NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

🍂🍂🍂🍂

Matahari pagi belum terlalu tinggi, membiaskan pendar hangat di atas meja kayu jati selasar rumah joglo milik Bagas. Di meja tersebut, menumpuk beberapa helai catatan hasil panen serta tumpukan uang tunai hasil penjualan beras ke kota kecamatan. Bagas duduk tenang sembari menghitung lembaran uang melimpah itu dengan jemarinya yang terampil, didampingi Mbok Sumi yang sedang menyeduh teh hangat dan beberapa pekerja sawah yang sedang beristirahat di pelataran.

Namun, keheningan di pelataran joglo itu mendadak pecah.

Dari pintu gerbang kayu jati, melangkah sesosok pria berbeskap kusam dengan langkah gontai dan kepala tertunduk lesu. Dialah Pak Kades—pria berkuasa yang selama ini ditakuti dan disegani seluruh warga Desa Lemah Wungu. Kedatangannya yang tanpa pengawal dan berwajah pucat pasi membuat Mbok Sumi serta para pekerja sawah menghentikan aktivitas mereka dengan tatapan heran.

Sebelum ada satu pun warga yang sempat menyapa, Pak Kades tiba-tiba menjatuhkan kedua lututnya ke atas tanah pelataran yang keras.

BRUK!

Pak Kades berlutut pasrah, membungkukkan badannya dalam-dalam hingga dahinya hampir menyentuh tanah di hadapan Bagas, Mbok Sumi, dan para buruh tani.

"Gusti ! Pak Kades?!" pekik Mbok Sumi kaget, refleks berdiri dari duduknya. Para pekerja sawah ikut terperanjat kaku, tak percaya menyaksikan pemandangan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah desa mereka.

Bagas sempat terkejut sejenak, menghentikan jemarinya yang sedang menghitung uang. Namun, berkat ketenangan aura Pangeran Sendang Manten yang mengalir di pembuluh darahnya, Bagas dengan cepat menguasai diri. Wajahnya kembali tenang dan datar, menatap dingin pria yang kini bersujud di bawah selasarnya.

"Pak Kades..." tutur Bagas dengan suara rendah namun berwibawa. "Ada apa gerangan Pak Kades datang ke rumah saya dan berlutut seperti ini di depan banyak orang?"

Dengan mata memerah sembab dan air mata menetes membasahi tanah, Pak Kades mendongak pelan. Keangkuhan dan gengsi yang selama ini diagungkannya telah runtuh tak tersisa.

"Bagas... ampunilah aku, Le..." panggil Pak Kades dengan suara parau yang amat bergetar. "Aku memohon ampun atas segala keangkuhan dan kesombongan keluargaku selama ini... Aku sadar dulu sering meremehkanmu dan Ibumu. Tolonglah aku, Bagas... tolong selamatkan nyawa Sekar..."

Mbok Sumi menelan ludah, menatap iba pada pimpinannya itu. Namun Bagas tetap bergeming, menatap lurus mata Pak Kades. "Sekar? Bukankah Sekar sedang ditangani oleh tabib-tabib terhebat dan dokter kota pilihan Pak Kades?"

"Tidak ada yang sanggup, Bagas! Semuanya menyerah!" ratap Pak Kades penuh keputusasaan, memegang pinggiran lantai selasar. "Penyakitnya bukan penyakit biasa... Kulitnya melepuh bersisik membiru dan bernanah! Sekar sudah sekarat... Hanya kamu, Bagas... Hanya kamu satu-satunya orang di desa ini yang punya hubungan dengan kekuatan alam perbukitan yang bisa menyelamatkannya!"

Bagas menarik napas panjang. Melalui Indra Ular di keningnya, Bagas bisa melihat sisa-sisa energi ghaib berupa asap hijau gelap yang menggerogoti raga Sekar di kediaman Pak Kades—racun bisa yang dikirimkan oleh permaisurinya.

"Tunggulah di sini, Pak Kades. Saya akan melihat apa yang bisa saya lakukan," ujar Bagas tenang.

Bagas berdiri, melangkah masuk ke dalam kamar utamanya dan menutup pintu rapat-rapat. Begitu pintu terkunci, udara di dalam kamar seketika berubah menjadi teramat dingin dan pekat oleh wangi melati segar. Kabut hijau tipis bergulung di atas peraduan, membiaskan wujud nyata sang Ratu Ular—Nyai Ratu—yang sedang duduk anggun di atas ranjang jati milik Bagas.

"Kenapa kamu mempedulikan pria tua itu, Suamiku?" tutur Nyai Ratu dengan suara merdu namun penuh tekanan dingin. "Gadis manusia itu layak menerima hukuman atas kelakuan busuknya yang mencoba mempelet raga milikku!"

Bagas mendekati peraduan, duduk lembut di samping Sang Ratu lalu mengelus jemari indahnya yang dingin. "Aku tahu, Permaisuriku. Hukumanmu sangat adil. Tapi jika putri Kepala Desa itu mati mengenaskan di rumahnya, warga akan terus berspekulasi dan kekacauan tidak akan pernah usai. Izinkan aku meredakan siksaannya demi ketenangan desa dan ibuku."

Nyai Ratu menyipitkan matanya, mengelus pipi tegap Bagas dengan kuku indahnya. "Kamu terlalu berhati lembut untuk manusia biasa, Bagas. Tapi baiklah... demi menghormatimu sebagai Suami Agung aku izinkan."

Sang Ratu mengibaskan selendang hijaunya. "Namun ingat, aku tidak akan pernah menyembuhkannya secara total. Berikan dia penawar sementara dari air racikan daun sirih yang kamu celupkan dengan Pusaka Sisik Emas di dadamu. Air itu hanya akan melunturkan bisul bernanah dan rasa terbakar di tubuhnya agar ia tidak mati. Namun ruam sisik biru di kulitnya akan tinggal secara permanen seumur hidup—sebagai pengingat abadi agar ia tidak lagi berani memandangmu!"

Bagas tersenyum mengerti, mencium dahi Sang Ratu dengan penuh rasa hormat. "Terima kasih, Nyai. Itu sudah lebih dari cukup."

Sang Ratu tersenyum puas, lalu perlahan wujudnya memudar kembali menyatu dalam aura Pusaka Sisik Emas di dada Bagas.

Bagas meracik segelas air bening dengan beberapa lembar daun sirih, lalu menempelkan dada kirinya pada cawan tersebut. Pendar hijau keemasan memancar tipis, mentransfer pendar energi racun pencerahan ke dalam air sirih tersebut. Setelah itu, Bagas kembali melangkah keluar menemui Pak Kades yang masih berlutut pasrah di pelataran.

Bagas berdiri tegap di atas selasar, memegang cawan berisi air sirih tersebut. Namun sebelum menyerahkannya, pandangan mata Bagas berubah menjadi teramat tajam dan berwibawa.

"Pak Kades," panggil Bagas dengan intonasi tegas yang memutus kepasrahan di pelataran. "Saya memegang obat penawar ini. Tapi sebelum saya menyerahkannya, ada syarat mutlak yang harus Pak Kades dan Sekar penuhi tanpa bantahan."

Pak Kades menegakkan badannya, menatap Bagas dengan mata membelalak penuh harapan. "Katakan, Bagas! Syarat apa pun akan aku penuhi! Asal anakku selamat!"

"Pertama," tegas Bagas, suaranya bergema menembus pendengaran para buruh tani yang menyaksikan. "Pak Kades dan Sekar harus mengumpulkan seluruh warga desa di pelataran balai desa besok pagi. Di hadapan seluruh masyarakat Lemah Wungu, Pak Kades dan Sekar harus mengakui secara jujur dan terbuka bahwa Sekar telah mendatangi dukun ilmu hitam Mbah Suro untuk mengirimkan ajian pelet kepada saya!"

Pak Kades tersentak kaku, wajahnya pucat pasi mendengar syarat tersebut. Itu artinya nama baik dan harga diri organisasinya sebagai Kepala Desa akan hancur seketika.

"Dan yang kedua," lanjut Bagas tanpa belas kasihan, "Pak Kades harus membersihkan nama baik saya secara total dari tuduhan pesugihan atau ilmu hitam yang sempat dihembuskan warga sebelumnya. Pak Kades harus menyatakan di depan umum bahwa saya adalah warga yang bersih, dermawan, dan kekayaan saya adalah rezeki murni yang halal!"

Pak Kades menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Menolak syarat ini berarti menyaksikan Sekar tewas membusuk di atas ranjangnya. Namun menerima syarat ini berarti menelan bulat-bulat seluruh harga dirinya di hadapan rakyat yang selama ini dipimpinnya.

Mengingat rintihan histeris Sekar di rumah, Pak Kades akhirnya memejamkan mata rapat-rapat, menundukkan kepalanya hingga menyentuh tanah kembali.

"Aku... aku berjanji, Bagas..." tangis Pak Kades pecah, suaranya kepatuhan penuh. "Besok pagi... aku dan Sekar akan mengumpulkan seluruh warga dan mengakui semuanya... Aku bersumpah akan membersihkan namamu!"

Bagas menyunggingkan senyuman tipis yang penuh kemenangan. Ia menyerahkan cawan berisi air racikan daun sirih bercelup Pusaka Sisik Emas itu kepada Pak Kades.

"Minumkan air ini pada Sekar dan basuhkan ke kulitnya. Bisul dan rasa panasnya akan hilang seketika," ujar Bagas dingin. "Tapi ingat janji Pak Kades besok pagi. Jika janji itu dilanggar, bisa itu akan kembali merayap dan mencabut nyawa putri Pak Kades tanpa sisa."

Pak Kades menerima cawan itu dengan kedua tangan gemetar, memeluknya erat bagai harta tak ternilai. "Terima kasih, Bagas... Terima kasih banyak..."

Bersambung...

1
Yiruma Nitya
Jadi makin penasaran, gimana adegan pas ketemu sama Ratunya
Yiruma Nitya
Aku mampir ya kak, baca pelan pelan semangat buat kknya, ceritanya bagus 👍
Yiruma Nitya: Iya kak mampirin aku juga ya masih belajar, mohon bimbingan dan koreksinya🤭👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!