Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 AZKA
Pintu kamar hotel dimana Anita Tumbler bersama Alana kecil terdengar diketuk pelan dari arah luar.
Anita bergegas bangun dari atas tempat tidur private hotel miliknya lalu berjalan ke arah pintu.
"Siapa ?"
Sapanya seraya membuka pintu kamar hotel dia tinggal bersama Alana kecil.
"Krek..."
Pada saat pintu hotel terbuka lebar olehnya, muncul Azka kecil sedang berdiri tepat menghadap ke arah Anita.
"Azka..."
Anita langsung berjongkok di depan Azka yang sedang berdiri dengan rambut ikalnya yang awut-awutan.
"Ada apa sayang, kau tidak bisa tidur, ya ?"
Anita bertanya pada bocah laki-laki berwajah tampan itu.
Azka kecil menjawab dengan anggukkan kepala pelan seraya mengusap-usap matanya.
"Apa kau mau bergabung bersama kami di kamar ini ?"
"Ya..., Anita..."
Azka menyahut ucapan Anita Tumbler seraya menatap kepada wanita abadi itu.
"Mari ikut denganku, Azka !"
Anita mengulurkan tangannya kepada bocah laki-laki yang merupakan kembaran Alana kecil lalu disambut oleh Azka kecil.
Senyum Anita mengembang di wajah cantiknya yang awet muda serta abadi.
"Kita bergabung bersama di kamar ini, sayang !"
"Ya, Anita..."
Tampak Alana kecil melompat turun dari atas ranjang tidur hotel sembari menggendong Tarsius Wilson dan menghampiri Anita serta Azka kecil.
"Hai, Azka, kau seharusnya memanggil sama denganku, mama Anita bukan hanya dengan nama saja !"
Alana kecil mendorong pelan dada Azka yang merupakan kembarannya itu.
"Jangan berani pada mama Anita, kau harus menyebutnya mama juga seperti aku !"
"Apa sih maumu, manja !"
"Panggil dengan mama Anita !"
"Aku tidak mau !"
"Azka !"
Anita tertawa lembut lalu melerai perselisihan antara dua saudara kembar itu.
"Jangan bertengkar lagi, tidak baik, sayang !"
Anita memeluk tubuh Azka dan Alana kecil bersama-sama, dia terus saja tertawa melihat mereka.
"Kalian boleh memanggilku apa saja, boleh pakai nama, boleh pakai sebutan mama, terserah kalian bebas, tidak ada paksaan."
Anita berjongkok diantara dua bocah kembar berbeda jenis kelamin itu lalu menoleh kepada keduanya secara bergantian.
"Yang terpenting adalah kalian berdua bahagia dan saling rukun menjaga satu sama lainnya..."
Anita merangkul kedua bocah kembar itu seraya tersenyum lembut.
"Masalah harus memanggil apa pada mama Anita, mama serahkan kepada kalian masing-masing, tidak ada paksaan, kalian mengerti !"
Anita memandang ke arah Alana dan Azka kecil lalu mereka berdua menjawab ucapan Anita Tumbler dengan anggukkan kepala.
"Ya, mama Anita..."
Sahut Alana kecil seraya mengangguk pelan sedangkan Azka hanya diam membisu.
Anita menoleh kepada Azka kecil lalu bertanya pada bocah laki-laki kecil itu.
"Bagaimana dengan Azka sayang, apa Azka sudah mengerti yang mama Anita katakan barusan ?"
"Ya, Anita..."
"Hai, Azka, jangan sebut dengan nama saja, tapi panggil dengan mama Anita !"
Alana kecil masih tidak terima dengan sikap saudara kembar laki-lakinya itu bahkan dia hendak mencubitnya.
"Aku tidak mau ! Dia bukan mama Azka !"
Teriak Azka kecil penuh amarah sembari berlari ke atas ranjang tidur lalu berbaring miring tanpa menoleh lagi.
Anita menarik nafas pelan, terdiam sejenak dengan pertengkaran kecil ini, dia tidak mampu memaksa dua anak kembar itu menerima nasehatnya sebab semakin mereka dipaksa maka akan semakin memberontak keras.
Sembari menghela nafas panjang, Anita kembali berkata.
"Alana, biarkan Azka memanggil mama Anita dengan nama saja, dia benar kalau mama Anita bukan mama kandung kalian, jadi tidak ada keharusan diantara kami untuk memanggil dengan mama, Alana sayang !"
"Tapi mama Anita adalah mama Alana !"
Alana merajuk manja sembari memeluk Anita erat-erat seakan gadis kecil yang lucu itu tidak ingin melepaskan Anita Tumbler.
"Alana tidak mau seperti Azka karena Alana menganggap mama Anita adalah mama Alana !"
Alana terus merajuk pada Anita bahkan dia bergelayut di leher Anita.
"Alana..."
Anita terharu dengan sikap Alana kecil kepadanya.
"Baiklah, biar Alana saja yang memanggil mama Anita, tapi jangan paksa Azka mengikuti apa yang dilakukan oleh Alana, ya."
"Ya, mama Anita..."
Alana kecil menjawab sembari mengangguk pelan, dia masih memeluk leher Anita erat-erat.
Anita tersenyum lembut, dengan sabarnya dia menggendong tubuh Alana kecil dan berjalan mendekati ranjang tidur dimana Azka kecil berbaring ke samping.
"Sekarang kita tidur saja, jangan berdebat lagi soal panggilan untukku, masing-masing tidur di posisi kalian dengan tertib !"
Anita membaringkan tubuh Alana kecil berdekatan dengan Azka saudara kembar laki-lakinya sedangkan Anita memilih berbaring di tepi ranjang tidur sembari menghadap ke samping.
Namun Alana menolak berdekatan dengan Azka, dan gadis kecil itu membelakangi saudara kembarnya, begitu sebaliknya, Azka bersikap menolak bahkan yang dia lakukan adalah mendorong tubuh Alana kecil agar menjauh darinya.
Anita tertawa pelan ketika melihat tingkah lucu dari kedua bocah kembar itu.
"Jangan bertengkar di tempat tidur di saat waktu mau berangkat tidur !"
Perintah Anita pada Alana dan Azka kecil yang saling bermusuhan.
"Tapi Azka duluan yang memulainya, bukan Alana yang mulai, mama Anita !"
"Kau yang mengusikku tidur, sudah tahu aku sedang tidur tapi kau ganggu saja."
"Apaan sih kamu, Azka !"
"Jangan dekat-dekat padaku, Alana !"
"Kau yang pergi jauh sana !"
"Kau sana !"
"Ihhh, kau sangat mengesalkan sekali, Azka !"
"Kamu itu yang kecentilan, dasar gadis plin plan !"
Azka menyikut pinggang Alana dengan kerasnya sehingga gadis kecil itu menjerit kesakitan.
"Aaauwhhh ! Sakit !"
"Rasakan !"
Anita langsung bereaksi cepat terhadap perselisihan diantara Alana dan Azka.
Akhirnya Anita bertindak sebagai penengah mereka berdua. Dan memutuskan berbaring diantara Alana dan Azka kecil.
"Sudah cukup, jangan bertengkar lagi !"
Anita bersikap tegas kepada dua anak kembar berbeda jenis kelamin itu, dia memperingatkan kepada Azka untuk tidak bersikap kasar kepada Alana dan begitu sebaliknya.
"Azka, jangan kasar pada Alana, paham !"
Sontak Azka terdiam sembari memasang wajah cemberut.
"Dan Alana juga tidak boleh kasar pada Azka, mengerti !"
Alana merengut lalu memalingkan muka tanpa berbicara lagi.
"Ini sudah malam dan saatnya buat kalian berdua untuk tidur, bukan malah sibuk bertengkar satu sama lainnya karena sangat memalukan !"
Anita memandangi keduanya silih berganti dengan tatapan serius.
"Sekarang bermaafan, dan jangan ulangi lagi bertengkarnya, kalian mengerti apa yang aku ucapkan ini !"
Kedua anak kembar laki-laki dan perempuan itu lantas sama-sama terdiam, mereka tidak berani menjawab ataupun membalas tatapan Anita Tumbler kepada mereka berdua.
Apa yang diperintahkan oleh Anita Tumbler kepada mereka maka harus dipatuhi.
"Ayo, saling maaf-memaafkan sekarang, mana tangan kalian berdua !"
Anita menoleh kepada Alana dan Azka sembari menunggu respon mereka berdua, dia menatap kepada dua bocah kembar itu seraya melipat kedua tangannya ke depan dada.
Sembari menaikkan salah satu alisnya, Anita memasang muka serius, dan menunggu perintahnya dikerjakan oleh Alana dan Azka.
"Kenapa masih diam saja, bukannya saling meminta maaf ?"
Alana dan Azka saling berpandangan, sama-sama terdiam dengan tatapan kesal.
"Ya, ampun kalian ini, benar-benar, ya, kenapa sulit dikasih nasehat ! Ayo saling salaman !"
Anita meraih kedua tangan Alana dan Azka kecil bersama-sama kemudian memaksa mereka berdua untuk saling bersalaman serta memaafkan satu sama lainnya sebelum kedua anak kembar itu berangkat tidur di malam ini.