Cerita cinta seorang duda dewasa dengan seorang gadis polos hingga ke akar-akarnya. Yang dibumbui dengan cerita komedi romantis yang siap memanjakan para pembaca semua 😘😘😘
Nismara Dewani Hayati, gadis berusia 20 tahun itu selalu mengalami hal-hal pelik dalam hidupnya. Setelah kepergian sang bunda, membuat kehidupannya semakin terasa seperti berada di dalam kerak neraka akibat sang ayah yang memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Tidak hanya di situ, lilitan hutang sang ayah yang sejak dulu memiliki hobi berjudi membuatnya semakin terpuruk dalam penderitaan itu.
Hingga pada akhirnya takdir mempertemukan Mara dengan seorang duda tampan berusia 37 tahun yang membuat hari-harinya terasa jauh berwarna. Mungkinkah duda itu merupakan kebahagiaan yang selama ini Mara cari? Ataukah hanya sepenggal kisah yang bisa membuat Mara merasakan kebahagiaan meski hanya sesaat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TCSD 19 : Upaya Pencarian
"Ini apaaaa??? Geli aku!!!"
Dewa memasang ekspresi geli dengan apa yang ada di dalam genggaman tangannya. Efek geli itulah yang membuatnya buru-buru menghempaskan sesuatu yang sebelumnya ia genggam.
Selepas dari pasar untuk membelikan Mara beberapa dress, Dewa kembali melajukan mobilnya untuk menuju ke tempat yang begitu menjadi keinginannya yaitu pantai. Di kota ini sangat terkenal dengan pantainya yang begitu cantik. Dengan birunya air laut, ombak yang tidak terlalu besar, hamparan pasir putih dan juga batu karang yang menjulang.
Di tengah perjalanan, Dewa sejenak menghentikan laju mobilnya. Sang gadis merengek minta dibelikan sesuatu yang dijajakan di pinggir jalan. Sesuatu yang baru pertama kali dilihat oleh Dewa dan terlihat begitu asing di penglihatannya.
Mara, gadis belia itu hanya terperangah melihat apa yang dilakukan oleh lelaki dihadapannya ini. "Tuan, apa yang Tuan lakukan? Mengapa Tuan membuangnya?"
"Iisssshhh makanan apa ini? Mengapa makanan seperti ini dijual?"
Dewa masih saja memandang geli sebuah makanan yang begitu asing. Di matanya, makanan ini sungguh merupakan sesuatu yang begitu menggelikan. Melihatnya saja ia sudah merasa geli. Lalu bagaimana jika sampai masuk ke dalam mulutnya?
Dewa yang sedikit protes dengan makanan yang baru pertama kali lihat itu membuat Mara sedikit tidak enak hati. Pasalnya, lelaki ini membuang makanan itu tepat di depan sang penjual langsung.
"Tuan, jaga bicara Tuan. Tidak seharusnya Tuan mengatakan hal itu di depan bapak dan ibu penjual ini."
"Tapi ini sungguh menggelikan. Aku baru kali ini melihat makanan seperti ini."
Mara tersenyum kikuk di hadapan sang penjual. "Maaf ya Pak, Bu, Tuan ini baru sekali melihat makanan ini jadi ia sedikit terkejut."
Sepasang penjual paruh baya itu hanya tersenyum. "Tidak apa-apa Ndhuk. Padahal kalau suami kamu ini tahu, ada banyak kandungan protein yang tersimpan di dalam belalang goreng ini."
Mara terkesiap. "Maaf Pak, Bu... Tuan ini bukan suami saya. Dia adalah..."
"Garwa. Iya kan Ndhuk? Sigaring Nyawa atau yang sering disebut belahan jiwa?"
Mara semakin terperangah dengan apa yang diucapkan oleh penjual belalang goreng ini. Baginya baik garwa ataupun suami memiliki makna yang sama, sama-sama memiliki arti bahwa Dewa ini adalah pasangan hidupnya.
"Tapi Pak, Bu... Tuan ini bukan suami ataupun garwa saya," ucap Mara tetap kekeuh menjelaskan bahwa Dewa ini bukanlah suaminya.
Sepasang penjual itupun saling melemparkan pandangan kemudian sama-sama tersenyum. Kemudian keduanya kembali menoleh ke arah Mara.
"Tapi menurut Bapak, Tuan inilah yang kelak akan menjadi suami kamu Ndhuk. Kalian nampak begitu serasi. Kamu cantik dan Tuan ini terlihat sangat tampan. Bapak rasa kalian kelak akan menjadi pasangan yang sangat romantis."
"Tapi Pak...."
"Iya Pak, aamiin... Saya aamiinkan ucapan Bapak ini. Kami pasti akan menjadi pasangan yang sangat serasi."
Pandangan Mara yang sebelumnya fokus ke penjual belalang goreng, seketika ia alihkan ke arah Dewa yang berada di sampingnya. "T-Tuan... Mengapa Tuan meng- aamiinkan ucapan Bapak ini?"
Dewa sedikit menggeser tubuhnya. Ia arahkan bibirnya ke telinga Mara. Perlahan ia berbisik. "Sudah, kita aamiinn kan saja. Kalau tidak kita aamiinn kan, kita akan semakin lama berada di tempat ini. Taukah kamu, jika aku ini sudah tidak sabar ingin segera tiba di pantai?"
Dewa menautkan kembali pandangannya ke arah penjual belalang goreng. "Total belalang goreng yang dimakan gadis ini berapa Pak?"
"Lima belas ribu saja Tuan."
Dewa mengambil lembaran uang seratus ribuan dari dalam dompetnya, kemudian ia berikan kepada penjual itu.
Wajah sang penjual berubah pias. "Maaf Tuan, apakah ada uang kecil? Ini masih pagi dan kami belum memiliki uang kembalian."
Dewa hanya tersenyum simpul. "Tidak perlu dikembalikan Pak. Kembaliannya untuk Bapak saja. Sekaligus sebagai permohonan maaf saya karena sempat mencela dagangan yang Bapak jual dan saya buang tepat di hadapan Bapak."
"Tidak masalah Tuan. Itu merupakan hal yang lumrah, karena memang tidak setiap orang yang menyukai belalang goreng ini apalagi baru sekali ini melihatnya."
"Sekali lagi saya mohon maaf Pak. Kalau begitu kami permisi."
"Silakan Tuan. Hati-hati di jalan. Semoga selalu berbahagia dengan Mbak cantik ini."
Dewa hanya mengulas sedikit senyumnya. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dikuti oleh Mara dan mulai meninggalkan tempat ini.
Di dalam perjalanan, Dewa bahkan tidak bisa fokus dengan kemudinya. Pikiran lelaki berusia hampir kepala empat itu terpecah menjadi dua antara fokus dengan jalan yang ia lalui, dan wajah wanita yang duduk di sampingnya ini. Dewa hampir setiap menit mencuri-curi pandang ke arah gadis belia ini. Meskipun hanya memakai dress yang dijual di pasar dengan harga yang tidak terlalu mahal, namun kecantikan gadis ini seakan tidak tenggelam sama sekali.
"T-Tuan... Mengapa Tuan memperhatikan saya seperti itu? Apakah ada yang aneh di wajah saya?"
Mara yang memergoki Dewa selalu mencuri-curi pandang ke arahnya hanya bisa memegang-megang wajahnya. Takut jika sampai ada sesuatu yang menempel di wajahnya.
Tidak ada yang salah dengan wajahmu, mungkin yang salah adalah pikiranku sendiri. Mengapa aku berpikir jika kamu adalah wanita paling cantik yang pernah aku temui? Wajahmu mengingatkan aku pada beberapa wanita yang sempat dekat denganku. Tapi diantara mereka, kamu bahkan menjadi wanita yang paling cantik.
"Tuan, mengapa diam saja? Apakah ada yang aneh di wajah saya?"
"Tidak, tidak ada sesuatu yang aneh di wajahmu." Dewa kembali fokus dengan jalan yang ia lalui. "Oh iya perkiraan, masih berapa lama lagi kita akan sampai di pantai?"
"Maksimal setengah jam lagi kita akan tiba Tuan."
***
"Benarkah Mas ini mau memberikan tumpangan untuk kami sampai ke Bogor?"
Pramono yang tengah berbincang dengan anak pemilik rumah yang merupakan tempatnya bermalam bersama Baskara, setengah tidak percaya bahwa anak dari pemilik rumah ini memberikan sebuah tawaran bantuan untuknya. Setelah mengetahui semua cerita yang disampaikan oleh Pram, ia menawarkan bantuan kepada Pram untuk memberikan tumpangan sampai ke Bogor. Mungkin sebuah kebetulan atau mungkin sebuah jalan keselamatan untuk Pram dan Baskara, anak dari pemilik rumah ini akan mengirim gelondongan kayu jati ke kota yang terkenal dengan sebutan kota hujan itu.
"Benar Mas. Sampeyan bisa ikut truk yang saya bawa. Jadi Sampeyan tidak perlu repot-repot untuk naik bus dari terminal."
Ibarat mendapatkan durian runtuh, Pram buru-buru menganggukkan kepalanya. "Baik Mas, saya akan ikut dengan Sampeyan. Sekali lagi terima kasih banyak Mas."
"Iya sama-sama Mas. Ada baiknya sekarang Mas dan bapak ini segera membersihkan diri. Karena dua jam lagi kita akan berangkat."
"Baik Mas. Terimakasih banyak."
Anak pemilik rumah itupun melenggang pergi. Kini tinggal tersisa Pramono dan juga Baskara.
"Pak, mengapa Bapak malah justru terlihat sedih? Bukankah seharusnya Bapak bahagia karena bisa segera pergi dari kota ini?"
"Mara!"
Hanya sepatah kata itu saja yang keluar dari bibir Baskara. Mungkin saat ini lelaki paruh baya itu begitu mengkhawatirkan kondisi sang anak yang sampai sekarang sama sekali belum ia ketahui kabar beritanya.
"Bapak tidak perlu khawatir, Mara pasti akan baik-baik saja. Dan kita pasti akan segera berkumpul kembali."
Baskara menatap netra milik Pramono dengan tatapan yang sukar untuk diartikan. Mungkin dari sorot matanya, lelaki paruh baya itu meminta sebuah penegasan yang bisa sedikit membuat hatinya tenang. Dan Pramono pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Mari, sekarang kita bersih-bersih badan setelah itu kita bersiap untuk berangkat ke Bogor, Pak."
***
"Aku benar-benar tidak mau menjadi istri juragan Karta, Bu. Aku tidak mau!"
Setelah kehadiran juragan Karta, membuat wanita muda itu yang tak lain adalah Puspa meronta-ronta. Pasalnya ia tidak ingin jika sampai dirinyalah yang akan menjadi istri keempat dari juragan Karta. Oleh sebab itu sedari tadi, Puspa merengek di hadapan sang ibu, meminta agar sang ibu bisa segera menemukan Mara.
Raut wajah Tanti menyiratkan sebuah perasaan cemas yang begitu besar. Sebagai seorang ibu, ia juga tidak ingin jika sampai anak semata wayangnya ini menjadi istri keempat juragan Karta.
"Kita harus berupaya keras untuk bisa menemukan keberadaan Mara, Pus!"
"Iya Bu, saya tahu. Namun mulai dari mana kita akan mencari Mara Bu? Bisa jadi anak itu sudah pergi dari kota ini."
Tanti mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas pegangan kursi kayu yang ia duduki. Ia seakan fokus dengan pikirannya sendiri. Ia seperti tengah merasakan kegamangan yang luar biasa. Ia begitu ingin memiliki lahan jati itu namun bagaimana pun juga ia tidak ingin jika sang anak menjadi istri dari juragan Karta.
"Ibu yakin jika Mara masih berada di kota ini Pus. Waktu yang diberikan oleh juragan Karta lumayan banyak, jadi kita bisa fokus untuk mencari keberadaan Mara di kota ini terlebih dahulu."
"Baiklah kalau begitu Bu."
"Kita mulai pencarian kita hari ini juga."
.
.
. bersambung....
mengecewakan😡