Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.
Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:
Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Pagi hari. Di meja makan , semuanya telah berkumpul. Detingan sendok terdengar dari mereka yang sedang khidmat menyantap makanan nya. Beberapa menit kemudian kegiatan mereka selesai. Vian meneguk habis susu coklat nya Sampai tandas. Matanya melirik ke arah kursi yang kali ini terlihat kosong - ashilla. Katanya dia pergi duluan karena ada sesuatu yang terdesak.
"Vian , Revano. Daddy akan dinas ke luar negeri bersama mommy ." Ucap Rangga. Rangga melihat ke arah Revano sejenak sebelum berdiri untuk meninggalkan ruangan " Revano jaga ke 2 adik mu selama kita pergi ya" ucapnya . Dia mengusap rambut Revano sebelum pergi meninggalkan mereka.
"Daddy dan mommy gak akan lama kok, nanti jika kalian kangen bisa video call ya"
"Vian , jaga kesehatan nurut sama Abang dan kakak ya . dan satu lagi , jangan nakal ya. Mommy sayang kalian " ucapnya . Dia mengecup pipi Vian bergantian dengan Revano. Vian terdiam begitu juga Revano namun ia merasa ada yang berbeda dengan abangnya ini.
Di meja makan,kini tinggal mereka berdua. Vian yang terdiam begitu pula dengan Revano yg terdiam. Menatap lekat piring miliknya yang sudah tandas tanpa makanan" kalian tidak berubah ya?" Gumamnya. Dan dapat di dengar dengan jelas oleh Vian.
"Bang?"
Revano mengalihkan pandangannya. Menatap Vian dengan senyuman kecil. "Udah yukk kita kesekolah." Ucapnya. Dia menggenggam tangan Vian dan membawanya keluar " Vian"seru Revano terlihat ragu. Vian menyaut dan melihat ke arah Revano " selama sebulan Abang akan lebih pokus belajar untuk mempersiapkan olimpiade. Selama itu kamu bersama kak ashilla dulu ya. " Ucapnya.
"Baiklah , semangat bang belajar nya!"
***
Di sekolah Vian seperti biasa di turunkan di depan gerbang. Namun kali ini dia berjalan sendirian. Karena Revano buru-buru pergi ke sekolah nya.
Vian berjalan dengan tenang . Tangan nya menggenggam tali ransel miliknya. Dengan beberapa kali bersenandung kecil menikmati langkah nya . Namun di pertengahan jalan sesuatu terjadi. Membuat perasaan nya berubah seketika.
"Lihat itu , dia kan orang nya "
Bisikan itu terdengar sangat jelas ke telinga Vian. Vian menghentikan langkahnya . Menatap ke 2 siswi yang sedang berbisik dengan mata yang selalu mencuri-curi ke arah nya. Mereka ngomongin aku ya? . Setelah di perhatikan lebih teliti bukan cuman ke 2 gadis itu yang menatap nya dengan aneh . seluruh siswi di sana menatap nya dengan pandangan yang berbeda. dan mereka seperti membenci dirinya.
Gak mungkin dehh, mungkin cuman perasaan ku aja . Batinnya. Berusaha menyangkal apa yang ia pikirkan saat ini. Lama ia berjalan dengan perasaan yang tidak nyaman . akhirnya ia sampai di kelas nya. Pintu masih tertutup dan dari dalam ia bisa mendengar hiruk-pikuk kelas yang tak pernah berubah.
Saat pintu terbuka . Vian di kaget kan dengan jatuhnya penghapus mengenai rambutnya. Lenggang. Sebelum tawa renyah keluar secara serempak. " Ahh maaf , Kamu sih datangnya gak bilang-bilang . Aku kira itu orang yang mau ku jahili . Maaf ya" ucap seorang gadis datang menghampiri Vian . Mencoba membersihkan kapur dari rambut nya.
"Iya gak papa, makasih" ucapnya . Gadis itu tersenyum kecil . Berjalan menghampiri kerumunan gadis yang lain. Di sana juga ada ashilla yang duduk menjadi pusat kerumunan itu. Ashilla tersenyum begitu pula semua gadis yang berada di sana.
Anehh , batin Vian sekali lagi.
Vian menatap lekat penghapus kapur yang tergeletak di lantai. Dan bergantian menatap papan tulis . Sudah jelas papan tulis itu mengunakan spidol sebagai media tulisnya. Kenapa bisa ada kapur ya. Batinnya bertanya-tanya. Tak mau memikirkan lebih lanjut. Vian berjalan ke arah tempat ia duduk . Dan di kursi sebelah nya masih sama. Tak ada tanda-tanda kehidupan atau seseorang yang duduk di sampingnya.
Sepertinya dia tidak sekolah lagi.
Tak lama setelahnya, seorang guru muda datang. Membawa kotak kardus kecil di atas buku nya.
"Selamat pagi anak-anak" katanya. Dia menyimpan apa yang ia bawa ke meja di sampingnya. Dan mulai menuliskan sesuatu di papan tulis itu .
Masalah sosial di sekitar kita . Itu yang tertulis di sana.
"Jadi tugas kali ini adalah tugas kelompok. Dimana semua kelompok meneliti salah satu masalah sosial di sekitar kita."
"Di sini ibu akan bagi 4 kelompok dan setiap kelompok akan ibu bagi secara acak . " Katanya. Ia memperlihatkan kardus yang ia bawa ke arah semua muridnya" kelompok akan di tentukan sesuai nomor yang di dapatkan dari kardus ini. Silahkan ambil satu orang satu " katanya.
Banyak desahan kecil yang keluar . Namun tak ayal pergi membawa nomor yang ada di dalam kardus. Termasuk Vian. Dia membawa gulungan kertas kecil dan membuka nya di tempat.'1'nomor itu yang tertera di sana. Dia melihat sekeliling yang terlihat sibuk dengan dunianya sendiri. Beberapa ada yang menyayangkan karena mereka tidak berkelompok dengan teman dekat nya.
"Baiklah setelah kalian mengetahui setiap kelompok nya. Ibu ingin tau setiap kelompok nya. Kelompok satu angkat tangan " katanya. 4 orang termasuk Vian mengangkat tangan . "Baiklah , Rika, Rafika ashilla dan Vian " ucapnya "baiklah kelompok 2" ucapnya lagi . Sampai ke kelompok terakhir yaitu kelompok 4.
" Jadi tugas kalian kali ini adalah memperhatikan masalah sosial yang terjadi di masyarakat seperti kesenjangan sosial, perundungan, intoleransi dan sebagainya .Kalian wajib mencari dampak, penyebab,dan sertakan solusi yang realistis dari sudut pandang masyarakat dan pemerintah dengan cara observasi dengan warga sekitar atau mencari jurnal atau artikel dari media sosial"
"Tujuan ibu membagi kelompok adalah untuk melatih empati dan berpikir kritis tentang lingkungan. Dan terakhir melatih kerja sama sosial . Sekian dari ibu silahkan diskusikan bersama kelompoknya masing-masing "lanjut nya. Guru muda itu pun pergi. Meninggalkan kelas yang sepenuhnya telah riuh.
Vian menghampiri ashilla dan ke 2 gadis yang berdiri di sana. Salah satu gadis itu terlihat tidak ramah pada Vian namun ia coba untuk hiraukan untuk kali ini. " Kak kapan kita akan kerjakan tugas kelompok nya?"tanya nya. Ashilla terdiam seperti memikirkan sesuatu sejenak. Dia tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan dari Vian " nanti pas pulang sekolah. Kita udah memutuskan untuk turun langsung mewawancarai para warga " ucapnya.
"Tapi kamu jangan nyusahin ya , karena jika sakit kamu kambuh saat mengerjakan tugas bisa repot. Aku hanya cemas pada Vian jadi jangan di masukin ke hati. Aku ngomong gini tulus karena khawatir" lanjut nya lagi. Ashilla memandang Vian dengan ekspresi yang aneh. Antara kasian dan cemas. Kedua hal itu yang membuat Vian bingung dengan ekspresi ashilla.
"Emm aku tak akan merepotkan kakak kok , tenang aja" ucapnya .
"Oke deh jika Lo ngerti . Ingat bukan karena Lo sakit kita-kita akan memperlakukan Lo berbeda " ketus gadis yang berperawakan tinggi . Dengan name tag Rapika
Gadis di sampingnya tertawa. merangkul Rapika Dengan akrab " udah pik Lo jangan marah-marah. Mending kita ke kantin aja ,ikut gak as ? Sebentar lagi juga istirahat jadi gak masalah lah"
Ashilla tersenyum . "Ayok " ucapnya. Dia melirik ke arah Vian sejenak " udah tau belum bang Revano mengikuti olimpiade?"tanya nya. Vian mengangguk " selama bang Revano belajar mempersiapkan olimpiade dia gak akan datang ke sini . Jadi Kamu jangan ganggu atau membuat bang Vano repot. Aku takut itu akan menghambat pelajaran nya " ucapnya . Dia tersenyum kecil sebelum pergi meninggalkan Vian yang terpaku di tempat.
Banyak yang masih mencuri-curi pandang ke arah nya. Dengan beberapa bisikan yang terdengar jelas oleh nya. Padahal Vian di sana . Tapi kenapa mereka seolah menggap dia tidak ada