NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Keesokan harinya,

suasana sekolah jauh lebih ramai dari biasanya. Halaman depan penuh hiasan lampu dan panggung besar berdiri di lapangan utama. Spanduk bertuliskan Music Day Performance terpampang lebar di atas panggung.

Siswa-siswi berkerumun, saling bercakap antusias sambil menunggu penampilan yang paling ditunggu—pentas band Danzel dan teman-temannya.

Sorak-sorai pecah ketika MC memanggil band Danzel untuk naik panggung. Musik mengalun, dentuman drum dan denting gitar langsung menyulut semangat penonton. Rachel memulai lagu dengan suara merdu, sementara Danzel memetik gitar dengan penuh energi.

---

Lagu terakhir hampir mencapai puncaknya. Lampu sorot berwarna emas menyinari panggung, membuat Rachel dan Danzel tampak semakin mencolok di hadapan seluruh penonton.

Danzel memetik gitar dengan penuh semangat, lalu memberi isyarat kepada anggota band untuk menurunkan tempo musik perlahan. Penonton mulai bertanya-tanya, suasana berubah menjadi lebih tegang.

Rachel menatapnya heran. “Apa yang kau—”

“Shhh…” Danzel memberi senyum kecil, lalu mengambil mikrofon. Napasnya sedikit terengah karena tadi bernyanyi sambil bermain gitar. Ia menatap ke arah penonton—lebih tepatnya ke arah Rachel.

“Teman-teman,” suara Danzel terdengar jelas di seluruh lapangan. “Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk semua yang sudah berantusias hari ini… tapi ada satu hal yang paling spesial bagiku.”

Sorak-sorai semakin ramai. Beberapa siswa langsung melirik ke arah Rachel, yang tampak terkejut namun mencoba tersenyum.

Danzel melanjutkan, suaranya mulai serius. “Sejak pertama kali aku masuk sekolah ini, aku sudah memperhatikan seseorang. Dia cantik, percaya diri, dan… dia membuat setiap hariku berbeda. Dan hari ini…” ia berhenti sebentar, menarik napas, “…aku ingin semua orang tahu, kalau aku menyukainya.”

Penonton mulai berteriak histeris. Beberapa sahabat Rachel dari barisan depan langsung bersorak, “Woooo! Rachel!”

Danzel tersenyum tipis, mengambil buket, bonekah dan juga coklat lalu berbalik menghadap Rachel sepenuhnya. “Rachel… maukah kamu menjadi pacarku?”

Seluruh penonton meledak dalam sorakan. Rachel menutup mulutnya, terkejut, wajahnya memerah.

setelah beberapa detik, Rachel perlahan menganggukkan kepalanya menandakan bahwa dia menerima Danzel. karena selama ini Rachel juga memiliki perasaan yang sama kepada Danzel.

Di sudut lapangan, Alice hanya bisa berdiri terpaku. Suara riuh di sekelilingnya terdengar samar di telinganya. Matanya tertuju pada dua sosok di panggung itu—momen yang selama ini ia takutkan akhirnya terjadi di depan matanya.

Alice melangkah pelan meninggalkan lapangan. Sorak-sorai penonton di belakangnya terasa makin jauh, berganti dengan keheningan lorong sekolah yang sepi. Ia memilih menuju ruang kelas, berharap bisa menenangkan pikirannya di sana.

Namun baru saja ia melewati pintu, suara tawa sinis terdengar.

“Well… lihat siapa yang datang,” suara Stella terdengar penuh sindiran.

Megan, yang duduk di meja belakang, langsung ikut menimpali, “Alice, kau tidak ikut merayakan? Danzel dan Rachel resmi jadian loh. Oh, maaf… mungkin itu bukan berita yang menyenangkan untukmu.”

Alice terdiam, berusaha mengabaikan mereka dan berjalan menuju bangkunya.

Stella berdiri, melangkah mendekat sambil menyilangkan tangan di dada. “Aduh, jangan sedih gitu dong. Semua orang tahu Danzel tidak pernah melihatmu lebih dari sekadar… teman biasa.”

Megan pura-pura menghela napas. “Kasihan banget, ya. Selalu di dekat Danzel, tapi tetap cuma bayangan. Sekarang sih, Rachel udah resmi jadi penggantimu di sisinya.”

Alice menunduk semakin dalam. Ia tahu membalas hanya akan membuat situasi lebih buruk.

Stella dan Megan menatap sinis ke Alice yang hanya bisa diam. tanpa basa basi lagi mereka berjalan keluar dari kelas.

"Beraninya dia mengabaikan kita!"seru Megan sedikit kesal

“Sudahlah Megan ,” ujar Stella sambil tersenyum licik. “Kita jangan terlalu jahat. Lagipula, kita bakal punya… rencana sendiri setelah ini.”

Megan mengangkat alis penasaran. “Rencana?”

 “Sepulang sekolah nanti, kita temui Rachel. Kita kasih tahu… betapa dekatnya Alice dan Danzel. Siapa tahu Rachel mulai curiga… dan menjauhkan Alice dari Danzel.”

Megan langsung tertawa kecil. “Ide bagus.”

---

Sepulang sekolah, suasana halaman sudah mulai sepi. Hanya beberapa siswa yang masih berkumpul di gerbang, sementara sebagian besar sudah pulang.

Di sisi lain lapangan parkir, Stella dan Megan berjalan berdampingan dengan senyum penuh rencana. Mereka melihat Rachel yang sedang duduk di bangku taman sambil memainkan ponselnya, tampak menunggu seseorang—mungkin Danzel.

“Rachel!” panggil Stella sambil melambai kecil.

Rachel menoleh, sedikit heran, lalu tersenyum tipis. “Oh, kalian. Ada apa?”

Megan duduk di sampingnya dengan ekspresi manis yang dibuat-buat. “Kita cuma mau ngobrol sebentar. Tentang… Danzel.”

Rachel mengangkat alisnya. “Danzel? Kenapa?”

Stella berpura-pura ragu, lalu menundukkan suara. “Kau tahu kan… Danzel dekat banget sama Alice?”

Rachel tersenyum tipis. “Ya, aku tahu. Mereka sahabatan dari dulu.”

Megan cepat-cepat menimpali, “Iya, tapi… kadang sahabat itu bisa jadi penghalang tanpa disadari. Apalagi, Alice selalu ada di sekitarnya. Kita cuma… khawatir saja.”

Rachel menatap mereka berdua, ekspresinya tetap datar. “Khawatir… atau sedang mencoba memprovokasi?”

Stella tertawa kecil, pura-pura tersinggung. “Astaga, Rachel… bukan begitu maksudnya. Kita hanya mau hubunganmu tidak terganggu. Apalagi Alice itu… ya kau tahu sendiri, tipe gadis yang kelihatannya polos tapi…” ia menggantung kalimatnya.

Megan melanjutkan dengan nada licik, “…tapi bisa saja menyimpan perasaan yang tidak diungkapkan. Kita sering lihat dia diam-diam memandang Danzel di kelas.”

Rachel menatap mereka dengan pandangan sulit dibaca. Ia tidak langsung bereaksi, hanya menutup ponselnya perlahan. “Hmm…sudahlah apa yang sedang kalian bicarakan."

Stella dan Megan saling pandang, merasa rencana nya gagal.

Sementara di lain sisi,

raut wajah Danzel tampak cemas. Langkahnya tergesa menuju parkiran, membuat Alice yang kebetulan melihatnya langsung memanggil.

“Danzel!”

Danzel menoleh, sedikit terkejut melihat Alice. “Maaf, Alice, aku harus meninggalkanmu duluan. Aku sedang buru-buru.” Ia langsung menaiki motornya sambil meraih helm.

Alice mengerutkan kening, ikut mendekat. “Ada apa? Kenapa terburu-buru begitu?”

Danzel menghela napas gusar. “Ibu… ibu masuk rumah sakit.”

Alice terkejut. “Astaga…!” Ia menatap Danzel dengan cemas. “Boleh aku ikut? Aku ingin melihat kondisi ibumu.”

Danzel menatap Alice sebentar, lalu mengangguk. “Pakai ini,” katanya sambil memakaikan helm cadangan ke kepala Alice. Gerakannya cepat namun penuh perhatian.

Sebelum menyalakan motor, Danzel sempat mengirim pesan di ponselnya—pesan itu ditujukan untuk Rachel, menjelaskan kondisinya.

Dari kejauhan, Stella, Megan dan juga Rachel melihatnya. 

Rachel berdiri diam, menyaksikan Danzel pulang bersama Alice. Ia jelas melihat bagaimana Danzel memasangkan helm di kepala Alice.

Megan tersenyum miring. “Lihat, Rachel. Di hari pertama kau menjadi kekasihnya, bukankah seharusnya kau yang diantarkan pulang? Tapi nyatanya, Alice yang duduk di belakangnya.”

Stella menimpali dengan nada licik, “Hal seperti ini mungkin kelihatan sepele. Tapi kau harus tahu, Alice selalu punya cara untuk tetap berada di dekat Danzel.”

Tiba-tiba ponsel Rachel berbunyi. Sebuah pesan masuk—dari Danzel. Rachel membacanya pelan. Pesan itu menjelaskan bahwa ibunya masuk rumah sakit, dan Alice ikut karena khawatir.

Rachel menutup ponselnya. “Kalian lihat? Tidak ada yang aneh. Aku percaya Danzel tidak akan mengecewakanku.”

Megan dan Stella saling pandang, tidak puas.

Rachel berdiri dan mengambil tasnya. “Aku pulang dulu. Dan tolong, jangan membesar-besarkan hal yang bukan masalah.” Ia melangkah pergi, meninggalkan mereka berdua.

Megan menatap punggung Rachel dengan kesal. “Gagal lagi…”

Stella melipat tangannya sambil tersenyum tipis. “Santai saja. Kalau satu cara gagal, kita cari cara lain.”

Megan mengangkat alis. “Kau sudah punya ide?”

Senyum Stella semakin lebar. “Oh, aku punya. Dan kali ini, Rachel tidak akan mengabaikannya.”

1
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!