Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 18
TERJEBAK
Di ruangan yang hening dan remang, tirai tebal menutupi sebagian cahaya, menyisakan bayangan panjang di dinding kayu tua. Vincenzo berdiri membelakangi pintu, menatap ke luar jendela seakan ada sesuatu yang tak terlihat orang lain di sana.
“Apa ada sesuatu? Killian baik-baik saja?”
“Tidak akan ada yang baik-baik saja selagi masih ada pengkhianat, Sandra.”
Sandra berdiri beberapa langkah di belakangnya, menatap punggung kakaknya dengan keraguan yang tak tersembunyikan sembari mengernyit. Keheningan itu bertahan lama, hingga suara berat pria tua itu memecahnya perlahan.
"Malam ini ada musuh yang harus disingkirkan," ucap datar Vincenzo, tanpa berbalik. "Pastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Semuanya harus tertutup rapat."
Sandra mengerutkan kening, melangkah maju sedikit. "Musuh? Penyusup masuk ke sini? Siapa yang berani melakukannya?"
Vincenzo menghela napas panjang, namun tak berbalik. "Bukan penyusup dari luar. McManaman yang melanggar perjanjian sejak awal." Suaranya mengeras, dingin dan tajam. "Dia mengirim orang yang salah ke tengah keluarga Marcano."
Mata Sandra membelalak, napasnya tertahan sejenak. "Orang yang salah..." Ia terdiam sesaat, lalu satu nama meluncur pelan dari bibirnya. "Laura."
Vincenzo tak menjawab, tak bergerak sedikit pun, namun keheningannya adalah jawaban yang paling tegas.
Wajah Sandra memerah, amarah meluap seketika. "Jadi benar... Dia bukan putri mereka. Bukan darah musuh, melainkan tipuan kotor yang dikirim untuk menipu kita semua." Ia mengepalkan tangan erat di sisi tubuhnya dan menyeringai nya. "Kalau begitu, berikan aku izin untuk mengurusnya. Malam ini juga. Kita tidak perlu menunggu lagi. Dia bisa kabur kapan saja."
Vincenzo tetap diam, menatap ke arah kegelapan di luar sana.
"Berikan perintah itu padaku, Vincen," desak Sandra, suaranya bergetar menahan kemarahan yang lama tertimbun. "Biar aku yang menghabisinya. Dia tidak berhak bernapas di bawah atap ini."
Detik-detik terasa berjalan lambat, hingga akhirnya Vincenzo mengangguk pelan, suaranya berat dan rendah.
"Lakukan."
Senyum tipis penuh kemenangan menyungging di bibir Sandra. Ia mengangkat satu alis, lalu berbalik bergegas keluar ruangan, langkahnya cepat dan penuh tekad. Pintu tertutup kembali, menyisakan Vincenzo sendirian dalam keheningan yang kembali menyelimuti ruangan itu. Ia tetap berdiri di tempatnya, seakan menyadari bahwa apa yang baru saja ia izinkan akan mengacaukan segalanya — namun ia tak menarik kembali kata-katanya.
Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu. Anak buahnya masuk, menunduk hormat.
“Tuan.”
"Kirim pesan singkat kepada Killian," ucap Vincenzo pelan, matanya tak beralih dari jendela. "Katakan — jangan sakiti, apalagi menghabisi putri McManaman. Bawa dia utuh."
"Akan kusampaikan, Tuan." Pria itu segera mundur, melaksanakan perintah itu tanpa bertanya.
***
Sementara itu, di Irlandia, kediaman McManaman tak lagi memancarkan kemegahan yang dulu. Asap tipis masih mengepul dari sela-sela jendela yang pecah, cahaya api yang padam meninggalkan bekas gelap di dinding marmer. Suasana begitu sunyi, sepi hingga napas sendiri terdengar nyaring.
Tak ada tangis, tak ada perdebatan — hanya keheningan yang dingin dan menyakitkan.
Di ruang tengah yang sebagian lantainya terbakar, tak ada siapa-siapa. Kieran telah tiada. Begitu juah dengan Eleanor. Dan Killian... ke mana pun pria itu pergi, ia tak ada di sana. Ia telah pergi meninggalkan tempat itu, membawa serta kebenaran yang belum sepenuhnya terungkap.
Dan tidak tahu bagaimana nasib Bobby dan Fiona McManaman saat ini.
“DENGARKAN AKU! CEPAT BERKUMPUL!” sentak Zoey.
Lampu halaman menyala satu per satu, memantulkan cahaya pucat di permukaan mobil-mobil mewah yang terparkir rapi di mansion Marcano. Zoey berdiri di pelataran depan, wajahnya tegang, matanya menatap tajam ke arah gerbang yang tertutup rapat. Beberapa penjaga berdiri di hadapannya, menunggu perintah.
"ADA PENGKHIANAT DI MARCANO..." suaranya lantang, tegas, penuh emosi yang tak disembunyikan. "JAGA SETIAP SISI MANSION. PASTIKAN TIDAK ADA CELAH SEKECIL APAPUN DAN JANGAN BIARKAN LAURA."
Para penjaga mengangguk serentak. "Kami mengerti!”
"Jangan biarkan dia keluar dari kediaman ini," lanjut Zoey, matanya menyapu wajah mereka satu per satu. "Tidak peduli apa alasannya, tidak peduli siapa yang menyuruhnya. Dia adalah musuh yang dikirim oleh McManaman!”
Zoey melangkah mundur sedikit, menatap ke arah jendela kamar Laura yang tampak remang-remang di lantai atas. Bibirnya menyeringai tipis. “Damn bitch.”
Ia berbalik pergi, meninggalkan para penjaga yang segera memperketat jangkauan mereka, berkeliling ke setiap sudut, setiap lorong, setiap pintu samping. Tak ada jalan keluar yang tersisa.
Di lantai atas, Laura berdiri di balik tirai jendela, menatap ke bawah. Ia melihat segala sesuatu — perintah Zoey, penjaga yang bergerak menutup setiap jalan, tatapan tajam wanita itu ke arah kamarnya. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tercekat. Ia mundur perlahan, punggungnya menyentuh dinding dingin.
“Apa yang mereka lakukan? Berapa banyak lagi orang yang harus dibunuh oleh mereka.”
Ia mendekat ke pintu, mendengarkan suara langkah kaki yang berderet di lorong luar.
Tok! Tok! Tok!