Adakalanya semua yang buruk belum tentu terjadi atas ke inginan hati seseorang. Terkadang suatu hal dapat merubah seseorang menjadi lebih buruk dari yang kita bayangkan.
Lihat lah seseorang dari sisi lain yang bukan dari sisi pendapat mu saja, namun cobalah utk melihat dari sisi mereka berdiri, maka kamu akan melihat sesuatu hal yang berbeda.
Jangan lupa like, comment, Vote.
Terimakasih readers setia ku❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceritaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
"Assalamu'alaikum " Clara mengucap salam ketika memasuki apartemen, meski ia yakin tak ada yang akan menjawab salam darinya ia tetap akan mengucapkan nya.
"Waalaikumsalam, istriku sudah pulang" jawab Jeri tersenyum lebar menyambut kedatangan Clara.
Clara mengerut, tumben sekali suaminya ada dirumah jam segini.
"Papa sama mama disini, jadi ikuti saja alurnya" bisik Jeri.
Clara bergidik ngeri mendengar bisikan Jeri ditelinga nya, mau tak mau Clara mengangguk.
"Eh, menantu mama dah pulang" sapa Rani tersenyum lebar pada Clara yang digandeng Jeri menuju sofa.
Clara tersenyum menyalim mama mertuanya dan dilanjutkan papa mertuanya yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Mama sama papa kok gak ngabarin Ara mau dateng kesini. "
Rani tersenyum "Biar jadi kejutan dong"
Adam menyimpan ponselnya "Gimana sayang? " Clara mengerut, tak mengerti dengan pertanyaan papa mertuanya.
"Gimana apanya pah? " balas Clara balik nertanya.
"Kapan itu loooo,kapan ngisinya? " sambung Rani menatap Ara penuh harap. Mereka sudah tak sabar ingin menimang cucu.
Clara menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali. Ia bingung dengan pertanyaan kedua mertuanya ini.
Clara mencondongkan tubuhnya pada Jeri.
"Isi apaan sih? "bisik Clara pelan.
"Tenang aja mah, aku dan Clara lagi usaha kok. " Sahut Jeri, mengedipkan matanya pada Clara.
Clara mengerut semakin bingung, bukannya menjawab pertanyaan nya Jeri malah semakin buat Clara bingung.
Merasa tak di Sayuti oleh Clara,Jeri merengkuh nya "Iya kan sayang... "
"Eh Iya, iya lagi usaha mah, pah. " Jawab Clara sedikit risih dengan perlakuan Jeri.
"Ahhh bagus sekali, Mama harap akan segera dikabul kan Allah yah sayang" Doa Rani.
Clara memaksakan tertawa, sebenarnya ia tidak mengerti.
"He he he, Semoga yah ma" Balas Clara tertawa bingung.
"Jadi kapan mau usaha lagi? " Goda Adam tersenyum nakal menatap keduanya.
"Ihh papa, jangan gitu lah" serga Rani tersenyum malu mendengar ucapan suaminya.
"Nanti malam mah, iya.. nanti malem bakal usaha lagi" Jawab Clara spontan.
"Wahhh kalau begitu kita harus pulang nih pah" Ujar Rani pada suaminya.
"Loh kok mama mau pulang? "
"Sayang, kita kan mau usaha, masa mama papa disini" Ucap Jeri menjelaskan pada Clara.
"Lah kan bisa usaha sama sama" ujar Clara dengan polosnya.
Rani, Adam bengong, saling menatap.
"AHAHAHAHAHAHA, sayang, ahahaa kamu polos banget sih" Adam tak bisa menahan tawanya, mereka tertawa terpingkal pingkal.
"Ihh kok malah tertawa si, apanya yang lucu coba" dengus Clara mengerucut kan bibirnya lucu.
Jeri menggeleng menyaksikan kepolosan istri mungilnya ini.
Rani berusaha menetralkan dirinya, menahan rasa geli di perutnya.
"Yaudah deh, Mama Papa pulang dulu yah" Pamit Rani menarik tangan suaminya yang masih saja tertawa keras.
"Tanya sama suami kamu ajah deh, dah papa pulang" Adam melambaikan tangan, kemudian menutup pintu.
Tinggallah Jeri dan Clara yang masih duduk bersebelahan di sofa. Tak ada yang memulai pembicaraan.
Clara sibuk memikirkan apa maksud dari perkataan mertuanya tadi.
"Eh mau kemana? " tanya Clara ketika Jeri hendak pergi.
Jeri menoleh, menaikkan alisnya "Kenapa? "
"Mau usaha? " tanya Clara polos.
Jeri mencebik, istrinya ini polos atau bodoh. Percuma otak pintar kalau hal seperti itu saja ia tak mengerti.
"Dasar bodoh" desis Jeri kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Bugh~
Sebuah bantal melayang mengenai tepat dikepala Jeri.
"Sial! " umpat Jeri "Lo berani lempar gue? "
"Kenapa? " Tanya Clara menantang Jeri.
"Awas lo" hardik Jeri berjalan cepat mengejar Clara.
"Gak dapat, gak dapat, wekkk" ledek Clara terus berlari agar tak tertangkap oleh Jeri.
Terjadilah aksi kejar mengejar, Jeri yang geram terus mencoba untuk menangkap Clara yang lihai menghindari tanggapan Jeri.
"Kena lo" Jeri berhasil menangkap Clara, kemudian memeluknya erat.
"Mau lari kemana hm.. "
"Ihh lo curang!! " rajuk Clara.
Jeri membalikkan tubuh Clara dengan masih memeluknya erat.
mata mereka bertemu, saling diam didalam posisi berpelukan.
Jeri meneliti setiap inci wajah Clara.
Tap
Jeri terpaku pada bibir mungil Clara yang entah sejak kapan membuatnya penasaran.
dekat~
semakin dekat
yap dekat lagi...
Yahhhh, Clara mendorong tubuh Jeri pelan, membuat jeri tersadar dan melepaskan rengkuhannya pada tubuh Clara.
Clara salah tingkah, pipinya merona malu.
"Ekhem"
Jeri berdehem menghalau kecanggungan yang melanda dirinya. Menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Tak tahu harus apa, Clara memilih untuk menuju dapur.
"Aku akan memasak" Ujarnya berlari cepat menuju dapur.
Sementara Jeri memutuskan masuk ke kamarnya.
"Hampir saja"
Clara memukul mukul bibirnya pelan. Clara menutup wajahnya malu membayangkan jika ia tidak cepat tersadar, entah apa yang akan terjadi.
Clara menyudahi pemikiran konyolnya kemudian memulai acara memasaknya.
Beralih pada Jeri.
"Ahhh apa yang gue lakukan!!! " teriak Jeri membenamkan wajahnya pada bantal.
Bergolek kiri, bergolek kanan, bak seperti anak remaja yang ketahuan menyukai seorang gadis.
Jeri merasa sangat malu, bisa bisanya ia dalam keadaan seperti ini terpesona dengan bibir Clara.
Tuk Tuk Tuk
Jeri terkejut oleh suara ketukan pintu kamarnya.
"Ada apa? " teriak Jeri dari dalam.
"Keluarlah, Makan malam telah siap" sahut Clara dari luar.
Jeri pun bergegas keluar, selain lapar ia juga tak bisa menolak rayuan dari masakan Clara.
Clara duduk rapi dimeja makan, kembali Jeri terkaget dengan hidangan yang Clara hidangkan.
"Dari mana ia tahu makanan kesukaan gue, Sela saja tak pernah tahu jika gue gak mesan sendiri" batin Jeri.
Dengan semangat Jeri menarik kursi kemudian mendudukinya.
"Silakan makan" Ujar Clara hangat.
Deg
Jeri tertegun, menatap senyum manis Clara mengembang padanya.
Entah apa yang terjadi, kini jantung Jeri berpacu sangat cepat. Seperti ia sedang lomba lari jarak jauh.
"Jer, Mari berdamai. Satu rumah satu atap, tapi tidak saling bicara itu sungguh tidak nyaman. Jadi mari berdamai. " Ujar Clara panjang lebar.
Jeri mengedip kan matanya, mencerna satu persatu perkataan Clara.
"Maksud lo? "
Clara menghela nafas kasar. "Mari berteman, berdamai dengan situasi kita. Gue gak akan pernah ganggu hubungan kalian. "
Deg~
Jeri terdiam, entah apa yang ada di fikiran nya saat ini. Antara senang dan sedih.
Jeri tak bisa menjelaskan perasaannya saat ini. Jeri tersenyum membalas perkataan Clara.
Mereka saling menatap lama, kemudian tersenyum.
"Mari makan yang banyak" Clara menyendokkan 2 sendok nasi kepiring Jeri.
"Eh itu kebanyakkan tahu" densus Jeri mengerucutkan bibirnya. Clara tertawa melihat nya.
"Lo gak cocok ekspresi kek gitu" Ledek Clara, Jeri pun semakin mengerucutkan bibirnya membuat Clara semakin tertawa keras.
"Hahahahhaa, dasar oon"
Makan malam kali ini mereka habiskan dengan canda tawa, tidak ada lagi makan dalam kesunyian.
Berdamai dengan keadaan mungkin jalan satu satunya untuk mereka yang kini terjerat dalam suatu hubungan.
...TBC...
Halo readers, makasi atas dukungannya. kali aku ingatkan jangan lupa tapak kaki di tinggalkan agar aku bisa berkunjung
vote+Likenya
love you 😘😘😘
ini yg dinamakan klo semua org baik akan cepat mati dan org jahat klo tiba2 baik bisa bahagia tanpa ada karma
awas luw ya... 👊👊👊
👍👍👍
follback ya kak.