AREA DEWASA 18+ HARAP BIJAKSANA!
Marco Smith Robert, 30 tahun. Pria bengis dengan sejuta kelicikan baginya dunia hanya tentang kepalsuan. Kejam dan otoriter adalah dua sifat yang mendarah daging.
Alfiana Wulan, 15 tahun. Orang memanggilnya Nana. Gadis baik dengan sejuta senyum, setiap harinya dihabiskan dengan berdagang kue keliling.
"Jangan membantahku Nana! Atau ku cincang tubuh jelek mu menjadi makan anjing pelihara ku!" Kilatan amarah Marco dengan tangan menggenggam cambuk.
"Uncle tapi aku... "
"Nana.... Kau harus mati!!!!" cambukan pertama di layangkan oleh Marco pada punggung gadis kecil itu.
"Uncle, Arghhh!" Tangisnya tergugu menahan nyeri yang teramat sakit di punggungnya.
Akankah Nana bisa keluar dari jerat manusia iblis seperti Marco? Atau kematian yang lebih dulu menghampirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Niswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UM - Bunuh Diri
"Bagaimana?" Tanya Uncle Marco, wajahnya begitu kusut pagi ini. Suhu badan Nana yang begitu panas, dengan wajah yang begitu pucat membuatnya kalang kabut.
"Hah.... Kesembuhan nona anda di tangan anda tuan!" Ujarnya.
"Apa maksudmu sialan!"
"Jangan menyentuhnya!"
"Berhenti mengatur ku! Dia milikku!"
"Sentuh saja, jika kau ingin dia mati!"Ucap Dokter itu nampak kesal.
Jika kalian tanya? Namanya dokter Dimas, teman Marco saat bersekolah di bangku SMA dulu, namun dirinya sangat menjunjung tinggi profesional dalam bekerja. Kata tuan, di layangkan olehnya kala sedang bertugas sekalipun itu berada di rumah Marco.
Mulutnya sudah gatal menyumpah serapahi teman yang tak tau diri ini.
"Berapa lama?"
"Sebulan!"
"Bedebahh... Kau membohongi ku!
"Tidak, itu kenyataan yang harus kau terima. Jangan membuatnya berjalan terlebih dahulu, atau dia akan mengalami pendarahan!"
"Kenapa seburuk itu!"
"Apa otak mu sudah tak berfungsi! Kau pria dewasa, kau bisa mengukur sendiri besar dan panjang nya milikmu! Demi apapun! Kau melanggar hukum karena bermain dengan anak sekecil ini!"
"Pergi bedebahh.... " Usir Uncle Marco, keadaan Nana saat ini lebih mengenaskan, wajahnya sangat pucat sekali dengan selang infus yang berada di tangan nya.
"Maaf!" Lirih Uncle Marco menggenggam tangan Nana, Hah.... Maaf? Seorang Marco mengucapkan kata itu? Tidak mungkin!
Jika iya? Kau harusnya sadar, kata maaf mu tak bisa membuat gadis ini kembali seperti semula. Mengembalikan apa yang telah kau renggut darinya.
Perlahan Uncle Marco naik keatas ranjang yang sama dengan Nana, mendekap pelan tubuh gadis kecil itu. Entahlah Marco serasa tenang dan nyaman jika tidur dengan gadis itu.
Jangan lakukan apapun yang membahayakan mu! Ku mohon Nana! Jangan membuat ku khawatir! Kau harus sadar dan menerima hukuman mu karena membuat diriku secemas ini! Kau harus di hukum dengan tetap tinggal dan berada di sisi ku selalu! Ucap Marco mengecup singkat Nana, dan ikut terlelap dalam mimpi.
...**********...
Tawa mengglegar memenuhi isi ruangan itu, Wilson. Laki-laki ini tersenyum licik dan senang atas semua rencana nya telah berhasil.
Ternyata apa yang di katakan oleh Jessica memang benar apa adanya, bahwa Nana gadis yang terbilang sederhana, bahkan jelek bagi Wilson. Nyatanya sangat di jaga oleh bos mafia gila itu.
Setelah sekian tahun ia menunggu, kini ia bisa menghancurkan Marco melewati gadis kecilnya.
Terima kekalahan mu Marco! Ku pasti kan aku yang akan menang kali ini! Kau akan hancur!!!!!Ujarnya tersenyum congak membayangkan kemenangan yang akan segera ia raih.
Bisnis hitam memang harus kejam.
"Apa yang aku dapatkan hem?"
"Kau ingin apa hem? Bermain dengan ku sepanjang malam?" Goda Wilson.
"No Baby! Kali ini aku tak menginginkan itu!"
"Apa yang kau inginkan hm?" Ujar Wilson, kini Jessica telah duduk di pangkuan nya dengan mesra. Jari manisnya dengan nakal bermain ke sana kemari.
"Menikah dengan mu!"
Uhuk!
Uhuk!
Uhuk!
"Apa?"
"Kau tak mau menikahi ku?"
"Bukan, bukan begitu baby! Hanya saja ini bukan saat nya untuk kita menikah!"
"Lalu kapan?"
"Setelah semua urusan ku selesai, setelah aku bisa menghancurkan Marco!"
"Kau janji!"
"Yes! Tentu!"
...*******...
"Apa tak bisa di wakilkan?" Ujar Uncle Marco, masih dengan protes yang terus di layangkan pada asisten nya. Kenapa bos nya cerewet sekali.
Bos mah bebas ya? Sesuka hatinya aja main di wakilkan! Enak saja! Dia yang dapet untung gede padahal. Dengus Pitter mengumpat dengan kesal dalam hatinya, percaya lah kalau kau memiliki keberanian untuk mengungkapkan itu didepan bos mu, ku rasa ia sudah memisahkan kepalamu dari tubuh mu Pitter! Harusnya kau hati-hati.
"Ya bos!"
"Shit!!!!! Siapkan pelayan wanita untuk Nana?"
"Bos mencintai nya?"
"Jaga ucapan mu Pitter! Aku tak mencintai gadis jelek itu!"
"Tapi bos mengkhawatirkan nya! Ini pertama kalinya!"
"Diam atau ku jahit mulutmu!"
Dih!!!! Gayanya gak mencintai!!! Tapi udah nyicipi!!! Nambah lagi! Keenakan tu.....
Aku setuju dengan mu Pitter, bos mu memang gila. Berujar tak mencintai Nana, tak mengkhawatirkan nya tapi menyuruh mu untuk membawa pelayan guna menjaganya.
Asal kau tau Pitter, kala penyatuan dirinya dengan Nana dia begitu menikmati, dan bahkan ia sudah pernah berucap bahwa Nana adalah miliknya pada dokter Dimas. Hendaknya kau mengetok kepala bos mafia itu agar tersadar akan perkataan yang di ucapkan nya.
...*******...
"Bagaimana?" Tanya Marco memastikan sebelum dirinya berangkat pergi.
"Sesuai perkiraan dokter, Nona akan bangun esok harinya tuan!"
"Pelayan!"
"Maaf tuan! Masih belum ada! Saya masih mencari."
"Esok harus ada, atau tidak...."
"Saya tau tuan!" Ujar Pitter, mencari pelayan memang mudah tuan. Tapi musuh anda yang begitu banyak membuat saya kesulitan untuk mencari pelayan yang jujur dan siap mengabdi untuk anda.
Keduanya melangkah keluar, membelah larut nya malam kota. Hiruk Priuk sudah tak sebising tadi sore, hanya kesunyian yang menemani. Sesekali masih ada beberapa pedagang yang berjualan dan beberapa anak muda nakal yang berkeliaran.
Bola mata itu terbuka, di tengah malam pukul 1 dini hari pagi, jauh di luar prediksi yang dokter perkirakan.
Memori kepahitan menghantam dirinya, serpihan bagaimana dirinya sudah tak lagi suci, bukan hanya sekali tapi dua kali.
Tangis dan permohonan nya tak di terima oleh Uncle Marco, manusia iblis itu terus membuatnya meringis kesakitan.
Rasa sesak dan sakit hati membumbung tinggi untuk pria itu, infus yang ada di tangan nya di tarik dengan kasar.
"Argh... " Sakitnya tergugu.
Kaki di paksa untuk turun dan berjalan, untung pintu itu tak di kunci.
"Aughh!!!!" Rintih Nana.
Darah segar mulai mengucur di sela bawah paha bawahnya, rumah nampak sunyi mungkin semua pelayan sudah terlelap hanya ada beberapa penjaga yang berjaga dan itu pun hanya di depan, sesekali mereka berkeliling untuk menjaga keamanan rumah ini.
Dipaksa terus berjalan meski harus terseok-seok, gadis ini tak melihat bahwa setitik darah membasahi lantai kala dirinya terus melangkah. Sebenarnya kemana kakinya ingin melangkah pergi?
"Augh!!!" Ringisnya terduduk sakit, nyeri hebat langsung menghantam perutnya.
Aku telah kotor!!! Aku kotor!!! Lirihnya menangis tersedu.
Manik matanya berbinar saat melihat kolam renang, dengan sisa tenaga yang ada dalam dirinya. kaki di paksa untuk berdiri meski harus tertatih.
Berdiri dengan sekuat tenaga, memandang suci air kolam yang ada di bawah sana.
Membayangkan dirinya yang dulu masih suci dan terjaga seperti air, tapi sekarang kini sudah kotor, bahkan sangat kotor.
Byur!!!!!
Maafkan Nana!!! Bunda Ayah, nana rindu pada kalian. Dunia terlalu kejam pada Nana, Tuhan tak pernah sedikit pun memberi kebahagiaan pada Nana, Bunda... Nana sakit di sini, izinkan Nana menyusul Bunda dengan Ayah di surga sana.... menemani kalian di sana....
Bi Siti, maafkan Nana yang tak bisa memenuhi janji Nana untuk menjaga Bibi dan Adik di panti.
Maafkan semua kesalahan Nana.
Nana mencintai kalian semua.
Selamat tinggal!
Matanya tertutup sempurna di dalam air kolam itu, gila memang. Biarkan saja dia pergi dan mengakhiri segala penderitaan ini! Biarkan air ini yang menghapus segala dosanya.
15 Tahun, masa yang indah. Tolong, Nana baru memasuki bangku sekolah kelas 1 SMU, apa yang orang lain katakan? Jika dirinya sudah seperti ini! Kematian adalah pilihan terbaik bukan? Jika masyarakat tau, dirinya akan di cemooh dan di kucilkan, hidup di panti dan di tinggal kedua orang tua cukup membuat Nana sakit.
Disini lain, Entahlah Uncle Marco yang semula ingin ke Markas untuk menerima laporan atas siapa dalang di balik insiden kemarin.
Perlahan fikiran nya melayang resah dan gelisah kepada Nana.
Bayangan bagaimana gadis itu yang mengenaskan, Arghhhh.... Erangan nya frustasi.
"Pitter!!! Putar balik! Kita pulang ke mansion" Celetuk Uncle Marco.
"Baik tuan!" Patuhnya tanpa membantah.
Rasa gelisah kian mendera hebat dalam relung hati Uncle Marco, jam sudah menunjukkan pukul 1.30. Menepis fakta bahwa Nana sudah bangun? Pasti dia tengah tertidur bukan?
Sesuai dengan perkiraan dokter bahwa Nana akan bangun esok harinya.
Melangkah tergesa-gesa masuk kedalam, hanya kesunyian yang ada di rumah nya.
"Dimana Nana!" Tanya Marco pada salah satu penjaga.
"Saya tak melihat Nona Nana keluar tuan, mungkin ia masih ada di kamar!"
Shit!!!! Umpat Uncle Marco bodoh, ya bagaimana pelayan nya tau ada di mana Nana? Bukankah sebelum pergi Marco sudah mewanti-wanti anak buah nya untuk tak masuk kedalam kabar bahkan mendekatinya.
Langkah nya begitu tergesa masuk kedalam kamar.
Brak!
Pintu di buka dengan kasar, hanya ada ranjang kosong dingin dan sunyi, tak ada Nana di atas ranjang itu.
"Pitter! Nyalakan semua lampu! Cari dimana Nana!" Ujar Uncle Marco menggema.
"Baik tuan!" Seketika lampu terang benderang menyala dalam rumah besar itu, atensi kedua pria itu langsung melirik kearah lantai dengan bercak merah darah.
"Tuan!" Lirih Pitter, mengerti akan yang di maksud tangan kanan nya itu, langkah kaki Uncle Marco semakin tergesa untuk mencari titik akhir dari tetesan darah itu.
Mulutnya diam namun bergetar, pikiran nya menepis segala kemungkinan buruk yang terjadi, hingga bola matanya melihat Nana yang sudah mengapung di pinggir kolam dengan wajah pucat tak berdaya.
"Nana!!!!" Pekik Uncle Marco.
🍒🍒🍒🍒
Happy Reading guys.
...Pesan Moral : Sedahsyat apapun masalah yang menimpa kalian di dunia! Plis!!! Kematian bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah itu....
...Yakinlah, saat Tuhan memberi masalah kepada kita pasti dia juga menyimpan kunci untuk. menyelesaikan masalah itu....
...Untuk kalian yang saat ini, mungkin masih bersekolah dan terjebak dalam sex bebas? Semoga kalian bisa keluar! Plis!!! Sadar jika apa yang kalian lakukan itu salah dan berdosa...
...Jangan meminta pertanggungjawaban pada seorang laki-laki yang merenggut mahkota mu, kala laki-laki itu tak menginginkan mu lagi, jangan memaksa nya....
...Jangan pesimis dan berfikir bahwa tidak akan ada laki-laki yang mau menerima mu jika kau sudah tak perawan lagi, sejatinya jika laki-laki itu mencinta mu ia akan menerima apapun kurang maupun lebihmu....
othornya ada" aja
bayangin wajah lugunya Nana