OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Raka tidak pernah menyangka bahwa selembar undangan bisa membuatnya ingin membatalkan seluruh agenda akhir pekan.
Bukan karena acara itu membosankan. Justru sebaliknya.
Undangan tersebut datang dari panitia sebuah gala amal yang diselenggarakan Yayasan Adhitama Peduli, lengkap dengan daftar tamu penting, jadwal acara, dan permintaan agar dirinya hadir sebagai perwakilan keluarga Adhitama.
Di bagian bawah surat elektronik itu, ada satu kalimat yang membuat dahinya berkerut.
Kami juga akan mengundang sejumlah jurnalis untuk meliput perkembangan program bantuan medis yayasan, termasuk dokumentasi program terdahulu.
Raka membaca kalimat itu sekali lagi.
Program bantuan medis.
Dokumen lama.
Dan Nadira.
Ia mengambil ponsel, membuka percakapan mereka, lalu mengetik pesan.
Raka: Kamu masih mengurus arsip AP-17?
Balasan Nadira datang beberapa menit kemudian.
Nadira: Masih. Kenapa?
Raka: Ada gala amal yayasan minggu depan. Sepertinya mereka akan mempresentasikan perkembangan program bantuan medis.
Nadira: Aku sudah menerima undangannya.
Raka mengangkat alis.
Raka: Tentu saja.
Nadira: Kenapa terdengar seperti kamu kecewa?
Raka: Aku sedang mempersiapkan diri untuk kemungkinan kamu mengajukan pertanyaan yang membuat seluruh ruangan terdiam.
Nadira: Kalau mereka memberikan jawaban yang jelas, aku tidak perlu membuat siapa pun terdiam.
Raka tersenyum.
Raka: Aku akan mengingatkan panitia agar menyediakan kursi yang nyaman untuk semua orang.
Nadira: Bagus. Pastikan juga ada kopi.
Raka: Dicatat, Bu Wartawan.
Percakapan itu berakhir dengan sebuah stiker tertawa dari Nadira.
Raka menatap layar lebih lama daripada yang diperlukan.
Hubungan mereka memang belum memiliki nama. Mereka belum membicarakan perasaan secara langsung, apalagi menyepakati sesuatu yang lebih serius.
Namun, ada kenyamanan baru dalam cara mereka berkomunikasi.
Dan Raka menyukai kenyamanan itu.
Sayangnya, gala amal tersebut kemungkinan akan membawa mereka kembali ke persoalan yang belum selesai.
Kali ini, ia tidak ingin menjadi orang yang membuat Nadira merasa harus menghadapi semuanya sendirian.
Di kantor Media Arena, Nadira sedang membaca ulang catatan tentang AP-17 ketika Dimas meletakkan sebuah map di mejanya.
“Ini untuk kamu.”
Nadira mengangkat wajah.
“Kalau isinya revisi artikel, aku akan pura-pura tidak melihatnya.”
“Sayangnya, bukan.”
Dimas menarik kursi dan duduk di hadapannya.
“Undangan gala amal Yayasan Adhitama Peduli. Redaksi ingin kamu meliput acara itu sekaligus menyiapkan artikel tentang transparansi program bantuan medis.”
Nadira melirik map tersebut.
“Aku sudah menerima undangan serupa.”
“Bagus. Berarti kita menghemat waktu.”
Dimas membuka beberapa halaman berisi arahan redaksi.
“Kita tidak akan menerbitkan tuduhan tanpa bukti. Fokusnya tetap pada sistem, penggunaan dana, dan bagaimana yayasan memastikan bantuan sampai kepada penerima yang berhak.”
Nadira mengangguk.
“Itu memang rencanaku.”
“Ada satu hal lagi.” Dimas mengetuk meja dengan ujung pena. “Kalau kamu menemukan informasi yang berhubungan dengan keluargamu sendiri, beri tahu aku sebelum menggunakannya dalam artikel.”
Nadira terdiam sesaat.
Dimas bukan orang pertama yang mengingatkannya soal objektivitas, tetapi ia menghargai cara editornya menyampaikan hal itu tanpa meragukan kemampuannya.
“Aku mengerti. Aku akan memisahkan penyelidikan pribadiku dari liputan redaksi.”
“Bagus. Kalau ada dokumen yang relevan, pastikan asal-usulnya jelas dan kamu punya izin untuk menggunakannya.”
Setelah Dimas kembali ke ruangannya, Nadira membuka ponsel dan memeriksa pesan dari Ratna Wibisono.
Direktur yayasan itu telah membalas permintaan klarifikasi mengenai catatan pengiriman surat yang ia temukan.
Kami sedang memeriksa arsip korespondensi program tahun tersebut. Karena dokumennya sudah cukup lama, proses pencocokan mungkin memerlukan waktu. Kami akan memberi kabar setelah verifikasi selesai.
Nadira membalas dengan ucapan terima kasih.
Ia tidak berharap seluruh jawabannya tersedia dalam semalam.
Setidaknya, penyelidikannya bergerak maju tanpa harus bergantung pada pesan-pesan anonim.
Meski begitu, satu pertanyaan terus mengusiknya.
Jika seseorang pernah berusaha mengirimkan pemberitahuan kepada keluarganya, mengapa orang itu sekarang justru berusaha membuatnya berhenti mencari?
Persiapan gala amal berlangsung lebih sibuk daripada yang Raka perkirakan.
Di ruang kerja ayahnya, beberapa staf yayasan datang membawa dokumen yang perlu ditinjau sebelum acara. Raka diminta memeriksa susunan presentasi, sementara Adrian membahas rencana pengembangan program bantuan medis untuk tahun berikutnya.
“Panitia juga akan menampilkan beberapa contoh program terdahulu,” kata Adrian.
Raka membaca susunan acara.
“Apakah termasuk program bantuan medis lima tahun lalu?”
“Sebagian data agregatnya, mungkin. Semua materi harus melewati pemeriksaan privasi.”
Raka mengangguk.
Ia tidak ingin ada informasi pribadi penerima bantuan yang ditampilkan tanpa persetujuan.
Ketika seorang staf menyodorkan daftar dokumen yang akan digunakan, Raka memperhatikan bahwa beberapa catatan lama masih menunggu verifikasi.
“Pastikan semua angka sudah dicocokkan sebelum presentasi,” katanya. “Aku tidak ingin ada informasi yang menyesatkan.”
Staf tersebut mengangguk dan membawa dokumen itu kembali.
Adrian memperhatikan putranya.
“Kamu mulai memahami tanggung jawab yayasan.”
“Aku sedang berusaha memastikan semuanya dilakukan dengan benar.”
“Itu awal yang baik.”
Raka menutup map.
“Yah, aku ingin bertanya tentang satu hal.”
Adrian mengangkat wajah.
“Program bantuan medis lima tahun lalu. Apakah ada masalah dalam administrasinya?”
Ekspresi Adrian tidak banyak berubah.
“Setiap program memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki. Itulah sebabnya laporan lama harus ditinjau.”
“Apakah ada keluhan dari penerima bantuan?”
“Kalau ada, pengelola yayasan harus menanganinya melalui prosedur yang sesuai.”
Raka mengamati ayahnya.
Jawaban itu tidak memberikan informasi baru.
Namun, ia juga tidak memiliki alasan untuk menganggapnya sebagai upaya menutupi sesuatu.
“Baik,” katanya akhirnya.
Adrian kembali membaca dokumennya.
“Dan satu hal lagi, Raka. Di acara nanti, kamu akan diminta berbicara tentang masa depan yayasan. Jangan menjadikan perbedaan pendapat kita mengenai perusahaan sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab.”
Raka menghela napas.
“Kalau Ayah meminta pendapatku, aku akan menjawab jujur.”
“Kadang-kadang, jawaban jujur tidak menyenangkan.”
“Lebih baik begitu daripada memberikan jawaban yang ingin didengar orang.”
Adrian menatapnya cukup lama sebelum kembali pada pekerjaannya.
Raka tahu mereka belum mencapai kesepakatan.
Namun, setidaknya kali ini ia tidak berniat berpura-pura setuju hanya demi mengakhiri percakapan.
Hari gala amal tiba dengan suasana yang lebih formal daripada acara esports yang biasa dihadiri Nadira.
Ruang utama hotel dipenuhi meja bundar, dekorasi bunga putih, dan layar besar yang menampilkan nama Yayasan Adhitama Peduli. Para tamu berbicara dalam kelompok-kelompok kecil, sementara staf media memeriksa perlengkapan mereka.
Nadira datang membawa kartu pers dan buku catatan.
Ia sudah menyiapkan daftar pertanyaan tentang mekanisme pendanaan, audit, dan akses arsip lama. Ia juga membawa salinan surat AP-17 dalam bentuk foto, tetapi tidak berniat menunjukkannya kepada siapa pun sebelum mengetahui prosedur yang tepat.
Ketika memasuki ruangan, ia melihat Raka berdiri di dekat panggung bersama Adrian.
Raka mengenakan setelan gelap. Penampilannya membuat beberapa tamu menyapanya dengan hormat, tetapi ia tetap terlihat sedikit tidak nyaman setiap kali pembicaraan beralih pada masa depan keluarga Adhitama.
Tatapan mereka bertemu.
Raka memberi anggukan kecil.
Nadira membalasnya dengan senyum tipis.
Tidak ada sapaan panjang. Mereka datang untuk tujuan yang berbeda, dan keduanya tahu bahwa acara ini bukan tempat yang tepat untuk mencampuradukkan persoalan pribadi.
Namun, saat Nadira bergerak menuju meja registrasi media, Raka sempat menghampirinya.
“Sudah mendapatkan kopi?” tanyanya.
Nadira menoleh.
“Belum. Panitia mengecewakan harapanku.”
“Aku akan menyampaikan keluhan resmi.”
“Terima kasih. Aku yakin reputasimu sebagai pewaris akan membuat mereka ketakutan.”
Raka tertawa kecil.
“Aku juga berharap pertanyaanmu nanti tidak membuat mereka terlalu ketakutan.”
“Aku tidak bisa menjanjikan apa pun.”
“Aku tahu.”
Ada jeda singkat.
Raka menatapnya lebih serius.
“Kalau kamu membutuhkan informasi yang memang bisa kubantu, katakan saja. Aku tidak akan meminta kamu berhenti mencari jawaban.”
Nadira memperhatikan wajahnya.
“Dan kalau informasinya tidak bisa kamu berikan?”
“Aku akan mengatakan itu dengan jelas. Aku tidak akan berpura-pura tahu.”
Jawaban itu membuat Nadira merasa sedikit lebih tenang.
“Baik. Aku akan mengingatnya.”
Raka mengangguk, lalu kembali ke sisi panggung ketika salah seorang staf memanggilnya.
Nadira memperhatikannya pergi sebelum membuka buku catatannya.
Ia belum sepenuhnya mempercayai Raka.
Namun, ia mulai percaya bahwa laki-laki itu sedang berusaha menjadi lebih jujur.
Untuk saat ini, itu cukup.
Acara dimulai dengan sambutan singkat dari ketua yayasan, diikuti presentasi mengenai program pendidikan digital dan bantuan kesehatan.
Nadira mencatat angka-angka penting, mengajukan pertanyaan kepada beberapa pengelola, dan memastikan setiap jawaban yang diterimanya memiliki konteks yang jelas.
Ketika sesi tanya jawab dibuka, ia berdiri.
“Saya ingin bertanya tentang program bantuan medis yang dijalankan lima tahun lalu. Apakah yayasan memiliki mekanisme untuk memastikan penerima bantuan menerima informasi mengenai sumber dana dan prosedur yang digunakan?”
Sejumlah tamu menoleh.
Ratna Wibisono, yang duduk di dekat panggung, mengambil mikrofon.
“Yayasan memiliki prosedur dokumentasi dan pemberitahuan kepada penerima bantuan. Namun, kami juga menyadari bahwa arsip lama tidak selalu tersusun sesempurna sistem yang kami gunakan sekarang.”
“Apakah yayasan sedang melakukan pemeriksaan terhadap arsip tersebut?”
“Ya. Kami sedang mencocokkan sejumlah dokumen lama, termasuk catatan korespondensi. Kami ingin memastikan bahwa informasi yang diberikan kepada masyarakat akurat dan tidak melanggar privasi pihak yang terlibat.”
Nadira mengangguk.
“Terima kasih. Saya berharap hasil pemeriksaan itu dapat membantu menjelaskan bagaimana prosedur tersebut dijalankan.”
Ratna membalas dengan anggukan.
Di sisi panggung, Raka memperhatikan Nadira dengan rasa hormat yang semakin sulit disembunyikannya.
Perempuan itu tidak membuat tuduhan, tidak mencoba menjebak siapa pun, dan tidak menggunakan masalah pribadinya untuk mencari perhatian.
Ia hanya mengajukan pertanyaan yang memang perlu dijawab.
Dan Raka menyadari bahwa itulah salah satu alasan ia tertarik kepadanya sejak awal.
Nadira tidak sekadar berani menantang orang yang berkuasa.
Ia juga tahu kapan harus menahan diri agar kebenaran tidak berubah menjadi spekulasi.
Setelah acara berakhir, Nadira menerima pesan dari Ratna.
Pemeriksaan awal menemukan catatan bahwa beberapa surat pemberitahuan program pernah disiapkan untuk dikirim ulang. Kami belum dapat memastikan apakah surat yang Anda miliki termasuk dalam kelompok tersebut. Jika Anda bersedia, kami bisa menjadwalkan pertemuan resmi untuk mencocokkan dokumennya bersama pihak yang berwenang.
Nadira membaca pesan itu dengan napas tertahan.
Belum ada jawaban mengenai siapa yang membayar operasi ibunya.
Belum ada penjelasan mengapa surat tersebut tidak sampai.
Namun, untuk pertama kalinya, sebuah petunjuk dari penyelidikannya memperoleh konfirmasi dari sumber resmi.
Ia membalas bahwa dirinya bersedia mengikuti prosedur yang ditetapkan.
Kemudian ia menyimpan ponselnya dan melihat ke arah pintu keluar.
Raka berdiri di sana, sedang berbicara dengan seorang staf. Ketika menyadari Nadira memperhatikannya, ia memberi isyarat kecil seolah bertanya apakah semuanya baik-baik saja.
Nadira mengangguk.
Raka tersenyum, lalu melanjutkan percakapannya.
Tidak ada yang luar biasa dari pertukaran itu.
Namun, Nadira merasakan sesuatu yang berbeda: ia tidak lagi menganggap semua hal yang berkaitan dengan Raka sebagai ancaman terhadap penyelidikannya.
Ia bisa menyukai seseorang sekaligus mempertanyakan fakta yang melibatkan keluarganya.
Kedua hal itu tidak harus saling meniadakan.
Ketika meninggalkan hotel, Nadira kembali memeriksa ponselnya.
Tidak ada pesan anonim baru.
Anehnya, keheningan itu justru membuatnya lebih waspada.
Seseorang telah berulang kali memperingatkannya agar tidak mencari tahu lebih jauh. Kini, setelah arsip resmi mulai diperiksa, Nadira tidak tahu apakah orang tersebut akan mundur atau justru mengambil langkah lain.
Ia memasukkan ponsel ke tas dan berjalan menuju mobil jemputannya.
Kebenaran mungkin semakin dekat.
Tetapi ia mulai memahami bahwa menemukan kebenaran dan menghadapi akibatnya adalah dua hal yang berbeda.
Dan tidak lama lagi, ia mungkin harus melakukan keduanya.