu berjalan meninggalkan tempat.

Kha sendiri berdiri diam membatu. Pandangannya kosong kedepan, tapi pikirannya berkecamuk selayaknya peperangan. Apakah ia adalah sumber dari pertikaian ini? Kha mengalihkan pandangan, melihat Biru tertunduk lesu dibawah pohon beringin. Ia menarik paksa kaki untuk melangkah mendekati Biru, meski tulang kakinya seakan lepas dari sendi.

“M-mas...” Biru menoleh mendengar namanya dipanggil. “Maafkan aku, aku nggak bermaksud buat keluarga kamu seperti ini.”

Biru tak merespon. Pria di sampingnya itu terdiam seribu bahasa. Gentar dan Dipa hanya mengawasi dari sisi lain, mungkin mereka sengaja memberi Kha dan Biru ruang untuk bicara.

“Ternyata Barid beneran suka sama kamu,” gumamnya nyaris tak terdengar. Kha bisa melihat dengan jelas saat Biru tersenyum sinis dalam tundukannya.

“Maksud, Mas?”

Biru menoleh, seketika Kha membuang pandangan. “Aku curiga Barid suka sama kamu, ternyata benar. Adikku benar-benar kesana cuma buat kamu.”

Kha semakin tak tahu kemana arah pembicaraan Biru.

“Kenapa kamu tolak Barid?”

Kha berdiri. Ia kembali merapikan tasnya. “Maaf jika aku membuat keluarga kamu menjadi seperti ini, sungguh ini diluar kuasaku. Tolong sampaikan maafku pada Tante Senja, aku pamit, biar aku dan Dipa naik taksi. Assalamualaikum.”

Baru berapa langkah, Biru telah menyusul didepannya. Seraya mengatakan mereka akan pulang bersama. Sebenarnya Kha berharap Biru akan membiarkan ia dan Dipa pergi tanpa mereka. Melihat pertikaian keluarga di hadapannya saja sudah membuat dirinya cukup merasa bersalah. Lebih lama berada didekat Biru justru akan membuatnya semakin tertekan. Tetapi Biru tetaplah Biru. Apa yang dia bicarakan, maka yang lain harus mengikuti. Pada akhirnya ia tetap kembali bersama Biru.

...🌼🌼🌼🌼🌼...

Biru.

Selepas menurunkan Kha, Dipa, dan Gentar di ruko, ia kembali menarik tuas mobil. Tujuannya adalah rumah, ia tak sempat menenangkan Senja apalagi Barsha. Kedua perempuan itu pasti sama shocknya seperti dia.

Barid, bagaimana bisa Barid menyebut Jihan dengan sebutan Ja Lang. Kedua adiknya bahkan belum ada yang bertemu dengan Jihan secara langsung.

Biru ingat, Barid juga pernah membicarakan tentang ini dengan Kha. Perihal Ibu mereka yang berbeda.

“Den Biru, pulang?” sapa Pak Lukman. Wajahnya menyiratkan banyak pertanyaan. “Tuan, Nyonya, sama Den Barid baru kembali.” sambungnya. Biru berlarian masuk kedalam rumah.

“Dari dulu, Mama cuma sayang sama Abang! Ngeduluin Abang, mentingin Abang! Mama pilih kasih sama aku!”

“Kalian semua anak, Mama! Nggak ada yang berbeda! Mama selalu ngasih perhatian sama rata!”

Terdengar jelas teriakan Barid disusul jerit tangis Senja. Biru ingin menghampiri mereka dan melerai, menenangkan Barid lalu memeluk Senja. Tetapi Awan lebih dulu mencegah saat kakinya baru menginjak tangga tengah. Ia pun duduk ditengah tangga, bersama Awan yang berdiri membelakangi.

“Mama ingat? Setiap pengambilan rapor disekolah dan waktunya bersamaan. Mama selalu milih ambil punya Abang ketimbang punya aku. Mama selalu banggain Abang didepan teman-teman Mama. Abang selalu dinomor satukan sama Mama. Selalu Abang dan Abang. Mama lebih perhatian ke Abang! Mama lebih sayang Abang! Sedangkan Barid sama Acha cuma menjadi prioritas setelah Abang,”

“Kamu salah, Nak... Mama nggak pernah bedain kalian. Kalian semua anak Mama, semua mendapatkan kasih sayang yang sama dari Mama,”

“Jangan sekalipun menganggap Mama membedakan kalian, karena kalian tidak ada yang berbeda dimata Mama. Abang memang tidak terlahir dari rahim Mama, tapi Abang tetap anak Mama. Dia tetap anak pertama Mama, dan kamu adiknya,”

“Barid nggak tahu apa saja yang sudah Abang lewati untuk bertahan selama ini. Barid nggak perlu tahu juga. Tapi kamu juga nggak boleh lupa, perlakuan Bang terhadap kamu selama ini. Apakah Abang pernah melakukan kesalahan yang bikin Barid sakit?”

“Enggak, Nak. Abangmu nggak akan lakuin hal itu. Seandainya Barid yang ada di posisi Biru, Abang kamu nggak akan mengatakan hal buruk seperti apa yang sudah kamu katakan hari ini.”

Bulir kristal lolos begitu saja dari mata elang Biru. Mendengar Senja menangis sangat melukai hatinya. Tangisan Senja selalu menarik paksa ingatannya, tentang betapa menderitanya seorang Ibu berjuang melahirkan anak. Lalu hari ini, ia mendengar dengan telinganya sendiri. Perempuan yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan seorang anak, tengah beradu mulut dengan nada tinggi bersama anaknya sendiri. Sakit, Biru merasa sakit sekali mendengarnya.

“Padahal sudah jelas Abang bukan anak, Mama. Masih aja dibelain!”

“Mama sudah bilang Abang anak Mama! Barid sama Barsha juga anak Mama. Kalian semua sama dimata Mama.”

“Tapi tetap saja Abang anak Jihan, Ma. Model majalah dewasa itu!”

“Abang anak Mama, Nak. Anak Mama!”

Biru semakin meringis, hatinya sangat sakit mendengar pertengkaran adik dan Mamanya yang tak kunjung usai. Disembunyikan wajahnya diantara lipatan tangan.

“Abang Barid harus tahu... Kalau bukan karena Abang Biru, Mama nggak akan pernah melahirkan anak-anak hebat seperti kamu dan adikmu,”

“Apa maksud, Mama?”

Tak ada jawaban dari Senja. Biru hanya mendengar langkah kaki lalu pintu yang tertutup. Kemungkinan Mama menyudahi begitu saja, lalu masuk kedalam kamar. Keadaan pun menjadi hening setelahnya.

“Kembali ke studio. Adikmu pasti perlu waktu sendiri, biar Papa yang urus Mama.”

Biru mengusap wajahnya yang sudah dipenuhi air mata. Ia hanya mengangguk menyetujui perintah Awan.

“Abang....”

Biru lekas memeluk Barsha yang duduk diruang tengah. Mengusap lembut punggung Barsha.

“Mama sama Bang Barid kenapa?” tanya Barsha dengan suara lirih.

“Jangan khawatir, Mama sama Barid cuma salah paham. Biarkan mereka sendiri dulu, Acha bisa tidur dikamar Abang.” saran Biru. Acha memang sudah besar, tapi tetap terlihat seperti anak TK yang menggemaskan karena tingkah manjanya. Pasti hal ini juga berat untuknya, karena sejauh ini keluarga mereka tidak pernah bertengkar sampai seperti ini.

“Abang balik ke studio. Acha jagain Mama, ya.” Barsha mengangguk. Biru mendaratkan kecupan dikepala sang adik sebelum meninggalkan rumah.

1
Siti Dede
Jahatnya Bariid
Ita Yuhana
nyesek q bacanya 😭😭😭😭
Ita Yuhana
pedes banget itu mulut barid
Ita Yuhana
kayaknya sama" ada rasa nich .... asyik lanjut kk
Najwa Najwa
😭😭😭😭😭
NUR NAZEERAH: Najwa-Najwa
total 1 replies
Qin one
lihat judulnya, penasaran
baca bab awal,mulai tertarik
baca bab 2,mulai suka
q lanjut baca ya kak author, makasih 🙏😉
Bunga Dwi Femina
kadang heran aku sama yg novelnya bagus yg baca cuman sedikit,yg tulisannya amburadul malah dapet milestone,semangat ya kak ditunggu novel2 berikutnya
Bunga Dwi Femina
barid lebih cocok JD anaknya Jihan,sama2 ambisius,kalo biru malah kek senja...santaiiiii
Firzanah Ghassani
sangat puas sama endingnya. alurnya pun gk begitu berat. trima kaaih thor
RosE
Bagus banget ceritanya... q sampai nangis bacanya 🥺 thanks ya Thor, sudah menyuguhkan cerita yg lain dari yang lain... sampai marathon bacanya, penasaran gimana cerita selanjutnya... semangat terus berkarya ya... 💪❤️
Eka Suryati
Kha wanita soliha
Eka Suryati
Awal kisahmu dimulai Kha
Eka Suryati
Wanita anggun nan soleha
Eka Suryati
Kha....senang sekali
Eka Suryati
Aamiin
Eka Suryati
absen, komen dan Next
Eka Suryati
Next
Eka Suryati
Keren kok Kha
Eka Suryati
Muslimah sesungguhnya
Eka Suryati
Tidak.mengenal pacaran👍🏻👌🏻💪🏻💪🏻
karena akan ada tahap yang namanya ta'aruf
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!